GA : Glory Of The Kindom

GA : Glory Of The Kindom
127.2 Spionase


__ADS_3

Di ibukota Kerajaan Arka


Penasehat Kerda serta para dewan kerajaan sudah mendengar tentang kabar wilayah Kalinka dan Taltara yang berpindah kekuasaan dan bergabung dengan kerajaan Remaria.


Tentu para dewan kerajaan menjadi resah karena tidak ada peperangan dan tidak ada pergerakan yang terlihat sebelumnya tapi dua wilayah besar di bagian barat kerajaan gurun Arka bisa jatuh ke tangan Kerajaan Remaria.


Spionase dan propaganda yang lakukan kerajaan Remaria telah berhasil menghasut rakyat dan para penguasa daerah untuk menyerahkan kota dan wilayah mereka tanpa adanya perlawanan apapun.


"Penasehat Kerda sebenarnya apa yang terjadi kenapa wilayah kerajaan kita malah di rebut oleh kerajaan Remaria."


"Penasehat Kerda kita tidak bisa diam saja kita harus segera bergerak bila tidak maka epercayaan rakyat dan Lord di negeri kita akan jatuh kemungkinan mereka juga akan memberontak atau bahkan lebih buruk lagi mereka akan ikut bergabung dengan kerajaan Remaria."


"Di mana Raja Bazara dia harus segera memberikan perintah untuk mengerahkan Pasukan ke barat, perang harus di lakukan untuk mengembalikan wilayah kita yang di rebut."


"Benar ini demi harga diri kita sebagai kerajaan yang berdaulat."


Para menteri terlihat mendesak agar para dewan kerajaan dan yang mulia Raja Bazara segera melakukan tindakan tegas atas invasi yang di lakukan Remaria di gurun Arka, lalu penasehat Kerda berbicara.


"Yang mulia raja Bazara masih harus beristirahat tapi kalian tenang saja yang mulia sudah mendapatkan kabar itu dan akan segera memberikan perintah untuk bertindak."


Jawaban dari Penasehat kerajaan Kerda tapi itu masih belum cukup memuaskan para pejabat dan bangsawan kerajaan Arka dan seorang pejabat berbicara.


"Penasehat Kerda sebenarnya apa yang terjadi dengan Yang mulia Raja mengapa sampai saat ini beliau belum juga menampakan diri."


"Benar aku setuju, penasehat Kerda kehadiran yang mulia Raja Bazara sangat di butuhkan saat ini, bila memang yang mulia tidak dapat memimpin negeri ini sudah sepantasnya untuk beliau segera di gantikan."


"Hei tunggu jaga ucapanmu, tidak sepantasnya kamu berbicara seperti itu yang mulia Raja Bazara tetap adalah raja kita mengatakan tidak mampu sama saja itu meragukan beliau dan dapat di anggap pengkhianatan."


"Pengkhianatan aku tidak pernah berkhianat pada kerajaan Arka aku hanya memikirkan yang terbaik untuk menyelamatkan masa depan kerajaan ini."


Para pejabat malah berdebat karena memang benar mereka sudah mendengar tentang yang mulia Raja Bazara yang sedang sakit keras dan tidak mampu memimpin negeri jadi yang terbaik adalah menggantikanya pada orang lain, tapi tidak ada pewaris yang cukup layak untuk duduk di kursi singgasana selain satu-satunya putra mahkota yang usianya masih sangat muda dan belum pantas memimpin sebuah negeri.


"Penasehat kerda kita butuh sosok seorang yang dapat langsung memimpin kami jadi biarkan Sir Voldira yang dalam pengasingan untuk menggantikan beliau."


"Tunggu dulu pengkhianat yang pernah mencoba menggulingkan yang mulia Raja Bazara dulu, dia tidak pantas lagi kembali ke ibukota, bahkan tidak berhak menyandang gelar Sir Arka biarkan dia selamanya berada dalam pengasingan di pulau Esiland."


"Kalau begitu siapa lagi yang pantas putra dari yang mulia raja Bazara masih terlalu muda, lagi pula Voldira adalah paman dari yang mulia raja Bazara, dia tidak sepenuhnya bersalah saat itu karena kondisi politik kerajaan dulu dalam keadaan kacau sehingga mendesak beliau untuk mengambil tindakan."


"Hei.. kamu masih saja membelanya setiap tindakan makar harus di berikan hukuman yang tegas, lebih baik biarkan pangeran muda yang menggantikan posisi raja Bazara dan dewan kerajaan yang akan bekerja membantu beliau."


Penasehat Kerda tidak bisa menghentikan para pejabat kerajaan yang terus berbicara dan akhirnya di tengah perdebatan itu sesosok pria muda yang tampak begitu kurus muncul dari ruangan samping dengan di kawal beberapa prajurit, sosok itu adalah yang mulia raja Bazara Ra Arka yang datang sendiri dengan wajah yang cukup pucat karena jelas kondisi dan tubuhnya begitu memprihatinkan dan para pejabat dapat menyaksikanya secara langsung hingga mereka terdiam.


"Yang mulia Raja telah tiba apa yang kalian lakukan cepat berlutut.!"


Seorang pejabat mengatakan itu dan semua pejabat lain di sana akhirnya berlutut untuk raja mereka.


Raja muda Bazara Ra Arka berjalan perlahan menuju singgasananya tapi tubuhnya terlalu lemah dan hampir roboh tapi dua pelayan langsung terlihat ingin membantu.


"Hukhuk... Aku tidak papa biarkan aku."


"Tapi yang mulia..?!"

__ADS_1


Raja Arka menolak untuk di bantu karena dia adalah seorang raja akan sangat buruk bila seorang raja menunjukan betapa lemahnya dirinya hingga tidak sanggup berjalan hanya untuk mencapai singgasananya.


Dengan perlahan akhirnya raja Bazara akhirnya berhasil duduk dan memposisikan tubuhnya, lalu penasehat Kerda berbicara padanya.


"Yang mulia sedang apa yang mulia berada di sini seharusnya anda tetap beristirahat untuk memulihkan diri."


Yang mulia Raja Bazara kemudian berbicara.


"Jangan kawatir aku penasehat Kerda aku seorang raja jadi aku harus melakukan tugasku."


Penasehat Kerda menunduk untuk Rajanya yang kemudian berbicara.


"Penasehat Kerda aku ingin menyampaikan sesuatu untuk mereka dan rakyatku jadi biarkan mereka mengangkat kepala mereka."


Yang mulia Raja Arka dengan suara pelan meminta penasehat kerda agar semua orang yang ada di depan singgasana itu untuk kembali menegakan tubuh, karena kondisi Raja Bazara yang begitu buruk bahkan sang raja harus sedikit memaksa dirinya hanya untuk dapat berbicara.


"Kalian semua yang mulia Raja Bazara yang agung sudah memerintahkan untuk berdiri jadi angkat kepala kalian semua."


Semua orang mengangkat kepala mereka dan mereka dapat melihat dengan jelas yang mulia Raja Bazara yang duduk dengan tubuh kurus dan wajah pucat bersandar di singgasananya.


Tidak ada yang berani bersuara meskipun di benak mereka begitu terkejut melihat kondisi raja mereka yang sangat memprihatinkan itu, dan yang mulia Raja Bazara Ra Arka berbicara.


"Huk, huk..!? Kalian semua yang telah mengabdi dan setia padaku, aku sangat berterima kasih.. huk..?!"


Tidak ada yang berbicara dan tetap dengan tenang mendengar yang mulia Raja yang berjuang untuk berbicara secara perlahan bahkan sampai beliau terlihat batuk.


"Kalian semua hidupku tidak akan lama lagi huk..!?"


"Yang mulia anda tidak boleh mengatakan itu anda harus terus memimpin negeri ini."


"Benar yang mulia siapa yang akan menggantikan anda bila anda sudah tidak ada nanti jadi kami mohon."


Yang mulia Raja Bazara mengangkat tanganya untuk menghentikan orang-orang yang berbicara.


"Ya Benar puteraku memang masih terlalu muda tapi dia akan segera siap suatu hari nanti, aku sudah memerintahkan utusan untuk menjemput pamanku di kerajaan Esiland, dia akan memimpin negeri ini sampai putraku siap nanti."


"Apa jadi Voldira akan menggantikan yang mulia raja Bazara tapi apakah beliau dapat di percaya."


Masih ada sedikit pertentangan dari beberapa bangsawan kerajaan karena kemungkinan Voldira masih menyimpan dendam pada para pejabat yang dulu ikut menjatuhkanya hingga sir Voldira De Arka di asingkan, itu membuat banyak bangsawan cukup cemas.


"Kalian tenanglah itu adya keputusan yang mulia Raja Bazara dan tidak dapat di tentang lagi, yang mulia bisakah anda menjelaskan mengapa anda mengambil keputusan menjadikan paman anda sebagai Raja Arka selanjutnya."


Seorang pejabat yang cukup setia pada Raja Bazara mengatakan itu dan seorang bangsawan masih mencoba menentang keputusan itu.


"Tapi kami masih ingat kejadian dulu waktu itu anda juga yang paling keras menentang Sir Voldira yang membelot, kemungkinan anda dan kita semua akan mendapatkan balasannya."


"Benar itu akan sangat gawat dan pasti akan ada kekacauan politik serta penolakan untuk keputusan itu bila orang yang pernah berkhianat dan di jatuhkan di angkat sebagai penguasa negeri ini."


"Kalian semua tenanglah yang mulia Raja masih ingin menyampaikan sesuatu."


Penasehat Kerda menghentikan para pejabat yang berbicara dan yang mulia Raja Bazara berbicara.

__ADS_1


"Huk.. kalian para pejabat aku mengerti dengan keresahan kalian tapi pamanku tidak akan melakukan hal itu, aku sangat mengenal orang yang telah mendidiku sejak kecil, kesetiaanya begitu tinggi dan aku sangat paham mengapa dia mau menjatuhkanku setelah aku di angkat sebagai Raja Arka."


Voldira bukanlah orang jahat, dia tahu bila Kerajaan Arka terus bermusuhan dengan kerajaan Remaria maka itu malah akan berbalik kepada kerajaan Arka yang akan mengalami kekalahan dan semakin terpuruk.


Sir Voldira selalu meyakinkan semua orang bahkan kepada Bazara sebelum di angkat sebagai Raja kalau Remaria adalah saudara bukanlah musuh karena musuh yang sebenarnya adalah kerajaan Arfen karena raja Arfen dan keturunanya tidak berhak atas tanah Arfen yang mana itu juga adalah wariskan leluhur mereka Kaisar Agung Golgota.


Tapi saat Bazara Ra Arka di angkat sebagai Raja, raja muda itu lupa dengan ajaran pamanya dan malah mencanangkan akan menguasai Tanah Remaria kepada seluruh rakyatnya agar mendapatkan dukungan yang kuat.


Untuk itulah Sir Voldira menentang hal itu dan berniat menggulingkan Raja Bazara tapi semua itu gagal dan dia di Asingkan jauh di pulau Esiland di utara.


Penasehat Kerda kemudian berbicara.


"Kalian semua sudah mendengarnya bukan itu adalah keputusan raja kita dan kita wajib mematuhi beliau."


"Baik penasehat Kerda tapi masalahnya adalah saat ini kita juga masih dalam kondisi darurat jadi apa keputusan yang mulia raja Bazara dalam menanggapi invasi kerajaan Remaria yang telah merebut kota Kalinka dan Taltara."


Itu adalah masalah yang memang harus di selesaikan kerajaan Arka dan keputusan itu harus segera di ambil oleh yang mulia Raja Bazara.


Raja Bazara merenung dia memang sudah mendengar kabar itu tapi saat ini tidak mungkin untuk berperang dengan kerajaan Remaria, terlalu banyak masalah dan pemberontakan hingga Prajurit Arka tidak dapat di kirim maju ke ke Medan perang, jadi Raja Bazara berbicara.


"Tidak ada yang dapat kita lakukan jatuhnya kota Kalinka dan Taltara adalah kesalahanku, aku yang telah gagal melindungi rakyat Arka hingga mereka memilih untuk bergabung dengan kerajaan Remaria, Remaria mereka bahkan tidak melakukan serangan balasan saat kita selalu menyerang mereka malah mereka membantu rakyat Arka yang kelaparan dengan memberikan banyak makanan, aku sangat malu karena tidak mendengarkan nasehat pamanku yang mengatakan Remaria bukanlah musuh tapi saudara kita, huk huk..!."


Yang mulia raja Arka mengatakan itu dan para pejabat berbicara.


"Jadi kita akan membiarkan kerajaan Remaria begitu saja menguasai wilayah kita, kami akan sangat keberatan untuk menerima hal itu."


Penasehat Kerda kemudian berbicara.


"Lalu apa yang dapat kita lakukan Pasukan Arka dan negeri kita tidak siap untuk berperang melawan kerajaan Remaria yang sudah tumbuh begitu kuat."


"Tapi penasehat Kerda kita tidak boleh diam semua orang akan mempertanyakan hal ini dan menganggap kita tidak mampu mempertahankan kedaulatan."


Penasehat Kerda tidak bisa membantah hal itu kemudian Raja Bazara yang sudah terlihat semakin melemah berbicara.


"Kalian aku sudah mengirimkan surat kepada pamanku Voldira, setelah dia di angkat sebagai raja menggantikan diriku nanti, kota Kalinka dan Taltara akan kembali kepada kita dan seluruh rakyat Arka akan mendapatkan kemakmuran seperti saat masa leluhur kita Kekaisaran Golgota."


Raja Arka mengatakan itu dan semua orang di sana sangat bingung bagaimana cara agar kota Kalinka dan Taltara dapat di kembalikan oleh Sir Voldira seperti yang di katakan raja mereka karena itu bukan sesuatu yang dapat di lakukan dengan mudah bahkan bila kerajaan Arka dalam kondisi baik sekalipun.


Tapi Raja Arka tidak mengatakan apapun untuk menjelaskanya dan segera bangkit dari singgasananya dan berjalan pergi di bantu oleh dua orang pelayananya.


"Berjaya seperti masa kekaisaran Golgota apakah mungkin.?"


Penasehat Kerda sedikit mencurigai kata-kata terakhir dari Raja Bazara hingga dia segera pergi mengejar raja Bazara untuk memastikan dugaan yang ada di dalam kepalanya.


Spionase dan cara damai oleh Remaria dengan memberikan bantuan kepada rakyat Arka telah membuat tidak hanya rakyat Arka melihat kebaikan dari kerajaan Remaria tapi kemungkinan juga membuat Raja Arka melakukan hal yang akan mengejutkan dan di pertanyakan oleh semua orang.


Rencana yang tidak mungkin di lakukan bahkan di pikiran oleh setiap penguasa di jaman kerajaan seperti ini, mendapatkan hati rakyat kerajaan lain dan membuatnya merasa senang bahkan dengan suka rela memberikan tanah dan masa depanya, kecerdasan dan cara yang begitu luar biasa untuk sebuah propaganda yang begitu besar telah di lakukan kerajaan Remaria.


.


.

__ADS_1


__ADS_2