
Zaza, Erin, Marta juga Priest Anastasia berada di kamar penginapan mereka menunggu Antonio yang selalu sibuk dengan urusan kenegaraannya.
"Erin bagaimana kalau kita keluar dan jalan-jalan aku bosan terus berada di penginapan.?"
"Em bukankah lebih baik kita tetap berada di dalam penginapan lagipula di luar terlalu dingin dan Antonio juga belum kembali."
"Kapten pasti akan sangat lama karena melakukan rapat dengan pihak dewan Republik."
"Baiklah kalau begitu aku akan menemanimu berkeliling kota."
Kemudian Zaza dan Erin keluar dari kamar mereka menuju ke ruang santai penginapan di sana ada Marta terlihat sibuk membaca buku sihir dan Priest Anastasia juga sedang menikmati tehnya di tampingi beberapa pelayan.
"Marta kami akan pergi keluar apakah kamu mau ikut.?"
"Tidak aku sedikit sibuk untuk mempelajari beberapa sihir elemen es."
Marta menolak untuk ikut kemudian Erin berbicara dengan Priest Anastasia.
"Anastasia bagaimana denganmu apa kamu akan ikut kami.?"
"Di luar terlalu dingin lebih baik kita tetap di sini menghangatkan diri."
"Ah.. jadi hanya aku dan Erin yang akan jalan-jalan, baiklah kalau begitu kami pergi dulu."
Zaza dan Erin menuju ruang depan penginapan dan Marta yang masih fi sana kemudian berbicara pada Anastasia.
"Anastasia bukankah kita di beritahu kalau ada Assassin dari kerajaan Navia yang sedang mengincar kita.?"
"Benar tapi prajurit Republik pasti akan mendampingi Zaza dan Erin jadi kita bisa sedikit tenang."
"Benar juga kita adalah tamu kehormatan karena bersama Antonio, pihak Republik akan melindungi dan menyiapkan pengawalan untuk kita."
Di ruang depan atau ruang Resepsionis penginapan memang ada beberapa prajurit yang terus memberikan penjagaan ketat dua puluh empat jam dan seorang prajurit langsung bergerak ke sisi Zaza dan Erin yang terlihat akan pergi keluar meninggalkan penginapan.
"Nona Zaza dan Nona Erin apakah anda mau pergi keluar.?"
Seorang prajurit bertanya dengan sopan pada Erin dan Zaza.
"Benar kami akan pergi berkeliling kota sebentar."
"Kalau begitu kami akan menyiapkan kereta kuda untuk anda dan nona Erin, Prajurit kalian harus selalu bersiap dan memastikan keselamatan nona Erin dan Nona Zaza."
"Siap kapten..!"
Delapan prajurit maju dan mengikuti Erin dan Zaza pergi meninggalkan penginapan.
"Erin bagaimana kalau kita membeli beberapa pakaian baru, kamu juga bisa berbelanja oleh-oleh untuk keluargamu saat kita pulang nanti.?"
"Ya kurasa itu ide yang bagus."
Sementara itu beberapa prajurit yang berkuda masih terus memberikan pengawalan untuk kereta kuda yang membawa Zaza dan Erin.
"Senior sepertinya tugas kita akan mudah.?"
"Benar kupikir kapten kita terlalu kawatir hingga memberikan pengawalan yang berlebihan untuk para tamunya, lagi pula siapa yang akan berani menyerang kita di dalam ibukota."
Prajurit itu menjawab bawahanya karena berpikir tidak mungkin ada bahaya di dalam ibukota kemudian prajurit itu melihat ke depan sambil berbicara lagi.
__ADS_1
"Huh.. ini sebenarnya tugas yang menyebalkan tapi kita harus tetap melakukanya."
Prajurit itu berbicara tapi bawahannya tidak menjawab dan ketika dirinya menoleh melihatnya tiba-tiba prajurit bawahanya itu terjatuh dari kudanya.
"Heh ada apa..?!"
Prajurit itu terkejut karena tidak tahu apa yang terjadi tapi tak lama kemudian beberapa prajurit yang memberikan pengawalan dari sisi yang lain terjatuh dan berteriak.
"Arkk..?!"
"Kita di serang semua bersiap.?"
"Di serang siapa yang berani menyerang kita di tengah jalanan kota.?!"
Kemudian dengan sangat cepat beberapa Assassin berkuda langsung muncul dari sebuah gang menenyerang melemparkan pisau beracun menerjang menghabisi beberapa prajurit yang mengawal kereta kuda yang membawa Erin dan Zaza.
"Serangan..!"
Erin dan Zaza juga menyadari keributan di luar dan segera bersiap tapi kemudian terdengar suara teriakan dan terjatuh dari bagian depan kereta kuda, para assassin yang sangat terlatih langsung berhasil mengambil alih kereta kuda itu dan membawanya menuju gerbang kota untuk melarikan diri.
"Tuan Azel..!?"
"Kita harus cepat, berikan tanda pada tim kita di pintu gerbang kota.?"
"Baik..!"
Seorang prajurit pengawal yang masih hidup berusaha bangkit setelah terjatuh saat menahan serangan assassin, ia bergegas menunggangi kereta kudanya kembali dan memanggil bantuan.
"Sial kenapa bisa ada assassin di dalam ibukota, ini sangat gawat aku harus segera mengejar dan mendapatkan kembali Nona Zaza dan Erin.!"
Kereta kuda itu melaju dengan sangat cepat bersama beberapa assassin kerajaan Navia yang mendampinginya.
"Bagaimana ini aku tidak bisa bertarung dari jarak dekat.!"
"Zaza aku akan melindungimu apapun yang terjadi.!"
"Erin jangan nekat itu terlalu berbahaya jumlah mereka terlalu banyak.!"
Zaza memperingatkan Erin tapi Erin sudah bertekad dan segera keluar memanjat ke atas gerbong kereta kuda tapi di sana juga ada dua assassin yang harus ia hadapi.
"Kurang ajar kalian berani sekali menyerang kami, siapa kalian.!?"
Erin berteriak saat berusaha menyerang para assassin itu.
"Kau..!"
Dua assassin berada di atas kereta kuda itu dan salah satunya adalah Azel yang kemudian berbicara pada rekanya.
"Kamu ambil alih kereta kuda ini biar aku yang menghadapi gadis Thief sialan itu.!"
Azel langsung naik ke atas gerbong kereta kuda dan melawan menyerang Erin tapi Erin yang juga cukup hebat dalam bertarung menghadapi Azel meskipun samgat sulit untuk menjaga keseimbangan di atas kereta kuda yang bergerak sangat kencang.
"Sialan rasakan ini haat..!!"
Azel mengarahkan pisaunya tapi erin dengan lincah dapat menghindarinya dan membalas serangan itu dengan pisau di tanganya, tapi Azel cukup hebat dia menahan dan memegang tangan Erin, kemudian Erin memutar tubuhnya ke nawah menjegal kaki Azel berusaha menjatuhkanya dari atas kereta kuda.
"Haat..!"
__ADS_1
"Apa..?"
Azel terjungkal dan terjatuh di belakang kereta kuda tapi masih ada Assassin yang menyetir kereta kuda itu, beberapa Assassin yang berkuda juga melompat ke atas kereta kuda untuk melawan Erin tapi Erin bisa menjatuhkan mereka dengan menendang dan menusukan pisaunya ke tubuh Assassin.
Azel masih bergelantungan di belakang kereta kuda dan terseret cukup jauh tapi dia masih berjuang untuk bertahan.
"Itu kereta kudanya prajurit cepat kejar kereta kuda itu..!?"
Puluhan prajurit Republik Navia Utara yang berkuda akhirnya muncul, mereka langsung bergerak mengejar para Assassin yang membajak kereta kuda yang membawa tamu penting mereka. prajurit yang selamat sebelumnya langsung bergegas mencari bantuan dari prajurit yang berjaga di dalam kota.
"Pintu gerbangnya sudah terlihat, gawat mengapa pintu gerbang itu terbuka lebar, apa yang sedang di lakukan oleh prajurit yang berjaga di sana.!"
Prajurit yang melakukan pengejaran mengatakan itu karena melihat gerbang selatan kota yang terbuka lebar, sebenarnya sebagian assassin juga telah menyusup dan mengambil alih gerbang kota untuk membuka jalan pada rekanya yang melakukan penculikan.
Erin akhirnya berhasil menancapkan pisaunya ke leher assassin yang mengendarai kereta kuda dan langsung mengambil alihnya menghentikan kereta kuda itu sebelum meninggalkan gerbang benteng kota.
Para Assassin yang berkuda berhasil melewati gerbang dan keluar dari ibukota Grosberk dan berusaha melarikan diri dari kejaran Prajurit Republik Navia Utara.
"Cepat hentikan para assassin itu kejar mereka.!"
Erin langsung turun dari kereta kuda itu dan para prajurit langsung mendatanginya.
"Nona Erin anda baik-baik saja.?"
Erin tidak peduli dengan para prajurit yang bertanya dan langsung bergegas membuka pintu gerbong kereta untuk memastikan keadaan Zaza.
"Zaza.. bagaimana keadaanmu.. heh.. di mana Zaza..?!"
Erin terlihat panik karena Zaza tidak ada di dalam gerbong kereta, dia begitu kawatir dan langsung berlari ke depan pintu gerbang kota untuk melihat para assassin yang melarikan diri dengan berkuda.
"Tidak Zaza..!"
Erin sangat panik dan ketakutan karena dari kejauhan terlihat Zaza yang sudah tak sadarkan diri dan di bawa kabur oleh para Assassin yang semakin jauh.
"Tuan Azel pasukan Republik mengejar kita.!"
"Cepat pacu kuda kita, kita harus bisa meloloskan diri dari mereka.!"
Azel komanda Prajurit Assassin kerajaan Navia yang sebelumnya terjatuh dan terseret kereta kuda berhasil masuk ke gerbong kereta dari samping dan membuat Zaza pingsan kemudian membawanya kabur dengan para Assassin yang berkuda, Erin tidak menyadari hal itu karena harus menghadapi assassin di atas kereta kuda.
Di gerbang kota Kapten Abraham akhirnya sampai ke lokasi dan melihat Nona Erin yang terlihat sangat menyesal karena gagal melindungi Zaza yang sudah seperti adik kandungnya sendiri.
"Nona Erin sebenarnya apa yang terjadi.?"
Kapten Abraham bertanya pada Erin yang terlihat menangis tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan Zaza kembali.
"Tuan Abraham mereka menculik Zaza bagaimana ini kita harus segera mengejar mereka hik..."
"Mereka menculik nona Zaza, ini gawat pangeran Antonio pasti akan sangat marah, Nona Erin kami akan melakukan segalanya untuk mendapatkan nona Zaza kembali."
Erin Tidak menjawab Kapten Abraham dan Kapten Abraham segera memberikan perintah pada pasukan Republik Navia Utara di sana.
"Prajurit kerahkan semua pasukan berkuda yang kita miliki, kalian harus mendapatkan nona Zaza kembali secepatnya.!"
"Siap Kapten.!"
"Ini benar-benar buruk apa yang harus kami katakan pada pangeran Antonio nanti."
__ADS_1
Kapten Abraham juga sangat kawatir karena sebelumnya ia sempat memperhatikan kalau pangeran Antonio sangat menyayangi nona Zaza tapi sekarang nona Zaza dalam bahaya besar meskipun pihak Republik sudah berusaha memberikan perlindungan, tapi semua ini malah terjadi saat nona Zaza dan Nona Erin masih dalam perlindungan Republik Navia Utara sebagai tamu kehormatan.