GA : Glory Of The Kindom

GA : Glory Of The Kindom
135.2 Misi Penyelamatan


__ADS_3

Lautan utara yang luas dan langit yang tertutup awan tebal, lusinan kapal perang Kerajaan Navia terlihat bergerak ke arah timur bersiap mengejar kapal Republik yang sudah sangat jauh mundur, tapi ada satu kapal yang masih terlihat bergerak ke arah yang berlawanan.


Kapal kelas First Freedom yang seluruhnya terbuat dari besi itu akan menghadang armada kapal kerajaan Navia sendirian. Komandan laut Eriela mengkomandoi langsung kapal berbendara Kerajaan Remaria itu.


Hanya pasukan laut Remaria sendiri yang tahu mengapa komandan Eriela mengambil langkah seberani itu, tapi Komandan Eriela masih dengan gagah terus bergerak maju.


"Komandan Samuel kapal Remaria masih belum memutar arah, apakah kita akan hancurkan kapal kebanggaan kerajaan Remaria itu.?"


"Kapten itu memang bisa menghancurkan kapal besi kebanggaan kerajaan Remaria dan Republik Navia Utara itu, tapi akan lebih baik bila kita mencurinya, itu akan menjadi hadiah yang bagus untuk Raja Elius jadi gunakan jumlah kapal kita untuk membajak dan merebut kapal itu."


"Siap komandan Samuel, Prajurit kerahkan kapal-kapal berukuran sedang kita yang ada di barisan depan, perintahkan untuk membajak kapal besi Remaria itu."


Prajurit di kapal Komando utama dalam armada angkatan laut kerajaan Navia segera memberikan pesan untuk barisan depan dengan kode bendera.


"Kapten ada perintah dari kapal utama kerajaan kita untuk membajak kapal Remaria yang mendekat."


"Jadi kita tidak akan menghancurkanya, baiklah kita akan maju bersama kapal yang lainya jadi siapkan pengait untuk menaiki kapal musuh dan melakukan pertempuran langsung."


"Siap kapten.!"


Sekitar dua lusin kapal berukuran sedang dari kerajaan Navia bergerak saling berdekatan untuk menghadang dan menjebak kapal kerajaan Remaria untuk melakukan pembajakan. tapi kapal yang di pimpin komandan Eriela itu juga sudah siap.


"Kapten Argul mereka mencoba mengepung dan memperangkap kapal kita."


"Komandan Eriela serahkan padaku, prajurit bersiap untuk menembakan meriam di haluan kiri."


"Siap kapten, semua bersiap menembak..!"


Angin bertiup kencang ke arah utara dan kapal First Freedom bergerak ke arah barat dengan cukup cepat menuju lusinan kapal kerajaan Navia dan kemungkinan tabrakan akan terjadi bila kapal Remari tidak mengubah arah."


"Kapten Argul.!!"


"Hohoho.. biarkan angin meniup layarku, akan aku taklukan tujuh lautan hahaha..!"


Kapten Argul mengatakan itu dan dengan cepat memutar penuh kemudi kapalnya ke kanan menuju arah utara dan layar langsung mengemban tertiup kuat hingga kapal bergerak cepat bermanuver menghindari jebakan kapal-kapal Kerajaan Navia dengan cepat.


Semua kapal kerajaan Navia cukup terkejut karena kapal Remaria dapat bergerak dengan cepat, angin kencang telah mendorong layar kapal itu ke arah utara dan kapal Kerajaan Navia tidak bisa dengan cepat untuk menyesuaikan posisi kapal, sebagian kapten kerajaan Navia di sana juga langsung memutar haluan ke arah kanan untuk bersiap melakukan serangan balasan dengan meriam karena dalam posisi itu kapal Remaria sudah memiliki keunggulan posisi menembak meriam dari haluan kiri.


Tapi sebuah armada besar akan sulit untuk melakukan kerjasama dengan cepat dan kekacauanpu terjadi di antara barisan kapal kerajaan Navia yang berlayar berdekatan itu karena kurangnya koordinasi menanggapi situasi yang berubah tiba-tiba, setiap kapten kapal harus mengambil tindakan dengan cepat.


"Apa yang kapten kapal panthera tiga lakukan, musuh bergerak ke utara kenapa dia malah bermanuver ke selatan.!"


"Gawat kapal kita akan bertabrakan.!"


"Cepat putar kemudinya ke kanan abaikan kapal Remaria untuk sekarang.!"


Kapten berteriak memberikan arahan tapi itu sudah sedikit terlambat hingga tabrakan terjadi. salah satu kapal kerajaan Navia menabrak sisi haluan kiri kapal rekan mereka dan kapal yang tertabrak juga langsung terguncang dan menabrak satu kapal yang lain juga, satu unit kapal kerajaan Navia mengalami kerusakan yang cukup parah karena lambung sisi kiri kapalnya berlubang dan akan segera tenggelam.


"Sial cepat tinggalkan kapal ini, kapal kita akan segera tenggelam.!"

__ADS_1


Beberapa prajurit dan awak kapal dari salah satu kapal kerajaan Navia mulai terjun ke laut dan berenang menuju kapal rekan mereka yang masih berlayar.


Semantar itu di kapal berbendara kerajaan Remaria, prajurit di sana tersenyum bersama kapten Argul yang sangat hebat dalam mengendalikan kapal, lalu komandan Eriela segera berteriak memberikan komando memanfaatkan momen itu.


"Remarian sekarang..!!"


"Tembakan meriam..!!"


"Tembak..!"


Ledakan dan benturan terdengar dengan kuat saat dua puluh enam meriam kapal di haluan kiri kapal kerajaan Remaria sili berganti menembak menghancurkan lambung kapal-kapal kerajaan Navia dan beberapa mengalami kerusakan besar hingga tenggelam, tapi jumlah kapal musuh masih terlalu besar dan satu kapal Remaria tidak mungkin akan dapat mengalahkan seluruh armada muduh, beberapa kapal kerajaan Navia juga tidak tinggal diam mereka memutar kemudi memposisikan kapal dan melakukan serangan balasan dengan meriam mereka.


"Cepat kejar kapal itu, tembakan meriam kita.!"


"Tapi kapten kita di perintahkan untuk membajak kapal Remaria itu.!"


"Diam dan lakukan saja perintahku, beberapa meriam tidak akan menghancurkan kapal berbendera kerajaan Remaria itu, buat kerusakan di kapal Remaria agar tidak dapat berlayar dengan cepat.!"


"Siap kapten, semua prajurit tembakan meriam kita.!"


"Tembak..!"


Puluhan peluru meriam melesat dan membentur lambung kapal First Freedom dan beberapa kapal kerajaan Navia yang lain juga ikut menembak tapi kapal berbendera kerajaan Remaria yang terbuat dari besi baja yang sangat kuat dan tidak akan mudah di rusak dengan beberapa bola meriam.


"Kapten peluru meriam kita hanya memantul dan tidak bisa menghancurkan lambung kapal musuh.!"


"Apa meriam kapal yang kuat tidak berpengaruh terhadap kapal besi Remaria.?"


Komandan Samuel dan pasukan laut kerajaan Navia menyaksikan dari jauh kekuakan dan daya tahan kapal besi Remaria yang jauh lebih unggul dari kapal manupun di dunia ini, komandan Samuel sebelumnya berpikir kapal Remaria pasti hanya dibuat dan di lapisi besi yang sangat tipis, tapi ini sangat berbeda dari dugaanya, kapal besi itu tidak hanya cepat tapi juga sangat kuat.


Pandai besi dari kerajaan Dwarfen telah meracik dan mengolah campuran logam yang kuat dan juga ringan. Insinyur kapal Republik berhasil menyempurnakan desain kapal yang ramping serta memiliki manuver yang hebat, pangeran Antonio dari kerajaan Remaria sangat mengetahui kalau kapal yang ia desain akan menjadi sebuah kapal terbaik yang pernah tercipta.


"Komandan Eriela beberapa kapal musuh sudah berada di belakang kita dan mereka akan segera menyusul memanfaatkan angin yang sama, haruskah kita memuar arah.?"


"Ya kurasa memang harus begitu, baiklah aku akan bersiap untuk menghancurkan kapal-kapal itu."


Kapten Argul memutar arah kapal dan komandan Eriela berdiri di bagian depan dek kapal membawa trisula menantang langsung beberapa kapal kerajaan Navia yang menargetkannya.


"Bodoh sekali kapten kapal Remaria itu, angin bergerak ke utara tapi dia malah memilih berbalik ke selatan, kapal Remaria tidak akan bisa bergerak cepat lagi kita serang sekarang.!"


"Semua bersiap serang kapal Remaria itu dengan semua meriam kita.!"


"Yah..!!"


Kapal kerajaan Navia yang paling depan semakin mendekati kapal Remaria tapi sesuatu terjadi, angin tiba-tiba berubah arah dan gelombang air laut berubah tidak menentu."


"Kapten kapal kita berhenti bergerak angin telah berubah arah secara tiba-tiba.!"


"Bagaimana mungkin, sihir apa yang dapat mempengaruhi angin di tengah lautan."

__ADS_1


Prajurit dan para kapten kapal kerajaan Navia terlihat bingung dan tidak mengerti dengan situasi ini sampai akhirnya sebuah ledakan dahsyat terdengar menghujam salah satu kapal kerajaan Navia di sertai kilatan cahaya yang sangat menyilaukan mata.


"Apa yang terjadi cepat katakan.?"


"Kapten kapal di depan kita telah hancur, sebuah sambaran petir yang sangat kuat telah menghantamnya.!"


"Apa..?"


Kapten kapal kerajaan Navia akhirnya dapat melihat dengan baik salah satu lambung kapal lain di dekatnya telah hancur porak-poranda serta perlahan mulai tenggelam dan tak lama kemudian kilatan petir lain terlihat menghancam menghancurkan sebuah kapal lainya lagi, kapten di kapal itu kemudian melihat ke arah kapal milik kerajaan Remaria dan menyaksikan seorang prajurit wanita memegang sebuah trisula dengan ujung yang bersinar terang oleh cahaya seperti listrik dan begitu trisula itu di arahkan ke sebuah kapal petir dahsyat langsung menyambar dari langit menghancurkan target yang di tunjuk Trisula itu.


Trisula raja laut yang dapat mengendalikan badai lautan, harta dari kerajaan mermaid di dasar laut yang di ambil oleh naga biru Balmar dan berikan kepada pangeran Antonio sebagai hadiah atas penobatanya sebagai kesatria naga, Komandan Eriela sangat beruntung di percayakan untuk memegang senjata sekuat itu dari pangeran Antonio.


"Putar kemudinya, badai petir ini berasal dari kekuatan prajurit di kapal kerajaan Remaria."


"Apa..?"


"Putar kemudinya kita harus lari, kita hanya akan di hancurkan oleh kekuatan musuh kita.!"


"Jangan lari kita harus tetap menyerang mengandalkan jumlah kita, kapal musuh hanya satu kita dapat mengalahkannya, cepat siapkan meriam kita.!"


Satu persatu kapal kerajaan Navia di hancurkan oleh kekuatan trisula yang di pegang komandan Eriela, beberapa kapal itu masih dapat membalas dengan menembakan meriam mereka tapi semua peluru meriam kapal itu hanya membentur dan memantul lambung kapal First Freedom yang terbuat dari besi.


"Remarian tembakan meriam hancurkan kapal musuh sebanyak mungkin.!"


"Yahh kemenangan milik kita.!"


Lautan bergejolak dan kapal di sana terombang ambing saat komandan Eriela mengarahkan trisulanya ke laut dan gelombang besar langsung menerjang menyapu dengan kuat, trisula raja laut membuat siapapun yang memegangnya dapat mengarahkan gelombang besar dan menciptakan sebuah badai laut yang dahsyat.


Komandan Eriela terus menciptakan gelombang besar dan badai laut, terlihat komandan wanita itu bekerja keras mengerahkan seluruh tenaganya karena trisula raja lautan terasa sangat berat saat mengarahkan ombak untuk menyapu kapal-kapal perang kerajaan Navia.


Angin bergerak tanpa arah berputar di langit yang semakin gelap dan petirpun terus menyambar di wilayah laut itu.


Samuel komandan laut kerajaan Navia tidak pernah menyangka musuh meliliki kekuatan sebesar itu.


"Komandan Samuel pusaran laut mulai terbentuk dan kapal-kapal kita porak poranda hancur dan tertelan badai ini, kita harus mundur kita tidak bisa mengejar armada kapal Republik dengan kekuatan kita saat ini.!"


"Sial tidat ada pilihan lain, Prajurit perintahkan sisa kapal kita untuk memutar arah."


"Baik komandan."


Sebagian kapal kerajaan Navia bergerak mundur tapi sebagian besar terjebak badai besar di mana kapal milik Kerajaan Remaria bergerak dan terus menghancurkan kapal-kapal itu tanpa ampun.


"Komandan Eriela sebagian Armada kapal kerajaan Navia telah berbalik haruskah kita kejar.?"


"Kenapa tidak kapten Argul kita akan hancurkan kekuatan laut musuh sebanyak mungkin selagi aku masih bisa mengeluarkan badai laut dari trisula raja laut."


"Hahahaha tentu saja, tidak ada ampun untuk orang-orang brengsek dari kerajaan Navia yang telah membuat marah pangeran Antonio. Kita akan hancurkan mereka semua."


Kerajaan Navia tidak akan punya kesempatan, armada laut mereka hanya bisa berjuang untuk melarikan diri dan tidak akan bisa mengancam Republik Navia Utara lagi.

__ADS_1


.


__ADS_2