
Komandan Paladin Armara Duerin di masa lalu telah menyerang kota Libanon dengan pasukan besar Paladin kuil Glaria dan itu menjadi kekalahan terbesarnya.
Akan tetapi Armara Duerin masih mendapatkan sedikit keberuntungan saat Ia terdesak oleh Golem raksasa di jembatan kota Libanon, Armara terjatuh ke sungai Milefall dan hanyut terbawa arus.
Armara selamat dan terdampar di pinggir sungai cukup jauh dari jembatan kota Libanon dan saat Ia kembali untuk melihat lokasi pertempuran ternyata sudah tidak ada lagi pasukan kuil Glaria di sana yang artinya sebuah kekalahan total yang harus ia tanggung seumur hidup.
Armara akhirnya memutuskan kembali ke Astirantin kota suci milik kuil Glaria tapi Ia sangat terkejut saat melihat kota suci Astirantin telah porak-poranda dan hanya menyisakan reruntuhan serta puing-puing bangunan yang sudah hancur.
Armara Duerin tahu bahwa kehancuran kota Astirantin pasti adalah pembalasan dari pangeran Antonio atas penyerangan yang kuil Glaria lakukan di kerajaan Remaria.
Armara kemudian mencari kuil Glaria di kota lain untuk melaporkan kekalahannya tapi ternyata kuil Glaria masih tidak ingin mengakui kekalahan mereka dari Remaria dan masih terus mencari cara untuk menghukum pangeran Antonio hingga kekalahan terakhir mereka di tanah Tandora.
Antonio di singgasana kastil Arungal terlihat sangat tidak senang melihat Armara Duerin yang masih menatapnya seperti kesalahannya di masa lalu bukanlah sesuatu yang harus di perdebatkan.
"Armara Duerin komandan Paladin kuil Glaria sekarang apa yang ingin kamu lakukan dengan muncul di hadapanku?" Kata Antonio dengan sangat tidak senang.
"Pangeran Antonio aku hanya menjalankan tugas dari kuil suci Glaria untuk datang kemari membantu anda melawan para iblis yang juga merupakan musuh kami, pihak kuil Glaria sudah memutuskan akan memaafkan semua yang telah anda lakukan bila anda menerima permintaan kami." Ucap Armara Duerin kepada pangeran Antonio.
"Memaafkan kesalahanku apakah aku tidak salah mendengarnya, kalianlah yang dengan egois memutuskan segalanya dengan mengatas namakan kehendak dewa dan menyerang aku yang hanya ingin menyelamatkan orang-orang yang tidak bersalah, sekarang kalian malah dengan bodohnya datang padaku dan mengatakan hal yang tidak masuk akal itu." Kata Antonio dengan kesal.
__ADS_1
"Pangeran Antonio kami meyakini apa yang kami yakini adalah kebenaran dan mengamalkannya demi kebaikan semua orang." Balas Armara.
"Kebaikan semua orang, apakah menyerang orang-orang yang tidak bersalah di kerajaanku juga di tanah Tandora menggambarkan kata-katamu barusan, aku akan melawan siapa saja yang melakukan kejahatan termasuk kuil Glaria karena perbuatan kalian tidak ada bedanya dengan apa yang di lakukan kuil kegelapan Sirak selama ini." Kata Antonio.
"Pangeran Antonio jangan samakan kami dengan pengikut ajaran sesat seperti mereka kami adalah pengikut Dewi Glaria yang agung dan pengasih." Jawab Armara.
"Pengasih, apakah dewi Glaria mengajarkan pengikutnya membunuh orang-orang yang tidak bersalah demi kepentingan dan keuntungan sendiri, kalian pengikut kuil Glaria hanyalah orang-orang menjijikan yang korup serta serakah, jadi pergi dari hadapanku selagi aku masih bisa sedikit bersabar!" Kata Antonio mengusir utusan kuil Glaria itu.
Komandan Armara Duerin juga tahu hal ini akan terjadi dan langsung melangkah pergi dari tempat itu, sebenarnya komandan Armara tidak ingin melakukan tugas yang percuma ini akan tetapi kematian komandan pasukan kuil Glaria Ildian di penyerangan kota Lopak membuat pihak Glaria tidak punya cukup orang yang dapat memimpin jadi Armara terpaksa yang harus melakukannya.
Armara keluar dari tempat itu sementara Antonio berbicara pada Ramdira Ramez.
"Hamba mengerti tapi apakah para Priest yang merupakan petualang dari kuil Glaria juga harus di usir karena mereka juga tidak dapat menolak memberikan informasi bila pihak kuil mereka memaksanya untuk berbicara." Kata Ramdira.
"Ya lakukan apa yang harus kamu lakukan, kuil Glaria masih adalah musuh Remaria karena mereka sebelumnya juga menyerang kita di tanah Tandora." Kata Antonio.
"Hamba mengerti." Kata Ramdira yang kemudian pergi menuju kesebrang portal di makam Golgota.
Uskup Biru Asgur dari kuil Arasia yang melihat ketegasan pangeran Antonio dengan mengusir utusan kuil Glaria menjadi cukup kawatir karena sebenarnya tujuannya serta beberapa perwakilan kuil lain kemari memang hampir sama dengan utusan kuil Glaria yaitu untuk mendapatkan informasi serta keuntungan mengenai dunia iblis.
__ADS_1
'Pangeran Antonio memang orang yang sangat cerdas dan penuh perhitungan, mengusir perwakilan kuil Glaria secara langsung di depan perwakilan yang lain jelas itu untuk menegaskan posisinya yang lebih tinggi dari semua orang di sini sehingga pihak kuil lain tidak akan cukup bodoh untuk mendesaknya dengan proposal yang hanya akan menguntungkan kepentingan mereka.' Pikir uskup biru Asgur perwakilan dari kuil Arasia.
Antonio kemudian menatap perwakilan dari empat kuil yang tersisa lalu berbicara.
"Kalian para utusan dari empat kuil di sini aku akan langsung bertanya pada kalian." Kata Antonio yang diam tak begitu lama kemudian melanjutkan bicaranya lagi. "Apa tujuan kalian datang ke tempat yang sudah menjadi wilayah kekuasaanku di dunia iblis ini, apakah kalian menawarkan bantuan seperti kuil Glaria yang sebenarnya tidak terlalu aku butuhkan?" Kata Antonio kepada mereka semua.
Antonio berpikir orang-orang dari kuil pastilah bukanlah orang bodoh yang dapat dengan mudah untuk di ajak kerjasama, Uskup biru Asgur adalah salah satu dari lima uskup agung yang cukup di hormati atas kecerdasannya di kuil besar Arasia, sementara perwakilan dari kuil Ayarama mereka seharusnya tahu posisi mereka yang dulu juga terus membantu kuil Glaria melawan kerajaan Remaria.
"Yang mulia pangeran Antonio kami dari kuil Arasia mengerti dengan kehebatan juga kebijaksanaan anda hingga tidak membutuhkan kami dalam misi anda di dunia iblis, tapi kami tetap memiliki tanggung jawab karena kami adalah pemilik dari mahkota Pylos yang sedang anda cari." Kata Uskup biru Asgur yang menyampaikan alasannya, tapi Antonio menyadari ada bagian dari kata-kata uskup Asgur yang menyatakan hak dari mahkota Pylos yang Antonio cari.
"Uskup biru Asgur tolong katakan dengan pasti di hadapan semua orang di sini, apakah saat kuil Arasia memberikan mahkota Pylos kepada kaisar Golgota di masa lalu adalah kebohongan belaka?" Tanya pangeran Antonio kepada uskup Argur.
"Pangeran Antonio apa maksud anda dengan menanyakan hal itu kepada kami?" Kata uskup Argur yang malah balik bertanya.
"Uskup Asgur apakah yang aku katakan barusan masih belum jelas, mahkota Pylos di hadiahkan kepada leluhurku kaisar Golgota yang artinya itu sudah menjadi harta dari kekaisaran Golgota yang seharusnya di wariskan kepada keturunannya, jadi katakan kepadaku kenapa anda uskup agung Arasia tadi mengatakan kalau mahkota Pylos adalah harta kuil Arasia." Kata pangeran Antonio karena Ia tahu kalau pihak kuil Arasia menginginkan kembali mahkota Pylos yang dahulu sudah di berikan kepada Kaisar Golgota saat naik tahta.
Uskup Agur sangat mengerti dengan maksud ucapan pangeran Antonio yang kemungkinan besar tidak akan mau menyerahkan mahkota Pylos bila ia mendapatkannya, jadi uskup biru Asgur mencari kata-kata yang paling bagus untuk membuat pangeran Antonio tidak dapat menolak untuk memberikan mahkota itu kepada kuil Arasia nanti.
Tapi Antonio sudah tahu apa yang sedang di pikirkan uskup biru Asgur yang sangat cerdas jadi Antonio segera merogoh tas sihirnya dan mengeluarkan sebuah tongkat istimewa selagi uskup Asgur berpikir.
__ADS_1