GA : Glory Of The Kindom

GA : Glory Of The Kindom
134.2 Persekutuan Musuh


__ADS_3

"Jendral Mariana sepertinya komandan wanita itu tidak akan dapat bertahan lagi."


Komandan Maximus tersenyum melihat bagaimana seorang komandan dari pihak musuh yang berjuang sendirian menghadapi kepungan prajurit paladin.


"Para Paladin itu benar-benar tidak bisa di andalkan kalau begini kita juga harus berkerja. komandan Maximus kita bergerak sekarang kita akan maju dan mengepung pasukan demi human dengan jumlah kita."


"Baik Jendral kita memang harus segera menghancurkan kekuatan musuh dan secepatnya mengambil alih kota Lopak, pasukan paladin benar-benar bodoh karena mereka malah membuang-buang waktu untuk satu komandan musuh saja, Arfenia kita maju sekarang."


Hentakan kaki terdengar bergemuruh saat prajurit Arfenia menanggapi perintah penyerangan, barisan besar dari prajurit Arfen bergerak menuju pasukan paladin yang sedang berkumpul mengepung seorang komandan musuh.


Tidak ada yang aneh dan tidak ada pasukan dukungan musuh yang terlihat akan bergabung dalam medan pertempuran hingga Jendral Mariana berpikir kalau dugaanya sudah salah dan kemenanganya sudah dapat di pastikan akan menjadi miliknya.


"Kapten Ernes pasukan sekutu kita juga bergerak maju."


"Apa, bukankah Jendral Mariana sudah menyerahkan pertempuran ini pada kita dari kuil, Kalau begitu jangan buang waktu lagi cepat habisi komandan wanita itu dan segera bergerak membentuk formasi untuk maju menghadapi pasukan demi human.!"


"Baik serahkan kepada kami, Paladin cepat bunuh komandan wanita itu.!"


Komandan Fenia masih berusaha bertahan, meskipun terlihat banyak luka di tubuhnya tapi tidak ada tanda-tanda kalau dia akan menyerah.


"Paladin arahkan semua tombak kalian, ini akan menjadi akhir dari komandan gila itu.!!"


"Yahhh...!?"


Dalam kepungan puluhan mata tombak mengarah ke tubuh komandan Fenia yang masih berdiri.


"Megamorp..!!!"


Tubuh komandan Fenia bersinar mengeluarkan kekuatan sihir penguatan yang ia miliki saat puluhan tombak menghujam ke arahnya tapi terlihat semua tombak dari prajurit paladin sama sekali tidak berpengaruh dan komandan Fenia masih berdiri.


"Apa yang terjadi cepat habisi komandan Remarian itu.!"


"Kapten Ernes tombak kita tidak dapat melukainya dan luka-luka yang sebelumnya ada di tubuh komandan itu sembuh dengan cepat bahkan tubuhnya mulai membesar juga.!"


"Heh..!"


Seluruh Paladin di dekat komandan Fenia hanya bisa terdiam tidak mengerti mengapa tubuh prajurit kecil di depanya tiba-tiba bersinar kemudian mulai membesar.


Sementara itu pasukan Arfenia perlahan juga mulai mendekat dengan perlahan tapi, mereka terlihat kebingungan setelah melihat beberapa prajurit Paladin yang tiba-tiba terhempas dari tengah-tengah kerumunan pasukan Paladin.


"Jendral Mariana coba lihat itu.!"


"Apa yang sebenarnya terjadi.?"


Jendral Mariana melihat dari kejauhan ada sesosok prajurit musuh yang berukuran sangat besar bahkan masih terus tumbuh dan tumbuh membesar dengan cepat menyerang menghempaskan beberapa Paladin sekaligus dengan tombak dan perisai yang juga ikut tumbuh menyesuaikan tubuh itu.


"Kalian ingin menyerang kami maka kalian harus menghadapi aku terlebih dahulu, Aku Komandan Fenia dari kerajaan Remaria akan melawan kalian semua haat..!"

__ADS_1


Pasukan paladin negitu ketakutan dan langsung berlarian menjauh berusaha menyelamatkan diri mereka tapi tiap langkah kaki dari komandan Fenia langsung menginjak menghancurkan tubuh pasukan paladin itu.


"Lari cepat lari komandan wanita itu terlalu berbahaya, kekuatan seperti dewa.!"


"Tubuhnya masih terus tumbuh membesar, ini gawat Paladin cepat mundur.!"


Sementara itu di barisan belakang pasukan demi human juga sudah bersiap mengejar pasukan Paladin yang berusaha melarikan diri dengan panik.


"Daniel dan Emanuel kalian harus bergerak sekarang."


"Baiklah serahkan pasukan sayap kiri demi human padaku ayo kita segera bantai para Paladin brengsek itu."


"Kakak Daniel kalau begitu aku Emanuel akan menangani prajurit Paladin yang mencoba melarikan diri dari sebelah kiri."


Kedua Lizardman Daniel dan Emanuel tampak bersemangat, mereka menaiki punggung para Centaur bergerak menargetkan prajurit paladin yang mencoba melarikan diri.


Gargar dan beberapa prajurit demi human yang tersisa juga segera bersiap untuk maju.


"Hahaha untuk itulah kami para demi human tidak berada di samping komandan Fenia karena mungkin kami juga akan ikut terinjak-injak dan mati di sana."


"Oh tuan Gargar, musuh kita benar-benar menyedihkan karena tidak tahu sedang berhadapan dengan apa, Komandan Fenia bukanlah prajurit biasa dia adalah prajurit terkuat kerajaan Remaria yang setara dengan mahkluk kelas titan."


"Baiklah untuk Centaur dan untuk semua ras demi human di benua barat, kita habisi orang-orang dari kuil itu untuk membalaskan dendam leluhur kita.!"


"Demi human serang..!"


Ribuan paladin mati seketika, ketika tombak Enema menghempaskan pasukan paladin yang begitu kacau karena panik, Pasukan demi human juga bersiap berlari mengepung dan mengejar para Paladin itu membantai mereka tanpa ampun, prajurit paladin yang panik bukan tandingan untuk demi human yang memiliki keunggulan kekuatan fisik.


Tubuh prajurit Arfenia bergetar ketakutan menyaksikan kengerian itu, bahkan serangan sihir paladin yang meluncur ke tubuh komandan Fenia terlihat tidak cukup berpengaruh, tombak dan pedang paladin seolah tidak dapat melukainya juga.


"Kita akan mati, kita semua akan mati.!"


"Ini bukan lagi peperangan ini adalah pembantaian dan kita semua akan mati oleh komandan yang memiliki kekuatan bagaikan dewa itu."


Mental pasukan kerajaan Arfen dan sekutunya benar-benar langsung jatuh ke titik terendah saat menyaksikan kekuatan komandan Fenia.


"Jendral Mariana, Jendral ini gawat komandan wanita yang sebelumnya telah berubah menjadi raksasa dan mulai membantai pasukan paladin di depan kita.!"


"Aku tahu aku bisa melihatnya sendiri, komandan Maximus cepat tarik mundur prajurit kita, komandan dari Remaria itu terlalu kuat untuk kita lawan."


"Arfenia mundur mundur kita harus segera meninggalkan tempat ini."


"Semua prajurit kita mundur..!!"


Prajurit Arfen dan sekutunya segera mundur dengan cepat menjauhi wilayah di dekat lopak.


"Jendral Mariana prajurit kita sudah mulai bergerak mundur, anda juga tidak boleh terus berada di sini."

__ADS_1


Jendral Mariana menatap dari kejauhan saat prajurit paladin yang di bantai habis di dekat kota Lopak, ini adalah kegagalanya yang kedua kali untuk merebut kota besar itu dan Jendral Mariana mulai menyadari kalau semua hal ini memang sudah di rencanakan oleh pangeran Antonio dan untuk itulah alasan mengapa hanya sedikit prajurit Remaria yang menjaga kota sepenting Lopak.


Siapa yang akan menyangka kalau seorang prajurit yang terlihat begitu lemah dan sering bersama pangeran Antonio itu ternyata memiliki kekuatan yang maha dahsyat, sekarang semua orang akan lebih waspada terhadap kekuatan kerajaan Remaria di tanah Tandora.


"Komandan Fenia lihatlah prajurit kerajaan Arfen dan para sekutunya mulai bergerak mundur, apakah anda akan mengejar mereka.?"


Gargar sudah berada di dekat tubuh raksasa dari komandan Fenia dan menanyakan hal itu.


"Tuan Gargar sebenarnya pangeran Antonio hanya menyuruhku untuk menakuti pasukan Arfen dan sekutunya sebagai peringatan tegas agar jangan bermain-main dengan kami jadi biarkan saja mereka pergi."


"Oh begitukah, padahal penyerangan kerajaan Arfen ini jelas adalah itikad perang tapi kenapa pangeran Antonio tidak memanfaatkan hal ini, Remaria dapat dengan mudah menyerang dan menginvasi kerajaan Arfen sebagai balasan di sini.?"


"Tuan Gargar ini memang sangat di sayangkan tapi Antonio mengatakan kalau ada cara lain untuk mendapatkan kerajaan Arfen selain dengan perang, lagi pula kerajaan Arfen tidak akan punya pilihan untuk mengajukan gencatan senjata setelah proklamasi perang ini, Remaria akan memiliki keunggulan untuk menekan kerajaan Arfen setelah kekalahan mereka."


"Hahaha aku ternyata memang tidak memahami cara manusia, tapi memang tidak akan ada lagi kerajaan yang akan berani mengganggu kerajaan Silmarin di tanah Tandora selama masih berada di bawah pasukan kerajaan Remaria."


Semua orang di kota Lopak sekarang menjadi lebih tenang setelah mengetahui kalau ternyata prajurit Fenia yang menjaga kota Lopak memiliki kekuatan yang sangat mengejutkan, meskipun sebelumnya banyak orang yang cukup meragukan peran prajurit Fenia dan menganggap kalau ia hanyalah wanita untuk menghibur dan mendampingi pangeran Antonio.


Sementara itu di wilayah Republik Navia utara, Tuan Carlos pemimpin negeri itu mengerahkan sebagian prajuritnya untuk memburu para Assassin yang menculik nona Zaza, ia merasa sangat bersalah karena salah satu rekan dari pangeran Antonio telah di culik saat berada di dalam perlindungan Republik Navia Utara.


"Tuan Carlos kalau kita mengerahkan kekuatan militer lebih dari ini untuk mencari nona Zaza kita akan dalam masalah karena seperti informasi yang kita terima kalau kerajaan Navia sudah bersiap untuk menyerang kita."


"Kapten Abraham, apa kamu tidak lihat bagaimana kemarahan pangeran Antonio kemarin, ini adalah masalah besar bila kita tidak bisa mendapatkan nona Zaza kembali kemungkinan semua usaha keras kita untuk membangun kerjasama dengan kerajaan Remaria akan hancur sia-sia."


"Tapi Tuan Carlos nasib negeri kita jauh lebih penting dari semua itu, lagi pula ini tidak sepenuhnya adalah kesalahan kita dan kita sudah meminta maaf dan bekerja keras untuk menemukan nona Zaza kembali bukan.?"


"Kapten Abraham kamu benar-benar tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, kita tidak punya cukup kekuatan dan sumber daya untuk berperang dengan kerajaan Navia seorang diri, untuk itulah dalam kerja sama kita dengan pihak Remaria aku juga meminta dukungan dan persekutuan dari Remaria seandainya kita berperang nanti, tapi ini bisa mengacaukan segalanya."


Kapten Abraham tidak mengetahui hal itu karena kesepakatan itu hanya di ketahui oleh Tuan Carlos sebagai pemimpin Republik Navia utara dan pangeran Antonio yang mewakili Kerajaan Remaria, Militer Republik Navia Utara memang tidak sekuat Kerajaan Navia hingga saat perang pecah pasukan Republik biasanya juga akan melakukan wajib militer untuk menambah kekuatan mereka.


"Tapi Tuan Carlos kita masih bisa memohon pada yang mulia ratu Remaria untuk hal itu bukan, Ratu Alta Meira De La Remaria adalah orang yang baik beliau pasti akan mengerti.?"


"Ratu Alta dan kerajaan Remaria adalah milik pangeran Antonio begitu juga kekuatan militernya, Ratu Remaria sangat menyayangi anaknya dan rakyat Remaria juga sama mereka juga akan mendengarkan pangeran mahkota mereka yang begitu hebat, kita tidak boleh terlihat seolah mengabaikan masalah akibat kelalaian kita ini, kita harus bekerja keras untuk mendapatkan kepercayaan pangeran Antonio kembali untuk menyelamatkan Republik Navia Utara."


Pasukan Republik terus bekerja keras memburu para Assassin yang menculik nona Zaza dan pangeran Antonio sendiri juga langsung bertindak melakukan pengejaran sendiri karena ia tidak bisa mempercayakan masalah seperti ini pada orang lain.


Sementara itu di dekat lereng gunung api Vargon para Assassin terus bergegas untuk segera menuju kerajaan Arfen.


"Tuan Azel wanita yang kita culik benar-benar sangat merepotkan, bukankah seharusnya kita tidak memperlakukanya seperti ini.?"


"Tidak, kita tidak boleh melukai tawanan kita karena tugas kita hanyalah memancing pangeran Antonio meninggalkan Republik Navia utara untuk sementara waktu, setelah pasukan Kerajaan kita melakukan penyerangan kita akan langsung melepaskannya nona Zaza kembali dan berharap semoga pangeran Antonio memaafkan kita serta tidak menghancurkan rumah kita di kerajaan Navia."


"Tapi tuan Azel ini adalah penculikan, seharusnya tawanan tidak di perlakukan dengan baik dan tidak perlu mengkawatirkan rumah kita karena sudah jelas pangeran Antonio pasti tidak akan memaafkan semua ini, jadi ini percuma saja."


"Kamu diamlah jangan membuatku tambah bingung lagi, kita telah di perintahkan untuk menculik salah datu rekan pangeran Antonio tapi aku juga tidak mau kalau sampai pangeran Antonio menghancurkan negeri kita, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti hah.. kenapa kita mendapatkan perintah seperti ini dasar sialan.!"


Azel merasa frustasi karena tugasnya yang begitu sulit, tidak hanya menghindari pasukan Republik yang mengejarnya tapi juga harus membawa tawanan itu dengan selamat agar tidak membuat pangeran Antonio yang memiliki kekuatan yang dapat menghancurkan sebuah kota dengan mudah tidak menyerang Kerajaan Navia.

__ADS_1


Tapi tentu saja Azel dan para Assassinya juga menyadari kalau semua itu akan percuma, Kerajaan Navia akan tetap mendapatkan balas dendam dari pangeran Antonio karena penculikan ini sudah terlanjur terjadi dan pertentangan tidak dapat di hindarkan lagi


.


__ADS_2