GA : Glory Of The Kindom

GA : Glory Of The Kindom
138.1


__ADS_3

Azel Kembali ke ibukota kerajaan Navia bersama sisa para Assassinya yang masih hidup. ia tidak pernah menduga akan menghadapi musuh kuat yang datang bergantian.


Assassin Azel dan Dilfa berhasil melarikan diri saat melawan Dominic Johan yang memiliki kekuatan mengerikan tapi mereka juga gagal mengamankan tawanan mereka bahkan jumlah assassin yang di pimpin Azel hanya tinggal lima orang di mana para assassin itu sebenarnya juga sudah muak dengan pekerjaan mereka sebagai Assassin setelah melihat ada begitu banyak orang dengan kekuatan mengerikan seperti pangeran Antonio dan Dominic Johan.


Ada tiga prajurit di gerbang ibukota Elius dan mereka terlihat dengan wajah lemas dan putus asa, Azel tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi gerbang kota sudah terlihat hancur porak poranda.


"Apa yang sebenarnya terjadi kenapa gerbang kota hancur dan mengapa hanya tiga orang prajurit yang berjaga di gerbang pintu masuk ibukota, dimana rakan kalian?" Tanya Azel pada para prajurit di sana.


"Maaf siapa anda dan darimana kalian, sepertinya kalian baru datang dari tempat yang jauh sampai tidak tahu apa yang terjadi di ibukota beberapa waktu yang lalu." Ucap Prajurit penjaga gerbang di sana.


"Aku adalah komandan Assassin Azel yang bekerja langsung di bawah perdana menteri Tristania." Ucap Azel yang memberitahu siapa dirinya karena terlihat para prajurit itu tidak mengenalinya.


"Komandan, oh maafkan kami komandan Azel karena bersikap kurang hormat tadi, sebenarnya Pangeran Antonio dari kerajaan Remaria telah datang dan menyerang ibukota, pangeran Remaria itu mengamuk dan membantai ribuan prajurit seorang diri kemudian berubah menjadi naga untuk meratakan sebagian komplek istana kerajaan." Kata Prajurit itu.


"Apa jadi ini benar-benar terjadi, padahal sudah aku jelaskan kepada perdana menteri Tristania kalau ide menculik rekan perjalanan Pangeran Antonio adalah ide yang buruk, lalu dimana perdana menteri Tristania dan juga keluarga kerajaan apakah mereka berhasil mengungsi ke kota lain?" Tanya Azel ia memang tidak terkejut dengan penyerangan Pangeran Antonio tapi dia sedikit kawatir dengan keluarga kerajaan.


"Komandan Azel saat ini keluarga kerajaan berada di kota Finisal tapi perdana menteri Tristania.." Ucap Prajurit itu yang kemudian berhenti saat berbicara mengenai perdana menteri Tristania membuat Azel sedikit bingung.


"Ada apa dengan perdana menteri Tristania dan dimana dia sekarang cepat katakan, kami harus melaporkan tentang misi kami padanya?" Ucap Azel.


"Maaf komandan Azel aku pikir anda tidak akan bisa melakukannya karena beberapa saksi melihat bagaimana Perdana menteri Tristania tewas dengan cara yang sangat mengenaskan, tubuhnya di cabik dan di telan oleh pangeran Antonio yang berwujud naga raksasa." Ucap Prajurit itu menjelaskannya kepada komandan Azel.


"Apa Perdana menteri Tristania sudah tewas, ini gawat dia adalah orang cerdas dan cukup penting di kerajaan kita, ini akan sangat berdampak pada situasi politik kerajaan." Ucap Azel lalu seorang assassin milik Azel berbicara.

__ADS_1


"Tunggu aku ingin tahu bagaimana dengan para penduduk kota apakah mereka selamat? karena keluargaku juga tinggal di ibukota." Ucap seorang Assassin di sana.


"Para penduduk berhasil selamat kita cukup beruntung karena Pangeran Antonio hanya menghancurkan komplek istana, tapi sebagian besar penduduk yang melarikan diri dari kota masih belum kembali kemungkinan mereka mengungsi di desa dan kota-kota lain dan belum mendengar kabar terbarunya." Kata Prajurit di sana.


"Komandan Azel sebaiknya kita masuk ke dalam kota dan memeriksanya, kemungkinan masih ada bangsawan atau pejabat kerajaan yang masih berada di kota." Ucap Assassin Dilfa kepada Azel.


"Aku mengerti kita akan mencari dan meminta bantuan mereka serta merundingkan apa yang harus kita lakukan setelah ini." Ucap Komandan Azel menjawab Dilfa.


Di sebuah ruangan di istana kerajaan Remaria terlihat Pangeran Antonio yang sedang bersama dua orang gadis muda.


"Kapten ayo kita keluar dan jalan-jalan." Ucap Zaza dengan yang berbicara pada Pangeran Antonio.


"Zaza sebaiknya kita berada di istana dulu, lagi pula aku akan ada beberapa pekerjaan nanti." Ucap Antonio.


"Zaza jangan berpergian dulu, bukankan di luar terlalu berbahaya, bagaimana kalau kamu di culik lagi." Ucap Antonio.


"Kapten sudah aku bilang jangan bahas itu lagi, sekarang bukankah aku sudah kembali dengan selamat." Kata Zaza.


"Zaza saat itu kamu hanya beruntung para assassin itu tidak melakukan hal buruk padamu, lagi pula aku hanya kawatir padamu, jadi beginy saja aku akan menemanimu main kartu hari ini." Ucap Antonio.


"Eh benarkah bukankah tadi kapten bilang akan ada pekerjaan." Ucap Zaza.


"Pekerjaannya bisa di tunda lain kali sekarang ayo kita main." Kata Antonio.

__ADS_1


"benarkah tapi bukankah itu artinya kapten bisa pergi keluar bersama kita, aku jadi bingung.."


"Zaza jangan terlalu banyak berpikir dan Erin ayo kita kocok kartunya, Zaza kamu ikut tidak?" Ucap Antonio.


"Tentu saja aku ikut main tapi ah sudahlah." Ucap Zaza yang kemudian bermain kartu bersama Antonio.


Sebenarnya Antonio hanya seday malas keluar rumah tapi dia juga tidak ingin sendirian jadi ia mengajak Erin dan Zaza menemaninya.


Di kota Lopak keadaan sudah semakin kondusif setelah di tarik mundurnya pasukan kerajaan Arfen ke benteng kota Meurak, Prajurit sekutu kerajaan Arfen yaitu prajurit kerajaan Navia telah di tarik mundur sepenuhnya bersama pasukan Paladin dari kuil yang merasa kalau mereka tidak akan mampu mengalahkan Komandan Fenia yang menjaga kota Lopak.


Komandan Fenia juga tengah menyiapkan pasukan untuk serangan balasan kepada pasukan kerajaan Arfen di benteng Meurak juga untuk mengusir pengaruh kerajaan Arfen di tanah Tandora memperluas wilayah kerajaan Silmarin yang di bawah pemerintahan kerajaan Remaria.


Diplomasi kerajaan Remaria dan kerajaan Arfen memang sudah retak tidak hanya setelah kerajaan Arfen bersekutu dengan kerajaan Navia yang sekarang menjadi musuh kerajaan Remaria tapi juga itu di sebabkan serangan pasukan kerajaan Arfen kepada pasukan kerajaan Remaria di tanah Tandora.


Tidak ada alasan untuk terus menjalin hubungan diplomasi yang baik dengan kerajaan Arfen.


Sementara jauh di utara benua, Republik Navia Utara telah menerima utusan kerajaan Navia yang menawarkan genjatan senjata, karena kerajaan Navia sedang dalam krisis setelah ulah Pangeran Antonio yang mengamuk di ibukota Elius.


Carlos sedikit berpikir apakah ia harus menerima genjatan senjata itu, tapi saat ini Republik sedang berada di atas angin setelah satu divisi pasukan udara kerajaan Remaria datang dan membantu mereka, Komandan laut Eriela yang terkenal juga mengamankan laut utara dari kapal-kapal Kerajaan Navia.


Tidak ada alasan menerima genjatan senjata yang di tawarkan kerajaan Navia itu sekarang apalagi setelah kota Wraska di ambil alih oleh musuh, jadi Tuan Carlos mengirimkan pesan balasan kalau pasukan Kerajaan Navia tidak pergi dari kota Wraska dan wilayah Republik Navia Utara yang lain yang telah di invasi Kerajaan Navia jangan berharap untuk berdamai sekarang.


.

__ADS_1


__ADS_2