GA : Glory Of The Kindom

GA : Glory Of The Kindom
138.2


__ADS_3

Garret, Warrior


Cross, Druid


Sina, Wizard


Nana, Priest


Kelompok petualang tingkat perak yang berjuluk Sky Dragon terlihat sedang bersembunyi di sebuah celah tebing batu untuk bersembunyi mereka adalah Garret, Cross, Sina dan Nana yang sedang menjalankan permintaan guild petualang untuk menyelidiki kemunculan iblis di wilayah selatan gurun Arka yang di duga kuat berasal dari reruntuhan makam besar Golgota.


"Sina sebaiknya kita kembali saja, aku kawatir kita akan bertemu iblis lagi." Ucap Priest Nana yang sedikit kawatir karena sebelumnya kelompok itu sempat berhadapan dengan seekor iblis tingkat rendah yang sedang berburu, meskipun mereka berhasil mengalahkannya tapi kemungkinan mereka bisa berjumpa dengan iblis lain yang jauh lebih kuat bila mendekati makam besar Golgota.


"Sina aku mengerti kekhawatiranmu misi pengintaian ini memang sangat berbahaya tapi kita sudah sejauh ini setidaknya kita harus dapat melihat dan mengamati reruntuhan makam itu dari jauh untuk memastikan keberadaan iblis di sana, Garret kamu setuju bukan?" Jawab Sina yang kemudian bertanya pada Garret.


"Kalau itu terserah Cross karena sekarang giliran dia yang memimpin kelompok kita, meskipun aku sedikit kawatir karena kalian tahu kelompok petualang yang di kirim sebelumnya tidak pernah kembali lagi." Ucap Garret lalu kemudian Nana dan Sina menatap Cross yang seorang Druid pemimpin kelompok itu.


"Sina benar kita harus terus maju karena kita tidak bisa kembali tanpa informasi yang di butuhkan guild, iblis sangat berbahaya dan dapat mengancam banyak nyawa manusia." Ucap Cross yang berpikir jika benar Iblis yang menyerang wilayah selatan benua berasal dari makam besar Golgota maka para petualang dan pihak militer bisa memfokuskan penyerangan di tempat munculnya iblis itu.


"Huh.. seperti Cross benar kita harus mengambil resiko ini untuk menyelamatkan banyak orang." Ucap Penyihir Sina lalu Cross berbicara.


"Menjalankan misi dengan pertaruhan nyawa dan menghadapi mahkluk mengerikan untuk melindungi orang-orang, memang inilah pekerjaan kita sebagai petualangan, sekarang ayo bergerak agar kita dapat segera menyelesaikan pekerjaan ini." Ucap Cross yang kemudian memimpin kelompok itu untuk lebih mendekati makam besar Golgota dan mengamatinya dari kejauhan.


Sementara itu di Artamia kota kerajaan Elf telah kedatangan seorang tamu yang tak terduga, Raja Dwarf Hulgorin dari pegunungan Wiwardin mengunjungi istana raja Elf Tainar.


"Yang mulia Raja Dwarf Hulgorin mengapa anda terlihat begitu gelisah, sebenarnya apa yang telah terjadi?" Tanya Raja Elf Tainar.


Raja Tainar sebenarnya cukup heran mengapa seseorang Raja Dwarf dari kerajaan tetangga datang karena di masa lalu kerajaan Dwarfen yang di pimpin oleh Hulgorin itu sering bersitegang dengan kerajaan Elf Artamia karena para Dwarf sering memasuki kawasan hutan Algamir untuk berburu dan menebang pohon yang di jaga oleh para Elf.


"Yang mulia raja Tainar sebenarnya ada sedikit masalah di pegunungan Wiwardin, para pengikut kuil Sirak sudah mulai berani mengganggu dan menyerang bentengku di kaki gunung, persediaan kamipun juga semakin menipis karena jalur perdagangan dari wilayah Tandora sudah terputus akibat para pemimpin brengsek di kota Toriam yang bersekutu dengan kuil Sirak." Ucap Raja Dwarf Hulgorin dan Raja Tainar mulai mengerti maksud kedatangan pemimpin Dwarf itu ke Artamia.


Sebenarnya Raja Dwarf Hulgorin juga tidak terlalu suka untuk meminta bantuan dari para Elf tapi bila tidak ada yang mau membantu menyuplai pasokan persediaan ke gunung Wiwardin kemungkinan para Dwarf tidak akan dapat bertahan di musim dingin yang akan datang.


Raja Tainar sedikit berpikir meskipun saat ini keadaan Artamia sudah cukup baik berkat di bukanya perdagangan dengan kerajaan Palanka tapi Ia sedikit enggan membantu kerajaan Dwarfen yang di masa lalu sering berperang dengan Elf.

__ADS_1


"Maksudmu pengikut dewa kegelapan Sirak telah menyerang pegunungan Wiwardin, lalu bagaimana dengan para naga yang tinggal di sana, bukankah wilayahmu merupakan tempat tinggal ras naga hijau." Kata Raja Tainar.


"Tainar para naga masih belum turun gunung membantu kami dan meminta bantuan langsung kepada Naga penguasa Helgram anda tahu bukan, itu bukanlah sesuatu yang dapat kami lakukan begitu saja." Ucap Hulgorin, sebenarnya para Dwarf merasa takut untuk datang ke sarang naga dan meminta bantuan mereka karena memikirkannya saja sudah terdengar gila, bisa-bisa mereka sendiri yang akan di jadikan makan siang saat mendekati tempat tinggal naga.


"Hulgorin meskipun kami ingin membantu tapi kami juga sedikit sibuk dengan persediaan yang harus kami kirimkan untuk membantu kerajaan baru di bagian barat tanah Tandora, kerajaan Silmarin juga sedang berjuang untuk menghadapi kuil Sirak di sana." Kata Raja Tainar yang terlihat masih menolak permintaan Hulgorin dan membuat Raja Dwarf itu sedikit kesal meskipun Ia tidak dapat menunjukkan kemarahan karena Ia yang sedang meminta pertolongan sekarang.


"Raja Tainar, orang-orang di Silmarin akan baik-baik saja karena aku dengar kerajaan Remaria juga mengirimkan bantuan kesana, kami lebih membutuhkannya saat ini dan kami juga akan membayar untuk persediaan itu." Ucap Raja Hulgorin yang menawar untuk membeli persediaan yang di miliki oleh kerajaan Elf.


"Raja Hulgorin meskipun penawaran anda cukup bagus untuk kami tapi pemberian persediaan untuk kerajaan Silmarin tidak mungkin untuk kami hentikan karena itu adalah permintaan dari pangeran Antonio yang merupakan kekasih dari pelindung dan penguasa sejati Hutan Argamir." Raja Tainar merasa Ia harus lebih mementingkan permintaan pangeran Antonio untuk menjamin kedekatan hubungan antara kerajaan mereka di masa depan.


"Hah... ternyata memang percuma meminta bantuan dari kalian para Elf, jadi kami memang harus berjuang sendiri." Ucap Hulgorin yang terlihat akan beranjak dari tempatnya.


"Tunggu yang mulia Raja Hulgorin." Sebuah suara yang terdengar cukup tua terdengar dari sudut ruangan dan orang tua itu terlihat mendekat ke tempat Raja Hulgorin di depan singgasana Raja Tainar.


"Bukankah anda Tetua Galkaxa, mengapa anda berada di tempat ini." Kata Hulgorin yang menyadari kalau yang berbicara padanya adalah Tetua Galkaxa yang sering Ia temua di masa perjuangan untuk mempertahankan benua barat dari invasi kaisar Hereven.


"Ah Hulgorin aku sudah tidak menjadi penasehat kerajaan Arfen lagi, aku tidak suka dengan keadaan politik di sana di mana Raja Valco terus di tekan oleh para pejabatnya, semua ucapankupun juga di abaikan oleh kerajaan Arfen sehingga aku memutuskan untuk pulang ke Artamia dengan alasan ingin menghabiskan sisa umurku yang sudah tidak lama lagi di tempat asalku." Ucap Tetua Galkaxa.


"Benarkah demikian, ternyata kerajaan Arfen juga sedang tidak stabil, Raja Valco memang terlalu muda untuk menghadapi permasalahan politik seperti itu." Ucap Tetua Galkaxa.


"Hm.. kurasa raja Valco sudah tidak dapat berpikir jernih, padahal Ia adalah orang yang paling tahu bagaimana jadinya bila berurusan dengan orang secerdas itu, tapi kurasa sudah cukup membahas kerajaan Arfen dan bagaimana keadaan anda." Ucap Hulgorin.


"Aku cukup baik terimakasih sudah bertanya dan tadi aku sudah mendengar semua permasalahan yang di hadapi para Dwarf aku juga turut prihatin dengan hal itu."


"Benar keadaan kami cukup sulit dan sepertinya itu tidak akan berakhir dalam waktu dekat karena anda sudah mendengar sendiri kalau raja Tainar kelihatannya enggan untuk membantu kami." Kata Raja Dwarf Hulgorin kepada Tetua Galkaxa.


"Raja Hulgorin anda tenang saja mengenai bantuan untuk kerajaan Dwarfen biar nanti aku yang akan berbicara pada raja Tainar, aku yang akan menjamin kalau bantuan persediaan untuk para akan segera di kirim." Kata Tetua Galkaxa yang menjanjikan hal itu mengabaikan raja Tainar yang terlihat tidak begitu senang karenakan sebelumnya Ia sudah memutuskan untuk menolak permintaan raja Hulgorin.


"Oh aku ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas bantuan anda meskipun terimakasihku ini mungkin tidak akan cukup untuk membalas anda." Ucap Raja Hulgorin yang terlihat senang dan beruntung karena bertemu dengan Tetua Galkaxa Elf yang paling di hormati di benua barat.


"Hahaha kamu tidak perlu sungkan ini demi masa lalu kita yang berjuang bersama-sama untuk semua orang, Sekarang anda kembalilah ke gunungmu, serahkan semua padaku untuk urusan di sini."


"Kalau begitu aku pamit sekarang, sekali lagi aku ucapkan terima dan jaga kesehatan anda Tetua Galkaxa." Setelah mengatakan itu raja Hulgorin langsung beranjak dari ruang singgasana raja dan kembali ke pegunungan Wiwardin.

__ADS_1


Raja Tainar terlihat menatap Tetua Galkaxa yang dengan lancang mengambil keputusan sendiri yang bertentangan dengannya.


"Tetua Galkaxa, apa maksud anda untuk menjanjikan hal itu kepada kerajaan Dwarfen, padahal anda tahu itu merupakan keputusanku yang berhak menentukan kebijakan kerajaan ini" Kata Raja Tainar.


"Tainar apakah kamu sudah lupa ajaran leluhur kita, kita para Elf harus membantu semua orang yang dalam kesulitan dan tetangga kita membutuhkan bantuan kita." Ucap Tetua Galkaxa memberikan nasihat pada Raja Tainar.


"Tapi meskipun begitu jauh di masa lalu kerajaan Dwarfen adalah musuh kita dan sekarang kita malah membantu mereka, apa yang akan di katakan para pejuang kita yang dulu gugur saat perang melawan kerajaan Dwarfen."


"Tainar itu adalah masa lalu dan kita harus menatap masa depan di mana ada banyak kemungkinan kita akan dapat menjalin pertemanan yang lebih dekat serta menguntungkan dengan para Dwarf, jadi lupakan dendam masa lalu yang tidak berguna itu." Ucap Tetua Galkaxa.


"Meskipun begitu aku masih belum setuju dengan mengirimkan bantuan ke kerajaan Dwarfen di pegunungan Wiwardin." Kata Raja Tainar yang masih menolak permintaan Raja Hulgorin meskipun Tetua Galkaxa sudah membujuknya.


"Tainar ingatlah Artamia masih berhutang padaku saat invasi kerajaan Palanka ke hutan Algamir." Kata Tetua Galkaxa yang berusaha menekan raja Tainar.


"Tetua Galkaxa Artamia memang berhutang pada anda karena berkat anda negeri ini dapat selamat, tapi bagaimana dengan bantuan ke kerajaan Silmarin yang mungkin harus di hentikan bila Artamia mengalihkan bantuan persediaan ke pegunungan Wiwardin."


"Kalau itu aku akan menghubungi pangeran Antonio dengan sihir telepati, Ia pasti akan mengerti karena Ia bertujuan untuk menolong semua orang tanpa memandang perbedaan ras, jadi lakukan apa yang harus kita lakukan." Kata Tetua Galkaxa dan akhirnya raja Tainar menyetujui permintaan itu.


____


Di gurun selatan tim petualang tingkat perak yang di pimpin Cross akhirnya dapat melihat makam besar kaisar Golgota dari jauh, mereka membaringkan tubuh mereka di antara bebatuan dan pasir untuk menyembunyikan diri karena terlihat sangat banyak monster iblis yang terbang dan mungkin dapat menemukan keberadaan mereka.


Para iblis dengan wujud mengerikan terus keluar dan masuk pintu makam besar kaisar Golgota, beberapa terlihat terbang di atas makam dan mengawasi sekitar hingga Garret, Cross, Sina dan Nana tidak dapat maju lebih dekat lagi.


"Garret kamu lihat itu para iblis dalam jumlah besar berada di sekitar makam yang artinya kemungkinan besar di sanalah para iblis itu muncul." Ucap Cross kepada rekannya.


"Benar kurasa tidak salah lagi kita harus segera melaporkan hal ini pada guild petualang di kota Libanon." Jawab Garret.


"Kalian tenanglah ada seekor iblis yang terbang mendekat." Ucap Sina yang menyadar ada iblis yang datang dari arah belakang dan mereka langsung menundukkan kepala menyembunyikan diri di antara bebatuan berharap iblis itu tidak menyadarinya karena para iblis lain pasti juga akan mendek dan mengeroyok mereka jika ketahuan. Untungnya iblis menyadari kelompok itu dan langsung terbang menuju ke arah reruntuhan makam Golgota.


"Untunglah kita tidak ketahuan, ini sangat berbahaya sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini." Ucap Priest Nana.


"Benar kita pergi sekarang."

__ADS_1


Para petualang itupun akhirnya memutuskan untuk langsung pergi setelah memastikan keberadaan iblis di makam besar Golgota, namun mereka harus tetap berhati-hati agar dapat kembali dengan selamat.


__ADS_2