
Obor yang di bawa Praska dan para petualang tingkat atas dari kota Wraska sedikit bisa memerangi ruang bawah tanah yang gelap itu.
Udara yang pengap terasa di udara karena ruangan bawah tanah itu benar-benar tertutup rapat dari dalam tapi saat cahaya dari obor itu mulai menerangi beberapa tempat pemandangan yang di saksikan Antonio bersama para petualang yang mengikutinya, itu benar-benar mengerikan.
Puluhan atau mungkin ratusan jasad terlihat di beberapa bagian ruangan harta itu, mereka adalah jasad dari pasukan kerajaan Galdamar yang menggunakan ruangan harta untuk bersembunyi dan bertahan.
"Antonio..?"
"Erin ini mengerikan sepertinya mereka terjebak di sini sampai mati."
Lalu kemudian Priest Anastasia langsung maju mendatangi beberapa jasad yang tergeletak di sana dan ia sedikit menyirami mereka dengan air suci serta mendoakan mereka.
Seorang Priest memamg sering melakukan itu untuk upacara pemakaman dan menyiramkan sedikit air suci untuk membersihkan jasad-jasad itu karena itu bisa mencegah jasad bangkit kembali menjadi undead atau mayat hidup akibat aura kematian yang bercampur dengan aliran sihir.
"Antonio kita tidak bisa membiarkan jasad-jasad mereka terlantar seperti ini, kita harus memakamkan mereka dengan layak."
Priest Anastasia mengusulkan hal itu dan Antonio mengangguk berbicara pada Priestnya.
"Aku mengerti kita akan segera memakamkan mereka, tapi kita juga harus menyelidiki sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka semua, mengapa mereka memilih bertahan di tempat ini, jika dugaanku benar mungkin mereka melindungi sesuatu atau seseorang yang penting di sini."
"Baik aku mengerti kita akan myisir dan memeriksa tempat serta jasad-jasad itu."
Mereka mulai menyisir tempat itu dan ada beberapa jasad prajurit Galdamar yang ternyata sempat meninggalkan surat wasiat karena tahu diri mereka akan segera mati, beberapa tulisan dalam surat-surat itu juga menggambarkan situasi mereka saat terkurung di ruangan itu.
Para prajurit kerajaan Galdamar terdesak oleh pasukan Orc yang jumlahnya jauh lebih besar dan sang raja memutuskan untuk mundur setelah mengetahui keluarganya serta sebagian rakyat Galdamar telah berhasil melarikan diri.
Tapi pasukan orc sudah mengepung sang raja dan pasukanya yang hanya bisa bertahan di dalam ruangan harta di bawah kastil Nakrom yang kokoh.
Raja Galdamar dan beberapa pasukan yang masih hidup hanya bisa berharap kalau pasukan orc akan segera pergi meninggalkan kastil Nakrom setelah orc menjarah dan menghancurkan pemukiman kota kecil di sekitarnya tapi itu salah besar.
Para Orc malah mendiami kastil itu dan raja Galdamar tidak bisa melarikan diri, beberapa prajurit Galdamar pernah di kirim keluar ke balik pintu ruangan harta itu untuk menemukan cara meloloskan diri atau mencari apa saja yang dapat di makan, tapi tentu saja itu tidak mudah karena para orc selalu berada di sekitar tempat itu.
Keadaan semakin buruk saat para orc berusaha membuka pintu harta itu kembali setelah mengetahui kalau ada beberapa prajurit Galdamar yang masih tersisa di dalamnya.
Kematian tidak bisa di hindari lagi dan mereka semua termasuk raja Galdamar hanya bisa pasrah menerima kematian mereka dan menjadikan ruang harta ini sebagai tempat peristirahatan mereka yang terakhir.
Itu memang menyakitkan tapi paling tidak jasad mereka tidak bisa di manfaatkan oleh para orc karena para orc akan memakan daging prajurit manusia yang mereka bunuh, mengambil perlengkapan dan senjata mereka, bahkan yang paling mengerikan sisa dari tulang mereka kemungkinan juga akan di gunakan oleh para shaman orc untuk di bangkitkan kembali sebagai undead dan untuk prajurit kematian.
Raja Galdamar dan para prajurit memutuskan untuk menghindari hal itu tapi mereka masih tetap merasa bangga hingga akhir hayat mereka, meskipun mereka kalah tapi paling tidak mereka telah berjuang dan berhasil menyelamatkan banyak nyawa manusia dari serangan pasukan Orc.
"Antonio lihatlah kemari sepertinya aku menemukan jasad sang raja.!"
Erin mengatakan itu dan memanggil Antonio yang tengah sibuk membaca beberapa surat yang di tinggalkan para prajurit Galdamar.
Raja Galdamar terlihat duduk bersandar di bawah salah satu tiang besar penyangga ruangan bawah tanah itu dengan mahkota masih menempel di atas kepalanya, beberapa jasad prajurit dengan Armor tebal juga terlihat mendampingi raja mereka sampai akhir, kemungkinan mereka adalah jendral dan para Knight sang raja.
"Priest Anastasia jasad sang raja sudah di temukan kita akan mengumpulkan semua jasad itu dan memakamkannya di halaman luas di samping kastil Nakrom, Nona Helena tolong kamu minta para petualang yang berjaga di luar kastil untuk menggali tampat itu."
"Baik yang mulia pangeran Antonio."
Nona Helena kemudian pergi menemui para petualang di luar kastil, kemudian John Herman berbicara.
"Pangeran Antonio lalu bagaimana dengan beberapa harta yang ada di tempat ini kita sudah mengumpulkanya tapi sebagian benda dan armor dari para prajurit itu belum kita lucuti dari jasad-jasad itu sesuai permintaan anda."
"Untuk harta yang kita temukan di sini aku akan membagikan sebagian untuk para petualang yang membantu dalam quest kita tapi untuk sebagian Armor dari para prajurit Galdamar yang gugur kemungkinan aku akan mengirimkannya kepada kerajaan Elgard di benua timur karena kemungkinan keturunan dari keluarga mereka masih tersisa dan itu akan sedikit memberikan hal baik untuk diplomasi kerajaan kita dengan kerajaan Elgard."
"Tentu kami sangat berterima kasih bila yang mulia berbaik hati membagi sebagian harta yang kita temukan di kastil kota Nakrom pada kami para petualang, karena sebenarnya anda yang paling berhak untuk semua harta itu karena misi yang kami terima hanya membantu anda menghadapi pasukan Orc."
Sebuah misi penyerbuan memang biasanya seperti itu, para bangsawan yang menyewa dan memimpin para petualang dalam misi akan mengambil semua harta rampasan untuk mereka sendiri, para petualang hanya akan mendapatkan upah sesuai perjanjian awal karena mereka hanya di anggap sebagai prajurit bayaran.
"Tuan John aku juga adalah petualang jadi tentu saja aku mengerti perasaan kalian semua, baiklah Erin akan mengumpulkan beberapa benda tertentu yang memiliki nilai lain seperti perlengkapan sihir atau benda yang mungkin memiliki nilai sejarah untuk di pelajari."
Kemudian Praska di sana berbicara.
"Pangeran Antonio kalau mengenai benda peninggalan kerajaan Galdamar aku yakin rekanku Yolga bisa sedikit membantu anda karena ia sering belajar dan membaca buku sejarah termasuk sejarah kerajaan Galdamar."
Antonio kemudian melihat Yolga dan berbicara padanya.
__ADS_1
"Benarkah itu akan sangat bagus karena Erin hanya bisa menilai benda sihir dan tidak bisa mengetahui nilai sejarahnya, pengetahuan Yolga akan sangat membantu untuk hal itu."
"Terimakasih yang mulia hamba akan berjuang untuk membantu anda."
Mereka mengumpulkan harta di ruangan itu dan ada beberapa benda sihir yang sebagian adalah perlengkapan yang di gunakan oleh para petinggi pasukan Galdamar, tapi diantara benda itu ada benda yang di anggap istimewa yaitu benda yang di gunakan oleh raja Galdamar sendiri.
"Antonio selain cincin, Armor dan tongkat raja tidak ada benda yang memiliki kemampuan sihir, tapi itupun tidak terlalu kuat, Armor sang raja Galdamar hanya memiliki ketahanan dari beberapa elemen sihir tertentu, cincinya memiliki batu rubi merah yang menambah efektifitas kekuatan sihir elemen api sedangkan tongkat itu..?"
"Ada apa Erin bagaimana dengan tongkat pendek milik raja Galdamar.?"
"Tongkat itu aku tidak bisa mengetahui apa kegunaannya, tapi itu jelas adalah item sihir karena bereaksi terhadap sihir pendeksi yang aku rapalkan."
Erin mengatakan itu tapi Antonio masih cukup penasaran dengan benda itu kemudian Yolga berbicara.
"Pangeran Antonio itu kemungkinan adalah tongkat Hegan, aku sempat membaca di buku yang mengisahkan kerajaan Galdamar dan di dalam buku yang di tulis oleh orang-orang yang selamat dari runtuhnya kerajaan Galdamar itu mengisahkan sang raja yang selalu memegang tongkat agung yang membuatnya selalu di segani oleh kerajaan lain, tongkat yang memiliki kekuatan untuk mengetahui kebenaran dari ucapan seseorang.?"
"Apa jadi tongkat yang bisa mendeteksi kebohongan dari seseorang, itu sangat berguna dan juga berbahaya aku bisa memanfaatkan itu untuk pemerintahanku kelak, para pejabat dan bangsawan kerajaan Remaria pasti akan ketakutan setengah mati bila tahu aku memegangnya."
Antonio mengatakan itu karena memang benar tongkat itu bisa sangat bermanfaat, tidak akan ada orang yang dapat berbohong pada orang yang memegang tongkat Hegan, pantas saja di kisahkan kalau semua orang termasuk para raja sangat menghormati pemimpin yang memilikinya.
"Kapten tongkat itu memang akan menjadi milikmu tapi berjanjilah untuk tidak menggunakannya pada kami, kami akan sangat marah."
Zaza langsung mengatakan itu karena tentu saja privasinya mungkin akan terancam bila Antonio menggunakan tongkat itu padanya kemudian Priest Anastasia juga berbicara.
"Antonio kekuatan tongkat itu memang hebat tapi ingat kamu tidak boleh menyalah gunakanya."
"Zaza dan kalian tenang saja, aku tahu hal itu dan aku tidak akan menggunakanya pada kalian karena aku percaya pada kalian, Ini memang sesuatu yang hebat dan butuh tanggung jawab yang besar aku akan berhati-hati dalam memanfaatkan tongkat ini."
Antonio mengambil tongkat itu untuk dirinya dan membagikan sebagian harta temuan di benteng Nakrom pada para petualang, Mahkota raja Galdamar yang terlihat sangat berharga dan memiliki nilai sejarah yang di tinggi juga ia amankan untuk kepentingan kerajaan saat ia nanti bernegosiasi dengan kerajaan Elgard tempat asal Raja Galdamar dan rakyatnya yang berkolonisasi serta membentuk kerajaan di benua barat pada masa lalu.
Di luar benteng Nakrom para petualang terlihat bersemangat saat mereka mendengar akan mendapatkan bayaran lebih karena pangeran Antonio akan membagikan sebagian harta yang ia temukan.
Arfandra pemimpin Elf hutan Nordell juga akhirnya kembali membawa pasukan besar Republik serta pasukan Remarian.
"Tuan Arfandra anda sudah kembali padahal kami baru saja selesai membentuk tim untuk mencari anda."
Tuan Arfandra bertanya dengan wajah menyesal tapi kemudian nona Helena berbicara.
"Tidak tuan Arfandra memang ada dua petualang tingkat perunggu yang menjadi korban dan akan di makamkan di kota Wraska, sisanya yang terluka sudah di pulihkan dengan potion penyembuh dan sihir light healing."
"Benarkah lalu untuk apa semua persiapan pemakaman ini.?"
Arfandra bertanya kembali karena untuk apa semua pemakaman itu karena kalau makam itu untuk para orc sangat tidak mungkin karena mereka tidak layak di perlakukan sebaik itu, para Orc hanya akan di kubur atau di bakar secara masal untuk mencegah penyakit dari mayat mereka yang membusuk.
"Tuan Arfandra, yang mulia pangeran Antonio telah berhasil menemukan jasad raja Galdamar dan pasukannya yang terjebak di ruang harta bawah tanah kastil, jadi semua ini untuk memakamkan semua jasad para pahlawan itu di sini dengan layak."
"Oh itu adalah hal yang baik karena kalian tidak meninggalkan semua jasad itu begitu saja, tapi apakah ruangan yang terkunci rapat di bawah benteng itu berhasil di buka, dulu kami para Elf pernah mencoba membukanya tapi gagal karena pintunya terlalu kokoh, reruntuhan di sekitarnya juga sangat mengganggu proses penggalian."
"Ya pangeran Antonio berhasil membuatkanya dengan kecerdasanya dan juga menemukan beberapa harta, oh ya tuan Arfandra lalu bagaimana dengan pasukan yang bersama anda.?"
"Oh benar juga aku terlalu bersemangat sampai lupa, perkenalkan beliau adalah Nona Eriela komandan pasukan laut Remaria dan Kapten Abraham yang memimpin pasukan Republik Navia."
Nona Helena yang mewakili para petualang di sana langsung menunduk memberikan hormat sambil memperkenalkan dirinya.
"Oh tuan dan nona adalah para pemimpin tinggi pasukan yang terhormat, perkenalkan hamba adalah Helena petualang tingkat emas dari kota Wraska yang membantu pangeran Antonio dalam misi ini."
Komandan Eriela menatap Nona Helena dan berbicara.
"Baiklah terima kasih nona Helena karena telah menjaga dan membantu pangeran kami, kami datang untuk memastikan keselamatan pangeran Antonio dalam misi penyerbuan orc, tapi dari percakapan anda dengan tuan Arfandra sepertinya kami tidak terlalu di butuhkan lagi untuk itu kalau begitu di mana yang mulia pangeran Antonio saat ini.?"
"Beliau masih berada di dalam kastil bersama sebagian petualang."
"Baiklah kalau begitu kami akan langsung menemuinya."
Setelah mengatakan itu Komandan Eriela bersama pasukannya langsung menuju ke dalam kastil meninggalkan Nona Helena.
"Huh komandan itu terlihat benar-benar tidak menyenangkan, dia terlalu kaku dan serius padahal dia juga adalah seorang wanita."
__ADS_1
Antonio masih berada di dalam reruntuhan kastil Nakrom sampai terlihat pasukan Remaria memasuki ruangan itu.
"Oh Eriela kamu akhirnya sampai di Republik padahal aku pikir kamu akan butuh waktu lebih lama untuk sampai, tapi sudahlah aku senang kamu sampai dengan selamat."
Komandan Eriela menghela napasnya setelah melihat langsung kondisi pangeranya yang masih baik-baik saja.
"Pangeran ratu Alta benar-benar kawatir pada anda, kenapa anda berangkat sebelum hamba sampai ibukota Remaria bahkan membuat salju longsor rute yang anda lewati dan membuat kami harus berputar jauh untuk mengejar rombongan anda, sebenarnya apa yang sedang pangeran Antonio rencanakan.?"
"Komandan Eriela jalur yang tertutup longsoran salju itu hanya kecelakaan kecil, bukan niatku untuk membuatnya longsor, lagi pula aku sudah mengatakan pada ibu kalau aku akan nerada di dalam pengawalan Pasukan Republik sebelum berangkat."
"Benar tapi seharusnya rombongan menteri Nikof berangkat bersama pasukan yang hamba pimpin dan sebelum hamba juga dengar kalau ada Assassin yang memburu yang mulia Pangeran Antonio bahkan sempat menyerang rombongan anda bukan.?"
"Eriela sudahlah yang sudah terjadi biarlah terjadi yang penting aku masih baik-baik saja bukan dan kita bisa kembali ke ibukota Wraska setelah ini untuk peresmian kapal kita."
Komandan Eriela sedikit frustasi karena dia dan tuan Carlos begitu kawatir sampai mengerahkan cukup banyak pasukan, tapi dengan santainya pangeran Antonio mengatakan itu.
"Pangeran Antonio ada sedikit kabar dari tanah Tandora apakah yang mulia sudah mengetahuinya.?"
Komandan Eriela mengatakan itu dan Antonio kemudian langsung menjawabnya.
"Maksudnya mengenai pernyataan Jendral Mariana yang akan merebut kota Lopak dengan pasukan besar bersama pasukan kerajaan Navia, Kerajaan Arfen benar-benar tidak tahu terimakasih, mereka mungkin mendapatkan tekanan dari para bangsawan ibu kota Grandis yang sudah di suap dan di pengaruhi oleh kerajaan Navia untuk menekan raja Valco, tapi biarlah."
Komandan Eriela sedikit kesal karena Antonio terlihat tidak begitu peduli dengan hal itu, padahal jika pertempuran itu pecah Pasukan Remaria yang membantu kerajaan Silmarin mempertahankan kota Lopak akan dalam bahaya besar.
"Pangeran Antonio jumlah pasukan kerajaan Arfen sangatlah besar setelah di bantu kerajaan Navia dan beberapa kuil besar, Pasukan kita yang mengamankan wilayah itu akan dalam bahaya besar."
"Komandan Eriela kamu tenang saja untuk melindungi wilayah Lopak dari serangang kerajaan lain Komandan Fenia sendiri sudah cukup untuk mengatasi mereka semua, yang aku kawatirkan justru dari kerajaan Tandora sendiri yang sudah di kuasai kuil Sirak, Komandan Darius pasti harus bekerja keras untuk hal itu."
Komandan Eriela memang sempat mendengar kehebatan komandan Fenia yang berani menghadapi skeleton dragon untuk membantu pangeran Antonio tapi seorang pemimpin hebat tidak bisa memenangkan perang besar tanpa dukungan pasukan yang memadai.
Tapi beberapa waktu yang lalu bagian barat wilayah kerajaan Silmarin yang berada di bawah kerajaan Remaria di tarik mundur dan di pindahkan kesebelah timur tepatnya di kota Bolvak untuk mendukung komandan Darius menghadapi pasukan milik kerajaan Tandora yang di pimpin Jendral Ahmed, membuat sisi barat di kota Lopak menjadi sangat rentan tapi mengapa pangeran Antonio sangat percaya kepada komandan Fenia Renir yang mengamankan wilayah itu.
"Yang mulia mengapa anda begitu memandang tinggi kemampuan prajurit Fenia yang belum lama di promosikan sebagai komandan, karena dulu saat hamba bertemu dengannya Komandan Fenia sama sekali tidak terlihat kuat."
"Eriela jangan melihat seorang dari penampilanya karena dia jauh lebih kuat dari semua prajurit di kerajaan Remaria."
"Apakah itu karena komandan Fenia memagang Tombak Enema dan perisai ovalhard yang setara dengan trisula yang anda percayakan kepada hamba.?"
"Tidak Eriela komandan Fenia menjadi prajurit terkuat Remaria bukan karena kedua senjata itu tapi karena kemampuan dan keberaniannya, bahkan tanpa senjata yang aku percayakan padanya dia akan dapat dengan mudah mengatasi prajurit kerajaan Arfen."
Komandan Eriela sedikit ragu, tapi mengingat pangeran Antonio yang begitu bijaksana dan cerdas hingga dapat mempermainkan Pasukan Kekaisaran di masa lalu, tidak mungkin itu adalah sebuah omong kosong belaka.
"Baik yang mulia hamba akan percaya kepada anda."
.
.
AFTERWORD.
Jum'at 21 juli 2021
Ah maaf akhir-akhir ini fokusku agak terganggu sampai hanya bisa menulis sedikit demi sedikit setiap hari.
Mengarang dan menentukan arah cerita benar-benar sulit dan butuh waktu lama untuk menuliskannya, tapi aku akan terus berusaha.
Novel GA versi cetak aku harap segera selesai dan aku harap jadi best seller juga karena itu akan cukup menentukan masa depan novel ini dan mungkin akan berpengaruh juga padaku penulis sederhana ini.
Memang sudah ada beberapa yang menyatakan minat mereka untuk beli dan aku sangat senang serta berterimakasih karena itu sangat berarti untuk perjuanganku.
Aku akan terus berharap dan yakin karena semua ini memang berasal dari setitik keyakinan. Untuk semuanya yang membaca novel GA aku ucapkan terimakasih.
Salam.
Davit Riyanto
.
__ADS_1