
...Volume 1...
...Bab 1...
...Darah Yang Manis...
Kamar Pribadi ( Lantai dua Kafetaria )
Risa berada di dalam pelukan nya Theo , untuk saat ini Risa hanya diam dan tidak berani bergerak berlebihan. Suasana hati nya sangat kacau dan rumit , seharus-nya tadi dia berpura-pura sakit atau pingsan . Dia menyesal dengan keputusan nya yang tergesa-gesa ini .
"Arg ... Arg ... "
Risa merasa leher nya agak gatal dan detik berikut-nya sakit , sial laki-laki sinting menggigit leher nya terlalu kuat mengapa gigitan orang sinting ini begitu menyakitkan , seberapa tajam kah gigi nya di bukan Vampir kan ? , Tidak mana mungkin vampir itu ada itu hanya khayalan . Risa berusaha sekuat tenaga mendorong laki-laki sinting itu .
" Menjauh dari ku ! "
Bruukk
Theo yang terdorong jatuh menyeringai .
Risa menyerengit dan memegang leher nya yang terdapat bekas darah , Risa melotot ke Theo .
" Kamu manusia bukan Vampir , gigit orang sembarangan memang nya darah enak apa di makan "
Risa meledak marah , walau biasa nya ia sangat tenang dan di dalam tubuh remaja itu terdapat jiwa orang dewasa. Namun emosi remaja masih mempengaruhi Risa sendiri .
Risa melihat sudut mulut Theo yang ada beks darah nya , ia menggigil ngeri laki-laki ini benar-benar minum darah nya memang rasa nya enak apa .
Theo malah tersenyum dan tertawa .
" Ah ... Kamu memang masih remaja , walau pun wajah mu begitu tenang dan datar tapi kamu masih cukup kekanak-kanakan . Siapa sangka kamu membaca hal-hal fiksi itu puft ... Ha .. ha .. "
Melihat reaksi Theo yang tidak wajar , membuat Risa semakin ingin kembali ke Vila nya sekarang .
" Sudah selesai kan ? , Aku akan kembali "
Tap tap tap
Risa menuju pintu itu dengan tergesa-gesa , dia sudah tidak mau berurusan dengan laki-laki sinting lagi . Risa memegang gagang pintu dan berusaha membuka pintu namun tidak bisa , apakah itu menyangkut ? Tidak itu terkunci sial laki-laki sinting itu mengunci nya di sini .
Risa berbalik dan bertemu tatapan penuh gairah laki-laki sinting itu , tatapan nya yang mencoba mencari rahasia tersembunyi di mata nya . Ekspresi wajah Risa menjadi dingin , kali ini jika dia berhasil lolos dia akan membakar dupa untuk orang tua itu .
" Mengapa tidak pergi ? , Ah aku tahu mawar kecil ku pasti ingin bersama dengan ku lebih lama ya " Theo tersenyum menyeringai
Theo bangkit dan menepuk baju yang sebentar takut nya ada debu yang menempel , dia masih tersenyum dan melangkah menuju Risa dengan langkah perlahan .
__ADS_1
Risa tahi bahwa senyuman yang indah itu mengandung berbagai bahaya tersembunyi , dan laki-laki sinting ini tidak tahu malu , dia seperti Hooligan tidak tahu malu .
" Buka pintu nya ? " Suara Risa terdengar rendah dan dingin
Theo masih tersenyum tidak berbahayanya , dia semakin dekat dengan Risa . Suara langkah nya yang terdengar jelas akibat sepatu kulit yang di pakai nya .
Tap tap
" Berhenti di sana ! " Perintah Risa datar
Theo berhenti maju dan dalam beberapa langkah lagi dia mencapai Risa , Theo menyeringai .
" Bukan nya Mawar kecil meminta Tuan Muda ini membuka kan pintu , kalau begitu Tuan Muda ini harus mendekat ke mawar kecil kan ? " Dia berkata dengan wajah yang tidak bersalah .
Tapi siapa yang percaya , Risa dengan wajah datar menyingkir dari pintu .
" Buka kalau begitu ! " Ucap Risa rendah
Theo tersenyum smirik , dia melanjutkan langkah nya lagi dan telah mencapai pintu itu . Sedangkan Risa menatap nya dari samping , Theo menyeringai lagi saat dia menyentuh gagang pintu , dia malah menarik tangan Risa dan mengunci nya di dinding dengan kedua tangan nya .
Wajah Risa berubah pucat pasi lalu dia menatap Theo dingin , pergerakan nya di kunci oleh si laki-laki sinting ini . Saat dia mencoba menggunakan kaki nya , itu malah di kunci dengan kaki panjang milik brengsek ini . Sial dia belum pernah mengalami hal ini dalam hidup nya .
" Ingin pergi HM ? " Suara magnetis dan serak seorang Pria terdengar di telinga nya .
" Apa yang kamu lakukan ? "
Theo mencubit dagu Risa dengan tangan nya , dan membuat nya wajah mereka saling bertemu . Tatapan Theo selaku tertuju pada bibir tipis yang mungil itu , dia tidak tahu mengapa ada dorongan di hati nya untuk mencium bibir mungil mawar kecil nya ini .
" Hiss itu sakit "
Theo mencengkram dagu Risa terlalu kuat , sehingga menyebabkan dagu Risa agak merah . Risa memelototi Theo , tapi di Mata Theo Risa sangat lah imut . Lihat pipi nya yang mengembung itu sangat imut ia ingin mencubit nya .
" Ah mawar kecil ku sangat imut "
Theo mencubit pipi Risa gemas , suasana yang tadi nya dingin berubah menjadi kekonyolan .
" Berhenti mencubit ! " Risa kesal
Theo akhir nya berhenti dan melepas-kan Risa . Theo menarik tangan Risa lagi , Risa menyerengit dan bertanya .
" Kemana kamu membawaku lagi ? "
Theo hanya tersenyum sebagai jawaban , dia membuat Risa kembali duduk ke tempat semula .
" Tunggu di sini ! " Pinta Theo
__ADS_1
Theo mengambil sebuah kotak P3K dari sebuah lemari obat , lalu membawa nya menuju Risa .
" Kemari !" Pinta Theo halus
Risa mendengus " Aku bisa sendiri "
Saat Risa hendak mengambil kotak P3K dari tangan Theo , Tangan nya malah di tangkap oleh Theo .
" Mawar kecil yang tidak taat , Tuan Muda ini sedang dalam mood yang bagus . Biar aku yang lakukan ! "
Theo membuka kotak obat itu dan mengeluarkan alkohol dan kapas , Theo mengoles kan Alkohol ke bekas gigitan nya di leher Risa . Namun pandangan nya selalu tertuju pada leher Risa , yah darah nya terasa manis dan enak dia ingin lagi .
Theo menghapus pemikiran absurd nya itu dari benak nya , ini aneh mengapa ia selalu beraksi saat melihat darah gadis ini . Dia memang sudah terbiasa melihat darah orang lain , tapi bukan untuk di minum atau di makan . Hah ini aneh ia harus menguji darah gadis ini nanti di lab bersama dengan Mill .
Setelah mengoles kan Alkohol ,Theo mengambil perban dan memakaikan nya dileher Risa . Seperti nya hari ini ia harus membiarkan mawar kecil nya pergi , dia harus menjauhi nya sementara karena tubuh nya merasa aneh .
" Sudah selesai "
Risa tidak menyadari pemikiran Theo yang sedang kalut itu . Di pikiran nya hanya satu keluar dari sini secepat nya , Risa memandang Theo yang asik membalut kain kasa di leher nya . Memang laki-laki ini sangat tampan , tapi mengapa dia membiarkan rambut nya panjang dan bahkan repot-repot mengikat nya , dan bila dia dengan serius melakukan pekerjaan dia terlihat enak di pandang .
" Ah apakah mawar kecil ku akhir nya sadar bahwa aku sangat tampan " Theo tersenyum menggoda
Risa menarik kembali perkataan nya , laki-laki sinting tetap lah sinting .
" Huh tidak !!! "
Theo hanya tersenyum dalam diam dan dia juga mengganti perban di tanhan Risa .
" Siapa yang melukai-mu mawar kecil ?, Ini seperti nya masih baru "
Theo membuka kain kasa di pergelangan tangan Risa , Dan menatap Risa dengan khawatir . Tapi wajah nya tiba-tiba menunjuk-kan keanehan .
(" Aroma ini sangat harum , aku ingin meminum nya ... Tidak .... Tidak ... Oh Shit " Batin nya )
Theo sedanh bertarung dengan keinginan batin nya sendiri , dan Risa tidak menyadari nya sama sekali . Theo dapat menahan hasrat nya itu dan melanjutkan mengganti perban di tangan Risa .
Risa menatap wajah Blair yang agak pucat , dia semakin khawatir dari hati nya bahwa ia akan di gigit lagi . Jadi dia mengeluarkan dupa yang sama dengan yang membuat Rein tertidur .
" Aroma ini sungguh menenang-kan "
Theo tiba-tiba tertidur di meja makan , dan Risa hanya tersenyum tipis melihat Theo yang tertidur . Risa menggeledah kantong Theo dan menemukan kunci pintu.
" Lebih baik jangan menyerang sistem pemantauan nya dan biarkan saja dengan cara manual " Batin Risa
Risa dengan cepat membuka pintu dan keluar , ia berhasil selamat kali ini . Dia harus berhati di masa depan yang akan datang .
__ADS_1