
Dea memberikan laporannya. Dino yang melihat laporan itu langsung mengernyitkan dahinya dan menarik nafas dalam serta membuangnya dengan kasar.
" oke, ini biar aku aja yang ngerjain yaa, kamu tolong ngerjain yang ini aja yaa" ucap Dino yang pusing melihat hasil kerjaan Dea yang berantakan, dan harus membuatnya dari awal lagi.
" Lo mau ngerjain Dea apa mau ngerjain gue?? sungut Dino yang sambil memberikan laporan kepada Riko
" astagaaa.... sebodoh itu kah dia?? " Riko membelalakkan matanya setelah melihat laporan hasil kerja Dea
" hmmm .... kira kira dong kalo ngerjain anak orang, jadi gue yang harus lembur " kesal Dino
" iyaa deh iyaa, sorry bro " nyengir Riko
Riko melirik jam di pergelangan tangannya. kemudian dia berjalan keluar dari ruangannya dan berjalan ke arah Dea
" ayo pulang " ucap Riko kepada Dea yang sedang serius mengetik berkas yang diberikan oleh Dino tadi.
Dea yang sedang serius menatap layar komputernya pun terkejut dengan suara Riko. dan beralih menatap Riko.
" mau pulang bareng apa mau pulang sendiri ?" tanya Riko dingin
" iy..iyaa tunggu sentar " ucap Dea kelabakan.
" saya tunggu di lobi " ucap Riko sambil melangkahkan kaki meninggalkan Dea
Dea hanya menghela nafas pelan setelah kepergian Riko. dengan segera Dea memberikan dan merapikan meja nya. Dea melihat ke arah meja Dino. ' ke mana yaa pak Dino, kok dari tadi gak kelihatan, aja sudah pulang duluan yaa.. tapi tasnya masih di sini ' batin Dea sebelum pergi meninggalkan mejanya.
semua mata tertuju kepada Riko yang sedang berdiri di depan pintu masuk kantor,
banyak karyawan perempuan yang berbisik bisik memuji ketampanan riko.
Dea yang berjalan kearah Riko pun merasa aneh dan merasa bulu kuduknya merinding saat semua karyawan menatap intens terhadap dirinya.
" lama banget sih, dasar siput " ucap Riko saat melihat Dea yang sudah berada di sampingnya.
Dea hanya mendengus kesal mendengar perkataan Riko . di tambah lagi mendapat tatapan murka dari karyawan perempuan yang melihat ke atas dirinya.
" besok kamu pakai high heels " ucap Riko yang memecah kebisuan di dalam mobil
" hah?? "
Riko hanya melirik Dea
sesampai di rumah, Dea langsung menuju kamarnya, dan membaringkan tubuhnya di ranjang.
"huuffff.... lelahnya... " gumam Dea sambil memicit keningnya.
tok tok tok
" kak Dea "
karena tidak ada sahutan dari dalam, Mera langsung membuka pintu kamar Dea.
__ADS_1
" ya ampun kak Dea, selelah itu kah?? " sambil menggelengkan kepalanya.
Mera pun menutup kembali pintu kamar dea
" mana Dea, sayang ?? " tanya Tante dizah kepada Mera
" tidur ma, kecapean kayaknya " ucap Mera sambil mendudukkan dirinya di kursi
" ya sudah, biarin aja dia tidur mungkin dia kelelahan. karena papa dengar Riko kasih pekerjaan berat kepadanya " lirik tuan yoga ke arah Riko
Riko yang mendengar ucapan tuan yoga hanya berpura pura tidak bersalah.
Dea membuka matanya, dan mengerjapkan beberapa kali matanya.
" jam brapa ini?? haahh ya ampun sudah jam 3 ! " gumam Dea. dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa lengket .
" lapaar banget "
Dea pun turun melangkahkan kakinya ke arah dapur . Dea berencana membuat nasi goreng.
saking seriusnya, Dea tidak menyadari ada orang yang sedang berdiri di belakangnya.
ketika Dea membalikkan badannya..
" aaa mmpphff " mulutnya di bekam dengan tangan. yang diduga Dea ada lah tangan laki laki.
saat Dea ingin melepaskan dirinya, terdengar suara bariton yang tidak asing dengan Dea
yaa, pria bersuara Bariton itu ada lah Riko, yang berdiri di dalam kegelapan, karena saat Dea memasak, dea tidak menghidupkan semua lampu, hanya lampu redup saja yang di hidupkan Dea.
Riko perlahan melepaskan tangannya.
Dea mendengus kesal dengan Riko. Riko berjalan melewati Dea, dan mengambil air minum.
" eemm, kamu mau ikut makan? " tanya Dea ragu ragu
Riko hanya menaikkan alisnya sebelah, dan tidak menanggapi ucapan dea. Riko berjalan melewati Dea dan kembali ke kamarnya.
" huufff, dasar aneh " gumam Dea
Dea kembali ke kamarnya, dan dia kembali tertidur.
" bukankah aku menyuruhmu menggunakan high heels?? "
suara bariton yang tiba tiba datang mengejutkan Dea yang baru keluar dari kamarnya.
" aku tidak terbiasa menggunakan nya "
" mulai sekarang kau harus terbiasa, jadi aku tidak terlihat untuk jalan bersama anak kecil "
Dea membelalakkan matanya mendengar ucapan Riko. ' benar benar ni oranh, main fisik rupanya. sungguh menyebalkan ' batin Dea
__ADS_1
" ehemm, itu bukan salah ku. salah mu sendiri kenapa bisa setinggi tiang listrik " ucap Dea dan melenggang melewati Riko.
sebelum Dea melewatinya, tangan Riko sudah menahannya duluan.
" kembali ke kamarmu, dan ganti sepatu mu. atau aku akan membuat mu menderita " ucap Riko sambil senyum devilnya.
Dea mendengus kesal mendengar ucapan Riko. dan kembali kedalam kamarnya untuk mengganti sepatunya.
sesampai di kantor, dea benar benar kesusahan menggunakan sepatu high heels nya. saat dea menginjak tangga masuk kantornya, Dea hampir terjatuh dan dengan cepat Riko menangkap tubuhnya.
" bisa kah kau berjalan yang benar anak kecil " ucap Riko dingin dan melepaskan pelukannya.
" salah siapa yang menyuruhku menggunakan sepatu ini, dasar tiang listrik" lirih Dea
" aku masih bisa mendengarmu " ucap Riko yang berada di depannya.
kembali Dea merasakan aura yang kurang enak setiap masuk kedalam kantor. terutama jika dia jalan bersama Riko. seolah olah dia akan di serbu dan di keroyok oleh wanita wanita cantik yang ada di sekitarnya.
Dea berdekik ngeri membayangkannya.
" wow Dea, kau sudah tambah tinggi ?" canda dino
Dea hanya memberikan senyum kecutnya kepada Dino
" kau benar benar cute Dea " ucap Dino sambil mengedipkan matanya.
Dea memutar bola matanya malas. ' pagi pagi suda sial aja ' batin Dea
" siapkan semua berkas, kita langsung berangkat!" ucap Riko kepada Dea dan Dino
" kemana?? " tanya Dea polos
dino anya tersenyum melihat tingkah Dea yang lucu. sedangkan Riko memicit pelipis alisnya dan sepertinya ada kekesalan di hatinya.
" yaa ampun... kamu itu asisten saya, jadi sudah seharusnya kamu tau jadwa saya " ucap Riko tegas
Dea hanya menatapnya dan mengedip ngedipan kedua matanya seolah sedang berfikir.
" oh yaa, maaf saya lupa " tanpa rasa bersalah
Riko berdecak pinggang melihat Dea. dan Dea langsung membereskan apa yang perlu di bawanya. Dino hanya tersenyum geli melihat kedua insan itu.
baru dua jam Dea memakai high heels, tapi rasanya engsel engsel kakinya seakan mau lepas. Dea benar benar kelelahan. ingin sekali dia menanggalkan sepatunya itu.
meeting dengan klien pun selesai. proyek berhasil mereka menangkan. ucapan selamat terus di berikan kepada rekan kerja Riko.
" mantap bro, kau memang yang terbaeek " ucap Dino sambil mengacungkan dua jempolnya.
" semua ini berkat asisten yang tidak banyak membantu. malah menyulitkan orang lain." ucap Riko sambil melihat ke arah Dea dengan mata tajam bagaikan elang yang ingin memangsa.
Dea hanya menundukkan kepala karena Dea merasa bersalah kepada dino.
__ADS_1