
Walaupun penuh lebam pada wajahnya, tapi dia tetap terlihat tampan dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Sehingga membuat suster dan orang orang yang melihatnya menjadi jatuh hati.
Dea membuka pintu kamar Rian. Dia melihat Paman Jo dan Tuan Yoga sedang berbincang santai. "assalamualaikum".
"walaikumsalam" ucap Paman Jo dan Tuan Yoga bersamaan.
"Kamu sudah datang de??" ujar Paman Jo.
" Iya paman, paman sudah makan??" tanya Dea.
"Sudah tadi de, dengan Tuan Yoga. Kalau begitu Paman dan Tuan Yoga permisi pulang ya de. Paman mau jemput Tante kamu"
" Iya paman, hati - hati ya di jalan, Om Yoga juga" ucap Dea lembut.
"Kamu sama siapa ke sini de??" tanya Tuan Yoga.
" Sama Riko pa" jawab Riko yang baru masuk kedalam kamar.
Tuan Yoga dan Paman Jo menahan senyum melihat wajah rupawan Riko penuh dengan lebam.
"Baiklah, kamu temani Dea di sini" ucap Tuan Yoga.
"Tidak perlu, Dea bisa sendiri di sini. Lagipula Dea tidak akan nyaman jika ada Riko di sini" ucap Dea cepat.
Tuan Yoga pun mengerti akan maksud Dea. Setelah berpamitan kembali kepada Dea dan Riko, Tuan Yoga dan Paman Jo melangkahkan kakinya keluar dari kamar Rian.
__ADS_1
"ngapain kamu masih di sini?" tanya Dea ketus.
"saya mau lihat Rian" ucpa Riko yang berjalan kearah Rian. dan memperhatikan wajah Rian.
Hening tidak ada percakapan apapun antara Dea dan Riko. Ntah berapa lama mereka berdiam seperti itu, hingga Dea merasa perutnya kembali lapar. Dea membuka bekal yang disiapkan Tante Dizah tadi.
" eemm, apa kau mau ikut makan??" tanya Dea yang tidak mengalihkan pandangannya dari bekal.
Riko tidak menjawab tapi dia lagsung mendekat kearah meja yang dimana Dea sedang membuka satu persatu. Dea yang merasa tidak mendapatkan jawaban dari Riko pun langsung mengambil nasi dan menuang lauk pauknya kedalam piring. Saat Dea ingin menyendokkan nasinya, piring Dea di tarik oleh Riko, dan Riko memakan nasi yang sudah Dea siapkan tadi.
"kamu??"
"tadi nawarin makan, sekarang kok marah??" ucap Riko santai sambil memasukkan nasi yang berada di atas sendok kedalam mulutnya.
Dea hanya mendengus kesal. dan kembali mengambil nasi serta lauk pauknya untuk dirinya sendiri. Mereka pun makan dalam diam.
" Pulang lah, aku sudah mengantuk" ujar Dea.
"Aku akan menemani mu disini" ucap Riko.
"Tidak perlu, aku akan disini sendiri" ucap Dea ketus.
Riko akhirnya mengalah dan pergi meninggalkan kamar Rian. Dia berjalan menyusuri koridor rumah sakit, dan keluar dari menuju basemen tempat mobilnya di parkir. Riko melajukan mobilnya sedang membelah jalanan yang sudah terlihat sepi, namun saat matanya melihat kaca tengah, Riko melihat ada paperbag besar. Dan Riko teringat akan selimut yang diberikan oleh mamanya kepada Dea. Riko pun memutar kemudinya kembali menuju rumah sakit.
Riko melangkahkan kakinya lebar agar segera sampai ke kamar Rian, di mana juga terdapat Dea yang sedang menjaganya.
__ADS_1
"Apa dia masih di dalam??" tanya Riko kepada salah satu pengawal yang menjaga kamar Rian.
" Iya Tuan Muda" jawab pengawal itu.
Riko membuka handle pintu dengan pelan agar tidak menggangu Dea jika dia sudah tertidur. Dugaan Riko benar, Dea tertidur hanya menggunakan jaket yang dikenakannya tadi dengan meringkuk di sofa dekat tempat tidur Rian.
Riko mengambil selimut itu, dan menyelimutkannya kepada Dea. Dea terlihat nyaman setelah Riko menyelimutinya. Riko menyisikan rambut halus yang berada di wajah Dea. "kau sangat manis" ujar Riko pelan. Lama Riko memandang wajah Dea dan Riko pun sempat mengecup kening Dea, kemudian beralih mengecuot bibir Dea. Tidak ada pergerakan dari Dea. sepertinya Dea sudah sangat terlelap karena kelelahan melawan 8 orang berbadan kekar, dan ditambah dirinya sendiri.
Entah apa yang merasuki fikiran Riko, dia pun ikut membaringkan dirinya di samping Dea. Sofa yang ditempati Dea memang cukup besar, hingga jika 2 orang dewasa berbaring dibatasnya, masih cukup terasa tidak terlalu sempit. Karena Sofa itu memang di desain untuk keluarga pasien yang menjaga dirumah sakit.
Riko menatap wajah Dea yang terbaring miring di samping dirinya. Awalnya Riko hanya ingin menatapnya sebentar dengan sambil berbaring di samping Dea, namun rasa kantuk pun menghantui dirinya, dan dia pun terlelap dalam tidurnya. Entah bagaimana bisa terjadi, saat ini posisi Dea sedang di peluk oleh Riko, dengan sebelah lengan Riko menjadi bantalan kepala Dea. terlihat nyaman dan merasa tidak terganggu dengan keberadaan Riko.
Rian yang sedari tadi memperhatikan mereka menyunggingkan senyum penuh arti. "Dasar pengambil kesempatan" lirih Rian.
Rian pun mengingat kejadian saat Dea mengerjakan laporan di ruangan Riko. Dea sempat tertidur karena kelelahan. Memang kebiasaan Dea yang suka tertidur saat belajar.
Riko pun melakukan hal yang sama seperti di rumah sakit. Menepikan beberapa rambut Dea yang jatuh ke wajahnya. membelai pipi Dea, serta mengecup beberapa Ki bibir Dea. hingga ********** dalam beberapa menit. Hingga Dea bergerak terbangun dan merenggangkan tubuhnya yang merasa pegal karena tertidur dalam keadaan duduk. Yang membuat Riko bergegas ke tempat duduknya hingga membuatnya hampir terjatuh.
Rian tersenyum mengingat kejadian itu. dan sejak itu Rian selalu memantau diri Riko. Tapi Rian belum sepenuhnya percaya kepada Riko, karena masa lalu Riko yang menurut Rian sangat menggangu dan mengancam Dea. Maka dari itu Rian berniat tidak menyetujui hubungan mereka. jika kalian bertanya darimana Rian tau kejadian di ruangan Riko, kalian harus ingat, bahwa Rian seorang hacker berdarah dingin. kejadian di kebun teh pun Rian tau, padahal tidak ada CCTV di sekitar mereka. Rian memantau dari satelit. Wow, Rian sungguh berbakat kan.
Rian terbangun karena merasa tenggorokannya kering. Rian melihat jam yang tertengger manis di dinding. sudah menunjukkan pukul 8 pagi. 'tidak biasanya kakak imut nya itu belum bangun hingga sekarang' batin Rian.
Rian terus memperhatikan dua insan yang sedang tidur sambil berpelukkan. 'senyaman itukah dia bersama si Riko?? sehingga dia tidak merasa terganggu' batin Rian. Rian melipat tangannya di atas dada sambil masih memperhatikan dua insan tersebut. Rian coba berdehem kuat, namun tidak ada pergerakan dari mereka berdua. 'apa mereka sudah mati??' batin Rian.
Pintu kamar Rian terbuka, dan muncullah Tante dizah, Oma Meta, Tuan Yoga, Paman Jo, dan Tante Rahma. Mereka langsung terperangah melihat Dea dan Riko yang masih betah tertidur pulas sambil berpelukkan.
__ADS_1
"Sejak kapan mereka seperti ini" gumam Tuan Yoga.
" Sejak tadi malam" ucap Rian yang masih memperhatikan mereka.