Gadis Mini Milik Ceo

Gadis Mini Milik Ceo
Bab 68' Ancaman Priya'


__ADS_3

Katakanlah Riko egois. Riko hanya ingin mempertahankan cintanya. Saat ini jalannya untuk bersama Dea terbuka luas. Tinggal semua ini menjadi keputusan Dea. Tapi bukan Riko namanya jika tidak selalu menempel kepada Dea, karena takut akan kehilangan Dea kembali.


Sudah 4 hari Riko tidak bekerja, karena Dea masih berada di rumahnya dan Riko tidak ingin Dea pergi lagi. Bahkan Riko menggelar tikar didepan kamar Dea, dan tidur di sana.


" Bisa jauh dikit gak?" tegur Dea karena sudah gerah dengan Riko yang seharian ini terus menempel padanya.


Saat ini Dea sedang berjalan-jalan di taman bersama Pooja.


" Aku hanya tidak ingin kau pergi lagi." Ucap Riko manja.


Dea merinding melihat tingkah Riko yang lebay seperti itu. Dan sampailah akhirnya mereka di taman bunga yang terdapat di halaman rumah keluarga Artmaja.


" Aunty suka bunga apa?" Tanya Pooja.


" Eemmm, semua bunga"


Pooja berjalan kearah bunga mawar, dan memetiknya.


" Auuuww" Pekik Pooja.


Dea pun langsung tergesa-gesa mendekati Pooja.


" Pooja gak pa-pa?" Tanya Dea sambil meraih tangan Pooja yang berdarah karena tergores duri bunga mawar.


" Periih Aunty" Lirih Pooja dengan air mata yang menetes.


Riko langsung menggendong Pooja saat melihat ada darah yang mengalir di tangan Pooja. Dan membawanya masuk ke dalam rumah.


" Apa yang kau lakukan pada putri ku?" Teriak Priya dan berjalan dengan cepat ke arah Pooja.


Priya melihat darah di tangan Pooja cukup banyak. Priya berdiri dan menghampiri Dea.


PLAAAAKK


Ruangan tengah yang megah dan luas itu menggema dengan suara tamparan Priya ke pipi Dea.


Dea merasa pipinya memanas dan kebas. Tamparan Priya cukup kuat hingga membekas di pipi mungil Dea.


" Jika terjadi sesuatu pada Pooja, aku akan membunuh mu" Ancam Priya.


" Priya" Teriak Riko, " Jaga ucapan mu. Jika kau bukan perempuan dan bukan Ibu dari putri ku, mungkin saat ini kau sudah kupulangkan ke negara mu." Ancam Riko kembali.


Riko menyuruh Maid mengambil kompres untuk wajah Dea. Jika ada yang bertanya kenapa Dea tidak membalas?. Jawabannya adalah karena Dea merasa bersalah karena kelalaiannya menjaga Pooja.


Pooja masih dalam perawatan. Dan sebisa mungkin Pooja tidak boleh terluka. Tapi saat ini Pooja terluka.


Riko menyuruh supir untuk menyiapkan mobil. Setelah memasang perban di tangan Pooja, Riko beralih ke pipi Dea yang memerah dan bercap tangan Priya. Riko ingin mengelus pipi Dea, namun Dea menghindar.


" Cepat bawa Pooja " Titah Dea.


Riko pun kembali menurunkan tangannya dan menggendong Pooja.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Pooja langsung di tangani oleh dokter Herman. Dan sekarang Pooja dalam pemeriksaan. 20 menit berlalu, Dokter Herman pun keluar dan menemui Riko.


" Pooja baik-baik saja. Saat ini dia hanya perlu istirahat dan Biar menginap semalam di sini." Ucap Dokter Herman.


Riko pun mengangguk.


" Terima kasih Dokter" Ucap Riko sambil menyalami tangan Dokter Herman.


Riko menghubungi Tante Dizah. Mengatakan jika Pooja akan di rawat semalam di rumah sakit. Riko juga meminta agar Mama nya mengawasi Dea agar tidak pergi lagi sebelum dia kembali.


Priya bergegas menyusul Riko dengan mobil yang lain. Karena saat Riko membawa Pooja tadi, Riko tidak mendengar teriakan Priya yang menyuruhnya menunggu dirinya. Riko langsung pergi tanpa Priya.


"Bagaimana Pooja?" Tanya Priya saat sudah berada di kamar rawat inap Pooja.


" Dia baik- baik saja" Ucap Riko dingin.


" Syukurlah." Ucap Priya " Jika sesuatu terjadi kepada Pooja aku akan___"


" Diam, sebelum aku membuat dirimu tidak bisa berbicara lagi untuk selamanya." Ancam Riko dengan nada yang sangat dingin dan tatapan mata yang menakutkan.


Riko meninggalkan ruangan Pooja, dan membiarkan Priya menjaganya.


Keesokan harinya Pooja sudah di perbolehkan oleh Dokter.


" Papa, kenapa Aunty tidak menjenguk Pooja? Apa karena aunty takut di marahi Mama lagi?" Tanya Pooja.


Riko tersenyum dan mengelus rambut Pooja.


Priya hanya tersenyum kecut, tetapi hatinya merasa geram dengan ucapan putrinya. Bisa-bisanya putrinya itu membela Dea. Apa sih hebatnya Dea.


Dea sudah menunggu kedatangan Pooja. Dea juga sudah memasak makanan kesukaan Pooja. Lado khas India. Dea sengaja belajar membuatnya, dan ternyata hasilnya sungguh memuaskan. Walaupun rasanya Dea tidak tau apa mirip dengan Lado asli india atau tidak.


Dea melihat Pooja memasuki rumah, Dea sudah berdiri bersama Tante Dizah menyambut kedatangan Pooja.


"Aunty" teriak Pooja dan ingin berlari kearah Dea, namun di tahan oleh Priya.


" Ingat, kata Dokter Pooja belum boleh kecapean." Ucap Priya.


Dea pun berinisiatif mendekati Pooja.


" Sayang, Kamu gak pa-pa kan." Tanya Dea.


" Dah tau Luka, pake nanya lagi. Sok perhatian, dasar cari muka" Gerutu Priya.


" Jaga omongan mu Priya" Tegur Riko.


Dea hanya tersenyum miris mendengar gerutuan Priya yang tidak menyukainya.


Tapi Dea tidak membenci Priya, karena dia yakin Priya memiliki alasan tersendiri.


" Oh ya, Aunty tadi belajar masak Lado. Pooja mau coba?" Tanya Dea.

__ADS_1


Dengan antusias Pooja menganggukkan kepalanya. Dea mengambil lado dan memberikannya kepada Pooja. Pooja mengambil 1 lado dan memakannya.


" Eemmmm, enak banget ini Aunty, sama persis seperti buatan Mama" Ujar Pooja.


Dea tersenyum dan merasa senang jika lado buatannya sama dengan Lado yang sering dimakan oleh Pooja.


Disisi lain, ada seorang pria yang sedang patah hati.


" Dasar bodoh, aku menyuruhmu untuk membuat dia jatuh cinta kepada mu, bukan kau yang jatuh cinta kepadanya." Ucap pria lain.


" Kau tidak mengenal cinta, makanya kau tidak akan pernah mengerti."


" Kau sudah gagal dalam misi ini, jadi aku harus turun tangan untuk menghadapi dia."


" Aku tidak akan membiarkan kau menyakiti Dea. Jika kau berani menyakitinya, aku akan membunuh mu"


" Ha.. ha..ha.. Ilmu beladiri mu tidak sebanding dengan ku. Wanita itu adalah lawan ku. Dan aku akan membalaskan dendam ku kepada dia. Dan kau, persiapkan saja makam untuk kekasih bertepuk sebelah tangan mu itu"


Lawan bicara pria itu mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya kuat hingga buku- buku kukunya menjadi putih.


Riko kembali menyuruh maid menggelar tikar dan kasur lipat di depan kamar Dea. Dan ini sudah seminggu Riko lakukan, semenjak Dea sudah kembali dan Riko menahannya pergi. Tidak hanya Riko, melainkan Tuan Yoga, Oma Meta, dan Paman Jo pun melarang Dea untuk pergi.


Saat ini mereka meminta Dea untuk mempertimbangkan hubungannya dengan Riko. Tapi sampai saat ini Dea masih bungkam, dan tidak ingin membahas masalah itu.


Dea terbangun dari tidurnya, dia meraih gelas yang ada ni meja nakas nya. Namun gelas tersebut sudah kosong. Dea mengumpulkan tenaganya untuk bangun dan keluar kamar untuk mengambil air.


Ceklek.


Bruukk..


" Aaauuw" Pekik Dea.


.


.


.


.


.


.


Hai readers ..


Jangan lupa yaa..


LIKE + VOTE + RATE + KOMENTARNYA.....


LOVE U

__ADS_1


__ADS_2