
Sejak kapan Lo makan di kantin?" tanya Riko yang membuat Dea, Desi, dan Dino terkejut dan menolehkan pandangannya kearah sumber suara.
Riko menarik kursi di sebelah Dea. " sayang, kamu kok gak kabari aku mau makan siang?" tanya Riko manja.
Dino yang mendengarnya seakan ingin muntah, dan memutar bola matanya malas. Desi hanya tersenyum melihat tingkah Riko dan Dino.
" Kirain kamu bakal makan dengan Nona Priya, karena tadi aku liat dia keruangan kamu saat aku mau ajak kamu" ucap Dea santai.
Percaya lah, hati Dea saat ini bagaikan badai yang berkecamuk. Cuma Dea pintar untuk menutupinya.
Riko menelan salivanya, dan menatap Dino yang sudah ingin memangsanya.
" Tidak, aku tidak makan dengan dia. aku menunggu mu" ucap Riko.
" Biasa juga wa kalo mau ngajak aku makan" jawab Dea.
Riko sepertinya sudah kehabisan kata untuk menjawab Dea. Riko pun memesan makanan yang sama dengan ketiga orang yang berada di satu meja dengannya.
" Des, nanti jadi kan??" ucap Dea kepada Desi. sebelumnya Dea menendang kaki Desi agar menjawab iya.
Dino merasakan interaksi keduanya. " Tenang, aku bakal nyupirin kemana kalian pergi" ucap Dino.
Riko menatap mereka dengan heran. " mau ke mana??"
" Mau makan bakso setan, ikut?? " ucap Dino.
" Bakso setan??" ulang Riko.
" Iya, baksonya pedeeeeess banget, Lo kan gak tahan pedes. sedangkan 2 bidadari ini jago makan pedes" ucap Dino sambil menunjuk ke arah Dea dan Desi.
Riko menatap Dea sambil mengernyitkan dahi.
" Mau ikut?? kalo mau ikut harus ikut makan baksonya juga " ucap Dea.
" eemm, tapi aku gak tahan pedes sayang " melas Riko.
" Yaudah, gak usah ikut. " jawab Dea ketus.
Dan disinilah Mera berempat. Ntah dari mana si Dino bisa tau kalo memang bena-benar ada bakso setan.
" Baksonya 4 mangkok ya pak, minumnya es teh manis dingin." ucap Dea kepada pelayan.
Riko sudah berkeringat dingin melihat ukuran baksonya yang besar seperti bola kasti, bahkan lebih besar lagi, dan saat bakso itu dibelah, terdapat cabai rawit di dalam bakso itu.
" Sayang, kalo aku gak ikut makan gak papa kan??" rayu Riko.
" seperti perjanjian tadi, yang ikut harus juga ikut makan" ucap Dea tanpa ampun.
__ADS_1
Pelayan membawa 4 mangkok bakso dan meletakkannya di atas meja. Riko kembali menelan salivanya.
" Mari makan" serentak Dea, Desi, dan Dino.
" Bismillah "
Riko dengan gemetar memegang garpu bakso, dan membelah bakso tersebut. Aroma cabai yang semerbak langsung masuk kedalam rongga hidung Riko. Sehingga membuat Riko terbatuk batuk sampai mengeluarkan air mata.
Dea merasa kasihan, kemudian Dea mengambil alih mangkok bakso Riko. Di belahnya bakso tersebut dan isian cabe rawitnya di pindahkan ke piringnya. Dea juga meminta kuah aja ke pelayan. setelah Bakso bersih dari cabe, Dea memindahkan bakso tersebut ke kuah yang baru. lalu Dea memberikan bakso tersebut kepada Riko.
Riko merasa cintanya semakin membuncah di hati. Perlakuan Dea sangat berbeda dengan Priya. Dea mengerti akan dirinya sedangkan Priya, selalu manja dan ketergantungan dengan Riko. Untuk melindungi Priya sangat mudah, karena Priya selalu meminta Riko melindunginya. sedangkan Dea?? keahlian bela diri Dea saja lebih sempurna dari pada bela dirinya.
Tring..
satu pesan WhatsApp masuk ke hp Riko. Riko membacanya.
'sayang, aku rindu. bisakah nanti kita dinner bersama?'
Riko mengabaikan pesan tersebut. entah lah, perasaannya kepada Priya seperti mulai memudar. Yang dia rasakan saat ini adalah takut kehilangan Dea.
Malam semakin larut, namun Riko belum juga bisa tertidur. Dia mengingat saat Dea memberikan perhatian kepadanya. Dengan penuh cinta Dea membersihkan isian bakso dan memberikannya kepada dirinya.
Sedangkan di tempat lain, Dea sedang mendatangi sebuah tempat yang berbahaya. Dea di temani oleh salah satu anak didik paman Jo, yang bernama Boy.
" Yakin kalo ini tempatnya??" tanya Dea.
Dea dan Boy memasuki sebuah gudang yang sepertinya tidak di gunakan lagi.
" Apa itu? " tanya Dea
" sepertinya mereka menjual barang haram" ucap Boy.
" Sebaiknya kita pergi sebelum ketahuan" ucap Boy kembali.
Mereka pun meninggalkan tempat tersebut setelah mengambil beberapa foto.
" Sekarang apa rencana mu?" tanya Dea kepada Boy.
" Kita tidak bisa gegabah, orang yang kita hadapi sangat licik. Orang kepercayaannya berani mengorbankan nyawa demi melakukan perintahnya." ucap Boy.
" Kita butuh Rian" ucap Dea.
" Sebaiknya kita bersabar, dan mencari bukti lain." ucap Boy yanh di setujui oleh Dea.
sedangkan di tempat lain, seorang pria menghubungi pria lainnya.
" Apa? kau yakin??"
__ADS_1
" iya tuan "
" baiklah, berarti kau harus menambah anak buahmu untuk menjaganya. oh ya, awasi juga Riko dan Priya. aku ingin laporan yang akurat setiap harinya" ucap pria tersebut kepada orang suruhannya.
Hari Minggu pun tiba, Riko sudah menghubungi Dea untuk mengajaknya jalan. Dan saat ini Dea sedang menatap dirinya di cermin.
" Aku tidak secantik dia " ucap Dea lesu.
Riko sudah memarkirkan mobilnya di basemen apartemen Dea. Saat Riko keluar dari mobil, seseorang memeluknya dari belakang.
" I Miss you." suara wanita yang sangat di kenalnya.
Riko merasa berbeda pada detak jantungnya, tidak berdebar seperti pertama kali kembali bertemu dengan Priya. Riko melepaskan tangan Priya, dan membalikkan badannya.
" Kau kemari untuk memberikan kejutan kepada ku kan?" ucap Priya dengan senyum yang merekah.
" maaf ,aku sudah janji dengan Dea. tunanganku." ucap Riko kemudian berlalu meninggalkan Priya.
Priya menatap kepergian Riko, dan menendang ban mobil Riko. ( kalo mobil tu bisa ngomong, mungkin dia bakal bilang "Woy, salah gue apa" ).
Riko menekan bel apartemen Dea. tak berapa lama pintu terbuka, dan memunculkan Dea dari balik pintu. Riko terpana dengan penampilan Dea. walaupun penamoilan Dea sederhana, hanya menggunakan baju kaos dan celana jeans. Dea tetap terlihat memukau di mata Riko.
" Sudah siap?? " tanya Riko.
Dea menganggukkan kepalanya. Riko pun menggandeng tangan Dea, dan membimbing Dea untuk mengikutinya. Riko merasakan gelanyar aneh saat tangannya menggenggam tangan Dea. Jantungnya berdebar dengan cepat. Berbeda saat Priya memeluknya.
Riko membawa Dea jalan kepantai. mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan. Namun tiba-tiba datang 10 orang tidak di kenal berbadan besar menghadang mereka. 'ini kesempatan ku melindungi dea' batin Riko. Tanpa kata mereka langsung menghajar Dea dan Riko.
" Kau hajar 3 pria yang kecil itu, yang lain biar aku yang hadapi" ucap Riko.
Mereka pun berkelahi, dengan lihai Dea mengajar 3 orang yang dimaksudkan dengan Riko tadi. Hanya beberapa pukulan saja 3 orang tersebut sudah KO. Dea melihat kearah Riko yang sudah kewalahan menghadapi 7 pria berbadan besar. Bahkan wajah Riko pun sudah lebam.
Dea tidak ingin melihat wajah Riko semakin lebam, jadi Dea mengajar semua pria berbadan besar tersebut. Dalam waktu 10 menit, 7 pria berbadan besar pun KO. Mereka langsung bergegas melarikan diri, namun Dea sempat melumpuhkan satu orang di antara mereka.
" Siapa yang menyuruh kalian??" Bentak Dea.
.
.
.
.
.
readers sayang.. jangan lupa like and vote ya..
__ADS_1
makasih..