
tuan yoga melihat ke arah Riko yang terus memandang Dea, dan terbesit senyum di bibir Riko saat Dea tertawa. ' anak ku sudah jatuh cinta, semoga dia bisa melupakan masa lalunya' batin tuan yoga
Mera menggandeng tangan Dea masuk kedalam kamar. Mera ingin tidur bersama Dea malam ini. sebenarnya Mera hanya ingin bertanya kepada Dea tentang seseorang.
dan mereka bercerita hingga menjelang subuh.
" dea, mera kenapa mata kalian seperti panda??" tanya Oma meta
Dea dan Mera berpandangan dan mereka tersenyum bersama. " biasa Oma, masalah perempuan" kata Mera
ntah kenapa Oma memiliki tambahan ide baru. yang melibatkan Mera. mungkin dengan keakraban Mera dan dea, Mera bisa di andalkan.
Oma mengajak mereka melihat kebun teh. sungguh asri dan indah pandangan yang terhampar luas di depan mata. betapa memanjakan mata. dan betapa indahnya kuasa Tuhan yang dapat di nikmati secara gratis.
Oma menarik tangan Mera dan berbisik kepada Mera. Mera membelalakkan matanya dan menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya. " benarkah Oma?? " tanya Mera. Oma mengganggukkan kepalanya.
' apa yang harus ku lakukan jika kak Dea dan Riko bersama?? bagaimana dengan ku?? kak Dea memang orang yang baik, dan kak Riko adalah kakak kesayanganku. tapi..' batin Mera yang menatap kepergian Oma setelah membisikkan niat nya kepada Mera.
' baiklah, jalan ku masih panjang. dan aku bisa mencari kebahagiaan itu. yang penting kebahagiaan kak Riko lah yang utama.' batin Mera.
" kak Riko, ayok kita jalan ke kebun itu." ajak Mera
Mera pun menarik tangan Dea dan Riko bersamaan. Dea dan Mera berbincang layaknya seorang adik dan kakak. Riko berjalan mengikuti mereka. Riko pun terkadang ikut tersenyum mendengar perbincangan antara Dea dan Mera.
drrttt drrrttt drrrtt
" sebentar ya kak, aku mau angkat panggilan dulu" ucap Mera yang perlahan menjauh meninggalkan Dea dan Riko.
lama mereka berdiri tanpa berbicara, menunggu Mera kembali. tapi yang di tunggu tak kunjung datang jua. "emm, gimana kalo kita melanjutkan jalannya??" ucap Riko yang memecah kesunyian diantara mereka.
__ADS_1
mereka berjalan beriringan tanpa membahas apapun. hanya melirik, tersenyum, dan menunduk ataupun memalingkan muka agar tidak terlihat gugup.
tidak hanya Oma, Tante dizah, om yoga, dan Mera yang ikut andil dalam hubungan Dea dan Mera. alam pun sepertinya juga ikut berpihak kepada mereka. cuaca yang tadinya cerah, tiba tiba mendung yang tak lama turun lah hujan rintik rintik.
Riko mengajak Dea untuk berteduh di sebuah pondok di dekat sana. hujan semakin lebat, Riko menarik tangan Dea dan berlari menuju pondok.
Dea yang memakai baju yang tidak terlalu tebal, merasa kedinginan karena bajunya yang setengah basah. Riko membuka jaketnya dan menyelimuti ke tubuh Riko. sontak tubuh Dea menegang dengan perlakuan Riko.
Riko merapikan jaket yang di pakaikannya kepada dea. Dea menatap wajah Riko dari dekat. mata, alis, hidung, bibir. kenapa tuhan begitu baik kepadanya, memberikan kesempurnaan kepada dirinya.
Riko yang merasa bahwa Dea memperhatikannya pun ikut memperhatikan wajah Dea. mata mereka bertemu. Riko mendekatkan wajahnya perlahan. dan cup..
satu kecupan mendarat di bibir Dea. Riko menatap Dea, dan tidak ada penolakan apapun dari Dea. Riko mencoba mencium Dea lagi. dan mengem*t bibir Dea dengan lembut, Riko melirik ke arah mata Dea. Dea menutup matanya. Riko pun memperdalam ciuman mereka.
5 detik, 20 detik, 30 detik, Dea membuka matanya dan mendorong tubuh Riko dengan kuat. ciuman mereka pun berakhir. Dea membalikkan badannya dan memegang bibirnya. rasanya bibir Riko masih menempel di bibirnya.
Riko pun hanya berdiri dan menatap punggung Dea dengan senyum bahagia. lama Dea membelakangi Riko. dan Riko merasa bersalah. Riko mencoba meraih bahu Dea. tapi Dea menepisnya.
tidak ada respon apapun dari Dea. " de" panggil Riko.
ada perasaan merasa bersalah di hati Riko. Riko coba meraih kembali bahu Dea. dan membalikkan badan Dea. Dea langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" de, apa kau menangis??" Dea hanya menggeleng.
" apa kau marah dengan ku soal ci.."
" bisakah tidak membicarakannya??" potong Dea
" oke baiklah, kalo kau marah dengan ku, aku minta maaf. aku tidak ber.."
__ADS_1
" jangan di bahas" potong Dea lagi yang masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" oke, aku tidak akan membahasnya. bisa kau menurunkan tangan mu??" Dea hanya menggeleng, " biarkan aku seperti ini" ullirih Dea.
Riko pun melepaskan bahu Dea. dan dia mendudukkan pantatnya di pondok tersebut. "duduklah, apa kau tidak letih berdiri terus??"
Dea perlahan memundurkan kakinya selangkah demi selangkah, dengan wajahnya yang masih ditutupi oleh kedua tangannya.
' kapan hujan ini berhenti' batin Dea. Dea sudah tidak tahan untuk menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. karena Dea merasa mulai kekurangan oksigen.
Riko yang mengerti akan hal itu menaikkan penutup kepala yang ada di jaket sampai wajah Dea tak telihat dari samping. ( kebetulan jaket yang di pakai Riko model jaket Hoodie).
Dea menurunkan tangannya perlahan dan menarik Hoodie nya untuk semakin menutupi wajahnya yang mungkin saat ini masih memerah karena malu.
drrtt drrttt drrttt
" halo pa"
"............."
" kami ada di pondok yang berada di tengah kebun ini."
"..........."
" Dea baik baik saja"
"........"
" baiklah, kami akan menunggu di sini"
__ADS_1
Riko memutuskan panggilannya." papa menyuruh kita menunggu di sini, sebentar lagi bodyguard akan menjemput kita." ucap Riko.
Dea hanya mengganggukkan kepalanya.