
Riko hanya tersenyum dan berjalan kearah ayunan yang berada di bawah pohon besar.
" Kemarilah, disini sangat segar udaranya" titah Riko.
Dea pun duduk di sebelah ayunan yang Riko naiki. Mereka mengayun ayunannya dengan pelan. Dea memperhatikan sekeliling, dan juga Riko. Wajahnya terlihat tenang dan sangat menikmati.
" Tuan muda, anda di sini??". ucap seorng pria paruh baya.
Riko menghampiri pria tersebut, berjabat tangan dan berbincang. Dea hanya mendengarkan pembicaraan antara mereka berdua. Da dari pembicaraan tersebut, Dea menangkap bahwa pemilik taman ini adalah Riko.
Pria paruh baya tersebut pergi dari hadapan mereka, setelah berpamitan kepada Riko dan Dea.
" Apa lelaki remaja itu kau??" tanya Dea.
Riko tak menjawab pertanyaan Dea, dia hanya memberikan senyuman yang menurut Dea itu sangat manis. apa?? manis?? jangan jangan Dea udah mulai terpikat nich..
Riko mengajak Dea kembali pulang saat mendengar suara ngaji di mesjid.
" Bagaimana kalau kita solat dulu di mesjid dekat sini??" ajak Dea.
Riko tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Di dekat taman ini ada sebuah mesjid yang tidak terlalu besar, mereka solat magrib di sini. Selepas solat, Dea tetiba kepingin makna bakso. Dan Dea mengajak Riko memakan bakso. Riko pun mengajak Dea makan bakso yang berada di dekat daerah itu.
" hai, jangan terlalu banyak menggunakan saos dan cabainya. nanti kamu sakit perut". ucap Riko.
" tenang saja, aku sudah biasa makan seperti ini, dan ini saaangat nikmat" ucap Dea sembari tersenyum yang membuat Riko tak kuasa berpaling dari nya.
" mas, adik nya cantik sekali. salam ya" ucap salah satu pengunjung pria yang juga sedang menikmati bakso. matanya tak lepas memandang Dea.
" Dia calon istri saya" ucap Riko tegas yang membuat Dea tersedia.
Riko mengambil air yang berada di hadapannya dan memberikannya kepada Dea.
" wah romantis sekali, tapi si masnya kok mau sih sama si mbaknya?? si mas tinggi, dan si mbaknya sangat kecil. mending sama saya saja mas." ucap salah satu pengunjung wanita yang ternyata juga memperhatikan mereka.
" walaupun dia kecil, tapi dia sudah memenuhi hati saya" ucap Riko yang lagi lagi membuat Dea kembali tersedak.
" oh ya ampun, ni cowok bisa gombal juga ternyata." batin Dea
Tenggorokan Dea benar benar sakit, karena sudah beberapa kali tersedak kuah yang pedas.
Setelah supir datang, Riko mengajak Dea untuk memakan eskrim. Dea memesan eskrim rasa jagung dengan satu cup berukuran sedang. Dea sungguh menikmati rasa ekrim yang lumer didalam mulutnya.
Riko tersenyum melihat Dea yang begitu imut.
" apa tenggorokanmu sudah enakan??" tanya Riko.
__ADS_1
Dea menganggukkan kepalanya yang masih terdapat sendok di dalamnya.
' oh ya ampun, so cute banget ni cewek' batin Riko.
Dea terus memakan eskrim tersebut hingga habis dan belepotan. Dea membersihkan sisa eskrim yang menempel di pinggir bibirnya. namun tangan Riko dengan cepat menghapus bekas eskrim tersebut dengan ibu jarinya.
Deg
Mata Dea menatap wajah Riko yang serius membersihkan sisa eskrim yang masih menempel di bibirnya. Raut wajah yang tegas, mata coklat yang lembut, hidung mancung yang indah, dan bibir yang seksi!. Dea menatap satu satu ciptaan Tuhan ynag berada di wajah Riko. dan Dea sangat terpana dengan matanya.
'Mata yang indah, kenapa aku baru sadar kalau dia memiliki mata berwarna coklat? dan itu sunggu sempurna untuknya.' batin Dea.
" Apa kau sudah puas menatap ku??" tanya Riko yang tiba tiba membuyarkan lamunan Dea.
Dea langsung salah tingkah dan berdehem berkali kali untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Riko dan Dea kembali kedalam mobil. dan saat ini mereka sedang berada di jalan pulang. Dea menatap Riko, dan saat Riko menatapnya kembali, Dea memalingkan wajahnya.
" Kenapa kau berpaling?" tanya Riko.
"kau bisa menatap ku langsung, sepuas yang kau suka"
Dea hanya berdecak kesal. Lalu tak berapa lama dia tidak mendengar suara Riko lagi.
dan perlahan dia membalikkan wajahnya untuk melihat Riko.
satu ciuman dari Riko mendarat di pipi Dea. Dea membuka mulutnya tak percaya. ternyata Riko mendekatkan wajahnya kepada Dea, dan menahan napasnya agar deabtidak merasakan wajahnya yang sudah dekat. saat Dea memalingkan wajahnya, maka pipi Dea akan mengenai wajah Riko.
" Kau "
Cup
Kembali Riko mengecup bibir Dea. dan menjauhkan tubuhnya dari Dea. Dea menjambak rambut Riko hingga Riko meringis kesakitan.
"aauuww auww adduuhh dduhh "
Dea benar benar kesal dengan Riko. rambut Riko sekarang sudah berantakan. ' ya ampun, kenapa dengan rambut berantakan begitu kegantengannya bisa bertambah??' batin Dea.
Dea menggigit bibir bawahnya melihat ketampanan Riko. dan kemudian dia memalingkan kembali wajahnya. Jantungnya sudah seakan ingin meledak melihat Riko yang berambut berantakan begitu.
Sesampai di rumah, ternyata Ferdi sudah menunggun kepulangan Dea. Riko yang melihat Ferdi pun berubah moodnya, namun dia tidak ingin bertengkar dengan saudaranya seperti pesan paman Dea.
" Kau sudah lama menunggu??" tanya Dea
" Dari sebelum magrib " jawab Ferdi.
__ADS_1
Riko tidak mau ambil pusing, karena Riko sangat yakin kalau Dea sudah menaruh hati kepadanya. Tatapan Dea yang melihat ke arah Ferdi, berbeda dengan tatapan Dea melihat kearahnya.
Riko membersihkan dirinya dan berganti pakaian dengan baju Koko serta menggunakan peci. Dia berjalan kearah ruangan yang memang sengaja di buat untuk belajar mengaji keluarga Artmaja.
Dea menatap Riko penuh dengan takjub. Betapa tampannya Riko yang memakai baju Koko dan peci di kepalanya.
" kau mau kemana??" tanya Ferdi.
" Aku mau belajar mengaji. Agar aku bisa menjadi imam yang membawa Dea ke surga." jawab Riko sambil melirik kearah Dea.
Wajah Dea bersemu merah mendengar ucapan Riko, dan Riko tersenyum melihat wajah Dea yang tersenyum.
"Ngaji??" tanya Ferdi.
" Om yoga menyuruh semua anggota keluarga untuk belajar solat dan mengaji. biasanya selepas magrib, dan mereka akan belajar di sana" ucap Dea sambil menunjuk ke sebuah ruangan yang memang di buat untuk solat dan mengaji sementara, sampai musallah di dalam rumah selesai.
Ferdi hanya mengangguk anggukkan kepalanya.
" apa kau juga ingin ikut belajar??" tanya Dea.
Ferdi langsung membentangkan senyum manisnya. ' jika Riko bisa belajar untuk menjadi imam bagi Dea, kenapa dia tidak??' batin Riko.
Dea menggunakan mukena nya, dan ikut masuk kedalam ruangan di aman sudah berada Ustad, Tuan yoga, Tante dizah, Oma meta, Mera, dan Riko.
Ferdi melihat betapa bercahaya wajah mereka yang sedang mengaji, dan dia merasa ingin sekali menangis karena mengingat dosa yang telah di perbuatanya.
" Riko, coba kau bacakan surat Al Kahfi" titah ustadz.
Riko membaca bismillah, dan kemudian dia langsung membaca surat Al Kahfi. Lantunan ayat suci yang di bacakan Riko sangat merdu, membuat Dea semakin terpana mendengarnya. Mata Dea tak berhenti menatap Riko, dan terbesit senyum di bibir Dea.
Pandangan itu pun tak luput dari Ferdi, yang memperhatikan Dea dan Riko.
' ah, sepertinya aku terlambat' batin Ferdi
.
.
.
.
.
hai readers, jangan lupa like and vote yaa..
__ADS_1
selamat membaca, dan semoga terhibur..