
Riko melepaskan tangan Dea dengan mendorongnya kasar. "apa yang kau lakukan" teriak Dea.
Riko masih dengan senyum devilnya. " bawa dia kesini" ucap Riko dengan salah satu pengawalnya.
muncullah 3 orang pria yang keluar dari sebuah kamar, 2 orang memegang lengan pria yang sudah hampir tidak berdaya yang berada di tengah mereka.
" RIAAAAAANNNN " teriak histeris Dea.
Dea langsung berlari ke arah Rian yang sudah terkapar di lantai. Dea memegang wajah Rian yang sudah babak belur.
" kau apakan adik ku?? apa salah dia??" teriak Dea
" kau dan dia penghianat " ucap Riko.
" apaa??"
" jangan pura pura bodoh. kau dan dia bekerja sama memantau rumah kami. katakan apa mau kalian???" tanya Riko tegas.
Dea terperangah dengan ucapan Riko. "dari mana kau tau??"
Riko menarik sudut bibirnya. "aku bukan orang bodoh yang bisa kau kelabui." ucap Riko yang mendekat ke arah Dea dan memegang rahang Dea. " harus aku akui jika adik mu ini sangat lihai dan bermain bersih. cuma sayangnya dia memiliki seorang kakak yang bodoh."
Ingatan Dea langsung saat kejadian malam tadi, pada saat Riko masuk kedalamnya. amarah Dea langsung memuncak. Dia menggenggam erat tangannya.
"bodohnya aku mengganggap mu lugu, hingga aku harus jatuh cinta kepada mu. ternyata kau tak pantas untuk di cintai" ucap Riko sambil menghempas wajah dia yang dia pegang tadi.
Mata Dea sudah mulai memerah mendengar ucapan Riko. seharusnya dialah yang tidak pantas di cintai oleh Dea. "kau akan menyesal karena telah menyentuh adikku" .
HA HA HA HA HA
Tawa Riko menggelegar di setiap ruangan. "kau tidak akan mampu melawan ku anak kecil" ucap Riko dengan merendahkan Dea.
" potong jari jari pengkhianat itu agar dia tidak bisa menari narikan jarinya di atas keyboard" ucap Riko menyuruh bodyguard yang tertuju kepada Rian.
"JANGAN PERNAH BERANI MENYENTUHNYA" Bentak Dea.
"Jika kau berani menyentuhnya, aku akan buat kalian semua pincang dan tak bisa menikmati makan dengan tangan kalian" ucap Dea yang sudah memuncak menahan amarah.
__ADS_1
"apa kalian takut dengan dia?? hanya seorang wanita berbadan kecil. dan kalian takut dengan ancaram dia??" bentak Riko kepada bodyguard nya.
2 orang bodyguard mulai mendekati Rian , saat tangannya ingin menyentuh tangan Rian. Dea langsung menangkap tangannya dan mematahkan jari bodyguard itu dengan sekali putaran.
"Aaaaaaaaaa" teriak salah satu bodyguard itu.
Riko tercengang melihat Dea yang mematahkan jari tangan bodyguard nya. dan menatap Dea dengan tatapan tidak percaya. karena dia baru saja berlatih beladiri, mana mungkin bisa sekuat itu. mungkin hanya kebetulan saja karena bodyguard nya tidak fokus ke dea dan gerakan Dea memang terbilang cepat. fikir Rian.
" apa kau takut sekarang??, maju lah kau biar aku bisa mematahkan lehermu juga" ucap Dea kepada Riko.
"kau kira aku takut??" tantang Riko.
Riko mendekati Dea yang siap melindungi Rian, dan saat Riko mengangkat tangannya tiba tiba sebuah teriakan menahan gerakan Riko.
"RIKO TAHAN" teriak pria itu
Riko mengalihkan pandangannya dan Bugh
satu pukulan dari Dea ke wajah Riko. darah segar langsung mengalir mulus dari sudut bibir Riko. Para pengawal langsung berlari dan melindungi Riko.
" aku tidak takut dengan kalian" ucap Dea lantang.
"Om tau kamu tidak bersalah, dan ini hanya kesalah pahaman saja"
"Riko hanya terlalu gegabah mengambil keputusan. Hanya melihat rekaman CCTV yang ada kepada mu, dia sudah langsung menuduhmu."
Dea masih diam dan menahan emosinya.
"Pi, buat apa berbaik kepada penghianat." ucap Riko sinis
"diam kau Riko. Mereka bukan penghianat."
"Dea sebaiknya kita bawa Rian ke rumah sakit" ucap pria itu yang ternyata adalah tuan yoga.
tuan yoga yang curiga kepada Riko saat sarapan tadi langsung menyuruh anak buahnya mengikuti mereka. Tuan Yoga memang sengaja membiarkan riko berjalan duluan karena dia ingin mencari tau apa yang di rencanakan Riko.
Dea memegang tangan Rian dengan erat. tetes demi tetes air mata Dea jatuh. Dea memang tidak menangis terisak. Dea terlihat sangat kuat. hanya air mata saja yang jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
sesampainya di rumah sakit, Rian langsung di larikan ke kamar operasi. Riko dan bodyguard yang jarinya patah di bawa ke IGD.
Dea menatap lampu merah di depan kamar operasi. " Joko sedang menuju ke sini" ucap Tuan Yoga yang menyadarkan lamunan Dea.
" Bagaimana om bisa percaya dengan saya" ucap Dea yang masih menahan emosinya.
"karena didalam darah mu, mengalir darah Didi." ucap tuan yoga.
"Om mengenal ayahmu, jauh sebelum Ibumu mengenal ayahmu. Ayah mu bernama Fatin Mustafa. Namun karena pekerjaannya yang mengharuskannya mengubah semua latar belakangnya, maka nama ayahmu berubah menjadi Didi. Ayah mu seorang perwira yang berjiwa besar, maka banyak musuh yang menginginkan dirinya mati. dan saat ini kau adalah sasaran salah satu dari mereka. yang tidak ingin keturunan Didi berada di muka bumi" jelas Tuan Yoga.
Riki yang mendengar percakapan mereka menjadi bingung. dan berjalan mendekati Dea. "jelaskan kepada ku, untuk apa CCTV itu??" tanyanya kepada Dea.
Dea mengepalkan tangannya. " jika terjadi sesuatu kepada adikku, kau akan menanggung semua akibatnya." Dea berdiri dan menarik kerah baju Riko yang membuat Riko menjadi tertunduk mengikuti tinggi tubuh Dea.
"persiapkan bodyguard mu yang telah menyiksa adikku. aku akan membalas mereka. Mereka harus merasakan apa yang adikku rasakan." ucap Dea dengan penuh penekanan dan menghempas kerah baju Riko.
"Dea " panggil paman Jo yang baru tiba.
Dea langsung berlari dan memeluk paman Jo. pecahlah tangis Dea di pelukan paman Jo.
Doker keluar dari ruangan operasi. Dea, paman Jo, Tuan yoga, dan Riko berlari mendekati dokter tersebut.
" bagaimana dok" tanya tuan Yoga.
"operasinya berjalan lancar, dia memiliki pertahanan tubuh yang baik, sehingga organ tubuh bagian dalamnya tidak ada yang terluka. cuma bagian kepala saja yang terlalu banyak mengalami pendarahan. kita berdoa saja agar pasien bisa melewati masa kritisnya" ucap dokter tersebut.
Dea langsung menarik kembali kerah baju Riko. Persiapkan mereka sekarang, aku akan melawan mereka.
"Dea hentikan" tahan paman Jo.
" maaf paman, Dea tidak bisa mendengar paman kali ini." ucap Dea dan menarik Riko agar mengikutinya.
paman Jo hanya mengusap wajahnya kasar.
" apa yang akan terjadi??" tanya Tuan Yoga.
" dia sedang berada tingkat emosi yang paling tinggi. saya takut para pengawal anda akan kehilangan nyawanya jika Dea lepas kendali" ucap paman Jo.
__ADS_1
"saya yakin Dea hanya membuat mereka babak belur. biarkan dia meluapkan emosinya. jika sudah terlalu jauh kita yang turun tangan" ucap Tuan Yoga.