
"Bagaimana keadaan mu Mer? " tanya Priya.
Mera hanya memandang wajah Priya. setelah 5 tahun dia meninggalkan kakaknya, dia benar-benar kembali di saat kakaknya sudah menemukan kebahagiaan yang baru.
" Baik, bagai mana kak Priya bisa di sini?" tanya Mera.
Priya tertawa kecil mendengarkan pertanyaan gadis kecil yang dulu selalu manja dengannya. " Ini apartemen ku" jawab Priya sambil tersenyum
" Bukan, bukan itu maksud ku. tapi kenapa kak Priya harus kembali? " tanya Mera dengan nada yang sengit.
Priya mengernyitkan keningnya, lalu dia tersenyum " Sudah saatnya aku kembali."
" Tapi kenapa harus sekarang? kenapa tidak dari 5 tahun yang lalu kakak kembali?" tanya Mera dengan nada yang mulai meninggi dan kesal.
" Selama ini aku selalu di salahkan, dan aku ingin seseorang yang menyalahkan ku itu menebus semuanya. Dan mengembalikan kebahagiaan ku yang sempat hilang." ucap Priya dengan nada penuh dendam.
" Jika kakak datang ke sini hanya untuk kembali dengan kak Riko. Lebih baik kak Priya lupakan semua itu, kak Riko sudah bahagia. Dan jangan pernah mengganggu kebahagiaan kak Riko." ucap Mera.
Mera pun berdiri dan mengambil tasnya. "Permisi" ujarnya dan berlalu meninggalkan Priya yang masih terduduk di sofa.
Priya hanya menatap punggung Mera yang perlahan hilang dari pintu yang tertutup.
" Kau harus membayar semuanya. Aku harus mendapatkan Riko kembali. Kau yang membuat ku kehilangan Riko, dan kau juga yang akan membuatku bersama kembali dengan Riko. Kita lihat saja pria tua Bangka, siapa yang menang dalam pertarungan ini" gumam Priya.
______
Tit...tit...tit..tit..tit..tit...
Ceklek.
Dea yang mendengar ada seseorang membuka pintu apartemen nya, langsung bergegas berlari ke arah pintu. Dan saat pintu itu terbuka.
"Ampuun kak, ini aku" teriak Rian yang mendapatkan pukulan bantal dari Dea.
Ya, Dea menunggu pintu terbuka dengan bantal yang berada di tangannya. Dia tidak ingin memukul dengan tangan kosong. Karena dia takut jika yang datang adalah Riko, dan Dea tidak ingin Riko terluka karena mendapatkan pukulan darinya
" Riaan?? Kau??" teriak Dea.
Rian mengernyit dan mengelus telinganya yang seakan mau tuli dengan teriakan Dea.
" Kenapa kau datang sekarang? Bukannya kau akan datang besok?" tanya Dea yang saat ini sedang membuatkan susu untuk Rian.
" Ada yang harus aku kerjakan." ucap Rian sambil menatap buah didalam keranjang yang berada di dekat Dea.
" Apa yang kau lihat?" tanya Dea.
" Apa calon istriku yang membelikannya?" tanya Rian sambil mengarahkan matanya ke arah buah yang berada di dekat Dea.
" Apa kau sudah sangat tidak tahan untuk memperistri Mera? Mau kau kasih makan apa dia? kasih makan dengan tinjumu?" ledek Dea.
__ADS_1
" Aku adalah pria sejati yang berani mengungkapkan perasaannya kepada sang kekasih. Tidak seperti tunangan mu itu, yang beraninya suka mencuri ciuman" ucap Rian yang langsung di lempar oleh Dea dengan buah apel.
Dengan sigap Rian menangkap buah tersebut. " Huuup" Rian menggosok apel tersebut di bajunya, kemudian dia menggigitnya. Cekreesss...
" Makan lah perlahan, jangan sampai Mera ilfill melihat mu yang ileran" ucap Dea.
Rian menyugar rambutnya, " Walau bagaimana pun, aku tidak pernah tidur dengan iler yang keluar. tidak seperti seseorang" ucap Rian.
Dea dengan sigap menghampiri Rian, namun Rian langsung menghindar dan mereka pun bekejar-kejaran sambil masih saling meledek satu sama lain.
Dea terbangun ditengah malam. Karena dia merasakan panggilan alam yang mengganggu tidurnya. Dea pun mendengar seseorang yang sedang berbicara.
" Kau cari tau informasi anak itu, dan aku akan memperingatkan kakak ku." ucap Rian dengan seseorang yang berada di seberang panggilan.
" Memperingati apa?" tanya Dea tiba-tiba .
Rian langsung menutup panggilannya.
" Tidak ada."
" Aku mendengarnya dengan jelas Rian" ucap Dea.
" memperingatkan mu harus selalu berhati-hati. karena kita tidak tau kapan musuh kita datang" ucap Rian bohong.
Sebenarnya tidak sepenuhnya bohong. Apa yang dikatakannya adalah benar, musuh mereka sedang mengincar Dea. dan kapan saja bisa menyerang Dea. Tapi pembahasan yang dipanggilan telepon tadi bukanlah tentang musuh mereka, melainkan tentang seorang anak. Anak yang akan menentukan hubungan Dea dan Riko.
" Apa pria tadi adalah simpanan mu?" Tanya Priya yang entah dari mana datang dan tiba-tiba saja sudah berada di sebelah Dea
Dea hanya memilih diam, jika dia menjawab Priya, maka akan terjadi keributan yang membuat pagi indahnya menjadi suram. Tidak baikkan mengawali hari dengan keributan?.
" Aku melihat dia keluar bersama mu di apartemen. Apa kalian menginap bersama? huhuhu .. bagaimana jika Riko tau jika gadis kecilnya ini memasukkan seorang pria dan tidur bersamanya." ucap Priya.
Dea benar-benar sudah tidak tahan. Dea menarik blazer yang di gunakan Priya, sehingga Priya terbungkus menyamakan tingginya dengan Dea
" Jaga mulutmu sebelum aku merobeknya" ucap Dea dingin namun terdengar sangat mengerikan.
Dea melepaskan cengkeramannya ketika pintu lift terbuka. Dan meninggalkan Priya yang masih dengan keterkejutannya.
" Apa Rian mengantarmu dengan selamat?" tanya Riko. saat ini mereka sedang berada di ruangan Riko.
" Seperti yang kau lihat, tidak ada kurang satu apapun." ucpa Dea datar.
Dea masih kesal dengan Riko yang membiarkan Priya selalu bergelayut manja di lengannya di depan karyawan kantornya. Dengan dalih jika mereka teman lama yang akrab. Siapapun bisa melihat jika ada cinta di mata mereka.
" Kau masih marah padaku?" tanya Riko.
" Selesaikan masalah mu dengan Priya, lalu kita bicarakan lagi tentang hubungan kita ini" ucap Dea dan berlalu keluar meninggalkan Riko sendirian di ruangannya.
Riko sangat frustasi dengan perkataan Dea. Sungguh sebenarnya Riko sudah tidak ada rasa dengan Priya, tapi dia tidak bisa berbuat banyak, karena Priya mengancamnya. Jika dia berani menolak kemauan Priya, maka Priya akan mengatakan kepada Dea bahwa hubungan mereka sudah lebih dari sekedar pacaran.
__ADS_1
Riko tidak ingin Dea tau betapa hinanya dirinya. Riko takut jika Dea tidak bisa mengerti akan hal itu. Dan Riko tidak ingin kehilangan Dea.
"Baiklah, aku akan memperjelas semua ini. Aku akan membuat kamu tetap bersamaku Dea. Apapun yang terjadi, kebahagiaanku hanya bersamamu." gumam Riko.
Riko menghubungi Priya, dan mengajaknya bertemu di luar kantor. Riko sudah memesan ruangan VIP di sebuah restoran. Riko tidak ingin pembicaraannya dengan Priya terdengar oleh orang lain.
Riko sudah duluan sampai di restoran tersebut, saat ini dia sedang menunggu kehadiran Priya. Riko menyiapkan sebuah rekaman suara, agar perbincangan dirinya dan Priya terekam. Dan Riko ingin membuktikan kepada Dea bahwa hubungan Riko dan Priya memang sudah berakhir.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk" titah Riko.
Sesosok wanita cantik yang sudah Riko tunggu pun akhirnya datang.
" Kau menunggu lama?" tanya Priya.
" Duduklah, aku tidak punya banyak waktu dengan mu" ucap Riko dingin.
" Santai saja, kita masih punya banyak waktu yang bisa kita habiskan bersama" ucap Priya.
" Apa tujuan mu kembali ke sini?" ucap Riko yang sudah tidak tahan untuk menanyakannya.
" Sebaiknya kita makan dulu, aku perlu tenaga untuk menceritakan sebuah rahasia besar yang akan membuatmu terkejut. Dan kau perlu tenaga untuk mendengarkan ceritaku." ucap Priya manja.
" Katakan saja, aku tidak Sudi makan bersama mu" ucap Riko.
" Baiklah, jika kau tidak ingin makan bersama ku, sebaiknya aku pergi. Dan aku akan mengajak Dea makan bersama ku, dan akan ku ceritakan semuanya kepada Dea" ancam Priya.
" Baik lah, kita makan. Setelah itu kau ceritakan semuanya kepada ku. Apa tujuanmu." ucap Riko sinis.
Priya hanya tersenyum, kemudian memesan makanan kepada pelayan restoran. Tak berapa lama pesanan pun datang. Priya memakan makanannya dengan tenang. Tidak dengan Riko yang ingin segera menghabiskan makanannya agar wanita yang di depannya langsung menceritakan apa tujuannya kembali ke sini.
.
.
.
.
.
.
readers..
jangan lupa like, vote, rate, and komen yaa...
jangan pelit untuk jempolnya.
__ADS_1