
VISUAL
Riko Prayoga Artmaja
Dea Natasha
Rian Purwanto
Ameera Shaqilla Artmaja
Ferdi Alamsyah
Priya Sasmita
Hai readers.. gimana dengan visual nya?? mantap kan?
saingan Dea berat nich, udah cantik, pintar, tinggi, trus cinta pertamanya Riko.
Simak terus yaa ceritanya..
_________________________________________
💗💗💗 Selamat Membaca 💗💗💗
Pagi ini Riko tidak menjemput Dea seperti biasa, karena Riko harus meninjau lapangan. Dea pun berangkat kerja dengan supir yanh sudah di utus oleh Riko. Sesampainya di kantor, Dea melihat pintu ruangan Riko yang terbuka sedikit.
'Bukannya tadi bilang sedang meninjau lapangan ya??' batin Dea.
Karena penasaran, Dea mengintip ke dalam ruangan Riko. Saat Dea memasukkan kepalanya untuk melihat ke dalam,tiba-tiba pintu ruangan Riko terbuka dan muncullah sosok wanita cantik nan elegan di depan mata Dea.
" Hai " ucap wanita itu.
" Priya??, kenapa bisa ada di ruangan Riko?, eh maksud saya pak Riko." tanya Dea penasaran.
__ADS_1
" Tidak ada, tadi aku hanya ingin menyapanya saja, tapi Riko nya tidak ada. apa kamu tau di mana dia??" tanya Priya.
" Emm, dia__"
" Bisa kita bicara Priya?" Potong Dino sebelum Dea memberi tahu dimana Riko saat ini.
Priya pun mengikuti Dino yang masuk kedalam ruangannya.
" Pagi mbak Dea" sapa Desi
" Pagi Desi " balas Dea.
Dea dan Desi pun kembali ke meja masing-masing. Dea terlihat kebingungan dengan pekerjaannya, dan itu semua tak luput dari pandangan Desi.
" Ada yang bisa Desi bantu mbak?? " tanya Desi.
" Kamu lagi gak sibuk??" tanya Dea.
Desi pun berjalan ke arah Dea, yang kebetulan bersebalahan dengan meja Desi.
" Tenang aja mbak, Desi memang di tugaskan untuk membantu mbak juga." uca Desi dengan senyum manisnya.
Dea pun tersenyum dan memberi tahu kepada Desi kendala yang di hadapinya. Desi tersenyum, kendala yang di hadapi Dea sebenarnya tidak lah sulit, namun Dino telah menjelaskan tentang Dea yang memang tidak paham dalam bidang akuntansi maupun marketing, serta tidak mengerti tentang pekerjaan perusahaan. Dengan sabar Desi mengajari Dea. Dea sangat bersyukur karena Desi tidak menjelekkan kebodohannya, malahan Desi sangat antusias dan bersemangat dalam mengajarinya.
" Desi, kamu pintar sekali. dan kamu sangat sabar dalam mengajari saya. Tidak seperti pak Riko yang selaku saja mengomel jika saya tidak paham hingga harus berkali kali di jelaskan" ucap Dea dengan menutup pipinya yang bersemu merah karena malu.
Dea pun tersenyum dan memeluk Desi sembari berterima kasih kepada Desi. Sudah 2 jam Priya dan Dino tidak keluar dari ruangannya. Membuat Dea menatap curiga ke arah pintu ruangan Dino.
" Des, kok Nona bule itu lama banget ya keluarnya dari ruangan pak Dino. " tanya Dea penasaran.
Desi menatap pintu ruangan Dino, kemudian menatap Dea kembali.
" Saya juga kurang tau mbak, cuma saya tadi sempat dengar, kalo Nona Priya pernah sempat dekat dengan pak Dino dan pak Riko." ucap Desi pelan.
Dea mengernyitkan keningnya, kemudian fikirannya kembali terbayang saat Dea memasuki ruangan meeting kemarin sore. Dea sempat melihat kalo Priya memegang tangan Riko, dan saat Dea masuk, Riko langsung melepaskan tangan Priya. Seperti ada keganjalan yang terlihat.
Tak berapa lama pintu ruangan Riko terbuka, melihatkan Priya yang keluar dari ruangan Dino dan sepertinya habis menangis. Karena terlihat matanya yang sembab.
Priya melihat kearah Dea. namun saat Dea tersenyum, Priya hanya berlalu tanpa menghiraukan Dea. Dea merasa aneh dengan perlakuan Priya. bukannya kemarin dia ingin berteman dengan Dea??, dan bukannya tadi pagi Priya sangat terlihat ramah kepada Dea??, tapi sekarang kenapa terlihat tatapan penuh kebencian di mata Priya terhadap Dea??
Ntah lah, Dea pun tidak ingin mengambil pusing. Dea kembali mengerjakan pekerjaannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 12, waktunya jam istirahat, namun Riko belum juga kembali ke kantor. Dea mengajak Desi untuk makan siang di kantin kantor. Desi pun menyetujuinya.
Desi dan Dea makan sambil bercerita, ternyata mereka memiliki hobi yang sama, suka dengan membaca komik bergenre lucu dan novel. Hingga warna kesukaan mereka pun sama.
__ADS_1
Dea melihat ke arah Desi. Di depannya terdapat wanita yang cantik, ramah, sabar, dan selalu tersenyum. walaupun Dino selalu memberikan pekerjaan yang menumpuk kepada Desi. tapi Desi hanya tersenyum.
Dea merasa sangat beruntung bisa berteman dengan Desi. Dari awal Desi bekerja, Dea belum sempat mengobrol banyak dengan Desi. karena Riko selalu menyuruhnya bekerja di dalam ruangannya.
Selagi Dea dan Desi menikmati makan siangnya, tiba-tiba seseorang duduk di meja yang sama dengan mereka. Dea dan Desi menoleh kearah sumber tersebut. Dea dan Desi sedikit terkejut, karena yang duduk di meja yang sama dengan mereka adalah Priya.
" Hai, aku mengganggu kalian?" tanya Priya yang memang masih terdengar sedikit lihat indianya.
Dea dan Desi bersamaan menggelengkan kepalanya. mereka masih dengan keterkejutannya. Dea merasa heran saja dengan Priya. Bukankah saat dia keluar dari ruangan Dino, Priya menatap Dea dengan tajam?? Desi pun merasakan juga tatapn Priya yang tajam kepada Dea saat keluar dari ruangan Dino. tapi sekarang?? Priya tersenyum ramah kepada Dea.
" Hai, aku Priya!" ucap Priya kepada Desi sambil mengulurkan tangannya.
Desi pun menyambut tangan Priya untuk berjabatan dengannya. " Desi "
" Emm.. so, bolehkan saya selalu makan siang bareng kalian setiap hari?? sebenarnya saya di sini belum mempunyai teman perempuan." ucap Priya lembut.
" i-iya boleh, kami senang jika memiliki teman lagi" ucap Dea
" ooh... so thanks Dea" ucap Priya sambil memeluknya dari samping.
Dea pun tersenyum kikuk dan mengelus lengan Priya. ' buset, wangi banget ' batin Dea.
Mereka makan sambil bercerita. Terkadang Priya sesekali menggunakan bahasa Inggris, yang membuat Dea tidak mengerti. berbeda dengan Desi yang mengerti dan dengan sabar menterjemahkan ya untuk Dea.
Ntah kenapa Dea merasa jika dirinya sangatlah tidak pantas bisa bersanding dengan Riko. Riko yang sangat pintar, tampan, tinggi, pokoknya sangat sempurna. dibandingkan dengan Dea yang lemah dalam pelajaran. Dea menatap Priya dan Desi yang sedang asyik mengobrol dengan bahasa Inggris. entah apa yang sedang mereka bicarakan, yang jelas Dea tidak mengerti. tapi fikiran Dea masih kepada Riko dan Priya. ada apa dengan mereka berdua.
" Hai De, are you oke??" sapa Priya yang membuyarkan fikiran Dea.
" Eh, iya... " jawab Dea dengan kikuk..
" Apa kau baik-baik saja mbak Dea??, mbak terlihat lesu!" ucap Desi sambil memegang tangan Dea yang di atas meja.
" iya Des, aku baik-baik saja" ucap dea sambil membalas memegang tangan Desi yang berada diatas tangannya.
Waktu istirahat siang sudah selesai. Dea dan Desi menuju musholla kantor, sedangkan Priya kembali ke ruangannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
hai readers..
jngn lupa like , vote, and komen.