Gadis Mini Milik Ceo

Gadis Mini Milik Ceo
Bab 34 " kelemahan "


__ADS_3

dokter memeriksa keadaan Rian.


" syukurlah, keadaanya normal. cuma kita tetap perlu melakukan beberapa tes lagi. untuk mengetahui keadaan yang lebih akurat"


ucpa dokter


" baik dok, terima kasih" ucap tuan yoga.


setelah dokter keluar dari kamar Rian, Tuan Yoga menatap tajam ke arah Mera.


"apa yang kau lakukan di sini??" tanya tuan yoga dingin.


"aku ..aku .." gugup Mera.


" kami saling mencintai Om" ucap Rian yang membuat Mera membuka mulutnya tak percaya. dan membuat ayahnya menyentil keningnya. "auuuwww"


" kau masih anak ingusan dan berbicara cinta??" ucap paman Jo.


"ayah, umur ku lebih tua darinya." rengek Rian.


Mera yang mendengar perkataan Rian pun menjadi heran. bagaimana bisa umurnya lebih tua dari dirinya. sedangkan Rian masih duduk di bangku SMA. ya walaupun wajahnya menegang tidak seperti anak SMA, jika dia memakai baju biasa.


"salah sendiri kau masih SMA" ucap paman Jo.


"apa kau masih mau di sini??" tanya Tuan Yoga kepada Mera.


"emang boleh??" tanya Mera ragu yang sebenarnya dia masih ingin bersama Rian.


" pulang lah, dan kembali besok jika kau sudah selesai kuliah. Rian masih perlu istirahat" ucap tuan yoga


Di luar dugaan Mera, dia berfikir jika ayahnya akan marah dengannya. setelah pernyataan Rian yang menyatakan kalau mereka saling mencintai.


Mera pun mengambil tasnya yang di jatuhkan ya ke lantai saat melihat keadaan Rian dengan kepala terbalut kasa. oh tidak, dia sangat tampan walaupun kondisi yang mengenaskan.


Mera pun pamin kepada Rian, paman Jo, dan Ayahnya. Mera pulang dengan perasaan yang berbunga. sesampainya di rumah, Mera heran mengapa para pengawalnya seperti sedang ketakutan. dan ketika dia memasuki langkahnya ke dalam. dia melihat Oma dan maminya sedang menangis sambil memeluk Dea.


Mera pun langsung berlari ke arah mereka. "ada apa ini??" tanya nya, dan betapa terkejutnya dia melihat wajah kakaknya yang tampan sudah babak belur dengan darah yang sudah sedikit mengering di sudut bibirnya. "apa yang terjadi?" tanya Mera dengan nada yang sedikit di naikkan.

__ADS_1


Mera pun meraih wajah kakaknya. " kenapa bisa begini? siapa yang berani memukuli kakak??"


"dia pantas mendapatkannya" ucap Tante dizah.


Mera semakin bingung dengan perkataan maminya. Pantass?? kenapa kakaknya harus Pantas mendapatkan pukulan??


" dia telah menculik Rian dan membuat Rian harus berakhir di rumah sakit. entah apa yang terjadi pada Rian saat ini!" ucap Oma di tengah Isak tangisnya.


Mera langsung membelalakkan matanya dan menatap wajah kakaknya tajam. Riko hanya menundukkan wajahnya. Mera berdiri dan beralih kearah Dea. dan menekuk kakinya di depan Dea dan memegang tangan Dea.


"apa kak Dea yang membuatnya seperti itu??" tanya Mera.


Dea merasa tidak enak hati saat Mera bertanya seperti itu, karena Dea takut kalau Mera akan membencinya karena telah melukai wajah tampan kakak kesayangannya. Dea mengaggukkan kepalanya pelan.


" terima kasih kak, dia pantas mendapatkannya" ucap Mera sinis sambil menatap Riko yang membuat semua orang tercengang mendengar perkataannya.


Sejak dulu jika ada yang berani melukai Riko, maka dia akan marah, apa pun alasannya. Tapi kali ini dia malah membela Dea??


Dea merendamkan dirinya di dalam bathtub, setelah merasa tenang dan relax, Dea membersihkan dirinya di bawah shower.


pintu kamar itu tertutup dan seseorang mengunci kamar itu.


"apa yang kau lakukan??" tanya Dea penuh penekanan.


"maafkan aku Dea" ucapnya.


"akan aku fikirkan" ucap Dea sinis.


"aku mencintai mu Dea" ucapnya.


"aku tidak " ucap Dea cepat


"aku akan membuatmu mencintaiku" ucap pria itu


" aku tidak akan pernah mencintaimu" ucap Dea geram.


pria itu mendekat kearah dea, dan dengan refleks Dea memundurkan langkahnya hingga tubuhnya terbentur oleh dinding. Pria itu mengurung tubuh Dea dengan tangannya yang mengulur bersandar Kedinding di setiap sisi.

__ADS_1


Dea panik, karena pria itu semakin mendekatkan wajahnya kearah Dea. tangan Dea mendorong dada bidang pria itu, namun


Dea lupa bahwa kegugupan akan menghilangkan kekuatan Dea. karena Dea tidak bisa berfikir tenang dan jantungnya berdebar dengan cepat. fokusnya hilang entah ke mana.


nafas pria itu terasa segar di wajah Dea. Dea menatap tangannya yang mendorong dada bidang pria itu. 'ayolah, kemana tenaga ku??' batin Dea.


Dea terus berusaha mendorong tubuh pria itu dengan kuat. Dea merasa sudah hampir kehabisan napas dan serasa jantungnya akan meledak dan berhamburan kemana mana.


saat pria hidung mancung pria itu sudah menyentuh hidung Dea. Dea berteriak kuat hingga pria itu menghentikan aksinya.


"RIKO AKU AKAN MEMBUNUH MU JIKA KAU BERANI MENCIUMKU"


Riko langsung menjauhkan tubuhnya dari tubuh Dea. Dea langsung membuka kunci pintu dan keluar dari kamar dan menutup pintu kamar itu dengan kuat.


'apa yang terjadi?? kenapa dia sudah mendorong ku dengan kuat, tapi kenapa tenaganya tidak bisa membuat tubuhku menjauh darinya??' batin Riko


sedangkan Dea sudah seperti orang kehabisan napas dan seperti baru keluar ada sauna. dia mengipas ngipas wajahnya dengan kedua tangannya, dan mengibas kerah bajunya, serta menghirup udara sebanyak banyaknya seperti orang yang takut kehabisan oksigen.inilah efek dari Udara yang dirasakannya sungguh panas. hingga dia tidak menyadari Oma meta dan Tante dizah yang sedang menatapnya heran.


"Dea apa kau baik baik saja??" tanya Tante dizah yang memegang bahu Dea.


Dea terlonjak kaget karena dia terlalu fokus dengan dirinya sendiri. "i..iyaa Tante "


"kamu jadi nginap di rumah sakit??, biar Riko yang antar kamu yaa" ucap Tante dizah


"hah??, gak usah tante, Dea pergi sama supir aja" sergah Dea cepat.


"biar sekalian Riko minta maaf kepada Rian,lebih cepat lebih baik" ucap Tante dizah dengan nada yang tidak ingin di bantah.


Tante dizah sudah menyiapkan bekal makanan untuk Dea, dan selimut untuk persiapan Dea menginap di rumah sakit.


Riko turun dari tangga dan sudah bersiap untuk mengantar Dea. Dea yang merasakan kehadiran Riko kembali di terpa kegugupan yang membuat dia kikuk dan salah tingkah.


Di dalan perjalanan Dea memakai earphone, agar menghilangkan kegugupannya dan tidak ingin mendengar ataupun berbicara dengan Riko. Riko tersenyum melihat Dea yang bertingkah lucu seperti itu.


Sesampai di rumah sakit, Dea bergegas turun dengan membawa bekalnya. Dea melupakan selimut yang berada di dalam mobil Riko. terlalu fokus untuk segera menjauh dari Riko. hingga Dea tidak bisa berfikir jernih. Dea terus berjalan tergesa seperti dikejar hantu. Riko yang mengikuti dengan langkah besar nya pun tersenyum melihat tingkah Dea.


walaupun penuh lebam pada wajahnya, tapi dia tetap terlihat tampan dengan senyum yang menghiasi bibirnya. sehingga membuat suster dan orang orang yang melihatnya menjadi jatuh hati.

__ADS_1


__ADS_2