Gadis Mini Milik Ceo

Gadis Mini Milik Ceo
Bab 8 ' Tiang Listrik '


__ADS_3

paman Jo pun memeluk Dea dalam, seolah olah memberikan kekuatan kepada Dea.


Dea bertekat di dalam hati. dia akan mencari tahu siapa pembunuh ayahnya.


untuk itu Dea harus berdamai dengan masa lalunya.. yaa. berdamai dan membuat lembaran baru..


paman Jo dan Dea kembali menuju rumah sakit. tempat dimana Oma meta di rawat.


" Joko " sapa Udin saat mereka tiba di rumah sakit.


sontak tuan yoga langsung menoleh dan memeluk Joko.


" terima kasih, terima kasih karena sudah memaafkan kami " ucap tuan Yoga sambil memeluk erat paman Jo


" apa ini Dea??" tanya tuan yoga kepada paman Jo.


" yaa.. ini Dea, Dea perkenalkan ini om mu, om yoga " ucap paman Jo sambil merangkul bahu Dea.


Dea pun menyalami tuan yoga dan mencium tangannya.


yoga memandang wajah Dea, menatap manik mata Dea.


' benar benar mirip, sangat mirip, wajahnya benar benar persis dengan Nita. hanya mata dan hidungnya saja yang mirip dengan Didi, aq sungguh merasa kalo kalian berdua da bersamaku saat ini' batin yoga saat melihat Dea.


yoga memegang kedua bahu Dea, dan memeluk dea. tanpa di sadari air mata mengalir jatuh dari ujung mata yoga.


setelah dokter mengabarkan kalo Oma meta baik baik saja, mereka pun bernafas lega.


_______


"langsung ke sana " ucap tegas suara bariton itu yang menyuruh pilotnya menerbangkan jet pribadinya


sesampainya di rumah sakit dia bergegas berlari


Bruuk..


"auuww" pekik Dea..


" apa kau buta " bentak suara bariton itu kepada Dea


Dea sontak membelalakkan matanya dan berdiri didepan pria itu


" apa??, seharusnya anda minta maaf kepada saya, bukannya malah memarahi saya " bentak Dea terhadap pria tinggi yang ada di depannya.


tak ingin mengambil pusing pria itu langsung meninggalkan Dea, yang saat ini sudah menahan emosinya.


" dasar manusia tiang listrik, bisa bisanya dia menuduh orang sembarangan, sudah dia yang salah, bukannya minta maaf, malah pergi, orang aneh !!" lirih Dea saat pria itu meninggalkannya


_________________

__ADS_1


* DEA *


paman Jo mengajak ku pergi ke suatu tempat. dimana yang aku tau, tempat ini adalah tempat favorit paman Jo jika sedang ingin menyendiri.


"paman tidak ingin menyembunyikan semuanya lagi kepada mu. mungkin ini adalah saat yang tepat untuk kamu mengetahui semuanya. paman berharap, kamu tidak membenci paman, dan tidak menyalahkan paman"


ucapan paman yang memecahkan keheningan terdengar seakan ada luka yang masih basah di dalam hatinya. aq memandang wajah paman Jo. tampak raut kesedihan memenuhi wajahnya.


paman menghembuskan nafas pelan, kemudian berkata "ibumu Nita,..adalah anak angkat dari tuan besar Artmaja"


sontak aq membelalakkan mata ku mendengar perkataan paman Jo. siapa yang tidak mengenal keluarga Artmaja.


memiliki perusahaan besar d mana, tapi juga misterius dengan kematian tuan besar Artmaja.


'tidak tidak mungkin aq keturunan mereka, taapii .. tapii kenapa paman Jo baru mengatakannya sekarang?? pasti ada yang tidak beres' batin ku.


paman Jo menceritakan kisah kedua orang tua ku. hampir setengah hari aq mendengarkan cerita paman Jo. aq tak kuasa menahan air mata aq.


begitu menderitanya kedua orang tua ku.


tapi luka yang di berikan Oma meta kepada ayah ku dan paman Jo, memang sangat menyakitkan. bertahun tahun paman Jo bekerja dengan Oma meta, tapi karena satu hasutan orang jahat, Oma meta sampai menghancurkan usaha keluarga Tante Rahma, dan memisahkan ayah ku dengan ibu ku.


mungkin ini yang di namakan cinta seorang ibu kepada anaknya, jika sudah mengenai anaknya, apapun tak akan di percayanya. apa yang terlihat itu lah yang di anggapnya benar.


sudah 3 jam aq menangis. paman Jo pun. sudah menenangkan aq. dari cerita paman Jo, ayah ku adalah seorang intel rahasia. yang tidak bisa di cari tau informasinya. paman Jo sendiri tidak tau kalo ayah aku adalah seorang intel.


kematian opa Artmaja dan ayah sepertinya memang sudah di rencanakan. aku harus menemukan pelakunya.


Benci???


tidakk.. aku tidak membencinya..


hanya saja aku sedikit kecewa dengannya..


dan mungkin perlahan kekecewaan ku akan hilang dengan sendirinya..


Kapan???


aku tidak tau kapan, yang jelas tidak dalam waktu dekat hati ini bisa untuk tidak kecewa.


aku dan paman Jo kembali kerumah sakit.


kami di sambut dengan sahabat paman ku. paman Udin.


sesampainya di depan kamar Oma meta, aku diperkenalkan dengan om yoga. dia memandangku, manik mata nya menatap mata ku. terlihat jelas jika dia merasakan kehadiran orang yang selama ini di rindukannya.


yaaa.. aku yakin, dia merindukan ibu ku. dari cerita paman Jo tadi, jika om yoga sangat menyayangi ibu ku. seperti adik kandungnya sendiri.


drrtt drrtt drrtt

__ADS_1


handphone q bergetar, aq permisi untuk mengangkat panggilan ku .


" halo.."


..........


" ya aq baik baik saja"


............


"oh ya, sepertinya aq tidak bisa datang besok"


............


" ada urusan sedikit cin, mungkin lusa aku akan ke toko.."


...........


" yaa.. yaa.. yaa...baiklah"


aq menutup panggilan dari Lula. dia menanyakan kabar ku, karena merasakan firasat yang tak enak terhadap ku.


dia sahabat terbaikku, terkadang dia seperti bisa merasakan apa yang ku rasakan. mungkin karen kami sudah berteman lama, jadi sudah ada ikatan bathin yang terjalin di antara kami.


aku pun melangkahkan kaki ku kearah luar, untuk sekedar mengambil udara segar.


Bruuk..


"auuww" aku terjatuh karena ada yang menabrak ku.


" apa kau buta "


suara bariton itu mengejutkan Ki, dan membuat darah ku tiba tiba langsung mendidih sampai ke ubun ubun.


' buta?? siapa yang buta?? apa dia gila?? dia yang berlari seperti di kejar setan, dan dia menuduh ku buta??' batin ku


aku membelalakkan mata dan berdiri didepan pria itu.


' yaa ampun, ni orang apa tiang listrik?? untuk melihatnya saja bisa sakit tengkuk leherku di buatnya' batin ku


aku pun memundurkan sedikit langkah ku ke belakang agar tidar terlalu mendongak untuk melihat wajah si manusia tiang listrik ini


" apa?? seharusnya anda minta maaf kepada sya, bukannya malah memarahi saya " bentak Dea terhadap pria tinggi yang ada di depannya.


pria itu tidak menanggapi ucapan ku, dia pergi begitu saja. seolah olah ada hal yang sangat gawat di dalam fikirannya.


" dasar manusia tiang listrik, bisa bisanya dia menuduh orang sembarangan, sudah dia yang salah, bukannya minta maaf, malah pergi, orang aneh !!" lirih ku saat dia pergi dari hadapanku.


aku pun kembali melangkahkan kaki ku kearah taman rumah sakit. hanya untuk menghirup udara malam yang sejuk. sekalian menjernihkan emosiku yang hampir berapi gara gara manusia tiang listrik itu.

__ADS_1


mohon like dan votenya yaa...


__ADS_2