Gadis Mini Milik Ceo

Gadis Mini Milik Ceo
Bab 69 ' mengekori dea'


__ADS_3

Dea terbangun dari tidurnya, dia meraih gelas yang ada ni meja nakas nya. Namun gelas tersebut sudah kosong. Dea mengumpulkan tenaganya untuk bangun dan keluar kamar untuk mengambil air.


Ceklek.


Bruukk..


" Aaauuw" Pekik Dea.


Gelas yang berada di tangan Dea pin jatuh. Untungnya tidak pecah, karena Dea sengaja menggunakan gelas yang tidak berbahan kaca. Dea jatuh di atas perut Riko. Riko terkejut dan terbangun saat ada sesuatu yang berat menimpa dirinya. Dengan segera Dea berdiri, dengan bantuan tangannya yang menekan tubuh Riko.


" Aauuuwww" Pekik Riko dan langsung terduduk dengan cepat dan menyambar tangan Dea. Hingga Dea kehilangan keseimbangannya dan kembali terjatuh di dada Riko.


Riko memegang milik berharganya yang tanpa sengaja Dea tekan tadi. Nyut.. Nyuut... Nyuut.. begitulah kira-kira rasanya di bawah sana.


Dea mengerjapkan matanya tanpa dosa. Kemudian Dea membenarkan tubuhnya untuk kembali tegak. Sedangkan Riko sudah meringkuk sambil memegang juniornya.


Dea melihat Riko yang kesakitan, Dea menjadi bingung, apa segitu sakitkaj perutnya karena kejatuhan dirinya?


Dea berusaha meraih bahu Riko. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Dea hati-hati.


" Aakhh" Riko berusaha menenangkan juniornya yang berdenyut. " Seharusnya kau tidak menyentuhnya. Ini sungguh sakit." Lirih Riko.


Dea tidak mengerti maksud Riko. Yang Dea tahu jika Riko saat ini sedang kesakitan. Dea pun merasa bersalah dan sedikit panik.


" Dimana yang sakit? Coba aku lihat" Tanya Dea polos.


Riko memandang wajah Dea dengan wajah nya yang memerah. ' melihat? Apa yang mau dia lihat? Apa dia akan melihat junior ku?' Batin Riko.


Dea masih menatap Riko dengan wajah polosnya. Riko menunjukkan bagian bawahnya yang sedang di tutupi dengan kedua tanganya, dengan dagunya.


Dea mengarahkan pandangannya ke arah yang Riko maksud. Dea membelalakkan matanya dan mulai memukul Riko dengan menggunakan bantal.


" Dasar mesum" Pekik Dea sambil terus memukuli Riko dengan bantal.


Rasa Nyut Nyut yang Riko rasakan tadi seperti lenyap dan menguap. Hanya ada perasaan hangat di hatinya, melihat Dea memukul-mukul dirinya. Dan Riko membiarkan nya dan berpura-pura kesakitan karena pukulan Dea.


"Aww, sakit Dea... Ampun.. Aww.."


" Apa yang kalian lakukan?" Tanya Oma Meta yang menghampiri Dea dan Riko. Karena mendengar suara Riko dan Dea.


Dea dan Riko pun menghentikan kegiatan mereka, Dan menatap Oma Meta. Oma meta tersenyum melihat pergulatan antara Riko dan Dea. Dalam hati Oma Met terselip doa, agar mereka bisa kembali bersama.


Pagi ini adalah pagi yang indah bagi Riko. Walaupun dia harus menahan sakit di bagian juniornya, tapi Riko harus tetap bersyukur karena Dea memberikan perhatian kecil untuk nya.


" Masih gak pergi kerja hari ini?" Tanya Tante Dizah kepada Riko.


Riko menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Hmm, kerjaan kamu sudah banyak menumpuk, mau Sampai kapan kamu biarin kerjaan kamu terbengkalai gitu. Sayang Dino harus menghandle nya sendiri"


" Pokoknya Riko mau terus dekat Dea."


" Manja banget sih, Mami gak pernah loh liat kamu manja gini." Ucap Tante Dizah dan mengacak rambut Riko.


" Mau ke mana De?" Tanya Tante Dizah saat melihat Dea sudah rapi.


" Mau ketemu temen sebentat Tante, Dea pergi dulu ya, Assalamualaikum" Ucap Dea dan mencium punggung tangan Tante Dizah.


Riko yang hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek langsung bergerak dan mengejar Dea.


" Aku ikut" Ucap Riko yang sudah berdiri di depan Dea.


Dea menaikkan sebelah alisnya, dan menatap penampilan Riko yang acak-acakan.


" yakin mau ikut? " tanya Dea.


" Tunggu sebentar, aku akan bersiap" Ucap Riko.


" Maaf, teman ku sudah menunggu, dan aku tidak ingin membuatnya menunggu lama." Ucap Dea dan langsung pergi meninggalkan Riko yang masih kacau balau dan belum mandi.


Riko langsung berlari mengejar Dea, dan memgikutinya masuk ke dalam mobil.


" Kau yakin akan berpakaian seperti ini?" Tanya Dea lagi.


" Hmmm, baiklah.. tapi jangan menyesal jika mengikutiku" Ucap Dea.


" Aku tidak akan pernah menyesal untuk mengikuti mu" Ucap Riko dengan mantap.


" Baiklah, terserah kau saja" Ucap Dea.


Dea pun menyuruh supir melajukan mobilnya. Riko tidak melihat jalanan, jadi Riko tidak mengetahui ke mana arah tujuan Dea. Dea tidak memperdulikan Riko yang terus menatapnya penuh pesona. Tak terasa mobil pun sudah berhenti di tempat tujuan Dea.


Dea menoleh ke arah Riko, dan saat Dea melihat Riko, Riko semakin melebarkan senyumnya.


" Kau tidak turun?" Ucap Dea menyadarkan Riko.


Riko pun menoleh ke sekelilingnya, dan betapa terkejutnya Riko bahwa tujuan Dea adalah kantornya.


" Kenapa ke sini? bukannya kau ingin menemui teman mu?" Tanya Riko penasaran.


Dea tersenyum dan langsung membuka pintu mobil. Mau tak mau Riko mengikuti langkah Dea. Dea sudah menahan tawanya, karena setiap karyawan yang melihat Riko, menatap Riko dengan tatapan tak percaya. Bosnya yang terkenal rapi dan wangi, kali ini berpenampilan asal. Untung saja tidak ada yang tahu jika Riko belum mandi.


" Kenapa kesini?" Tanya Riko.


" Bukankah aku sudah mengatakan ingin menemui teman ku!"

__ADS_1


Teman? Siapa?


Riko masih mengikuti Dea, dan tujuan Dea adalah kantin perusahaan. Riko masih mengikuti Dea dengan menahan malu. Tapi rasa penasaran Riko tidak mengalami rasa malunya.


" Ah, akhirnya datang juga" Ucap Dino. Kemudian pandangan mata Dino beralih ke arah pria yang berada di belakang Dea.


" Kenapa kau mengajak pemulung?" Ejek Dino kepada Riko.


" Apa kau sudah bosan hidup?" Tanya Riko.


" Aku sudah bosan bekerja dengan mu, apa aku harus resign?" Ancam Dino yang membuat Riko langsung menelan kata-katanya sendiri.


" Kau berteman dengan manusia yang tak memiliki pelabuhan hati ini?" Tanya Riko kepada Dea.


Dea menarik kursi dan mendudukkan dirinya, begitupun dengan Riko, menduduki dirinya di sebelah Dea.


" Setidaknya dia orang yang baik" Ucap Dea santai.


Riko mencebikkan bibirnya mendengar Dea memuji Dino. Dan Riko harus mewanti Dino untuk tidak mendekati ataupun merayu Dea. Karena Dea hanya miliknya.


" Maaf menunggu lama" Ucap Desi.


Riko menatap Desi, Dino, dan Dea bergantian. Apa selama ini mereka berteman? Lalu kenapa Dino tidak mengatakan kepadanya?


Riko menatap Dino dengan tajam. Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum manis kepada kedua wanita yang berada bersama mereka saat ini.


'Cih, senyuman apa itu? menjijikkan' Batin Riko.


Desi sesekali tersenyum melihat kondisi Riko saat ini. " Jangan di tahan, keluarkan saja" Ucap Dino.


Dan sedetik kemudian Dea, dan Desi pun tertawa terbahak-bahak. Membuat Riko terbingung, tidak dengan Dino yang ikut tertawa bersama mereka.


Kemudian Riko menatap dirinya, dan dia mengerti dengan apa yang mereka tertawa kan. Riko berdiri dan menghampiri Dino, memaksanya membuka jas yang di pakainya. Dan Riko merubah penampilan rumahannya dengan elegan.



.


.


.


.


.


.

__ADS_1


jangan lupa LIKE + VOTE + RATE + KOMENNYA YA


__ADS_2