Gadis Mini Milik Ceo

Gadis Mini Milik Ceo
Bab 17 ' tatapan tajam '


__ADS_3

" om, Dea duluan yaa..."


" loh, gak pergi sama Riko aja?? kalian kan sekantor " tanya tuan yoga


" gak usah om, biar jangan makin parah gosipnya. "


" hmm , kalau begitu kamu di antar dengan supir oma saja. "


" gak usah om, Dea naik ojek online aja"


" tidak ada penolakan. ini perintah " titah tuan yoga.


" baiklah " jawab Dea lesu sambil menundukkan wajahnya.


Dea pun berangkat ke kantor dengan di antar supir Oma meta. sesampainya di kantor, Dea melangkahkan kaki nya menuju lobi. satpam yang biasanya hanya menegur dan tersenyum. sekarang menyapanya dengan menundukkan sedikit badannya dan tersenyum.


ketika Dea mulai memasuki lobi, yang hari hari biasanya hanya seperti menyeramkan, saat ini Dea merasa sedang di kandang macan yang siap menerkamnya.


dari senyum yang bagaikan besutan silet, hingga tatapan mata yang bagaikan busur panah yang menusuk jantung.


Dea berdekik ngeri melihat suasana di sekelilingnya.


di dalam lift, Dea seakan kehabisan oksigen. karena dia di apit oleh dua wanita yang cantik, tinggi, dan seksi. yang menurut Dea sengaja membuat dirinya terpojok dan terjepit. hingga kaki Dea pun seolah olah tanpa sengaja terinjak dengan runcingnya sepatu mereka.


Ting ..


semua orang keluar satu persatu, dan tinggallah Dea di dalam lift, yang harus menaiki beberapa bangunan lagi untuk menuju mejanya.


lantai yang terdapat ruangan Riko memang sengaja tidak di pekerjakan pegawai perempuan, karena Riko tidak ingin ada pegawai yang caper alias cari perhatian kepada dirinya.


dan hanya Dea lah satu satunya wanita di lantai itu. dan sudah sangat jelas jika Dea yang paling cantik di lantai itu.


Dea meletakkan tasnya di atas meja, dan menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya yang sudah seminggu dia duduki.


" hai de " sapa Dino yang sedang berjalan dengan Riko dan berlalu tanpa melihat Dea.


" hai "


" lesu banget "


" gimana gak lesu, baru keluar dari kandang macan, dan sekarang masuk ke kandang gorila "

__ADS_1


Dino mengerutkan keningnya dan seketika dia mengerti maksud Dea dan tertawa..


" apanya yang lucu "


Dino hanya mengendikkan bahunya dan mengedipkan matanya sebelah pada Dea.


ya, Dea tidak peduli dengan perlakuan Dino yang genit. dan Dea tidak mau ambil pusing karena Dea sudah tau kalau Dino adalah seorang playboy. karena sudah beberapa kali Dino di datangi oleh wanita yang berbeda. dan Dea terkadang sering mendengar Dino yang sedang menerima panggilan dan berkata mesra dengan penerima panggilan di seberang sana yang Dea tidak tau bagai mana wujudnya. yang jelas dalam fikiran Dea, wanita itu pastilah cantik dan seksi.


seperti biasa, Dea selalu di sibukkan dengan bertumpuk tumpuk berkas dan kerjaan. yang sebenarnya bukan kerjaan Dea, tetapi Riko sengaja memberikan kerjaan itu untuk membuat Dea kelelahan.


" de, kami pergi meetting dulu yaa, kamu tolong siapin berkas ini setelah istirahat " titah Dino lembut


Dea hanya melirik ke arah Riko yang berlalu meninggalkan Dea dan Dino. dan Dea mengernyitkan keningnya. ' bukannya seharusnya aku ikut yaa kalau ada metting?' batin Dea.


seakan mengerti dengan raut wajah dea, Dino langsung menjelaskan kepada Dea bahwa ada meeting yang mendadak, untuk itu makanya Dea tidak ikut. karena ada pekerjaan lain yang harus Dea kerjakan. bohong Dino.


Dea melangkahkan kakinya ke kantin kantor. sewaktu Dea memasuki ruangan itu, kembali lagi Dea seakan masuk ke kandang macan. benar saja, tidak ada yang mau makan bersamanya dan menghindar darinya.


" dasar perempuan tak tau malu " desis seorang pegawai wanita yang melewati meja makan Dea.


Dea hanya diam dan menikmati makan siangnya. Dea tidak ingin terpancing emosi.


tring tring


Dea meraih ponselnya Karena mendengar ada pesan masuk.


' bagaimana?? sudah dapat no IP nya??' tanya orang yang di seberang sana


' belum, dan aku tidak mengerti itu, apa tidak ada cara lain? ' send


' dasar bodoh, seharusnya kau yang tinggal kelas, bukan aku '


Dea membelalakkan matanya membaca pesan itu


' awas kau, aku akan menghabisi mu ' send


' coba saja, bukankah ayah melarang mu menunjukkan kemampuan mu. ha ha ha ah'


Dea mengepal erat tangan nya dan melanjutkan makannya dengan mengunyahnya seakan akan dia sedang melahap orang yang mengirim SMS tersebut.


______

__ADS_1


di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda.


" kau ingin ini tersebar atau kau menuruti semua keinginan kami ??" tanya pria yang sedang memegang sebuah kamera dan menunjukkan nya kepada gadis yang berdiri di depannya.


" aku sudah menuruti semua keinginan kalian, apalagi sekarang?? ini sebuah pemerasan " ucap gadis itu


" Mera ..Mera.. Mera... aku ingin kau menjadi kekasih ku"


" apa kau gila?? aku tidak akan menjadi kekasih mu " teriak Mera


" waaahhh waahh wahh... kau sudah berani meneriaki ku sekarang. lihat saja apa yang aku lakukan pada mu. dan kau akan melihat semua penolakan mu dan sekaligus kehancuranmu besok di seluruh televisi." ancam pria itu


" kakak ku akan membunuh mu ********" teriak Mera frustasi. karena saat ini dia sedang berada di sebuah GOR ( gelanggang olah raga) yang tidak ada orang.


" kita lihat saja, mungkin dia sudah berhasil membunuh ku, tapi dia tidak bisa mnghentikan tindakan ku. ha ...ha .. haa..." tawa pria itu menggelegar dan melangkah mendekati Mera dan mencoba untuk mencium Mera


Mera berteriak meminta tolong dan meronta ronta hingga memukul tubuh pria itu agar dia menjauh dari dirinya dan berharap ada yang menolongnya


" teriak saja sayang, tidak ada yang akan datang ke sini. " berbisik ke telinga Dea hingga membuat Dea merinding dan menggigil ketakutan


"semakin kau menggigil dan menangis, semakin membuat ku bergairah" bisik pria itu dan memulai kembali aksinya


BUUUKKKK


pria itu tersungkur dengan sudut bibir yang berdasar


" dasaar ****** , siapa kau berani mengganggu ku" ucap pria itu sambil berdiri


sebelum sepenuhnya pria itu berdiri, orang yang memukulnya kembali melayangkan tendangan nya dan meninjunya kembali.


" ingat wajah ini, dan kau akan tau siapa aku " ucap pria yang menyelamatkan Mera sambil menarik kerah baju pria itu dan menghempaskannya.


pria itu menarik tangan Mera dan membawanya jauh dari tempat itu. mereka berhenti di sebuah cafe yang tidak jauh dari GOR.


" apa kau baik baik saja? " pria itu bertanya kepada Mera sambil memberikab air mineral yang di pesannya kek kasir tadi


Mera masih pucat dan tangannya bergetar kuat.


" minum lah, setidaknya ini bisa membuat mu sedikit tenang " ucap pria itu.


Mera mengambil air mineral dari tangan pria itu, dan meminumnya sampai setengah. pria itu tersenyum tipis dan menatap mera. ' sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana yaa??' batin pria itu.

__ADS_1


__ADS_2