Gadis Mini Milik Ceo

Gadis Mini Milik Ceo
Bab 50 " 2 wanita yang dicintai "


__ADS_3

" gue mau tanya, gimana perasaan Lo sama Priya sekarang??" tanya Dino mulai serius.


Riko tidak menjawab pertanyaan dino dan mulai memposisikan dirinya di kursi kebesarannya. Dino yang merasa jika tidak akan mendapatkan jawaban dari Riko pun akhirnya keluar dengan kesal.


Dino melihat kearah Dea yang tengah kerepotan dengan berkas yang ada di hadapannya. ' Semoga kamu tidak tersakiti Dea' batin Dino.


Tak terasa waktu istirahat siang pun tiba, Desi mengajak Dea kekantin. Dan Dea langsung menyetujuinya. Selama bekerja di kantor Riko, Dea belum pernah makan di kantin dengan kawan kantornya selain Dino. Jika bersama Riko pun mereka hanya makan di dalam ruangan Riko.


__________________


* RIKO *


Dia kembali. kenapa baru sekarang dia kembali, disaat aku sudah mulai melupakannya dan ingin hidup bersama Dea. Aku menjambak rambut ku frustasi.


Ceklek..


" Hai "


Aku tersentak saat mendengar suara wanita yang selama ini ku rindukan. Dia masih sama, masih secantik dulu.


" Boleh aku duduk?"


Aku pun menganggukkan kepala. Dia duduk di sebelah. Wangi yang keluar dari tubuhnya masih memabukkan ku. yang selalu menjadi canduku dulu.


" Apa kabar?? sudah lama kita tak berjumpa, kau semakin tampan" ucapnya kepadaku.


" Aku merindukanmu Riko" bisik nya.


" Ke mana saja kau selama ini, Priya" tanya ku kepadanya karena aku benar-benar sudah tidak tahan.


Priya yang tadinya ingin menciumku, tiba-tiba memundurkan kembali tubuhnya. dan tersenyum dengan menggenggam tangan ku. Tangan lembut ini, yang dulu selalu menyentuh ku.


" Aku pergi karena dirimu, dan aku kembali hanya untuk mu" ucap Priya.


" Aku mencari mu selama ini, namun kau tidak ada di Delhi" ucap ku dengan menatapnya penuh kerinduan. Oh Tuhan, jika aku tidak mengingat Dea, mungkin aku akan mencium bibir merahnya yang menggoda itu.


" Aku di London "


" Kenapa kau tidak memberi kabar kepada ku??"

__ADS_1


" Aku ingin, namun aku tidak bisa, karena aku__"


Ceklek..


" Kau disini rupanya, aku__" ucap Dea yang membuatku terkejut dan melepaskan genggaman tangan Priya. Kulihat Priya kecewa dengan perlakuanku.


" Kau mencari ku?? " tanyaku


Dea mengangguk, namun matanya beralih ke arah wanita cantik keturunan India yang bersamaku. Aku yang menyadari kemana arah mata Dea, langsung memperkenalkan Priya kepada Dea.


" ehem, Dea, ini Priya, perwakilan dari Perusahaan Delx, yang dari Delhi" ucapku memperkenalkan mereka.


Dea menghampiri Priya yang sudah berdiri dari tempat duduknya. Mereka berkenalan sambil berjabat tangan, dan kulihat mereka berbincang sebentar sebelum aku mengajak Dea pulang bersamaku. Entah lah, aku tidak merasa nyaman berada diantara mereka. 2 wanita yang aku cintai.


" Ehem, De, kita pulang sekarang? " ajak ku.


" Kalau begitu, kami duluan ya Nona Priya" ucap Dea yang ditanggapi anggukan oleh Priya.


Aku menyadari jika Dea dari tadi memperhatikanku. Apa dia melihat jika Priya memegang tanganku? fikir ku.


" Emm, tadi di ruangan meeting, kamu dan nona Priya__"


" Kami hanya membahas bisnis" potongku.


" Dia cantik sekali ya" ucap Dea. aku tidak menanggapi ucapannya.


Ya, dia memang cantik. dan sangat cantik. karena dia cinta pertama ku. dan tidak ada wanita lain selain dia. itu sebelum kau hadir Dea.


Aku hanya mengantar Dea sampai di depan gedung apartemen nya. Biasanya aku akan ikut masuk dan mengobrol dengan tunanganku ini. Tapi hari ini aku merasa mood ku sedang tidak baik. dan aku ingin sendiri.


Aku benar-benar tidak bisa melupakan senyum Priya, dan aku juga tidak bisa melupakan senyum Dea. Kenapa secara bersamaan mereka bisa muncul dalam benak ku. Malam ini aku tidak bisa tertidur karena memikirkan 2 wanita yang aku cintai. Hingga pagi pun menjelang. Aku solat subuh dan bertadarus. berdoa memohon petunjuk kepada sang pencipta.


Hari ini aku tidak ke kantor, aku menyuruh supir untuk menjemput Dea. Aku sudah mengabarinya sebelumnya. Aku memilih untuk meninjau pekerjaan di lapangan. Aku sengaja tidak ke kantor agar tidak bertemu dengan Priya. Mungkin untuk hari ini setidaknya aku bisa menenangkan fikiran dan hati ku di tengah kesibukanku.


Seharian ini aku benar-benar tidak memegang hp ku, karena aku tidak ingin tergoda untuk menghubungi Priya. Dari tadi hasrat ku selalu ingin menghubunginya. jadi ku tinggalkan hp ku di dalam mobil.


Aku melihat Sam si sebuah cafe yang juga menjual bakso. Apa ini?? Bakso melotot?? bagaimana bisa makan jika baksonya saja melotot kearah si peminat. setidaknya aku sedikit terhibur dengan nama cafe ini.


Aku memesan cappucino, dan mengobrol dengan Sam. Saat aku ingin pergi, aku tidak sengaja menabrak seseorang. Dan yang kutabrak itu adalah Priya. Jus yang ada di tangannya tumpah ke bajunya. Priya mengambil tisu dan mengelap tumpahan jus tersebut. Namun percuma saja, jus buah naga yang tumpah membuat penampilannya semakin memburuk.

__ADS_1


Aku manarik tangannya dan membawanya masuk kedalam mobilku, setelah menyuruh Sam mengurus kekacauan yang ku buat.


Aku mengantar Priya pulang. Dan baru ku tahu jika Apartemen Priya dan Dea berada di satu gedung yang sama. Namun Apartemen Priya berada di lantai 12, sedangkan Dea berada di lantai 5.


Aku berharap agar tidak bertemu dengan Dea. Karena aku tidak ingin Dea salah paham. Priya membuka pintu apartemen nya. dan dia menyuruhku masuk kedalam apartemen nya. Aku pun mengikutinya masuk kedalam apartemen nya.


Priya masih sama, masih mencintai budaya India. Walaupun dia sudah berpindah agama mengikuti agama ku. Mungkin jika dia tidak menghilang saat itu, kami sudah memiliki seorang putra, atau putri. Tidak.. tidak.. aku menggelengkan kepala ku.


Priya sudah mengganti bajunya dengan baju dari asal negaranya. Dan dia benar-benar sangat cantik dengan balutan khas India. Baju atasan yang panjangnya sampai lutut, dipadukan dengan celana yang longgar, serta selendang yang tersangkut di lehernya. Wanita ku, gadis India ku.


Priya berjalan kearah dapur, dan aku mengikutinya. Dia memberikan segelas air kepada ku. Aku meminum air yang di berikannya hingga tandas. Entah lah, aku merasa hawa di sekitarku menjadi panas.


Priya mendekat kearah ku, wangi tubuh yang dulu menjadi canduku. saat ini kembali membuat ku terbuai. " Aku merindukanmu" . Bagaikan mantra yang keluar dari bibirnya. Aku langsung menarik pinggangnya dan mendekat kepadaku. Dengan cepat aku langsung mencium bibirnya yang sudah menggodaku dari awal kami berjumpa. Dengan ganas aku mel*mat dan Mencec*ap bibirnya. Hingga dia memukulku karena sudah kehabisan napas. Aku menempelkan kening ku dengan keningnya. Napas kami masih berburu untuk menghirup oksigen.


Priya mengalungkan tangannya di leherku. "Aku hanya milikmu, dan kau hanya milikku" ucapnya, dan dia kembali mencium bibirku.


Kali ini ciuman ku dan dirinya tidak seganas tadi. kami menikmati ciuman kami, melepaskan rasa rindu yang selama ini sudah menggunung di hati. Saling mengulum bibir dan menikmati manis yang sempat hilang. Aku melangkahkan kaki ku menuju sofa, dengan bibir kami yang masih saling mencecap. Kujatuhkan dirinya di atas sofa dengan diriku yang sudah menindih dirinya. Entah kenapa wajah Dea muncul dalam benak ku. Membawa kesadaran ku kembali. Aku melepaskan ciuman kami. Dengan napas yang masih berburu, aku bangkit.


" Ada apa " tanya priya yang sudah duduk.


" Tidak Priya, ini salah, ini tidak seharusnya terjadi" ucap ku sambil menyambar jas yang tadi sempat aku buka.


Aku melangkahkan kaki besar agar cepat keluar dari apartemen Priya. Aku berlari menuju tangga darurat, dan ku naiki setiap tangga dengan berlari karena emosiku yang menggebu. aku berlari menuju atap gedung apartemen ini.


Aku berteriak sekuat tenaga ku, hati ini ingin menangis karena sudah berkhianat kepada Dea. Namun air mata ini enggan untuk keluar.


" DEEAAAA" teriak ku


.


.


.


.


.


hai, mulai dari sini akan menguras segala emosi readers semua, termasuk emosi author. ha ha ha ha..

__ADS_1


jangan lupa like and vote ya..


selamat membaca..


__ADS_2