
Riko pun mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Halo Pi" ucap Riko
" Cemburu ni Yee...ha ha ha ha" ucap Tuan yoga dari seberang panggilan.
Riko pun menutup kedua matanya dan menggenggam erat ponselnya. 'apaan sih papi' batin nya.
Riko membuka matanya dan memasukkan ponselnya kembali kedalam kantong. dia berdehem untuk membasahi tenggorokan nya yang tiba-tiba kering. Riko menatap Ferdi tak suka yang menatap Dea penuh pujaan.
"Apa kau tidak pulang??" usir Riko
" Aku akan menginap di sini" ucap Ferdi sambil tersenyum.
Riko menggenggam erat tanganya. Kemudian dia berjalan kearah Ferdi dan menariknya keluar dari rumah.
"Pulang lah ke apartemen mu, dan kau bisa datang lagi kapan pun" ucap Riko dengan mengeratkan giginya.
Ferdi yang melihat seperti ada api cemburu di diri Riko pun mengikuti kemauannya. Jika tidak bisa di jamin besok pagi Ferdi tidak aakn bisa terbangun. Karena Riko pasti akan mengerjainya habis habisan.
Ferdi berpamitan kepada Dea dengan melambaikan tangannya, Dea pun membalas lambaian tangan Ferdi. Riko yang melihatnya sungguh tidak sanggup menahan emosinya. Dia berjalan kearah Dea dan menarim tangan Dea menuju kamar Dea.
"eeh eh eh.. mau apa kau?" tanya Dea panik saat Riko menarik tangannya.
" Sudah larut malam, sebagikknya kau segera membersihkan tubuhmu dan tidur."
Dea menatap Riko bingung. Namun ada perasaan aneh pada diri nya saat selalu berada di dekat Riko. Dea selalu tersenyum ketika mengingat kebersamaannya dengan Ferdi. Ferdi sangat lembut dan perhatian kepadanya. Iris mata biru Ferdi tak lepas dari ingatannya, betapa lucunya jika dia memilik anak bersama Ferdi dan bermata lucu. Dea terus tersenyum memikirkannya. hingga senyumnya hilang ketika mengingat si Riko brengsek itu.
Tapi ada keanehan setiap dirinya berada di dekat Riko. Jantungnya selalu berdebar ketika Riko berada didekatnya, dan setiao dirinya bersentuhan dengan Riko, seperti ada sengatan listrik yang mengalir dari tubuhnya. Dea pun tidak ingin mengambil pusing. dan juga dia tidak ingin memikirkan tentang Riko. Dea naik ketempat tidurnya dan langsung terlelap.
Dea membuka matanya, dan dia tersenyum melihat wajah pria yang terbaring di sampingnya. Dengan refleks Dea mengangkat tangannya dan membelai bulu mata lentik pria itu, jarinya turun ke arah hidungnya yang mancung, kemudian tangannya turun ke bibir pria itu yang sangat terlihat seksi. "auuw" pria itu menggigit jari Dea.
"apa kau hanya akan membelainya" tanya pria itu sambil mengeratkan pelukannya.
"apa kau mau lebih??" tanya Dea dengan wajahnya yang bersemu merah.
__ADS_1
Pria itu menganggukkan kepalanya pelan sambil menatap wajah Dea. Cup..
satu kecupan mendarat di bibir pria itu.
pria itu tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah Dea, kemudian dia mencium bibir manis Dea. Dea pun membalas ciuman pria itu. Ciuman yang sangat hangat dan menggairahkan.
"Hentikan.. geli" ucap Dea yang melepaskan ciumannya dan menahan pria itu yang sedang menusup masuk kedalam baju Dea.
"hentikan ku bilang" pria itu terus menggelitik pinggang Dea. Dea merasa kegelian dan terus tertawa.. Mereka berguling di tempat tidur.
Bruukk..
Dea terjatuh dengan memeluk guling. Dea memegang keningnya, dan mengingat mimpinya tadi malam. Dea membuka mulutnya setelah mengingat apa yang terjadi didalam mimpinya. "ya ampun dasar bodoh Bodoh bodoh Bodoh" Dea merutuki dirinya sambil memukul kepalanya.
Seperti biasa, Tante dizah sudah menyiapkan sarapan di atas meja makan. "de, tumben kamu telat??"
Setiap pagi biasanya Dea selalu membantu Tante dizah. Dea hanya tersenyum menanggapi ucapan Tante dizah.
"Pagi mi" sapa Riko yang langsung duduk di tempatnya.
" De, kamu pergi bareng Riko ya, ada proyek yang harus di tinjau di lapangan. Jadi akan lebih baik jika kamu ikut dengannya" ucap Tuan yoga yang mengembalikan kesadaran Dea.
" i..iya om" ucap Dea gemetar.
Dea terus melirik kearah Riko yang berada disampingnya saat ini. yang sedang sibuk dengan Ipad-nya. Saat ini merek sudah didalam mobil menuju lapangan yang akan di tinjau.
"Apa aku tampan??" ucap Riko tiba tiba yang membuat Dea langsung mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Riko tersenyum miring melihat kegugupan Dea. Padahal jantungnya juga sedabg berdebar kuat. Mobil mereka berhenti di sebuah bangunan yang sedang dalam masa pembangunan.
"selamat pagi pak" ucap ketua proyek yang sedang menangani pembangunan ini.
Riko hanya menganggukkan kepalanya. dan melangkahkn kakinya melihat langsung dengan bangunan tersebut sambil mendengarkan penjelasan dari ketua proyek.
Setelah selesai dan merasa tidak ada kendala, Riko mengajak Dea ke suatu tempat yang kebetulan berdekatan tidak jauh dari sini. Riko mengemudikan mobilnya sendiri, hanya butuh waktu 10 menit, mereka sampai di sebuah tempat yang sangat asri.
__ADS_1
Riko memegang tangan Dea, dan menuntunnya mengikuti langkahnya. Dea merasa jantungnya segera meledak dengan sentuhan Riko. keringat dingin muncul dari dahi Dea.
"Apa kau sakit??" tanya Riko yang melihat dahi Dea penuh dengan keringat halus.
Riko pun spontan memegang dahi dea, yang mana semakin membuat jantung Dea semakin berdebar. Riko menatap Dea bingung karena Dea diam membeku dan tangannya sangat dingin. tapi keningnya tidak panas atau pun dingin.
"apa kau sakit??" tanya Riko lagi
"tangan mu dingin sekali" ucap Riko lagi.
setelah tersadar Dea menarik tangannya dari genggaman Riko. "aku tidak apa apa" ucap Dea gugup.
Dea melangkahkan kaki ya hingga suara bariton itu menghentikannya.
"lewat sini"
dengan berdecak kesal Dea kembali kearah Riko dan mengikuti langkah Riko. Dea membelalakkan matanya melihat pandangan yang berada di depannya.
"ini rumah kebun milik Tante Nita, mami menyuruhku untuk merawat rumah kebun ini. rumah kebun ini tidak dibuka untuk umum"
"kenapa?"
"Karena kau yang akan mengurusnya, dan semua tanggung jawab akan diserahkan kepadamu"
Dea tertegun mendengar ucapan Riko. dan tanpa di sadari nya Dea menitikan airmata bahagianya. Riko mendekat kearah Dea, menghapus airmata yang berada di pipi dea.
Dea mantap mata Riko. Dan Riko membalas tatapan mata mereka, perlahan wajah Riko mendekat, dekat, dan semakin mendekat, Dea menutup kedua matanya.
" Apa yang dia lakukan kenapa lama sekali?' batin Dea.
Dea pun menjinjitkan kakinya agar hal yang diinginkannya segera terpenuhi. Namun lama dia menanti hingga kaki nya pegal. Kemudian sebuah suara bariton menyadarkannya.
"apa yang kau lakukan di situ??"
dengan sigap Dea pun membuka matanya, dan kesadarannya mulai penuh. Dea mengerjapkan matanya dan berdehem untuk melegakan tenggorokannya yang terasa kering.
__ADS_1
" tidak ada" ucap Dea ketus dan melangkahkan kaki melewati Riko.