Gadis Mini Milik Ceo

Gadis Mini Milik Ceo
Bab 76 ' Kondisi dea'


__ADS_3

Sudah 2 jam berlalu, operasi Dea masih juga belum selesai. Riko terus berdoa demi keselamatan Dea.


" Kamu gak pa-pa?" Tanya Tuan Yoga.


" Iya, Riko cuma memar aja."


" Rian gimana?" Tanya Tuan Yoga kepada Mera.


" Baru selesai tiga puluh menit yang lalu, sekarang lagi di ruangan penetralisasi. Tunggu biusnya hilang." Ujar Mera.


"Kalo gitu Papi liat keadaan Paman Joko dulu"


Tuan Yoga pun berjalan menuju ruang IGD. Paman Jo mendapatkan luka memar di bagian perut dan dadanya. Bahkan terdapat pembekuan darah pada perutnya.


" Apa sudah sadar?" Tanya Tuan Yoga kepada Boy yang berbaring di brankar sebelah brankar milik Paman Jo.


" Tadi sudah sempat sadar, tapi sekarang lagi tidur."


" Bagaimana keadaan kamu?"


" Cuma retak tulang rusuk " Jeda Boy. " Rian bagaimana Om? Dan Dea?" Tanya Boy khawatir.


" Rian sudah selesai operasi, dan operasinya berjalan lancar. Kata dokter untung cepat di tangani, karena pembuluh darah Rian robek karena patahan tulang. Kalo Dea, belum keluar dari kamar operasi" Ujar Tuan Yoga sendu.


" Dea wanita yang kuat, saya yakin kalo Dea pasti baik-baik saja" Ujar Boy mencoba menenangkan, padahal dalam hatinya dia sangat khawatir dengan kondisi Dea. Bagaimana pun Dea sedari kecil sudah berlatih bersama dirinya, hingga mereka besar mereka sudah seperti Abang dan adik.


Sudah 4 jam Dea di ruang operasi. Riko, Mera, Tante Rahma, Tante Dizah, dan Tuan Yoga sudah menunggu dengan was-was.


Kreeekk..


Pintu ruang operasi terbuka, Doketr dan dan timnya keluar dari ruangan tersebut. Riko, Mera, Tante Rahma, Tante Dizah, dan Tuan Yoga langsung menghampiri Dokter Faisal, yang menangani Dea saat ini.


" Bagaimana Dok keadaan Dea?" Tanya Riko.


" Peluru yang bersarang di dada bagian kiri sudah kami keluarkan, tadi saat operasi sedang berjalan, Nona Dea sempat mengalami mendarahn hebat, dan untungnya sudah kami tangani dengan baik. Dan Saat ini kita tunggu saja Nona Dea melewati masa kritisnya" Ujar Dokter Faisal.


" Bisa kami melihatnya?" Kali ini Tante Rahma yang bertanya.


" Untuk saat ini belum, nanti setelah kita pindahkan keruangan, baru bisa di jenguk. Tapi harus satu-satu. Agar tidak mengganggu pasien" Ujar Dokter Faisal dengan senyum yang menenangkan. " Baiklah, saya permisi dulu".


Dokter Faisal meninggalkan keluarga Dea. Riko melihat Dea dari kaca pembatas, betapa pucatnya wajah Dea saat ini, dan banyak alat yang dipasang di tubuhnya.


Paman Jo sudah kembali sadar, dan keadaannya pun juga mulai membaik. Begitupun dengan Rian. Rian juga sudah sadar dari obat bius, dan saat ini di temani bersama Mera.

__ADS_1


Tian meminta perawat untuk membawanya ke ruangan Dea. Tian ingin melihat keadaan Dea.


" Kenapa kau kesini? Kau masih belum sehat betul!" Ujar Riko kepada Tian.


"Aku hanya ingin melihatnya" Ujar Tian dan meneteskan air matanya. Semua itu tak luput dari penglihatan Riko.


Sudah 10 jam tapi Dea belum memberikan reaksi apapun. Riko masih setia menunggu Dea, padahal dokter sudah menyarankan agar Riko beristirahat, karena Riko juga memiliki luka lebam di beberapa bagian tubuhnya.


Riko menggenggam tangan Dea, dan tanpa sadar Riko tertidur dengan posisi menundukkan kepalanya di pinggir tempat tidur Dea dengan beralaskan lengannya sambil menggenggam tangan Dea.


Dea membuka matanya, silau. Itu yang pertama Dea rasakan. Dengan perlahan Dea membuka kembali matanya, dan Dea merasa tangannya susah di gerakkan. Dea melihat, ada kepala yang menimpa tangannya. Dea tersenyum, tentu saja dia tahu itu milik siapa kepala itu. Dea mengelus rambut nya dengan tangan satu lagi, membuat si empu terganggu dan terbangun.


" Dea, Dea kamu sudah sadar?" Ujar Riko dan dengan segera menekan bel untuk memanggil perawat.


Tak berapa lama dokter dan perawat pun tiba. Memeriksa keadaan Dea.


" Nona Dea baik-baik saja, sekarang tinggal pemulihan lukanya saja" Ujar dokter Faisal.


Selepas kepergian dokter Faisal, Tuan Yiga dan Oma Meta masuk dan menghampiri Dea.


Oma Meta langsung memeluk tubuh Dea yang masih terbaring lemah di tempat tidur.


" Oma, Dea masih sakit" Ujar Riko memperingatkan .


" Maaf, Oma terlalu senang sayang" Ujar Oma meta sambil menghapus air matanya yang jatuh.


" Paman, Boy, bagaimana keadaan kalian?" Tanya dea lirih.


" Jika tidak berlatih ilmu Naga, mungkin kita semua sudah mati dengan sekali pukulan" Ujar Paman Jo.


" Rian, tangan mu"


" Tenang saja kak, Ini akan segera sembuh. Tapi mungkin aku tidak akan bisa menjadi juara lagi jika bertanding. Aku akan mengundurkan diri menjadi atlet." Ujar Rian dengan tersenyum.


Tetiba Dea teringat akan Priya. Dea menatap Riko. " Priya?"


" Dia sudah di tangkap, dan akan di kenakan sanksi berlapis, dan itu cukup membuat di mendekam di penjara." Ujar Riko dengan menahan amarahnya.


" Bisakah kau meringankan hukumannya. Aku memaafkan Priya"


" Dea, dia sudah mencelakai mu dengan ukar, dan dia sudah menembak mu hingga___"


" Aku tau, tapi fikirkan keadaan Pooja, pasti dia akan sedih jika tau ibunya di penjara, apalagi itu karena aku" Ujar Dea lirih.

__ADS_1


" Aku sudah mengatakan kepada Pooja jika ibunya kembali ke London, dan dia mulai sekarang tinggal bersama ku" ujar Riko.


Dea sudah tidak tau mau bilang apa ke sofa Riko. Dea sebenarnya hanya meminta untuk Priya di lepaskan.


Hening, tidak ada yang membuka suara. Namun tiba- tiba Riko membuka suaranya membuat semua orang terkejut.


" Paman Jo, saya ingin meminta restu dan izin dari paman, untuk menikahi Dea besok"


" Besok?" Ucap semua orang bersamaan.


" Iya besok, saya tidak ingin menundanya lagi, dan tidak ingin kehilangan Dea lagi"


" Tapi Dea masih di rawat," Jawab Paman Jo.


" Kita akan mengadakan akad nikahnya di sini, Kamu mau kan De?"


Dea tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bulir bening pun jatuh tanpa izin Dea, membasahi pipi Dea yang masih terlihat pucat.


Mera langsung berjalan ke arah Dea dan memeluknya, begitu juga dengan Oma Meta.


Lalu Tuan Yoga memeluk Riko.


" Papi akan siapkan semuanya sekarang" Ujar Tuan Yoga.


Riko menatap Dea dengan tersenyum bahagia, karena Dea tidak menolak rencananya ini.


Akad Nikah dadakan pun segera di siapkan oleh Tuan yoga. Menyuruh sang asisten menyiapkan segalanya untuk hari istimewa Dea dan Riko yang terbilang sedikit unik, karena melaksanakannya di rumah sakit.


Tante Rahma dan Tante Dizah pun merasa sangat bersyukur dan bahagia saat mendapatkan kabar dari Paman Jo, atas pernikahan Dea dan Riko. Mereka langsung menyiapkan menu makanan dan kue yang bisa di bawa ke rumah sakit besok.


.


.


.


.


.


.


Hai readers. mohon dukungannya yaa..

__ADS_1


Like dan vote nya.


terima kasih


__ADS_2