
Riko keluar dari unit apartemen Priya. Dia menaiki lift menuju lantai dimana Dea berada.
Saat pintu lift terbuka di lantai unit Dea, Riko dengan bergegas melangkahkan kakinya. Dia mengetuk pintu apartemen Dea, namun tidak ada jawaban. Riko mencoba membuka pintu tersebut, dan..
Ceklek...
Riko bergegas masuk kedalam apartemen Dea. Mencari Dea keseluruhan ruangn. Namun nihil, Dea tidak ada. Riko berusaha menelpon Dea berkali-kali. Namun hasilnya juga nihil. Dea sudah memblokir nomornya.
Riko merasa frustasi, dan mencob menghubungi Rian, namun hasilnya sama. Rian tidak menjawab panggilannya. Dia mencoba menelpon Mera untuk menanyakan Dea darinya. Namun hasil nya juga sama, nomor Mera di luar jangkauan. Riko benar-benar frustasi di buatnya. Dia berteriak dan menjambak rambutnya.
Sedangkan di sisi lain. Saat Dea melihat Riko, Dea langsung menghubungi Rian. Tapi tidak di angkat. Dea mencoba menghubungi Boy, terdengar suara panggilan tersambung. Tak berapa kama Boy pun mengangkat panggilannya.
Dea menanyakan dimana posisi Rian dan dirinya. Setelah Boy memberikan kabar dan lokasi, Dea langsung bergegas menuju kearah tempat Rian berada.
Sesampainya Dea di sebuah tempat rahasia Rian, Tanpa berbasa basi Dea langsung menyuruh Rian mencari tau sedetail mungkin tentang Priya. Termasuk anak kecil yang bernama Pooja. Apakah mereka punya hubgungan? Dan apa hubungan di antara mereka.
Dea mencoba semua alat latihan Yang ada di tempat rahasia. Dia benar-benar meluapkan emosinya. Hingga dia memukuk samsak hingga bocor. Rian dan Boy yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Mungkin dua harus kembali membeli samsak yang baru dan lebih tebal hingga tidak mudah bocor jika di pukul.
Dea sengaja tidak pulang ke apartemen nya. Dia menginao di tempat rahasia Rian. Yang di mana tempat apartemen Boy saat ini. Selama Dea istirahat, Rian mencari tau tentang Priya. Dan betapa terkejutnya Rian saat mengetahui jika Priya memiliki seorang anak, dan anak tersebut 99,9% adalah anak dari Riko.
Rian hanya bisa menahan gejolak emosinya. Namun dia juga tidak tega memberitahukan ini kepada Dea.
Keesokan paginya, Dea tidak berangkat ke kantor. Dea memang sengaja meliburkan diri sendiri. Setelah habis sarapan, Dea langsung menodong Rian dengan perrtanyaan tentang Priya. Namun Rian beralih jika belum mengetahui apapun tentang Priya.
Dea membantu Rian mempersiapkan perlengkapannya untuk bertanding. Sedangkan Boy sedang memasak untuk bekal mereka nanti. Karena Boy juga sudah hafal dengan sifat Dea yang jika sedang memiliki perasaan yang buruk, Dea akan semakin lapar.
Dea, Rian, dan Boy sudah sampai di GOR tempat Rian tanding. Mera juga sudah berada di sana. Mera langsung menghampiri Dea.
" Kak Dea berantam dengan Kak Riko?" Tanya Mera langsung.
Boy dan Rian yang mendengar pertanyaan Mera mendadak was-was.
" Mera, bisakah tidak membahasnya" Jawab Dea lembut.
Mera mengerti, tapi dia tidak tahu apa masalah yang terjadi di antara mereka. Mera tahu jika ada masalah dengan Dea dan Riko karena Riko yang bertanya tentang Dea. Saat Mera mencoba menghubungi Dea, tapi Dea tidak menjawabnya.
Rian sudah bersama Tim nya. Tinggal Dea, Mera dan Boy. Tapi tiba-tiba ada yang menyapa Dea. membuat Dea dan Mera terkejut.
" Hai cantik " Sapa pria tersebut.
" Tian?" Seru Dea dan Mera.
" Kalian ke sini? Siapa yang bertanding?" Tanya Tian.
__ADS_1
" Itu, Adik saya, Rian." Tunjuk Dea.
Tian mengalihkan pandangannya. Dan menngarahkan pandangannya ke arah yang Dea maksud.
" Oow, Rian Purwanto? Wooow" seru Tian.
" Kenapa?" Tanya Dea.
" Dia yang paling ditakutkan oleh anak didik ku" serunya sambil begidik takut.
Dea hanya tertawa kecil menanggapinya.
" Kamu dari tim Merah?" Tany Boy tiba-tiba.
Tian mengalihkan pandangannya kearah Boy.
" Iya, Perkenalkan nama saya Tuan" Ucapnya.
" Boy" sambil menyambut uluran tangan Tian.
Setelah berbincang sebentar, Tian pun undur diri karena pertandingan akan di mulai. Dan Dirinya harus mendampingi anak didiknya yang akan bertanding.
Pertandingan selesai, dengan Rian kembali menjadi juara, dan masuk semi final.
" Halo."
" Di mana Mera? Apa kak Dea ada bersama mu?" Tanya Riko.
Mera menatap Dea yang juga sedang menatapnya. " Kak Dea tidak ada di sini, Dia tidak menghadiri pertandingan Rian" Bohong Mera.
Riko mendesah, dan kemudian mematikan telponnya setelah mengucapkan salam. Riko benar-benar bingung saat ini. Hingga dia tidak menyadari jika Priya sudah masuk dan berada di hadapannya.
" Kau tidak berubah" Ucap Priya yang membuat Riko terkejut.
" Sejak kapan kau ada di sana?"
" Sudah 15 menit yang lalu." Ucap Priya kemudian menarik kursi yang berada di seberang Riko.
" Aku butuh biaya, jika kau tidak ingin membantu ku membiayai perawatan anak kita. Tolong pinjamkan uang kepada ku." Ucap Priya.
" Kau benar-benar tidak tau malu Priya." Ucap Riko sinis.
" Yaa, aku tau. Aku akan melakukan apapun demi kesembuhan putri ku. Buah cinta kita" Ucap Priya.
__ADS_1
" Hentikan mengatakan hal itu. Aku tidak percaya dengan mu." Ucap Riko.
" Terserah. Tapi jika terjadi sesuatu dengan Pooja, aku tidak akan memaafkan mu" Ucap Priya dan keluar dari ruangan Riko dengan kesal.
Riko masih menunggu hasil lab untuk pembuktian bahwa benarkah Pooja anaknya atau bukan. Dan itu membutuhkan waktu 2 hari.
Dea menatap Mera dengan tersenyum sembari mengucapkan terima kasih.
" Hai, apa saya mengganggu" Ucap Tian yang tiba-tiba mmeghampiri Dea dan Mera.
" Tidak " Jawab Dea.
" Eemm, jika tidak keberatan, saya ingin mentraktir kalian untuk minum." Ucap Tian.
Dea dan Mera saling memandang dengan heran.
" Ah itu, saya merasa tidak enak karena kecerobohan saya, telah melukai tangan Nona Dea." Ucap Tian kembali.
" Ooh, tidak apa-apa. Hanya luka kecil. Jadi tidak perlu merasa sangat bersalah" Ucap Dea.
" Tapi saya masih merasa tidak enak. Ayo lah. tidak akan lama" Ucap Tian.
Dea menatap kearah Mera untuk meminta jawaban. Mera hanya mengendikkan bahunya.
" Tapi saya tidak hanya berdua, jadi saya takut jika adik saya mencari saya" Ucap Dea menolak secara halus.
" Saya tau. Jadi Nona Dea bisa sekalian mengajak Rian. Saya akan sangat Terhormat bisa menjamu atlet sehebat Rian." Ucap Tian.
Dea kembali melemparkan tatapannya kepada Mera. Mera hanya tersenyum dan menganggung.
" Baiklah, saya akan hubungi Rian dulu" Ucap Dea yang di tanggapi senyuman dan anggukan oleh Tian.
Saat ini mereka berlima. Dea, Mera, Rian, Tian, Dan Boy sudah berada di sebuah cafe yang tidak jauh dari GOR. Dan mereka mengobrol perihal tentang olahraga. Mera sempat di buat pusing karena tidak paham dengan pembahasan mereka. Namun Rian menggenggam tangannya dan menjelaskan perlahan kepada Mera. Agar Mera bisa paham apa yang mereka bicarakan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan Lupa Like + Vote + Komennya..