
Aku berteriak sekuat tenaga ku, hati ini ingin menangis karena sudah berkhianat kepada Dea. Namun air mata ini enggan untuk keluar.
" DEEAAAA" teriak ku
Aku meremas dan menjambak rambutku frustasi. Saat ini aku tidak tau, di satu sisi aku mencintai Dea, tapi di satu sisi hasrat ku masih bergejolak jika melihat Priya. Aku melakukan Scot jam, push up, lari di tempat, dan olah raga lain yang membuat aku lelah.
Aku sudah tidak tau lagi bagaimana penampilan ku saat ini. Aku menyeret jas ku menuju lift. Di dalam lift orang memandangku dengan tatapan aneh. Ntah mereka ingin menertawakan ku, atau pun merasa kasihan kepada ku. Aku menekan tombol angka 5. aku pun sebenarnya tidak menyadari kenapa aku menekan angka tersebut.
Ting
pintu lift terbuka, aku masih menyeret jas ku, dan berjalan gontai menuju pintu apartemen Dea. Ku masukkan sandi untuk membuka pintunya.
ceklek.
aku langsung masuk kedalam saat pintunya bisa ku buka, aku tersenyum miring. Aku lihat Dea sedang berjalan ke arah ku. Saat Dea mendekat aku langsung memeluknya.
" Hiikks" aku mengeluarkan suara seakan menangis.
" Kau menangis??" tanya Dea kepadaku yang masih berada dalam pelukanku.
" Aku ingin menangis, tapi tidak bisa" bisikku
Dea mendorong tubuhku hingga pelukan kami pun terlerai. " Apa yang tejadi kepada mu??"
" Aku merindukan mu" ucapku sambil membungkukkan tubuhku untuk mengecup kening Dea.
Cup.
Dea menatap ku dengan kesal, dan membalikkan badannya serta berjalan kembali ke meja makan, aku mengikutinya.
Ku lihat dia ingin menyuapkan nasi soto ke dalam mulutnya. Dengan cepat aku mengambil tangannya dan mengarahkan sendiri sendok yang masih di tangan Dea ke dalam mulutku.
'Astaga, makanan apa ini, sangat pedas.. dan sungguh pedas.' batin ku
"Air .. air.." teriak ku.
oh ya ampun, aku melihat Dea mengambil air dengan sangat pelan sekali. aku langsung menyambar gelas yang di sodorkan Dea, langsung ku teguk sampai habis. namun rasa pedasnya masih membakar mulut ku. aku berlari kearah kulkas, berharap ada air dingin di sana. Sial, tidak ada air dingin.
Aku mengibas-ngibaskan tangan kearah mulutku yang terbuka karena kepedasan. ku lihat Dea berjalan kearah kitchen set. Sesendok penuh gula Dea sodorkan kedalam mulutku. Aku membulatkan mataku merasakan rasa klenyer yang amat terlalu manis. Bayangkan saja, 1 sendok makan gula di masukkan kedalam mulutku, dan aku mau tak mau harus menghabiskannya. karena Dea sudah melotot kearah ku.
" kenapa kau bisa memakan makanan itu??" tanya ku dengan napas yang ngos-ngosan seperti berlari. Jujur, aku lebih memilih untuk letih dalam olah raga daripada harus kepedasan.
Gadis mini ku ini sepertinya dalam mode diam. Dia tidak menjawab pertanyaan ku. Tapi dia malah memilih menghabiskan semua makanannya.
__ADS_1
" perut mu akan sakit nanti jika makanan mu sepedas itu" ucapku khawatir.
Namun Dea tidak bergeming, Dea masih dengan fokus menghabiskan makanannya.
Selesai makan, Dea membereskan meja makan dan membawa piring kotor serta langsung mencucinya.
Dea melangkahkan kakinya ke sofa dan menghidupkan TV. Aku pun masih mengikuti Dea dan mengernyitkan kening, karena melihat sikap Dea yang mendiamiku dari tadi.
" sayang, kamu kenapa?? kok aku di cuekin??" tanyaku ketika sudah duduk di sofa sebelah Dea.
Dea melihat jam yang berada di pergelangan tangannya.
" Kau marah karena aku tidak memberikan kabar??" tanyaku lagi
Dea menatap wajah ku datar. Apa ini?? apa karena aku tidak memberi kabar kepadanya seharian??
" Maaf, tadi aku terlalu sibuk. Hingga aku tidak sempat memberikan mu kabar" ucapku sambil meraih tangan Dea.
" Tadi aku melihat mu di cafe bakso super melotot." jeda Dea " aku melihat kau bersama Nona Priya" ucapnya dengan menatapku tajam.
Aku menelan saliva, kemudian mengambil napas dan membuangnya perlahan. mungkinkah ini saatnya aku harus bicara dengan Dea?? bahwa Priya adalah mantan pacarku yang hilang dulu?? tunggu, tapi aku dan Priya tidak putus. Namun Priya menghilang setelah kejadian malam itu.
" aku kesana karena ada urusan, lalu aku tidak sengaja bertemu dengannya. Lalu jus yang di minumnya tumpah membasahi bajunya, maka dari itu aku mengantarnya pulang." jelasku
'Apa ini?? Apa Dea melihat ku mengantar Priya ke apartemen nya?? tidak, jika dia melihatnya pasti dia akan mengatakannya. lebih baik aku memulai pembicaraan ini.'
" Sebenarnya ada hal yang ingin aku jelaskan kepada mu, tapi aku tidak tau harus memulainya dari mana" ucapku.
Dea menatap ku datar, Seperti menunggu kata-kata ku selanjutnya.
" Aku___" ucapan ku terputus karena deringan hp ku yang mengganggu. kuraih Jo ku dalam kantong celana, ku lihat nama yang tertera. 'Paman Jo?' aku pun berdehem.
" Assalamualaikum Paman Jo" ucapku
" Sedang apa kau di situ, apa kau tidak melihat ini sudah jam berapa? Segeralah pulang setelah paman menutup panggilan ini" ucap paman Jo dari seberang panggilan dan memutuskan panggilannya.
Aku menatap hp ku dan memandang kesetiap sudut ruangan. dari atas hingga bawah.
" Sayang, apa kau tau dimana Rian meletakkan kamera tersembunyi??" tanyaku yang masih menelusuri seluruh ruangan apartemen Dea.
Dea hanya mengendikkan bahunya dan lanjut menonton TV.
Tak berapa lama Hp ku kembali berdering, dan tertera nama paman Jo.
__ADS_1
" Baiklah sayang, sepertinya aku harus pergi. love you" ucap ku yang langsung bergegas berlari kecil menuju pintu apartemen Dea.
_________________
* AUTHOR *
Ceklek
Pintu ruangan Riko terbuka, dan sesosok wanita cantik muncul dari balik ointu tersebut.
" Priya "
" Apa kau tidak lapar?? ayok kita makan dia restoran dekat sini. dulu kita sering menghabiskan waktu bersama. Jadi saat ini aku ingin menebus kesalahanku karena telah meninggalkan mu" ucap Priya sambil bersandar di meja Riko dan tangannya meraih dasi Riko dan memainkannya.
" Aku tidak lapar Priya." tolak Riko dan bangkit dari duduk nya, dan berjalan keluar meninggalkan Priya yang masih terpaku di ruangan Riko.
Riko mengambil ponselnya dan membuat panggilan.
" Cari tau kenapa dia kembali" ucap Riko kepada Pria di seberang panggilan.
'Kemana Dea?' batin Riko yang melihat Dea tidak berada di mejanya.
Riko berjalan ke arah kantin, karena pasti tunangannya yang imut itu sudah berada di sana. Saat Riko berada di kantin, semua orang terkesima melihat Riko. Betapa beruntungnya mereka bisa melihat bosnya di jam makan siang ini.
Riko mengedarkan pandangannya. 'ketemu' batin Riko. Dia pun berjalan ke arah Dea, Desi, dan Dino?
"Sejak kapan Lo makan di kantin?" tanya Riko yang membuat Dea, Desi, dan Dino terkejut dan menolehkan pandangannya kearah sumber suara.
.
.
.
.
.
.
jangan lupa like and vote ya..
author pingin banget tembus like Sampek 100.
__ADS_1