
Bayu tertawa besar mendengar ucapan Dea. "ternyata teman kecil mu ini bernyali besar " ucap Bayu sambil membelai rambut Dea.
" kita lihat, sebesar besar nyalinya." ucap Bayu sambil berdiri dan membuka sabuk yang mengikat bajunya tadi. Bayu mengibaskan sabuk pinggangnya kearah Dea
" TIDAAKKK HENTIKAAANNN"
sappp...
Dea menangkap sabuk itu, dan berdiri.
mera membelalakkan matanya. " kak Dea? " gumam Mera
Dea menghajar habis habisan Bayu, dan kemudian Dea menghajar 10 pria berbadan besar. Mera hanya berteriak dan takjub melihat betapa lincahnya gerakan Dea.
" KAK DEAAA , MERAA " teriak pria yang suaranya familiar di telinga Mera.
pria itu berlari dan ikut membantu Dea menghajar orang suruhan Bayu. setelah semuanya timbang, Rian mendatangi bayu dan mencengkram rahang Bayu dengan kuat, hingga pria itu seperti kehabisan oksigen.
" kau akan membusuk di penjara " geram Rian.
tidak berapa lama polisi datang dan menangkap Bayu beserta orang suruhannya.
" kau tidak apa apa?? " tanya Rian kepada Mera. Mera hanya terpaku menatap Rian tanpa mengeluarkan satu kata apapun. sekali lagi Rian membantunya. membuat hatinya semakin berkecamuk mengingat jika Rian hanya anak SMA. haruskah dia terpesona kepada berondong??
" eheemm, hanya Mera kah di tnya, AP kau tidk menanyakan keadaan kakak mu ini?? " ucap dea yang membuyarkan tatapn mata Rian dan Mera..
" haruskah aku bertanya keadaan mu?? monster?? " ucap Rian yang masih gugup karena ketahuan seperti mencuri dengan kakaknya.
Mera yang menyadari itu langsung mendekati Dea dan melihat keseluruh badan Dea.
" kak Dea gak apa apa?? "
" tidak ada yang bisa melukai monster kecil itu " ucap Rian dan meninggalkan Dea dan Mera yang masih berdiri terpaku mendengar ucapan Rian.
" monster kecil " gumam Mera.
" apa kau tetap akan berdiri di situ?? " ucap dea yang membuat Mera mengakhiri lamunannya. dan mengejar Dea.
" apa yang kau lamunkan cantik ?? " tanya Dea kepad Mera yang terlihat menatap minuman di depannya seperti berfikir sesuatu.
saat ini Dea, Mera dan Rian duduk di sebuah cafe. mereka sengaja mengajak Mera untuk menghilangkan rasa takutnya.
" ehh.. emm ... kakak beneran gak kenapa Napa? " tanya Mera panik.
" tenang aja , kakak gak kenapa Napa kok " ucap Dea dengan senyum.
__ADS_1
" eemm, kamu kok bisa tahu kita ada di situ? " tanya Mera kepada Rian
" tadi saat aku keluar, aku melihat mobil kalian melaju sangat cepat. makanya aku ikuti kalian. takut kenapa Napa dengan kalian " ucap Rian santai
" eh, kok kita gak di suruh kekantor polisi ya buat kasih laporan? " ucap Mera tiba tiba yang mebuat Rian tersedak.
Dea langsung menatap Rian.
" ituu itu tadi aku udah bilang ke polisinya, kalau sampai kamu ke kantor polisi, maka akan ramai waratwan dan itu bisa membuat reputasi Artmaja buruk." ucap Rian yang sambil menerawang seakan mencari kata kata yang tepat.
Mera menggangguk anggukkan kepalanya seakan mengerti maksud Rian. berbeda dengan Dea yang menatap curiga kepada Rian.
drrtt drrttt
' kak Riko ? ' batin Mera
" ha hallo kak " ucap Mera gugup
" ....."
" aku gak apa apa kok kak, tadi hanya tukang bengkel" ucap Mera berbohong
" ......."
" haa haaloo, kak ??, yah di matikan. "
" eemm, kak Dea, Rian tolong rahasiakan kejadian ini dari kak Riko ya. " mohon Mera
" kenapa? bukannya kalau dia tau kamu akan lebih aman?? " tanya dea, walaupun sebenarnya Dea tidak ingin Riko atau siapapun tahu juga, karena akan berantakan rencananya.
" eemm, kak Riko terlalu posesif dia orangnya. jadi nanti bisa bisa aku gak bebas ke mana pun. tapi aku janji, aku akan pakai supir kok kalau ke mana mana mulai sekarang. jadi aku pasti lebih aman" ucap Mera
" okee, baik lah.. tapi kamu harus janji. kalau kamu tidak boleh bercerita kepada siapapun kalau kakak mengalahkan 10 pria berbadan besar " ucap Dea menatap Mera serius
" janji " ucap Mera sambil mengangkat jari kelingkingnya untuk di kaitkan dengan jari kelingking Dea.
________
" assalamualaikum " ucap Dea
" walaikumsalam " ucap Tante dizah
" loh, kalian kok bisa pulang bareng?? " tanya Tante dizah yang melihat Dea dan Mera pulang bersama
" iya ma, kami habis nonton pertandingannya Rian " ucap Mera antusias.
__ADS_1
" oh yaa?? trus gmn?? tanya Tante dizah gak kalah antusias
" Rian jago bener ma, lawannya tidak di berikan kesempatan untuk mendapatkan poin. dan Rian menang dech." ucap Mera bangga
" benarkah.. wahh Rian mantap juga yaa, bagaimana kalo kita mengundang Rian makan ke sini?? "
" untuk apa? " suara bariton yang tiba tiba ikut nimbrung di tengah pembicaraan Tante dizah, Mera, dan Dea
" yaa merayakan kemenangannya. gak ada salahnya kan, lagian dia itu kan adiknya Dea " ucap Tante dizah kepada Riko
' adik?? jadi dia adiknya Dea?? anak om Joko?? tapi anak om Joko kan masih sekolah?? kenapa wajah pria itu tidak seperti anak sekolahan?? malahan dia terlihat sebaya dengan mera,' batin Riko
" riko, kok jadi ngelamun sih??" tanya Tante dizah
" eehh, iya ma, gmn baiknya sama mama aja" sambil berlalu meninggalkan mereka bertiga.
entah kenapa ada perasaan lega saat mendengar Rian adalah anak om Joko. berarti dea kakak sepupunya. pantes saja mereka akrab. senyum Riko pun terkulum di wajah kakunya.
" eh, Rian sudah datang?? ayo sini duduk sama om, kita ngobrol ngobrol dulu " ucap tuan yoga
" iya om, terima kasih. " ucap Rian ramah
" gmn.. gmn??? cerita gmn kamu menang tadi" ucap tuan yoga antusias.
Rian pun menceritakan kejadian dalam perlombaan tadi. tuan yoga pun tertawa dan merasa bangga dengan Rian. masih muda tapi dia bisa mengalahkan atlet yang sudah berkali kali mendapat emas.
" sudah.. sudah ceritanya, nanti di sambung lagi. sekarang kita makan dulu yaa.. pasti Rian sudah lapar " titah Tante dizah kepada suaminya dan Rian.
mereka makan dengan sekali kali mengobrol ringan. dan setelah makan tuan yoga mengajak mereka berkumpul di pinggir kolam.
" gmn?? apa Dea bisa bela diri juga? " tanya tuan yoga
sontak Dea, Rian, dan Mera menegang mendengar pertanyaan tuan yoga.
" emm, kak Dea cuma bisa menjambak rambut orang aja om. setiap di ajak latihan, kak Dea selalu memiliki seribu alasan " ucap Rian berbohong
" ha ha ha ha, Dea Dea.. kamu memiliki paman yang jago, tapi kamu menyia nyia kan kesempatan " ucap tuan yoga.
Dea hanya tersenyum tipis mendengar omongan om yoga.
"trus, kamu bisa nya apa Dea??" tanya Tante dizah
" Dea sering bantu Tante Rahma masak aja," ucap Dea lembut
" pantes saja masakan mu enak Dea " ucap Oma meta.
__ADS_1