
Riko tersenyum miring melihat wajah Dea yang sudah merona. Dea menghentakkan kaki nya dan berjalan cepat kearah lift yang diikuti oleh Riko.
Dea memang biasa menggunakan lift khusus karyawan biasa. Dan Riko dengan sengaja mengikuti Dea menaiki lift tersebut. Saat pintu lift terbuka, semua karyawan yang ingin masuk menjadi ragu, karena Riko telah masuk kedalam lift tersebut.
" Apa kalian tidak ingin bekerja??" ucap Riko dingin seperti biasa.
Beberapa karyawan memberanikan diri untuk masuk ke dalam lift yang berisi Dea dan Riko. dan sebagian ada yang menaiki tangga darurat.
Hening, tidak ada yang bersuara. hingga bernafas pun mungkin mereka tahan, karena takut dengan big boss mereka.
lift terbuka, dan sebagian karyawan yang berada di lantai tersebut keluar sambil membungkukkan badannya kepada Riko untuk memberi hormat. seperti biasa, tidak ada tanggapan dari Riko. Hingga semua keluar dari lift dan turun di lantai masing masing sesuai posisi mereka. Kini tinggallah Dea dan Riko.
Riko tersenyum miring melihat Dea yang terlihat merona tapi berwajah kesal. Riko sengaja mendekatkan dirinya kepada Dea hingga membuat Dea bersandar di lift dan tangan Riko berada di sisi kanan dan kiri tubuh Dea. dan membuat Dea terpojok.
" mm..mmaau apa kamu" tanya Dea panik dan gugup.
wajah merona nya semakin terlihat saat Riko mulai membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya kepada Dea.
Dea menutup matanya dengan wajah yang sudah dipalingkan ke arah kiri, lalu dia menarik nafasnya dalam dan membuangnya perlahan. Dibuka nya matanya kembali dan dia mendorong tubuh Riko hanya dengan satu tangan, dan tubuh Riko langsung menjauh.
" kau.." pekik Riko.
Dea hanya tersenyum miring. " Aku masih memiliki fokusku"
Ting..
pintu lift terbuka dan Dea langsung menghambur keluar. Dan mendaratkan pantatnya di kursi kebangsaannya.
Riko masih dengan keterkejutannya, Dia membenarkan jasnya dan melangkah keluar. Setibanya di meja Dea, Riko mengetuk meja Dea hingga Dea mendongakkan kepalanya dan melihat Riko. Riko mengedipkan matanya sebelah dan berlalu. Jantung Dea kembali berdetak seakan boom waktu yang siap meledak.
drrtt drrtt drrtt
"assalamualaikum om"
"........"
" siang ini yaa, ok om"
" ........"
" walaikumsalam"
Dea melanjutkan pekerjaannya. sekali kali Dea melirik ke arah jam tangan yang selalu setia melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Tepat pukul 12, Dea langsung menyambar tas nya, dan melangkahkan kakinya ke arah lift.
" Mau ke mana kamu?" suara bariton yang sudah sangat melekat di telingat Dea pun menghentikan langkah kaki Dea.
Dea berpaling dan melihat kearah sumber suara.
" Mau ke rumah sakit, Rian pulang siang ini"
" oh, ya udah, yuk aku antar."
" eh, gak usah. saya bisa pergi sendiri"
Tanpa menjawab ucapan Dea, Riko langsung menarik tangan Dea dan masuk kedalam lift yang sudah terbuka.
Riko mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dea melirik ke arah Riko, tangan nya sebelah memegang dadanya yang dapat merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat.
Sesampainya di rumah sakit, Dea langsung keluar dari dalam mobil dan berjalan cepat agar tidak berbarengan dengan Riko. sesampainya di kamar Rian, Dea tidak melihat keberadaan Riko, Tante Rahma, ataupun paman Jo. Dea kembali keluar kamar dan bertanya kepada pengawal yang menjaga kamar Rian. penjaga tersebut memberitahukan bahwa paman Jo dan Tante Rahma sedang berada di ruangan dokter, sedangkan Rian berada di taman bersama Mera.
Dea bergegas ke berjalan ke arah taman. Riko yang melihat Dea berjalan ke arah lain, langsung mengikutinya.
" Mau ke mana??"
Dea hanya menolehkan kepalanya melihat Riko, tanpa ada niat untuk menjawabnya. Sesampainya di taman rumah sakit, Riko melihat Mera yang sedang tertawa canda bersama Rian, dan mereka terlihat sangat mesra. Riko berjalan cepat mendahului Dea .
" ka..kakak.." ucap Mera terbata.
" Hai kakak ipar." ucap Rian santai.
Riko yang di panggil kakak ipar pun tersenyum, karena dia berfikir bahwa Rian berpihak di sebelahnya. Rian yang melihat raut wajah Riko tersenyum pun, kembali tersenyum dengan satu sudut bibirnya yang terangkat.
" Wah, Kayaknya ada yang lagi melepas rindu nich" ucap Dea yang muncul dari belakang tubuh Riko.
' melepas rindu?' batin Riko
Riko menatap ke arah Mera dan Rian yang masih bergandengan. karena Rian memegang tangan Mera dengab kuat.
" kalian??" pekik Riko.
" Kami saling mencintai, dan Om Yoga juga sudah merestui hubungan kami" ucap Rian mantap.
Riko di buat terpelongo dengan perkataan Rian yang terdengar horor. Dan dia menatap kearah Dea yang sedang ingin menjewer Rian.
" Dasar anak ingusan, belum taman SMA udah mikirin nikah." ucap Dea sambil menjewer telinga Rian.
__ADS_1
" aaww auww, sakit kak.. " rintik Rian.
Rian memegang telinganya yang memanas karena jeweran kakaknya itu.
" Setidaknya Rian dan Mera tidak menutupi perasaan kami masing masing, emangnya Kak Riko yang beraninya cium cium kak Dea di saat kak Dea lagi tidur" ucap Rian yang sontak membuat wajah Dea bersemu merah dan Riko berdehem berkali kali.
Dea ingin menjewer telinga Rian kembali, namun Rian dengan cepat bersembunyi dibelakang Mera.
" Awas kamu Rian ya," ujar Dea geram.
Rian menarik tangan Mera untuk menjauhi Dea dan Riko. Kemudian Riko membisikkan sesuatu di telinga Dea yang membuat wajah Dea bersemu merah dan pergi meninggalkan Riko yang sedang tersenyum melihat tingkah Dea yang lucu.
Setelah membereskan barang-barang bawaan yang dirumah sakit, Dea dan Riko permisi kembali ke kantor setelah mengantar Rian, paman Jo, Tante Rahma, dan Mera ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan Riko melirik kearah tangan Dea yang berada di pangkuannya. Riko teringat saat Rian menggenggam tangan Mera dengan mesra, dan dia ingin menggenggam tangan Dea dengan mesra juga saat memasuki kantornya.
Riko sudah dengan fantasi dan rencananya.
Sesampainya di kantor, Riko memarkirkan mobilnya. Dea seperti biasa selalu keluar duluan dan berlari kecil menjauhi Riko. Namun kali ini Riko mengejarnya dan menyambar tangan mungil Dea, dan menggandengnya.
Dea terkejut dengan perlakuan Riko, Dea langsung meremas tangan Riko dengan kuat hingga Riko merintih kesakitan. Setelah terlepas genggaman tangannya dari Riko, Dea menjulurkan lidahnya dan berlari ke arah lift yang akan sudah terbuka, dan dengan cepat Dea langsung menutup pintu lift tersebut sebelum Riko dapat ikut masuk kedalamnya.
Dea menggenggam tangannya dan tersenyum ketika merasakan kehangatan tangan Riko. namun gengsinya lebih tinggi dari tubuh nya, hingga dia tidak mengakui perasaan yang selama ini sudah bersemi dihatinya adalah cinta untuk Riko.
.
.
.
.
.
hai readers, jangan lupa like and vote ya ..
biar akunya makin semangat nulis ceritanya. terima kasih buat readers semua..
Salam hangat selalu dari ku..
baca juga ya novelku yang lagi up juga, " keajaiban cinta Kesya"
terima kasih semua..
__ADS_1
selamat membaca..