Gadis Mini Milik Ceo

Gadis Mini Milik Ceo
39 ' rumah bunga '


__ADS_3

Dengan sigap Dea pun membuka matanya, dan kesadarannya mulai penuh. Dea mengerjapkan matanya dan berdehem untuk melegakan tenggorokannya yang terasa kering.


" tidak ada" ucap Dea ketus dan melangkahkan kaki melewati Riko.


seorang pria paruh baya sudah berdiri di depan rumah kebun tersebut.


"Selamat datang tuan muda" sapa pria paruh baya itu.


"Terima kasih mang. oh ya, kenalin ini Dea, dialah pemilik rumah kebun ini" ucap Riko yang sembari memperkenalkan Dea.


"Dea "


"Mang Jaja" sembari menyambut tangan Dea untuk bersalaman.


Mang Jaja pun membuka pintu untuk mempersilahkan Dea dan Riko masuk.


"Silahkan di lihat lihat Nona Muda dan Tuan Muda. saya permisi dulu" . Mang Jaja pun meninggalkan Dea dan Riko untuk menikmati kebun yang sudah lama dia rawat.


" Indah sekali " seru Dea.


Dea tak henti hentinya memandang hamparan bunga yang berada didepan matanya.. Dea berjalan sembari merentangkan sebelah tanganya untuk menyentuh setiap bunga yang di lalui ya.


" Kau suka??"


Dea membalikkan tubuhnya dan mengaguk anggukkan kepalanya kuat. " iyaa suka" .


Mereka pun berjalan beriringan sambil menikmati bunga bunga yang sedang bermekaran.


" Bunga apa yang paling kau suka??"


" Emmm, semua bunga, kecuali bunga bangkai"


" Yang paling kau sukai??"


Dea pun terdiam sebentar dan memikirkan. "Eemm, ada satu bunga yang selalu membuat orang senang. terutama wanita"


"apa??"


" Bunga tabungan" ucap Dea kemudian dia berjalan cepat meninggalkan Riko.


"kau mau mempermainkanku??" Riko dengan cepat mengejar Dea.


Dea yang melihat Riko mengejar diri ya pun langsung berlari menghindari Riko. Mereka berlari dan sambil tertawa.


" Aku akan menangkap mu. Lihat saja jika kau tertangkap" ucap Riko


" kau tidak akan bisa mengalahkan ku" ucap Dea sambil tertawa dan berlari.


Riko terus mengejar Dea yang berlari mengelilingi lorong bunga bunga di sana.


" Jika aku berhasil mendapatkan mu, apa imbalannya" tanya Riko.


" Aku akan menuruti 1 keinginanmu" ucap Dea sambil menantang Riko.


" oke"

__ADS_1


Riko melihat sisi bunga yang sedikit lapang, jika dia memancing Dea ke arah itu, maka dengan mudah dia bisa menangkap Dea.


HUUPPP.....


AAAKKHHRRGGH.....


" Dapat."


Riko memegang tangan Dea, kemudian Riko menarik tubuh Dea kedalam pelukannya. Dea mengerjap ngerjapkan matanya saat Riko melingkarkan kedua lengannya di tubuh Dea.


" Kenapa kau sangat kecil??" ucap Riko.


Dea mendorong tubuh Riko karena kesal, namun Riko kembali menarik Dea kedalam pelukannya.


"lepasin" ucap Dea sambil mendorong tubuh Riko.


Riko tersenyum tipis melihat ekspresi kesal Dea. Riko pun melepaskan pelukannya.


" 1 permintaan ku yang harus kau turuti" ucap Riko sambil menatap mata dan menggenggam tangan Dea.


Dea membalas menatap mata Riko sambil menunggu kelanjutan kata kata Riko.


" Jangan pernah berani mencintai pria lain, cukup aku yang ada di hatimu".


Kata-kata Riko masih terniang di telinga Dea. Mereka sudah sampai di kantor.


"de... haii haii de" . Dino memanggil manggil Dea dan melambai-lambaikan tangannya di depan mata Dea.


" DEAA.." teriak Dino.


" ya pak Dino" dengan wajah polosnya.


Dino memicit pelipis nya melihat Dea. Kamu kenapa?? kok dari tadi saya panggil-panggil gak dengar, terus itu telpon kamu berbunyi terus kenapa gak di angkat?


Dea mengernyitkan keningnya, karena merasa tidak mendengar telpon masuk dan Dino memanggilnya.


" masa sih?? saya kok gak dengar ya pak??"


Dino pun menggeleng gelengkan kepalanya.


" Kalo kamu gak enak badan, kamu izin pulang aja"


" Siapa yang sakit." tanya Riko tiba-tiba muncul di belakang Dino.


Dea yang melihat kehadiran Riko langsung merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


" Si Dea, melamun aja dari tadi. Lo apain dia, Sampek gak fokus GT??" tanya Dino dengan nada penuh tekanan.


" Oo, gue nyatai cinta ke dia, dan gue suruh dia untuk balas cinta gue." ucap Riko santai.


Dino pun melongo mendengar perkataan Riko. sedangkan Dea, wajahnya sudah memerah menahan malu.


" Gila Lo Rik, masa Lo maksain anak orang buat cinta sama Lo!!" ucap Dino yang tidak percaya dengan kegilaan sahabatny itu.


" Ayo pulang " Riko menarik tangan Dea untuk mengikutinya.

__ADS_1


" tung.. tunggu.. ini komputernya bel.."


" No, beresin tolong meja calon istri gue ya. BYE" ucap Riko santai yang sontak membuat Dino membuka mulutnya.


" Benar -benar gila tu orang.. Naseb bawahan ya gini nih.." gumam Dino sambil mematikan komputer dan merapikan meja kerja Dea.


Riko masih memegang tangan Dea di dalam lift. walaupun Dea sudah menyuruh ya melepaskan genggaman tangannya, dan Dea memaksa tarik tangannya, tapi rasanya kejutan Riko lebih kuat dari pada Dea. seakan Dea tidak berdaya di hadapan Riko. semua itu karena Dea panik, jantungnya berdebar, dan fikirannya tidak bisa fokus jika berada didekat Riko.


Ting..


Pintu lift terbuka, Riko melangkahkan kakinya masih sambil menggenggam tangan Dea. Seluruh pasang mata yang berada doli lobi pun memandang terkejut dengan pemandangan yang saat ini sedang mereka lihat. " Riko sang pria dingin, menggenggam tangan Dea dengan senyuman di wajahnya" begitulah kira-kira topik yang akan segera menjadi pembicaraan gosip karyawan kantor.


Dea yang merasa mendapatkan tatapan membunuh pun langsung menundukkan wajahnya karena malu dengan perbuatan Riko. Sesampainya di depan mobil yang sudah setia menunggu kepulangan sang bos, Riko pun membukakan pintunya untuk Dea, dan kembali semua pasang mata yang melihatnya terpelongo dan membuka mulut mereka tak percaya akan perlakuan Riko kepadanya.


Sepanjang jalan Dea masih diam dan tidak berani menatap ke arah Riko. Jantungnya masih belum mau berkompromi dengan fikirannya. Tangannya masih terus di remas remasnya untuk menghilangkan kegugupan dan kegundahan yang di alaminya saat ini.


Riko yang melihat Dea meremas tangannya, langsung menggenggam tangan Dea Yang sedang bertautan dengan satu tangannya yang besar. Dea tersentak dan menarik tangannya, namun Riko menahannya sambil menatap ke arah Dea. Dea menelan saliva nya susah payah saat Riko menarik dagunya dan mengarahkan wajahnya untuk menatap dirinya.


Mata mereka bertemu, Dea rasanya tidak memiliki tenaga lagi untuk mengalihkan pandangannya, perlahan wajah Riko mendekat, dan....


CIIIITTTT........


Buugghh.....


" Auuw" pekik Riko.


" Maaf tuan muda, ada kucing mau kawin tadi ditengah jalan." ucap sang supir.


Riko mengembalikan posisinya ke posisi awal. Dea merasa bernafas sedikit lega karena Riko tidak menyentuhnya dan tidak lagi mendekatkan wajahnya.


Sesampainya mobil ke halaman rumah Artmaja, Dea langsung turun dan berlari menuju rumah.


"assalamualaikum"


"walaikumsalam" ucap Tante dizah.


Dea pun mencium punggung tangan Tante Dizah.


" Udah pulang De??" tanya Ferdi yang ternyata sudah menunggu kedatangan Dea


" Lo liat dia baru masuk kan, brarti tandanya dia baru pulang" ucap Riko sinis.


" Jutek amat sih bro" ucap Ferdi yang melihat gelagat aneh Riko yang sepertinya tidak suka melihat dia mendekati dea.


" Ngapain Lo kesini?? gak jagain artis Lo??" tany Riko sinis.


" Mau apelin Dea " ucap Ferdi sambil tersenyum kearah Dea.


" Dea calon istri gue, jadi Lo Jangn dekatin dia lagi mulai sekarang"


Ferdi pun membuka mulutnya dan menatap Dea seakan kembali bertanya


" Dea permisi keatas dulu ya Tante, Ferdi" ucap Dea dan meninggalkan mereka.


Riko pun tersenyum menang melihat Ferdi yang masih terbengong.

__ADS_1


__ADS_2