Gadis Mini Milik Ceo

Gadis Mini Milik Ceo
Bab 48 ' kecurigaan Dea 2 '


__ADS_3

Dea masih dengan fikirannya. Ntah kenapa tiba-tiba saja dia memiliki fikiran buruk terhadap Priya. Dea menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 4 : 45 menit, kemudian beralih ke Hp nya, belum ada kabar dari Riko. Dea menghela napasnya pelan. kemudian membereskan mejanya, karena jam sudah menunjukkan waktu pulang kerja.


Dea melihat ke arah Desi yang juga sedang merapikan mejanya. "Desi, habis ini mau ke mana?" tanya Dea sedikit lesu.


" pulang mbak, kenapa?? mbak mau di temani kemana gitu??" tanya Desi yang melihat raut wajah Dea yang sepertinya butuh seorang teman.


Dea menganggukkan kepalanya " Kita makan bakso yuk" ajak Dea.


Desi tersenyum dan mengganggukkan kepalanya tanda setuju. Desi dan Dea berjalan berbarengan menuju lift, namun di belakang mereka ada Dino yang kebetulan juga akan pulang.


" Kompak banget?? mau ke mana??" tanya Dino yang melihat Dea dan Desi saling ngobrol.


Ting.


pintu lift terbuka, mereka bertiga pun masuk kedalam kotak besi tersebut.


" mau makan bakso, ikut??" tawar Dea.


" boleh, yukk kita makan bakso super melotot" ucap Dino.


" hah?? " kompak Dea dan Desi


" Doyan bakso tapi gak tau kalo ada bakso yang lagi booming sekarang, mau gak??" tanya Dino.


Dea dan Desi berpandangan kemudian menganggukkan kepalanya dan serentak mengatakan OK.


" kamu ada bawa kendaraan Des?? " tanya Dino.


" Gak pak, saya biasanya naik ojek" jawab Desi.


" Bagus, berarti naik mobil saya saja. nanti saya antar kamu pulang" jawab Dino.


Ting.


pintu lift terbuka, mereka pun keluar dan berjalan ke parkiran mobil Dino.


" Bapak doyan bakso" tanya Desi saat sudah berada di dalam mobil Dino.


" Gak juga, cuma tempat yang saya bilang ini sebenarnya punya kawan saya, he he he" ucap Dino yang di jawab dengan ber- 'o' ria oleh Dea dan Desi.


Mobil Dino pun akhirnya sampai di cafe yang menu makanannya khusus bakso.


Dea, Desi ,dan Dino masuk kedalam cafe tersebut yang sudah di sambut dengan seorang pelayan, dan mencari tempat duduk, dan Dino mengajak mereka duduk di dekat jendela. Dini memesan 3 mangkuk Bakso super melotot kepada pelayan yang dari awal mereka masuk memang sudah menemani mereka. Pelayan tersebut mencatat semua pesanan Dino. Tak berapa lama, pesanan Dino pun sampai. Mereka bertiga menikmati bakso super melotot tersebut sambil menceritakan rasa bakso tersebut di mulut mereka.


Dea menatap keluar jendela, dan dia melihat seperti seseorang yang dikenalnya. Dea menajamkan tatapan matanya, dan benar saja, Dea melihat Riko dan Priya keluar dari cafe yang sama sambil bergandengan tangan. Hati Dea seakan di remas melihatnya. Dea menggenggam sendok Yang ada di tangannya hingga sendok tersebut menjadi bengkok.


" De, lu udah jadi pesulap kaya mas deddy cobuzer?" ucap Dino yang melihat sendok yang berada di tangan Dea sudah terlipat dengan sempurna.

__ADS_1


Dea menatap Dino dingin, kemudian menarik napasnya perlahan dan membuangnya. beberapa kali Dea melakukan itu untuk meredam amarahnya.


" Kamu kenapa de?? " tanya Dino yang melihat raut wajah Dea yang berubah 180 derajat.


Desi pun ikut merasakan aura yang tidak baik di diri Dea.


" apa kamu tau hubungan apa yang terjalin dengan Riko dan Nona Priya??" tanya Dea langsung ke pada Dino.


Dino menelan salivanya, menarik napasnya dan membuang dengan perlahan.


" kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu??"


" Jawab saja, jangan balik bertanya" ucap Dea dingin.


" Mereka hanya rekan bisnis." ucap Dino menatap lekat ke arah Dea.


" Apa hanya itu?? atau lebih??" tanya Dea.


" kamu kenapa?? kok tiba-tiba bertanya tentang mereka??" tanya Dino kembali.


" apa rekan bisnis harus bergandengan tangan dengan mesra hingga membukakan pintu untuknya??" tanya Dea dengan mata yang sudah memerah dan tergenang air mata yang siap terjun ke pipi mulus Dea.


Dino menghela napasnya kasar, dan menggenggam tangannya sendiri hingga buku-buku kukunya memutih. Setenang mungkin Dino berusaha agar Dea tidak meledak.


" Dea, kamu harus tenang. terkadang apa yang kita lihat tidak seperti apa yang terjadi" ucap Dino dengan untuk menenangkan Dea. Padahal di dalam hatinya sudah merutuki Riko yang menyakiti Dea


Dino mengantarkan Dea ke apartemen nya, dan kemudian mengantar pulang Desi. Sesampainya Dea di dalam apartemen nya, Dea mengamb ponselnya dan menghubungi Rian.


" Assalamualaikum, bisa tolong kakak??" tanya Dea kepada Rian yang berada diseberang panggilan.


Dea langsung mengirim data tentang Priya kepada Rian. Saat ini Rian sedang mencari tahu tentang Priya, sedangkan di tempat lain Dea sedanh cemas dan takut jika Priya memiliki hubungan spesial dengan Riko.


40 menit Dea sudah mondar mandir didalam kamarnya dengan cemas sambil meremas jari-jarinya.


Drrr Drrrttt Drrtt


" Assalamualaikum, gimana Rian??" tanya Dea buru


" .......... "


Dea langsung mematikan panggilan setelah mendapatkan jawaban dari Rian. Tanpa mengucapkan terima kasih.


Sedangkan Rian yang berada di kampungnya sedang mengumpat untuk Dea karena mematikan panggilan dengan sepihak, namun berfikir tentang perasaan Dea dan menyuruh temannya yang berada di ibukota untuk melindungi Dea.


' kenapa mereka berpisah??' batin Dea.


Dea merendam dirinya di dalam bathtub, menutup matanya untuk menjernihkan fikirannya agar tubuhnya menjadi lebih relax.

__ADS_1


Setelah 45 menit berada didalam kamar mandi, Dea memesan makanan melalui via pesan antar.


Dea melihat hpnya, namun tidak ada sekali pun panggilan atau pun kabar dari Riko. Dea mengepalkan tangannya hingga buku-buku kuku Dea terlihat putih.


Ting tong.


Suara bel apartemen Dea berbunyi, menyadarkan Dea dari fikirannya. Dea beranjak dari duduknya dan membuka pintu.


" Pesanan atas nama mbak Dea?" tanya kurir tersebut.


" Iya mas, brapa semuanya?" tanya Dea.


" 75ribu mbak" ucap kurir tersebut.


Dea pun mengambil uang 100rb dam memberikannya kepada kurir tersebut.


" Ambil aja kembaliannya mas" ucap Dea sembari tersenyum


Setelah kurir tersebut mengucapkan terima kasih, Dea menutup kembali pintu apartemen nya.


Dea membuka semua pesanan makanannya. Dea memesan Soto, nasi putih, Pergedel, dan minuman. Dea menuang cabai yang banyak kedalam sotonya. Mengaduknya dan mencicipinya. " Mantaap".


Dea mulai mencampurkan nasi kedalam soto, dan menikmati makanannya.


tit tit tit tit tit


Ceklek.


Dea melihat kearah pintu yang terbuka. Muncullah sesosok pria berbadan tinggi dan kekar, dengan penampilan yang acak acakan dari balik pintu. Dea menajamkan matanya melihat siapa pria tersebut.


" Riko??"


.


.


.


.


.


.


.


hai reader.. jangan lupa like and vote ya..

__ADS_1


makasih..


__ADS_2