Gadis Mini Milik Ceo

Gadis Mini Milik Ceo
Bab 61 ' Melepaskan cincin'


__ADS_3

Hampa..


Hanya satu kata itu yang ada di benak Riko. semua terasa hampa. Sesulit itu kah mencintai seseorang?.


Setidak pantas itu kah dia untuk tidak bisa di cintai??


Apa sebenarnya kesalahannya sehingga dia tidak bisa mendapatkan kebahagiaan seperti yang lain.


Dulu dia sangat mencintai wanitanya yang seperti boneka India itu. Dan atas dosanya dia juga di hukum dengan rasa sakit yang teramat dalam. Kehilangan cintanya, hingga membuatnya seperti tak terurus. Mabuk-mabukkan menjadi jalannya untuk melupakan wanita itu. Mungkin jika tidak ada Dino. Riko akan mengikuti jejak brengsek Dino yang suka bermain perempuan. Tapi Dino tau, jika Riko bukanlah pria brengsek. Dia hanya pria yang kehilangan cintanya. Dan Dino berusaha mencegah Riko untuk tidak terjerumus kedalam Dosa besar itu.


Dan disaat dia menemukan kembali cintanya. Bahkan cinta yang sangat luar biasa yang dirasakannya dari sebelumnya. Yang membawanya lebih dekat dengan Tuhan. Kenapa harus di uji dengan hadirnya seorang putri dari masa lalunya?.


Andai saja, saat itu dia bisa menemukan Priya lebih cepat, mungkin tidak akan ada hati yang terluka. Cukup hatinya saja. Namun semua sudah terlanjur. Tidak hanya hatinya, melainkan hati dari orang yang sangat di cintainya pun juga terluka.


Egoiskah dirinya? Jika dia ingin mempertahankan cintanya yang sekarang? Dengan masa lalunya yang bisa di katakan tidak sepenuhnya kesalahan dirinya. Jika saja Papi-nya tidak menghalangi jalannya dulu.


Sekarang dia tidak ingin kehilangan cintanya seperti dulu. Bolehkah dia egois?. Dia ingin mempertahankan wanita nya. Wanita mungil yang selalu membuat dirinya ingin melindunginya. Bolehkah?


Pantaskah dia berharap lebih kepada wanita yang di cintainya? Kembali bersama Dea, dan membangun rumah tangga yang sakinah, Mawaddah, warahmah. Dan melahirkan bayi-bayi lucu yang imut.


Riko mengusap wajahnya dengan kasar. Saat ini dia sedang menunggu Dea keluar dari ruangan transfusi darah.


45 Menit sudah berlalu, Dea keluar dengan di dampingi oleh suster. Riko langsung menghampiri Dea, namun Ferdi menahan Riko untuk lebih dekat dengan Dea. Dea hanya bisa menatap wajah Riko. Terlihat dari wajah Riko yang berantakan. Entahlah. Dea juga tidak tau sebab apa yang membuat Riko bisa berantakan seperti itu. Dea hanya tidak ingin menduga-duga.


Dea duduk di ruang tunggu yang tersedia di koridor rumah sakit. Bersama Mera yang sedang menggenggam tangannya. Dengan Rian yang duduk di sebelah Mera. Riko hanya bisa duduk di hadapan Dea. Dengan terpisah jarak untuk jalan koridor. Riko menatap Dea dengan penuh kerinduan. Dan Dea pun juga menatap Riko dengan rasa benci yang bercampur rindu.


Mereka hanya bertatapan mata, seolah saling mengunci tatapan masing-masing. Ferdi membuyarkan pandangan Dea, dengan memberikanny sekotak minuman kacang hijau. Dan beberapa roti untuk Dea makan. Dea mengambil minuman kacang hijau tersebut, dan meminumnya.


Priya menghampiri Riko dan memberikan hal yang sama seperti yang diberikan Ferdi ke Dea. Riko tidak memperdulikan Priya. Bahkan Riko tidak menyambut semua pemberian Priya. Yang dirinya mau hanyalah gadis mini nya. Gadis mungil yang bisa meluluhkan bongkahan es di dalam hatinya. Gadis bertubuh mungil yang mampu membuat dunianya berubah menjadi lebih hidup.


Dokter Herman keluar dari ruangan Pooja. Semua orang langsung berdiri dan mendekati Dokter Herman.

__ADS_1


" Keadaannya mulai membaik. Saat ini Pooja sudah melewati masa kritisnya."


Semua orang mengucapkan puji syukur kepada Yang Maha Kuasa.


" Kita pulang sekarang?" Tanya Ferdi yang membuat Dea sadar bahwa dirinya ke sini hanya untuk membantu gadis kec yang mencuri hatinya.


Dea mengangguk setuju. Setelah berpamitan dengan Tuan Yoga, Oma Meta, Tante Dizah, Ana, dan Priya. Priya juga mengucapkan terima kasih kepada Dea yang sudah mendonorkan darahnya. Dea pun melangkah meninggalkan mereka. Tapi seketika langkahnya terhenti karena suara Riko.


" Bisakah aku berbicara dengan Dea?" Tanyanya entah pada siapa.


Ferdi ingin menjawab jika tidak ada lagi yang perlu di bicarakan dengan Dea. Namun Rian menghalanginya.


" Pergilah kak berbicara dengannya. Selesaikan masalah kalian." Ucap Rian kepada Dea.


Dea menghirup napas dalam, dan menghembuskannya kasar. " Baiklah" Ucap Dea.


Dea melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit, dan menuju taman rumah sakit. Riko mengikutinya dari belakang. Setelah sampai di sebuah kursi taman, Dea menghentikan langkahnya. Dan berbalik menghadap Riko.


" Katakan, apa yang ingin kau bicarakan." Ucapnya dingin.


" Aku minta maaf. Aku tidak tahu tentang semua ini. Aku berani bersumpah De" Ucap Riko bersungguh sungguh.


Dea mengepalkan tangannya. Menahan semua emosinya. Entah apa yang difikirkan Dea saat ini. Yang pasti dia sangat membenci Riko. Tapi dia tidak bisa memungkiri jika dia juga sangat merindukannya.


" Kau harus bertanggung jawab dengan semua kesalahan yang telah kau perbuat" Ucap Dea.


" Aku akan menebus semua kesalahanku. Aku akan merawat Pooja. Dan memberikan namaku di belakang namanya." Ucap Riko. "Aku mohon De, bisakah kau memaafkan kesalahanku?" Tanya Riko.


Dea hanya memejamkan matanya. Menahan emosi yang akan meluap, dan air mata yang ingin tumpah.


" Aku sangat mencintaimu De. Bisakah kau memberikan ku satu kesempatan lagi?" Tanya Riko.

__ADS_1


Dea mengumpulkan semua tenaganya untuk masih terlihat tegar. " Bagaimana dengan Priya? Kehidupan apa yng akan kau berikan kepada Pooja? Memisahkan dirinya dengan ibu kandungnya?, atau kau akan menikahinya dan membangun kehidupan yang baru demi Pooja? "


" Aku tidak akan menikahi Priya. Dari awal dia sudah mengkhianati ku. Dan wanita yang ku cintai hanyalah dirimu De. Percayalah."


" Pooja memerlukan kedua orang tuanya untuk mendukungnya dan memberikan semangatnya. Jika kalian tidak bersama, bagaimana kau bisa membahagiakan Pooja?"


" Aku hanya akan menikahi mu. Dan Aku tidka ingin memberikan harapan kepada Priya dengan menikahinya. Banyak di luar sana orang tua yang tidak bersama, tapi mereka bisa merawat anak-anak mereka dengan baik. Dan penuh cinta." Ucap Riko.


" Tapi mereka bukan Pooja yang membutuhkan perhatian lebih. Sebaiknya memang hubungan ini tidak pernah terjadi." Ucap Dea sambil ingin melepaskan cincin tunangan mereka yang melingkar di jari manis Dea.


Sialnya cincin tersebut tidak ingin terlepas. Padahal Dea sudah memaksanya keluar. Dan bisa di pastikan jika saat ini tangannya sudah terluka. Karena dirinya memaksakan cincin tersebut untuk terlepas. Seperti nya adegan mengembalikan cincin seperti di film-film harus di tunda oleh Dea. Sepulang dari sini dia akan menggunakan sabun, atau baby oil, atau apapun untuk memaksa cincin ini terlepas dari jarinya.


Riko hanya terdiam mendengar ucapan Dea. Dea benar, jika Pooja memerlukan perhatian yang lebih. Karena dia memiliki penyakit yang harus di perangi bersama.


.


.


.


.


.


.


Hai .. hai.. hai..


Like + Vote + Komentar manisnya..


Salam hangat dari Dea.

__ADS_1


__ADS_2