Gadis Mini Milik Ceo

Gadis Mini Milik Ceo
Bab 54 "Mera dan Dea"


__ADS_3

Dea berfikir keras dengan apa yang dikatakan oleh pelayan wanita tadi. Setau Dea, dirinya tidak memiliki musuh sekalipun. Tapi siapa?? apa ini ada hubungannya dengan kematian Ayahnya??


Dea memicit pelipisnya. bertanya-tanya siapa dalang dari semua ini.


Tak terasa sudah 3 Minggu kejadian penyusup tersebut. Dan para penyusup itu pun sudah mendapatkan hukuman mereka masing-masing.


Tapi saat ini Dea benar-benar gerah melihat tingkah Priya yang mulai terang-terangan mendekati Riko. Bahkan pernah sekali Dea melihat Priya dengan berani mengecup bibir Riko didepan matanya. hingga membuat Dea dan Riko sering berdebat.


" udah lah, kalo kamu memang masih ada rasa dengan mantan kamu itu, ya kamu balikan aja lagi dengan dia." ucap Dea ketus.


" Udah berapa kali sih sayang aku bilang, kalo aku dengan dia udah berakhir semenjak dia meninggalkan aku."


" Ya tapi kamunya masih punya rasa dulu kan sama dia" pekik Dea.


" Iyaa, aku jujur aku masih punya rasa sama dia, tapi itu dulu. sebelum kamu datang. Sebelum kamu ngisi seluruh hati aku" ucap Riko.


" alaaah, udah lah. kita liat apa kamu bakal tergoda dengan dia atau tidak." ucap Dea dan pergi meninggalkan Riko.


Riko memukul-mukul pelan keningnya dengan tangannya. Dengan merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya. Perdebatan dirinya sama Dea sudah terjadi hampir setiap hari. semenjak Priya dengan berani mengecup bibir Riko di hadapan Dea. Tidak hanya itu, terkadang Priya memeluknya dari belakang dan menggandeng lengannya di depan semua karyawannya.


" Aku harus tau tujuan dia " gumam Riko.


Riko menghubungi orang kepercayaannya. "cari tau tentang Priya, apa tujuan dia kembali ke sini".


Saat ini Dea sedang menemani Mera berbelanja buah. Karena Rian akan ke ibu kota besok, ada pertandingan yang akan Rian ikuti.


Kraaaaannkkkngggg.....


" Aduuh" pekik Dea.


" Maaf, saya gak sengaja. Tadi saya menerima telpon, jadi saya gak liat jalan lagi" ucap pria yang menabrak troli belanjaan Dea.


" Iya gak pa-pa" ucap Dea sambil meremas tangannya yang sakit, saat troli tertabrak tangan Dea juga ikut terkena tubrukan troli milik pria tersebut.


" Tangan kamu gak pa-pa? " ucap pria itu sambil ingin mengambil tangan Dea.


" Gak pa-pa " ucap Dea yang langsung menarik tangannya.


" Kak Dea?? kenapa? kok bisa berdarah gini tangannya?" ucap Mera panik yang baru datang dengan beberapa macam buah di tangannya.


" Gimana kalo kita duduk di cafe depan situ aja dulu, kita obati tangan nona, saya merasa bersalah. jadi saya akan bertanggung jawab" ucap pria tersebut.


" Gak pa-pa, ini cuma luka kecil aja" ucap Dea menolak.


" Hanya obatin tangan kamu, lalu selesai. setidaknya saya membayar kesalahan saya" bujuk pria itu.

__ADS_1


" ya udah lah kak Dea, kita obati dulu ya tangannya" ajak Mera, yang di anggukin oleh Dea.


" Kamu dokter?" tanya Mera yang melihat pria tersebut mengeluarkan kotak P3K dari dalam tasnya.


" Bukan, saya ini seorang pelatih Judo, jadi saya selalu menyiapkan ini jika murid saya terluka." ucap pria itu.


" aaww aww aww..." rintih Dea.


" maaf, tahan dikit yaa " ucap pria itu. "Selesai".


" Terima kasih " ucap Dea.


" Em, dengan mas siapa ya namanya?" tanya Mera.


" Oh ya, saya sampai lupa mengenalkan diri. Kenalkan, nama saya Sebastian. Panggil saja Tian" ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Mera lalu ke arah Dea.


" Mera "


" Dea "


" Nama yang imut, seimut orangnya. " ucap Tian yang masih menjabat tangan Dea. Dea pun tersenyum kikuk dan langsung menarik tangannya.


" Baiklah kalo begitu, saya harus permisi. Karena saya masih ada urusan" ucap Tian.


" Terima kasih atas obatnya" ucap Dea sambil menunjukkan tangannya.


" Oh ya ampun, seharusnya aku bertanya nomor telponnya" ucap Tian dan berlari kembali ke cafe tempat dia meninggalkan Dea dan Mera. Namun sayang, Dea dan Mera sudah tidak terlihat lagi di cafe tersebut. "Semoga bisa bertemu kembali' batin Tian.


" Kak, Rian beneran gak pernah punya pacar yaa?" tanya Mera.


Saat ini mereka sudah berada didalam mobil menuju apartemen Dea.


" Setau kakak sih gak pernah, cuma fans nya banyak. malahan ni yaa waktu hari valentine, Rian cukup banyak dapat kiriman coklat dari teman-teman ceweknya" ucap Dea.


" Berarti Rian belum pernah____" ucap Mera ragu namun kedua jari tangannya di kerucutkan dan disatu-satukan pertanda kalo lagi ci**man.


"mmppfff.... Rian itu terkenal cowok triplek, Karena wajahnya datar kayak papan triplek. trus sifatnya itu dingiin banget sama perempuan, kaya es kutub Utara. Gimana mau ci**man kalo pacar aja gak ada. Emang sih, fans ceweknya banyak, tapi gak ada satu cewek pun yang bisa buat dia tertarik. Kakak pun heran kenapa dia bisa tertarik sama Mera" ujar Dea


" Hmmpp, brarti aku cinta pertamanya dong kak?"


" Ya gitu dech"


Dea mengalihkan pandangannya kearah luar jendela mobil. Dia seperti melihat Priya dengan seorang anak yang duduk di kursi roda. Mungkin anak itu berkisar umur 5 tahunan.


'Sedang apa dia di pinggir jalan?' batin Dea.

__ADS_1


"Kak, Rian jam berapa berangkat dari sana?" tanya Mera yang memecah fikiran Dea.


" Katanya sih besok pagi udah Sampek ke sini. Tapi dia singgah dulu ke asrama atlet." ucap Dea.


" Kak Dea kompak ya sama Rian. seru, seperti sahabat gitu. Mera jadi rindu dengan kak Riko yang dulu" ucap Mera sendu di akhir kalimatnya.


" Emangnya kenapa kak Riko yang dulu dan sekarang?' tanya Dea penasaran.


" Dulu Kak Riko baik dan care dengan Mera, Pokoknya Mera sering curhat gitu dengan kak Riko. dan kak Riko selalu mendukung apapun yang Mera lakukan. Tapi semenjak kak Riko di tinggal pergi oleh kekasihnya, kak Riko berubah jadi dingin. Susah di gapai, hingga hubungan kami pun merenggang. Terkadang kami tidak saling menyapa, tapi kak Riko tetap menjaga Mera dari kejauhan. Mera rindu dengan kak Riko yang dulu. Yang hangat dan perhatian." Ucap Mera dengan air mata yang sudah berurai.


Dea hanya mengelus punggung Mera. Dan memeluknya. Tak berapa lama mereka pun sampai di apartemen Dea.


" Eemm, Mera, boleh kak Dea bertanya sesuatu tentang kak Riko?" tanya Dea ragu.


Saat ini mereka sudah duduk santai di sofa sambil menonton film Korea.


Mera menatap Dea, lalu tersenyum " kakak mau tanya tentang apa? tentang kak Riko? atau mantan kekasih kak Riko?" ucap Mera.


Dea hanya tersenyum kikuk. " Dua-dua nya" ucap Dea malu.


" oke, truus apa nih pertanyaannya?" ucap Mera.


" Kamu tahu semua tentang kak Riko dan kekasihnya dulu?" tanya Dea ragu.


Mera pun menjawab dengan anggukan " iya, semua, karena kak Riko tidak pernah menyembunyikan apapun tentang kekasihnya dengan Mera."


" eem, bisa kamu ceritakan tentang pertemuan kak Riko dengan kekasihnya, hingga mereka berpisah. kamu mau kan ceritakan? tanya Dea yang sudah sangat penasaran.


Mera sebenarnya sedikit ragu untuk menceritakannya. Tapi Mera juga seorang wanita, Mera tau rasanya penasaran dan khawatir akan masa lalu sang kekasih hati.


Mera pun memposisikan duduknya agar lebih santai dan leluasa untuk menceritakan tentang Riko dan kekasihnya.


.


.


.


.


.


.


hai readers.. apa kabar?? Semoga sehat selalu dan dalam lindungan yang Maha Kuasa.

__ADS_1


Jangan lupa like and Vote ya.. komen positifnya juga di perlukan looh..


selamat membaca..


__ADS_2