Gadis Mini Milik Ceo

Gadis Mini Milik Ceo
Bab 49 ' Riko bimbang'


__ADS_3

" Riko?? "


Dea menghampiri Riko yang penampilannya memang sudah tidak terlihat rapi. Jas yang di seret, dasi yang longgar dan bagian ujungnya terlempar di bahu, serta kemeja yang sudah keluar dari celananya. Bahkan lengan kemejanya sudah tergulung kusut diatas sikunya.


Riko langsung memeluk Dea. Rasanya Riko ingin menangis, tetapi airmatanya enggan untuk keluar.


" Hiikks" suara Riko.


" Kau menangis??" tanya Dea yang berada dalam pelukan Riko.


" Aku ingin menangis, tapi tidak bisa" bisik Riko.


Dea mendorong tubuh Riko hingga pelukan mereka pun terlerai. " Apa yang tejadi kepada mu??" tanya Dea menatap Riko.


" Aku merindukan mu" ucap Riko sambil membungkukkan tubuhnya, dan bibirnya mendarat di kening Dea.


Cup.


Dea menatap Riko kesal, dan membalikkan badannya dan berjalan kembali ke meja makan. Dea kembali melanjutkan makan malamnya yang tertunda.


Riko mengikuti Dea dari belakang. Saat Dea ingin menyuapkan satu sendok nasi yang sudah berkuah soto, Riko memegang tangan Dea dan menyodorkan sendok tersebut ke mulutnya.


Sejenak Riko langsung melototkan matanya dan mengeluarkan nasi yang ada di dalam mukutnya serta berteriak meminta air. Dea dengan santai memberikan segelas air yang berada di atas meja kepadanya. Riko langsung meneguk habis air tersebut, namun rasa pedasnya masih memenuhi mulut Riko hingga mengeluarkan air mata. Riko berlari kearah kulkas untuk mencari air dingin, namun usahanya sia-sia. Dea memang tidak menyimpan air dingin di dalam kulkas.


Riko mengibas-ngibaskan tangannya kearah mulutnya yang terbuka karena kepedasan. Dea tersenyum miring dan berjalan kearah kitchen set untuk mengambil gula. Sesendok penuh gula Dea sodorkan kedalam mulut Riko. setelah mendapatkan gula, Riko baru tenang.


" kenapa kau bisa memakan makanan itu??" tanya Riko dengan napas yang ngos-ngosan.


Dea tidak menjawab pertanyaan Riko. Dea melanjutkan makannya. Untuk bertahan, Dea harus memiliki tenaga, dan Dea perlu mengisi perutnya saat ini.


Riko mengernyitkan keningnya menatap Dea yang dengan santai memakan nasi soto yang super pedas.


" perut mu akan sakit nanti jika makanan mu sepedas itu" ucap Riko.


Namun Dea tidak bergeming, Dea masih dengan fokus menghabiskan makanannya.


Selesai makan, Dea membereskan meja makan dan membawa piring kotor serta langsunh mencucinya.


Dea melangkahkan kakinya ke sofa dan menghidupkan TV. Riko pun masih mengikuti Dea dan mengernyitkan keningnya, karena melihat sikap Dea yang mendiaminya dari tadi.


" sayang, kamu kenapa?? kok aku di cuekin??" tanya Riko yang duduk di sofa sebelah Dea.


Dea melihat jam yang berada di pergelangan tangannya.


" Kau marah karena aku tidak memberikan kabar??" tanya Riko.

__ADS_1


Dea menatap wajah Riko datar. Sebenarnya di fikiran Dea, dia sangat kesal dengan Riko dan marah. tapi ntah kenapa Dea tidak bisa menunjukkan kemarahannya kepada Riko.


" Maaf, tadi aku terlalu sibuk. Hingga aku tidak sempat memberikan mu kabar" ucap Riko sambil meraih tangan Dea.


" Tadi aku melihat mu di cafe bakso super melotot." jeda Dea untuk melihat ekspresi Riko. " aku melihat kau bersama Nona Priya" ucap Dea menatap Riko tajam.


Riko menelan salivanya, kemudian mengambil napas dan membuangnya perlahan.


" aku kesana karena ada urusan, lalu aku tidak sengaja bertemu dengannya. Lalu jus yang di minumnya tumpah membasahi bajunya, maka dari itu aku mengantarnya pulang." jelas Riko.


" apa hanya itu? apa tidak ada yang lain yang kau sembunyikan?" tanya Dea.


" Sebenarnya ada hal yang ingin aku jelaskan kepada mu, tapi aku tidak tau harus memulainya dari mana" ucap Riko.


Dea menatap Riko datar, dan ingin penjelasan dengan segera.


" Aku___" ucapan Riko terputus karena hpnya berdering.


" Assalamualaikum Paman Jo" ucap Riko.


" Sedang apa kau di situ, apa kau tidak melihat ini sudah jam berapa? Segeralah pulang setelah paman menutup panggilan ini" ucap paman Jo dari seberang panggilan dan memutuskan panggilannya.


Riko menatap hpnya, dan menatap kearah setiap sudut rumah.


" Sayang, apa kau tau dimana Rian meletakkan kamera tersembunyi??" tanya Riko yang matanya masih menelusuri seluruh ruangan rumah Dea.


Tak berapa lama Hp Riko kembali berdering, dan tertera nama paman Jo.


" Baiklah sayang, sepertinya aku harus pergi. love you" ucap Riko yang langsung bergegas berlari kecil menuju pintu apartemen Dea.


setelah pintu tertutup, Dea melepaskan tawanya melihat Riko yang kepanikan. Namun tawanya itu hanya sesaat. karena saat ini Dea sedang bingung. Apa Riko berkata jujur jika tidak sengaja jumpa dengan Priya, atau malah sebaliknya.


Dea menggelengkan kepalanya, kemudian masuk kedalam kamar dan tidur.


Keesokan paginya, Dea sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Saat dirinya membuka pintu, Dea sudah menemukan Riko di depan pintu apartemen nya dengan memegang 1 buket bunga yang indah.


" Selamat pagi sayang" ucap Riko dengan senyumnya dan menyodorkan bunga tersebut kepada Dea.


" Lebay " ucap Dea sambil tersenyum dan mengambil bunga tersebut.


Mereka pun berangkat ke kantor bersama. Sesampainya di kantor, Priya sudah berada di lobi dan melihat kemesraan antara Riko dan Dea.


" Apa hubungan mereka??" tanya Priya kepada salah satu resepsionis.


" Mereka sudah bertunangan Nona" ucap resepsionis tersebut.

__ADS_1


Priya mengepalkan tangannya melihat Riko menggandeng mesra tangan Dea.


Riko dan Dea masuk kedalam lift khusus, kemudian disusul oleh Dino yang baru juga sampai.


" pagi-pagi udah bikin gue iri aja" goda Dino.


" Mas Dino kemarin jadi kan antar Desi pulang dengan selamat sampai rumahnya?" tanya Dea.


Riko langsung menolehkan kepalanya kearah Dino. Dino yang ditatap dingin oleh Riko pun mencebikkan bibirnya.


"CK, gue cuma ngantar pulang aja, Dea juga gue yang antar pulang" ucap Dino santai.


Riko kemudian kembali menolehkan kepalanya ke arah Dea. Dea yang diperhatikan oleh Riko pun memilih untuk cuek saja.


Ting.


Pintu lift terbuka, Dea, Riko, dan Dino pun keluar dari kotak besi itu. Dea berjalan menuju mejanya. Sedangkan Riko menuju ruangannya yang diikuti oleh Dino.


" Ngapain Lo ikut ke ruangan gue" tanya Riko saat sadar jika ada Dino di belakangnya.


" Bahas kerjaan " ucap Dino santai dan kemudian menutup pintu rapat dan menguncinya.


Riko bersedekap menatap Dino sambil menyandarkan pantatnya di meja.


" Gila ya Lo, seharian gak ada ke kantor dan gak ada kasih kabar ke Dea, eh tau-tau nya Lo jalan sama Priya." buru Dino.


" gue gak sengaja jumpa dia, lagian gue udah jelasin kok ke Dea." ucap Riko santai.


" buseet ni kingkong, kagak punya hati ape Lo ye. Gue yang bukan siapa-siapa Dea aja nyadar kalo Dea itu lagi marah sama Lo. lah Lo yang tunangannya kok gak peka banget sih" ucap Dino yang mulai kesal.


" kalo Dea marah, gak mungkin dia terima bunga dari gue" ucap Riko masih dengan santai.


" gue mau tanya, gimana perasaan Lo sama Priya sekarang??" tanya Dino mulai serius.


Riko tidak menjawab pertanyaan dino dan mulai memposisikan dirinya di kursi kebesarannya. Dino yang merasa jika tidak akan mendapatkan jawaban dari Riko pun akhirnya keluar dengan kesal.


.


.


.


.


.

__ADS_1


readers tersayang..


jangan lupa like and vote yaa..


__ADS_2