
Sudah hampir 3 Minggu Rian, Boy, dan Riko berlatih ilmu Naga dengan Dea. Tapi tidak satu pun yang mampu menguasainya, membuat Dea frustasi. Bukannya Dea takut untuk melawan Daus, tapi Dea tidak ingin orang yang di sayangi ya sedih karena keadaannya kelak.
" Baiklah, sudah cukup. Aku tidak bisa membiarkan kalian melawan Daus" Ujar Dea.
" Kakak, kau tidak boleh" Cegah Rian.
" Kalian akan mati jika melawannya, setidaknya aku hanya tidak bisa memiliki keturunan bukan?" Ujar Dea.
" Aku benci kau berkata seperti itu" Geram Riko.
" Kau tidak akan melawan Daus, aku tidak akan membiarkan mu melawannya." Ujar Riko.
Dea terdiam, kemudian Dea melangkah menuju taman di belakanv rumah Riko. Yaa, saat ini mereka sedang berlatih di rumah Riko.
" Aaauuww" Pekik Dea.
Riko, Rian, dan Boy langsung bergegas lari menuju kearah Dea.
" Ular" Teriak Rian.
Riko melihat Dea yang sudah terduduk sambil memegang kakinya, Boy mengambil parang yang terletak di dekat kebun.
Baass..
Ular itu menggeliat karena kepala dan tubuhnya telah terpisah.
Riko merobek bajunya, dan mengikat kaki dea yang tergigit ular. Riko bergegas menggendong Dea dan membawanya ke rumah sakit.
Riko dan Boy menunggu Dea dengan cemas.
" Tidak mungkin, jika ular itu menggigit Dea yang memiliki ilmu Naga, maka Dea akan lumpuh" Gumam Boy yang masih di dengar oleh Riko.
" Apa maksudmu?" Tanya Riko.
Boy tersentak dan memandang wajah Riko.
" Ilmu Naga adalah ilmu tertinggi di perguruan kami. Tidak semua orang bisa menguasai ilmu tersebut. Dea salah satu orang yang berhasil menguasainya, walaupun tidak sepenuhnya, tapi Dea sudah dilindungi oleh ilmu Naga. Seperti sebuah kutukan, setiap yang menguasai ilmu Naga, tidak boleh tergigit oleh ular berbisa, karena itu akan melumpuhkan semua kekuatannya. " Ujar Boy.
" Melumpuhkan kekuatan? Maksud mu?"
" Dea akan kehilangan keahliannya dalam bela diri dalam waktu yang lama."
Riko mengusap wajahnya kasar. " Apa kekuatannya akan kembali?"
" Mungkin, tapi aku belum pernah mendengar kasusnya. Karena hanya Dea yang ku tahu, yang pertama kali mendapatkan gigitan ular"
" Ular jenis apa yang menggigit Dea tadi?" Tanya Riko.
" Kobra "
Riko kembali mengusap wajahnya kasar. Hingga seorang dokter keluar dari ruangan.
Riko dan Boy pun menghampiri dokter tersebut.
" Bagaimana keadaan Dea?" Tanya Riko.
__ADS_1
" Nona Dea baik-baik saja, sekarang kita tinggal tunggu Nona Dea sadar." Ujar dokter.
Riko bernapas lega, begitupun dengan Boy.
" Apa Rian sudah memberikan kabar?" Tanya Riko kepada Boy.
" Belum "
Dea di pindahkan ke ruang inap. Setelah 3 jam, Dea akhirnya sadar.
" Aghhr" Rintih Dea memegang kepalanya.
" Kau baik- baik saja?" Tanya Riko .
" Kepala ku sedikit sakit" Ujar Dea.
Riko membantu Dea untuk bersandar di kepala ranjang. Dea menatap kakinya yang terbalut.
" Apa ini parah?"
" Tidak "
Dea memejamkan matanya, dan kemudian membuka kembali.
" Berikan tangan mu" Ujar Dea kepada Riko.
Walaupun penasaran, Riko tidak bertanya dan memberikan tangannya kepada Dea.
Dea meremas tangan Riko sekuat tenaganya, tidak ada ekspresi kesakitan yang di keluarkan Riko. Bahkan Riko merasa Dea menggenggam tangannya dengan hangat.
Riko yang dengan cepat mengerti kondisi Dea, langsung memeluk Dea. Membuatkan Dea menangis di dalam pelukannya. Riko tau, beladiri adalah hal yang sangat di cintai oleh Dea. Tanpa bela diri, Dea tidak memiliki kepercayaan kepada dirinya. Dea yang merasa memiliki otak yang pas-pasan, dan saat ini dia hanya membanggakan beladirinya, dan sekarang Dea harus merasakan jika semua kebanggaannya hilang. Riko harus mencari tau siapa yang meletakkan ular tersebut.
Sudah sehati Dea di rawat di rumah sakit, Paman Jo dan Tante Rahma pun datang ke ibukota untuk melihat kondisi Dea.
" Kamu baik sayang?" Tanya Tante Rahma saat Dea baru bangun dari tidurnya.
" Iya Tante, Tante kapan sampai?"
" Setengah jam yang lalu"
" Lian?"
" Bersama Rian dan Mera. Kau mau makan? Tante bawakan bubur"
Dea pun menganggukkan kepala nya, dan mengambil semangkok bubur dari Tante Rahma. Tak butuh waktu lama, Dea menghabiskan buburnya.
" Minum obatnya dulu"
" Pait Tante, lagian Dea sudah enakan. Jadi Dea tidak mau minum obat."
" Kamu ini, susah banget kalo di suruh minum obat, ini Tante uleg dulu obatnya, jadi kamu gak susah buat nelannya" Ujar Tante Rahma sambil mengulek obat menjadi serbuk.
" Ayo buka mulutnya" Ujar Tante Rahma.
" Tante, Apa tidak ada obat yang manis?" Tanya Dea dengan puppy eyes nya.
__ADS_1
" Siapa yang menginginkan obat manis?" Tanya Riko yang masuk kedalam ruangan de bersama Boy dan Paman Jo.
" Dea gak mau minum obatnya, karena pait" Uajr Tante Rahma.
" Kau ingin obat yang manis?" Tanya Riko yang di angguki oleh Dea.
Riko menghampiri Tante Rahma dan mengambil obat yang berada di tangan Tnate Rahma. Riko menyendokkan obat tersebut ke dalam mulutnya, dan dengan gerakan cepat Riko meraih tengkuk Dea dan menciumnya.
Ehhm, bukan cium gimana, tapi memasukan obat yang didalam mulutnya ke dalam mulut Dea. Mau tak mau Dea menelan obat tersebut dengan sudah payah.
Plaak.
Satu pukulan mendarat ke kepala Riko.
" Dasar gak sopan" Ujar Paman Jo yang baru saja memukul kepala Riko dengan gulungan koran.
Riko hanya mengelus kepalanya dan nyengir kuda. Sedangkan Dea sudah mencak-mencak meminta air minum. Rasa pait dari obat itu menyiksa dirinya.
" apa kau sudah menemukan orangnya?" Tanya Riko kepada Rian.
Saat ini mereka sedang berada di sebuah cafe yang tak jauh dari rumah sakit.
" Apa kau mengenal orang ini? Aku sudah menangkapnya, tapi dia masih belum membuka mulutnya" Ujar Rian sambil menunjukkan sebuah foto.
" Dia seperti tukang kebun yang baru di pekerjakan oleh Priya"
" kita belum mendapatkan bukti, tapi kau patut mencurigai dia."
Tiga hari Dea di rawat dirumah sakit, dan Dea sudah di perbolehkan pulang. Rian dan Boy masih mencari keberadaan Daus, tapi sampai saat ini tidak ada pergerakan dari Daus. Keadaan Tian juga sudah ada kemajuan. Tian sekarang sudah sadar, dan saat ini sedang dalam pengobatan.
Rian, Riko, dan Boy berlatih dengan Paman Jo. Sedangkan Dea masih belum di beri izin oleh paman Jo untuk ikut berlatih.
Saat ini mereka berlatih di sebuah GOR, karena Rian baru saja selesai bertanding. Jadi Rian meminta izin untuk memakai gedung tersebut.
" Kenapa kau bisa menguasai Ilmu Naga" Tanya Rian kepada Dea.
" Fokus sayang fokus. Kau selalu saja kehilangan fokus mu" Ujar Dea yang saat itu juga berada di GOR bersama Mera.
Mereka sedang bercanda sambil memakan bekal yang di bawa oleh Mera tadi.
BRAAAKK..
Pintu terlepas dari kosennya, karena tendangan dari seorang pria.
" Siapa Kau" Teriak Paman Jo.
.
.
.
.
.
__ADS_1
LIKE DAN KOMENTATNYA D TUNGGU YAA