Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 10


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 10...


...------- o0o -------...


Menjelang sore, Hanan berencana untuk berkeliling melihat-lihat suasana perkampungan di Desa Kedawung yang telah lama ditinggalkan. Ditemani oleh Bunga dan Mang Dirman, mereka menaiki sado menyusuri jalanan tanah tandus.


“Apa tidak sebaiknya kamu menunggu sampai besok, Nak?” tanya Sumiarsih saat Hanan meminta izin ibunya untuk keluar rumah. “Setidaknya, kamu perlu istirahat setelah menempuh perjalanan jauh.”


Jawab Hanan bersikukuh, “Selama berada di kereta, Hanan lebih banyak tidur, Bu. Rasanya itu saja sudah cukup bagi Hanan untuk istirahat. Sudah lama kampung ini ditinggalkan, Hanan rindu sekali melihat-lihat kembali, Bu.”


Sumiarsih tersenyum, lantas berucap, “Kamu ini mirip sekali dengan ayahmu, Nak. Kalau sudah berkeinginan, selalu keukeuh memaksakan diri untuk mendapatkannya.”


“He-he-he. Hanan ‘kan anak Ayah dan Ibu. Pasti mirip keduanya ya, Bu?” tanya anak muda tersebut berseloroh.


“Bisa saja kamu, Nak,” timpal Sumiarsih seraya tersenyum simpul. “Awas, hati-hati di jalan. Jalan-jalannya jangan jauh-jauh, ya? Apalagi ditemani Néng Bunga.”


“Iya, Bu,” jawab Hanan dan Bunga hampir bersamaan.


“Terus, jangan terlalu petang juga pulangnya, Nak. Pamali, kalau menurut orangtua Ibu dulu,” pesan Sumiarsih kembali.


“Insyaa Allah, Bu. Doakan saja. Hanan akan menjaga Néng Bunga dengan sepenuh hati Hanan,” ucap anak muda tersebut, membuat kulit wajah Bunga bersemu merah.


Begitu pula ketika sado bersiap-siap melaju, tidak lupa Sumiarsih berseru pada Mang Dirman.


“Muhun, Juragan,” jawab laki-laki tua itu seraya menganggukkan kepala sekali sebagai tanda hormat.


“Kami berangkat dulu ya, Bu. Assalamu’alaikum.”


“Iya., Anak-anak. Wa’alaikum salaam.”


Sesaat Sumiarsih memandangi sado yang dikendalikan oleh Mang Dirman, membawa kedua sosok tercinta; Hanan dan Bunga. Hingga perlahan menghilang di telan rimbunan pohon-pohon yang banyak tumbuh di sepanjang pinggir jalan, barulah wanita tua itu beranjak kembali ke dalam rumah.


Hanan dan Bunga duduk berhadapan dipunggungi oleh Mang Dirman yang asyik mengekang temali kuda. Laju sado sengaja dipacu sepelan mungkin untuk mengurangi guncangan di atas pijakan jalan bergelombang.


Sesekali Bunga pun ikut terombang-ambing dan terdorong ke depan, kala itu pula dengan cekatan Hanan menahannya.


“Awas, Néng. Berpegangan,” ucap Hanan seraya mencekal lengan Bunga agar tidak turut tersungkur di dalam sado. Seketika, wajah gadis cantik itu bersemu merah disertai senyum-senyum malu dan lekas melepaskan pegangan jemari kekasihnya. “Terima kasih, Aa,” katanya dengan wajah tertunduk untuk menyembunyikan rona di muka.


“Ehem!” Mang Dirman mendeham begitu mengintip dari cermin kecil yang terpasang di sisi kiri bagian depan sado. Senyum lelaki tua itu seketika menyeruak, membelah gelayut garis pipinya yang telah berkeriput.

__ADS_1


Hanan dan Bunga sama-sama melirik pada sosok di depan, lalu keduanya saling melempar senyum simpul.


“Sepertinya ada banyak kebun-kebun yang dibiarkan tandus ya, Mang?”  Hanan mencoba mengalihkan suasana yang masih terasa kaku antara dia dengan Bunga. Tidak tahu akan memulai perbincangan apa, karena ada sosok lain di sana. Mang Dirman.


“Halodo, Den. Sudah lama hujan tidak turun,” jawab Mang Dirman. “Sumur-sumur warga juga, banyak yang kekeringan.”


“Tapi waktu di perjalanan pulang tadi, di sebelah kulon sepertinya sawah dan perkebunannya tumbuh subur, Mang,”  kata Hanan kembali seraya mengitari pandangannya ke sekeliling area alam yang tengah mereka lewati.


“Itu tanah milik pemerintah, Den, yang dikelola di bawah pengawasan Tuan Guus,” jawab Mang Dirman tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Dia tetap fokus mengawasi jalan yang akan dilalui.


“Tuan Guus papanya Nona Roos itu?” Hanan langsung teringat pada sosok lelaki tinggi yang siang tadi menemuinya ketika mengantar pulang Roosje. Jawab kembali Mang Dirman, “Benar sekali, Den. Dia yang memegang wewenang di wilayah Desa Kedawung ini.”


Bunga melirik sejenak begitu kekasihnya menyebut nama putri Tuan Guus Van Der Kruk tadi. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain disertai raut kecut.


“Loh, mengapa bisa begitu? Bukankah dulu Tuan Hansen pernah membuat saluran irigasi untuk pemerataan pengairan di kampung ini?” Alis Hanan sontak terangkat naik tanda berpikir keheranan.


Mang Dirman mendesah. “Begitulah keadaan kampung kita sekarang ini, Den,” ujarnya lirih. “Sangat jauh berbeda dibandingkan dengan sewaktu Tuan Hansen masih memegang wewenang di sini.”


“Memangnya apa yang terjadi sekarang ini, Mang? Apakah Tuan Guus tidak lebih baik dari Tuan Hansen?”


“Ssttt ….” Mang Dirman menoleh sejenak sambil menyilangkan jari telunjuk di tengah-tengah garis bibirnya. “Jangan bicara keras-keras jika menyangkut sosok Meneer yang satu itu, Den.”


Hanan kembali bertanya dengan suara memelan nyaris berupa sebuah bisikan, “Ada apa sebenarnya?”


“Nanti kita bicarakan lebih lanjut kalau sudah kembali pulang ke rumah, Den,” bisik Mang Dirman sambil mengitari pandangan ke sekeliling tempat. Tampak seperti sedang mengawasi sesuatu. “Bicara di sini sangat berbahaya dan rawan.”


“Ada apa, Aa? Mengapa kamu menatapku seperti itu?” tanya gadis tersebut bingung.


“Enéng juga tidak bercerita sama sekali padaku, Néng,” ujar Hanan. “Mengapa?”


Sejenak, Bunga terlihat ragu untuk menjawab. Dia melirik sesaat ke arah Mang Dirman. Mungkin  meminta bantuan sosok lelaki tua itu untuk menjelaskan. Namun yang diharapkan tidak kunjung didapatkan. Akhirnya, gadis itu pun mencoba berkata walaupun cukup singkat. “Bukankah tadi sudah dijelaskan Ibunya Aa?”


“Iya, aku tahu. Lalu, alasan Enéng pun sama seperti yang diucapkan Ibu tadi?”


Bunga menunduk. Di satu sisi dia merasa bersalah, akan tetapi apapun yang dilakukannya tersebut memang atas dasar permintaan dari Sumiarsih sendiri.


“Ibu meminta aku untuk tidak banyak menulis tentang kondisi di sini, Aa. Karena Ibu khawatir, itu akan memengaruhi konsentrasi kamu di Jakarta,” ungkap Bunga dengan raut wajah menyesal. “Sebenarnya, aku sendiri ingin bercerita banyak, tapi aku sudah terlanjur memberi janji pada Ibu. Maafkan aku ya, Aa. Aku sadar, suatu waktu, kamu pasti pasti akan mempertanyakan hal ini. Buktinya sekarang, terjadi, bukan?”


“Iya, aku memahami itu, Néng. Maafkan aku juga, ya,” ujar Hanna buru-buru menyadari kekhilafannya. “Aku pun sangat berterima kasih, karena kamu sudah memegang teguh janjimu pada Ibu. Terus terang, itu aku hargai dan teramat aku kagumi darimu, Néng.”


Keduanya saling melempar senyum satu dengan lain. Mencairkan suasana yang semula beku, menjadi kembali hangat dan tahu harus dari mana mereka mengawali pembicaraan.


“Aku ingin bertanya pada kamu, Aa. Boleh tidak?”

__ADS_1


“Ya, Allah … tentu saja boleh, Néng,” jawab Hanan antusias dan menanti-nanti gerangan pertanyaan apa yang akan diajukan oleh kekasihnya tersebut.


“Terima kasih, Aa,” sambut Bunga semringah, lantas lanjut bertanya kembali. “Menurut kamu, apakah Nona Roos itu cantik?”


Hanan terkejut. Bahkan sampai melongo begitu mendapatkan kalimat pertanyaan seperti itu dari Bunga.


“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”


Mang Dirman pun sampai terbatuk-batuk sembari memegang tali kekang kudanya.


...BERSAMBUNG...


Keterangan Kata :




Pamali : Sesuatu aturan yang tidak tertulis dari turun temurun dan disarankan untuk tidak dilanggar.




Keukeuh : Bersikukuh




Muhun : Baik/Iya




Halodo : Kemarau




Kulon : Barat

__ADS_1




__ADS_2