Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 32


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 32...


...—---- o0o —----...


"Ki Endang … tolooonnggg!" teriak Sumiarsih tergopoh-gopoh dari dalam kamar.


"Astaghfirullahal'adziim!" Ki Sendang Waruk dan Mang Dirman serempak berseru kaget dan buru-buru memasuki kamar. "Juanda?"


Tampak Juragan Juanda tengah mengerang-erang di atas tempat tidur. Wajahnya memerah disertai lelehan darah yang keluar dari hidung serta mulut. "Aahhh ... aahhh …." Dia menggapai-gapai tangan pada sahabatnya, Ki Sendang Waruk.


"Ya, Allah … Juanda," desis laki-laki berikat kepala kain batik tersebut seraya mendekat, memegangi tubuh Juragan Juanda yang terlihat kepayahan. "Ada apa lagi ini? Diamlah …, tenang, Juanda," ujarnya.


Mang Dirman hanya diam terpaku, berdiri mematung di pinggir tempat tidur. Bingung harus berbuat apa. Begitu juga dengan Bunga, Sumiarsih serta ketiga pekerja perempuannya.


Sementara Juragan Juanda mulai meronta-ronta dengan jemari menggapai-gapai seperti hendak mencakar.


"A-ayaahhh …." panggil istri Juragan Juanda lirih. Dia hendak mendekat, tapi keburu dilarang oleh Ki Sendang Waruk. "Jangan mendekat! Tetap menjauh!" seru laki-laki tersebut. "Biarkan aku tangani sendiri dan … kamu, Dirman!" tunjuknya pada sosok kusir itu, "tetap di sini!"


"B-baik, Ki," sahut Mang Dirman, sejenak terperangah, lantas mendekat.


"Pegangi tangan Juanda!" titah Ki Sendang Waruk dan langsung dituruti oleh kusir tersebut.  Sekuat tenaga dia menahan gerak kedua tangan Juragan Juanda, sampai-sampai hampir ikut terbanting.


"Aahhh … panas! Panaassshhh!" seru Juragan Juanda merintih-rintih.


Ki Sendang Waruk menggeser badan Juragan Juanda, lantas duduk bersila tepat di belakangnya. Mulai merapal kalimat-kalimat tertentu disertai gerakan tangan menjunjung ke atas, terus turun merapat di depan dada. "Hups!" Dia menarik segenap tenaga dan mengalirkannya menuju lengan. Terkumpul bersatu pada telapak tangan yang berhimpit hingga bergetar hebat.


"Hiiaahhh!" seru Ki Sendang Waruk seraya menghantamkan telapak tangan —tepat— di punggung Juragan Juanda.


Dug!


"Uuhhh!" keluh suami Sumiarsih mengaduh kesakitan dan langsung memuntahkan darah segar. "Ooeekkk!" Memercik ke depan, mengenai lengan Mang Dirman. "Ya, Allah … Juragan!" seru kusir sado tersebut panik. Disusul Sumiarsih hendak menghambur, tapi ditahan oleh Ki Sendang Waruk.


"Tinggalkan kami bertiga di sini!" pinta uwaknya Bunga tersebut, terpecah konsentrasi dia. "Neng, bawa juraganmu ke luar kamar! Cepat!" titahnya kembali pada sang keponakan.

__ADS_1


Buru-buru Bunga membujuk dan menarik Sumiarsih untuk segera meninggalkan kamar, diikuti Ceu Odah, Ceu Ijah, dan Ceu Enok. "Ayaaahhh … Ayaaahhh!" jerit perempuan tua tersebut memanggil-manggil suaminya pilu.


"K-kita tunggu di luar, Bu," ajak Bunga tidak kuasa melihat penderitaan ayahnya Hanan itu di atas tempat tidur. "Biarkan Uwak yang akan—"


"Aahhh … ooeekkk!" Juragan Juanda kembali memuntahkan darah segar.


"Ayaahhh! Ayaahhh!" panggil Sumiarsih tidak ingin meninggalkan suaminya dalam kondisi mengenaskan. 


Ki Sendang Waruk melotot beringas. Lantas menyuruh Mang Dirman untuk segera menutup pintu kamar. Wajahnya meringis-ringis seperti tengah menahan beban besar yang hendak menyerang.


Brak!


Tubuh tua Mang Dirman tiba-tiba terpelanting, dibanting keras oleh Juragan Juanda ke atas lantai kayu. Padahal baru saja dia hendak beranjak menutup pintu ruangan tersebut.


Ki Sendang Waruk terperanjat. 


"Bedebah!" rutuk laki-laki tua berambut putih sebahu itu kaget. Tiba-tiba saja merasa tangannya seperti ada daya penolakan dari tubuh Juragan Juanda. Sedemikian besar hingga terengah-engah menahan agar tidak turut terdorong ke belakang. "Hhmmfffttt!" Semakin dilawan, entakkan itu kian menguat. Sampai akhirnya ….


"Huaaahhh!" Tubuh Ki Sendang Waruk terdorong keras dan jatuh menghantam lantai kayu kamar sebagaimana Mang Dirman tadi. 


Brak!


"Jahanam!" sungutnya buru-buru bangkit kembali menghadap pada Juragan Juanda yang menoleh, menatap tajam, serta diiringi seringai mengerikan. "Saya tahu siapa di balik semua ini!" bentaknya menggelegar hingga menembus lubang udara pintu kamar.


Sumiarsih dan Bunga serentak menoleh ke arah yang sama, diikuti oleh ketiga sosok pekerja perempuan tadi yang tengah berkumpul di ruang depan.


"A-apa yang terjadi di dalam?" tanya Sumiarsih bertambah khawatir mengingat kondisi suaminya. "S-siapa yang Ki Endang maksud baru saja?"


Sejenak Bunga pun ikut berpikir, lantas berucap menimpali calon ibu mertuanya tersebut, "Jangan masuk dulu, Bu, sampai Wak Endang selesai menangani Juragan!"


Sumiarsih menggeleng. "Tidak! Ini pasti pertanda buruk! Ibu merasakan ada sesuatu yang tidak beres, Neng," ujarnya  risau. "Ini seperti …."


Brak!


"Astaghfirullah! Suara apa itu?" Bunga memekik kaget. Spontan gadis itu menoleh ke arah asal suara yang baru saja terdengar diikuti oleh Sumiarsih, Ceu Odah, Ceu Ijah, dan Ceu Enok.


"Juragan …." desah ketiga pekerja perempuan tersebut pada majikan mereka. Timpal Bunga pelan membantu menjawabkan untuk Sumiarsih, "T-tenang …, j-jangan p-panik." Beberapa teguk gadis menelan liurnya sendiri. Berjalan ke arah jendela depan, hendak mengintip.

__ADS_1


"J-jangan, Neng!" ujar Sumiarsih perlahan mirip sebuah bisikan. "K-kita tunggu saja sampai uwakmu nanti seles—"


Wus!


Tiba-tiba dari arah luar jendela memercik sebuah cahaya yang sangat mengejutkan, laksana kilatan petir menyilaukan. Pandangan kelima perempuan itu sempat membuta sesaat. "Aaahhh!" jerit mereka seraya mundur ketakutan. Bahkan Bunga sendiri terjengkang seperti didorong oleh suatu kekuatan besar mengenai tubuhnya.


"Nèng Bunga!" pekik Ceu Odah usai penglihatannya kembali memulih.


"Ya, Allah … apa itu tadi?" tanya Ceu Ijah. Semua tampak terkesima.


"Aahhh, pinggangku sakiitt," ringis Bunga seraya memegangi bagian belakang tubuhnya. Gadis itu tergeletak di lantai. Cukup jauh dari jendela depan tadi.


"Gusti Nu Agung!" Ceu Odah memburu Bunga, lantas membantunya duduk. "Apa yang terjadi, Nèng?"


Sementara itu Ceu Enok dan Ceu Ijah sibuk menahan Sumiarsih yang hendak jatuh tidak sadarkan diri. "Ceu Odah! Bantu kami mendudukkan Juragan!"


Spontan Ceu Odah pun menoleh kaget. "Juragaaannn!" serunya kemudian, lekas membantu kedua temannya membaringkan majikan mereka di atas kursi panjang. "Astaghfirullah, apa yang terjadi dengan Juragan Perempuan? Ada apalagi ini?"


"Ibuuu …." Tertatih-tatih gadis itu bangkit hendak memburu calon ibu mertuanya. Lantas menubruk tubuh tua itu diiringi tangis memilukan. "Ya, Allah! Cepat panggilkan Uwak Endang! Cepat panggilkan Wak Endang!"


"T-tapi Ki Endang sedang mengurusi Juragan Laki-laki, Nèng," balas Ceu Odah bingung. "Bagaimana ini? Bagaimana dengan Juragan Perempuan?" tanyanya mulai panik.


Daarrr!


Sebuah suara ledakan cukup kencang kembali mengejutkan seisi rumah. Keempat perempuan itu spontan menjerit histeris.


"Ki Endaanggg! Mang Dirmaannn! Tolooonnggg!"


"Astaghfirullah, apalagi itu?"


Ceu Ijah dan Ceu Enok berlarian ke arah kamar sambil menggedor-gedor pintu. Sementara Bunga dan Ceu Odah memeluk tubuh Sumiarsih hendak melindungi dari kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya.


Tidak berapa lama, daun pintu kamar pun terkuak perlahan. Muncul sosok Mang Dirman dengan raut wajah pilu menatap keduanya.


"Mang, Juragan Perempuan jatuh pingsan!" seru Ceu Ijah panik. Kemudian tidak sengaja pandangannya melihat ke dalam kamar. "Ya, Allah … Juragan!"


Disusul pekik tertahan Ceu Enok disertai mata melotot dan mulut menganga, "Astaghfirullahal'adziim! A-apa yang terjadi di dalam, Mang?"

__ADS_1


Sepintas dilihatnya, banyak sekali darah bercipratan ke dinding kamar dan tempat tidur yang baru mereka rapikan beberapa waktu sebelumnya. 


...BERSAMBUNG...


__ADS_2