Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 40


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 40...


...—---- o0o —----...


"Ternyata benar adanya dugaan saya sebelumnya, Mang," kata Hanan selagi berada di perjalanan menuju rumah dari kediaman Kang Juna tadi. "Tuan Guus melakukan serangkaian tindakan licik untuk menghancurkan usaha perkebunan Ayah, dulu."


Mang Dirman terdiam sembari fokus menjalankan sado. Tanpa diungkapkan pun, lelaki tua itu sebenarnya sudah tahu mengenai itu jauh-jauh hari. Tanpa sepengetahuan Hanan, lelaki tua ini sering meringis sambil memegangi dada.


"Tapi … entah apa maksudnya dia harus melakukan tindakan tidak terpuji itu pada Ayah? Apakah karena masih mendendam dengan masa lalu mereka sewaktu masih muda dulu?" Hanan kembali bertanya-tanya. "O, iya … sebelum kita pergi ke rumah Kang Juna tadi, Mamang sempat mengatakan … Mamang merasa aneh dengan kejadian pada perkebunan milik Ayah. Kira-kira, apa yang Mamang rasakan itu dulu, Mang?"


Mang Dirman mendeham beberapa kali sebelum menjawab. Menarik napas beberapa kali untuk sekadar melonggarkan rongga paru-paru yang menyesak. Sampai kemudian, dengan nada suara berhati-hati, lelaki tua itu berkata, "Uummhhh, maksud saya itu … uummhhh … hanya perkebunan milik Juragan Ayahanda Aden yang terkena wabah hama, serta beberapa perkebunan milik orang lain, tapi tidak dengan perkebunannya Tuan Guus, Den. Bukankah itu sebuah keanehan?"


"O, iya? Bagaimana itu bisa terjadi ya, Mang?" Hanan berusaha mencerna ucapan Mang Dirman, tapi tampaknya agak sulit untuk dipahami secara nalar; bagaimana mungkin?


Kusir sado itu mendengkus. "Itulah yang tidak saya pahami sampai sekarang, Den. Begitu juga dengan Ayahanda Aden," jawabnya risau. "Sampai-sampai … Juragan saat itu, sempat berniat untuk meminta bantuan dari seseorang, tapi tidak pernah tersampaikan."


Hanan melirik. "Seseorang?" tanyanya penasaran. "Maksud Mamang … seseorang itu siapa ya, Mang?"


Raut wajah Mang Dirman berubah agak kecut begitu mendapat pertanyaan itu dari anak majikannya. "Dia …." Terdengar seperti agak segan lelaki itu menjawab, tapi suaranya memelan begitu menyebutkan kalimat terakhir ini, "Uwaknya … Nèng Bunga."


Kedua alis anak muda tersebut sontak saling bertaut, diikuti kelopak mata menyipit. "Maksud Mamang … Ki Sendang Waruk?"


"Ya, siapa lagi?" ucap Mang Dirman sengit. "Hanya dia orang yang selama ini dekat dengan Juragan dan dipercayai beliau. Tapi … sampai menjelang kematian Ayahanda Aden, barulah Ki Sendang Waruk memperlihatkan batang hidungnya. Entah ke mana dia sewaktu diperlukan oleh mendiang Juragan Laki-laki?"


"Mungkin karena Ki Endang sibuk dengan perjuangannya di daerah lain, Mang," gumam Hanan berusaha berpikir lurus. "Bukannya Ki Sendang Waruk memang ikut bersama para pejuang itu, Mang? Bisa jadi karena alasan itu, makanya beliau tidak sempat turut memperhatikan kondisi Ayah waktu itu."


Mang Dirman mendengkus. Lanjutnya menimpali, "Ya, saya harap juga sih begitu, Den." Nada suaranya terdengar agak datar, tanpa ekspresi apapun. "Tapi sebagai seorang sahabat, apa iya … bisa melupakan begitu saja? Setidaknya ada waktu-waktu tertentu untuk saling berkunjung atau bagaimana mungkin?"


Sejenak, anak muda tersebut menatap punggung lelaki tua itu dari tempat duduknya. Kalimat terakhir Mang Dirman baru saja, sama persis dengan apa yang dia pikirkan oleh Hanan, usai mendengarkan kisah tentang detik-detik kematian ayahnya. 'Sebagai seorang sahabat ….'. Sebuah pernyataan ambigu alias taksa.


'Sikap Mang Dirman mengenai Ki Sendang Waruk, tidak sekali ini saja terlihat aneh,' pikir Hanan. 'Beberapa kali aku perhatikan, tampak sekali kalau dia seperti memendam rasa risau. Mungkinkah itu bermakna bahwa masih ada hal lain yang dia sembunyikan dariku? Apa itu mungkin? Perkara apa sebenarnya?'

__ADS_1


Kemudian, anak muda itu kembali teringat pada percakapan dengan Kang Juna beberapa saat lalu, tepatnya sebelum Hanan pulang tadi seusai membantu mengobati anaknya lelaki muda tersebut.


Tutur Kang Juna kala itu, "Terus terang saja, Den, hati kecil saya selalu menjerit. Sampai sekarang, saya merasa sangat bersalah pada mendiang Juragan Laki-laki. Saya merasa seperti menjadi seorang pengkhianat bagi orang sebaik Juragan Juanda, Den. Untuk itulah, saya memutuskan untuk berhenti bekerja di perkebunan Tuan Guus beberapa hari lalu atau tepatnya setelah Aden memergoki saya tempo hari itu."


"Terus, sekarang Akang kerja di mana?" tanya Hanan lirih mendengar penuturan lelaki tersebut.


Jawab Kang Juna tersedu sedan, "Kalau Aden izinkan, saya ingin kembali bekerja di perkebunan milik Aden sekarang."


Hanan tersenyum tipis. Bukan berarti tidak menghargai niat baik dari sosok tersebut, tapi ada beberapa hal yang membuatnya tidak menerima pekerja baru untuk saat itu.


"Sekarang sedang musim kemarau, Kang," ujar Hanan menjelaskan. "Banyak sekali lahan perkebunan keluarga saya yang terbengkalai. Air sulit sekali didapatkan untuk—"


"Itu karena perbuatan Tuan Guus, Den," tukas Kang Juna. Kali ini barulah lelaki itu memberanikan diri mengangkat kepala dan beradu tatap dengan sosok yang dia segani tersebut.


"Maksud Akang?" tanya Hanan terkejut, sekaligus membaui aroma baru akan mendapatkan kabar tambahan mengenai permasalahan yang tengah dia pikirkan semenjak tiba di Kampung Sundawenang ini.


Jawab Kang Juna seraya menoleh ke arah Mang Dirman yang berada di atas sado, tidak jauh dari posisi mereka berdua saat itu, "Tuan Guus memang sengaja menutup aliran pengairan yang menuju persawahan dan perkebunan milik Juragan Laki-laki. Apalagi di musim-musim kemarau seperti sekarang ini."


"Apa?" Sontak rasa keterkejutan Hanan semakin menjadi-jadi. Tidak menyangka sama sekali bahwa irigasi yang dibangun semasa Tuan Hansen bertugas —dulu— di kampung tersebut, nyatanya kini digunakan semena-mena oleh Tuan Guus. Mustahil sekali jika tanpa niat tertentu, pasti ada sesuatu yang sudah atau tengah direncanakan oleh laki-laki Belanda itu, pikirnya memutar otak.


'Berarti benar adanya, Tuan Guus memang memiliki maksud tertentu pada Ayah sejak dulu itu,' kata Hanan di dalam hati. 'Tapi motif apa sebenarnya yang dia punyai, hingga harus bersusah payah membuat kesulitan pada usaha perkebunan Ayah?'


"Den, kita sudah sampai," ujar Mang Dirman memberitahu. Hanan tersenyum tipis, lantas menjawab, "Saya tahu, Mang."


Kemudian Hanan segera turun dan bergegas menginjakkan kaki di teras rumah. Pintu dalam keadaan tertutup rapat dan dikunci.


Tok! Tok! Tok!


"Assalaamu'alaikum," ucap Hanan meminta dibukakan pintu.


Tidak berapa lama terdengar jawaban dari dalam, "Wa'alaikumussalaam," suara gerendel diputar, dan daun pintu pun terkuak lebar. Sesosok wajah muncul dengan raut cemas. Ibunya.


"Hanan … ah, syukurlah. Akhirnya kamu pulang juga, Nak," ujar Sumiarsih seraya menarik lengan anaknya agar lekas memasuki rumah. "Ibu pikir kamu kemana saja. Ibu sangat mengkhawatirkanmu."


"Mohon maaf, Bu. Tadi Hanan menolong salah seorang warga terlebih dahulu," ujar Hanan seraya menutupkan pintu kembali. "Anaknya Kang Juna sakit."

__ADS_1


"Oohhh …." Sumiarsih manggut-manggut. "Terus, Nèng Bunga mana? Tidak ikut menginap lagi?" Dia terheran-heran karena gadis yang dimaksud tidak terlihat bersama anaknya.


"Tidak, Bu," jawab anak muda tersebut sambil menggelengkan kepala. "Dia ingin tinggal di rumahnya dulu bersama Ki Endang."


"O, iya, sudahlah kalau begitu," kata perempuan tua yang masih terlihat cantik dan menarik tersebut. Usai menarik napas panjang, lanjut dia berimbuh, "Tadi ada Tuan Guus ke sini, Nak."


"Apa? Tuan Guus datang ke sini? Mau apa dia?" Bertanya-tanya Hanan diiringi keterkejutannya.


Jawab Sumiarsih perlahan, "Entahlah, Ibu sendiri tidak tahu. Karena, Ibu menolak saat dia meminta hendak masuk. Kata Ibu, di rumah hanya ada perempuan saja. Sedangkan kamu dan Mang Dirman sedang keluar. Tapi Ibu tidak mengatakan kalian berdua ke rumahnya Nèng Bunga."


Anak muda itu mengerutkan kening. "Terus … bagaimana selanjutnya?" tanyanya penasaran. "Apakah Tuan Guus mengatakan sesuatu?"


Sumiarsih mengangguk, lantas menjawab, "Iya, Nak. Dia bilang, besok akan datang lagi ke sini."


"Hanya itu? Tidak ada hal lainnya, Bu?" Kembali Hanan bertanya penuh ingin tahu. Masih penasaran. Apakah kedatangan Tuan Guus itu ada kaitannya dengan kejadian tadi siang? Keributan antara Mang Dirman dengan Ki Praja. Bisa saja ada hal lain yang patut diwaspadai. Karena Hanan tahu kini, lelaki berkulit kemerahan itu memiliki segudang akal licik untuk terus mendekati ibunya. Mungkin … mungkin, pikir anak muda itu.


"Iya. Hanya itu," ucap Sumiarsih pendek. Namun sekilas dari raut wajah perempuan tersebut, masih tersisa gambaran rasa cemas melanda perasaannya. "O, iya … kamu belum makan 'kan, Nak? Ibu sudah siapkan makan malam untukmu di meja di dapur. Sebaiknya lekas makan sana, sebelum jadi dingin."


Hanan mendesah. Sebenarnya bukan itu yang dia inginkan sekarang. Namun keingintahuannya tentang masa lalu sosok di dekatnya itu dengan Tuan Guus.


"Hanan mau makan kalau Ibu temani," ujar anak lelaki itu membuat syarat. Sebuah alasan yang sengaja diajukan untuk mengajak ibunya berbincang-bincang. "Ibu tidak keberatan, 'kan?"


Sumiarsih tersenyum. "Tentu saja, Nak. Mengapa tidak?" katanya terpancing juga atas umpan yang disodorkan Hanan. "Lagipula, Ibu juga belum makan kok, Nak. Sengaja menunggu-nunggu kepulangan kamu dari tadi."


"Astaghfirullah!" seru Hanan kaget sekaligus timbul rasa kasihan. "Mengapa Ibu tidak makan saja terlebih dulu. Tidak usah menunggu Hanan seperti itu, Bu. Nanti kalau Ibu sakit, bagaimana?"


"Tidak apa-apa," balas Sumiarsih lembut, "Ibu hanya ingin sering-sering bersama-sama anak Ibu." Bias di mata perempuan itu terlihat begitu tulus mengasihi. "O, iya … sekalian suruh Mang Dirman makan bersama kita, ya?"


'Mang Dirman? Ah, kehadiran si Mamang itu justru akan membuyarkan rencanaku untuk bercakap-cakap dengan Ibu,' ujar anak lelaki tersebut. Namun mau tidak mau, dia harus menuruti perintah ibunya.


Maka Hanan pun segera mencari Mang Dirman di istal. Tempat biasanya laki-laki tua itu menghabiskan masa di waktu-waktu tersebut. Mengurus kuda sebelum ditinggal beristirahat malam.


"Mang …." panggil Hanan mencari-cari sosok Mang Dirman di sana. Namun sosok itu tidak kunjung terlihat. Sementara kuda pun masih terikat kuat bersama sado. "Mang? Mamang di mana?" seru kembali anak muda tersebut. "Kita makan mal … ya, Allah! Mang Dirman!"


Sosok tua itu ternyata —ditemukan— tengah tergeletak di lantai kandang kuda.

__ADS_1


"Astaghfirullaahal'adziim! Mang Dirman!"


...BERSAMBUNG...


__ADS_2