Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 67


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 67...


...—---- o0o —----...


Keesokan harinya, Roosje kembali datang berkunjung ke tempat Hanan bertugas di Balai Kesehatan. Kali ini dia mendampingi Dasimah yang sebelumnya dipinta oleh dokter muda tersebut untuk berobat.


"Nona Roos kembali datang, Den," kata Mang Dirman sesaat sebelum gadis itu masuk ke dalam ruangan.


Hanan mengerutkan kening di sela-sela kesibukannya melayani pasien.


"Sendiri?" tanya anak muda tersebut menduga-duga. Mang Dirman menggeleng, lantas menjawab, "Tidak. Kali ini ditemani oleh seorang perempuan muda, Den. Kalau tidak salah, namanya Dasimah."


"Dasimah? O, iya … saya kemarin memang minta dia datang berobat," kata Hanan kembali. "Suruh tunggu saja dulu dan mengantre dengan pasien lainnya."


"I-iya, Den," sahut Mang Dirman menurut.


Tidak berapa lama suasana di dalam gedung itu pun mendadak senyap begitu Roosje masuk. Tidak ada satu pun pasien yang berani mengangkat wajah untuk melihat kemunculan putri tunggal Tuan Guus tersebut.


"M-mohon maaf, Nona Roos," ucap Mang Dirman sebelum Roosje masuk ke dalam ruang pemeriksaan. "D-dokter Hanan berpesan, silakan Nona Roos dan Nèng Dasimah untuk duduk terlebih dahulu, menunggu di sini."


Roosje menghentikan langkah. Dengan tatapan sinis dia menimpali, "Memangnya siapa kamu orang, heh? Petugas di sini?"


Lelaki tua itu menunduk, lantas menjawab, "Tentu saja bukan, Nona. Tolong maafkan saya."


Gadis bermata indah itu mendengkus. Lantas mengajak Dasimah agar mengikutinya dengan gerakan dagu. Pongah sekali tertampak.


Namun Dasimah ragu dan berkata perlahan, "Maaf, Nona Roos. Apa sebaiknya kita mengikuti arahan Pak Dokter tadi, Nona? Mungkin sebaiknya kita menunggu—"


"Saya tidak butuh saran dari kamu orang, Dasimah!" bentak Roosje menggelegar di dalam ruangan tersebut. "Saya datang ke sini pun untuk itu mengobati luka-luka kamu orang! Mengerti?"


Dasimah mengangguk ketakutan. Namun di sisi lain, dia merasa malu sekali dengan kerumunan pasien yang ada di sana.


"Ada apa ini?" Tiba-tiba Pak Mantri muncul dari ruang tugasnya. Dia melihat-lihat sekejap dengan bantuan kacamata tuanya. "Oh, Nona Roos … ternyata," ucapnya seraya melempar senyum kelu begitu menyadari sosok perempuan yang satu itu. "Silakan masuk ke ruangan saya saja, Nona. Biar saya—"


Ucapan Pak Mantri langsung terhenti, begitu Roos mengangkat telunjuk ke muka lelaki tua tersebut. Kemudian masuk kembali ke dalam ruangannya tanpa berani mengeluarkan sepatah katapun.


"Akan lebih mudah dan cepat, jika semua orang yang ada di sini, tidak berkata apapun terhadap saya! Mengerti kalian orang semua?" seru Roosje seraya menyapu pandangan ke setiap pasien yang sedang duduk menunggu.


Serentak semua orang yang ada di sana mengangguk perlahan.


"Bagus," imbuh gadis itu kembali.


Suara sentakan Roosje di tengah keheningan di dalam ruangan, sampai menembus ruang kerja Hanan. Lantas, usai memeriksa pasien, buru-buru dia keluar menghampiri. "Nona Roos …." panggilnya terheran-heran.


Roosje langsung menoleh dan melempar senyum manis begitu melihat kemunculan laki-laki yang tengah dia kagumi tersebut.


"Aahhh, Dokter Hanan. Senang sekali rasanya kita berjumpa kembali," sahut gadis itu berubah ramah dan manja seketika. "Maafkan saya, Dokter. Ada sedikit kendala pelayanan di sini dan saya sudah menyelesaikannya dengan baik. Bukankah begitu, Pak Tua?" tanyanya melempar pertanyaan pada Mang Dirman dan lelaki renta tersebut, langsung mengiakan. Kemudian berbalik lagi pada menoleh pada Hanan. "Nah, Dokter sudah melihat sendiri, 'kan?"

__ADS_1


Hanan bergeming. Dia merasa tidak enak hati terhadap pasien yang sedang duduk menunggu giliran diperiksa.


"Mohon maaf, Bapak-Ibu semua. Untuk sementara, pemeriksaan akan dilakukan oleh Pak Mantri saja, ya? Apakah Bapak-Ibu tidak merasa keberatan?" tanya anak muda tersebut dengan sangat terpaksa.


"Tidak apa-apa, Pak Dokter," jawab semuanya serempak dan memaklumi.


"Ah, baguslah!" seru Roosje semringah tanpa merasa bersalah sedikitpun. "Sekarang sudah tidak ada kendala lagi, bukan? Ayo, Dasimah. Ikuti saya!" ajaknya pada Dasimah agar segera memasuki ruang pemeriksaan Dokter Hanan.


'Astaghfirullahal'adziim ….' gumam lelaki muda tersebut seraya mengelus dada. Kemudian sebelum kembali memasuki ruangan tugasnya, dia menghaturkan sembah permohonan maaf kepada semua pasien di dalam sana. Dibalas anggukan pelan dari mereka sebagai jawaban pemakluman.


Sepeninggal Hanan mengikuti Roos dan Dasimah ke dalam ruang pemeriksaan, Mang Dirman mencoba berbicara pada hadirin yang ada di sana dengan suara perlahan.


"Tidak apa-apa, Ki," jawab salah seorang dari mereka memahami keadaan. "Anak perempuan Tuan Guus itu memang seperti itu sifatnya. Hanya saja, baru kali ini dia mau datang ke sini. Sebelumnya tidak pernah."


"Benar," timpal yang lain. "Mungkin karena ada Dokter Hanan di sini, makanya dia mau datang."


"Iya, padahal saya juga ingin sekali diperiksa oleh Dokter Hanan." Seorang ibu-ibu turut bersuara.


"Loh, memangnya kalau diperiksa Pak Mantri bagaimana, Mak?" tanya sosok di sampingnya.


Jawab ibu-ibu tadi, "Ah, kalau diperiksa Pak Mantri mah, bukannya sembuh, malah tambah parah sakit saya."


"Terus kalau dengan Dokter Hanan?"


"Wah, kalau diperiksa Pak Dokter Hanan sih, sakit tiap hari juga saya mau atuh. Hi-hi-hi."


Tanpa ada mengomandoi, serentak hadirin yang ada di sana kompak memasang muka masam.


"Loh, memangnya saya salah, kalau ingin diperiksa oleh Pak Dokter Hanan?" tanya ibu-ibu tadi merasa tersinggung. "Orangnya baik, ramah, lemah lembut, tampan, dan … ah, pokoknya mirip sekali dengan mendiang Juragan Juanda dulu. Hampir saja, saya pun dulu ditaksir oleh bapaknya Pak Dokter Hanan itu. Hi-hi-hi."


"Mohon maaf, Nona Roos," ucap Hanan sesaat setelah mereka bertiga duduk bersama di ruangan pemeriksaan. "Kalau boleh saya sarankan, sebaiknya untuk lain waktu, tolong agar kita … bisa bersama-sama menjaga kenyamanan serta ketenangan tempat ini. Jangan seperti tadi. Mohon maaf, ya? Ini hanya sekadar sedikit saran dari pribadi saya saja. Mohon dipertimbangkan secara lebih bijaksana."


"Salah kamu orang sendiri, Hanan," timpal Roosje dengan suara manja. "Mengapa kamu orang tidak secepatnya menyambut saya. Kendala seperti tadi 'kan, tidak akan sampai terjadi. Bukankah begitu, Dasimah?"


"I-iya, Nona," jawab Dasimah bingung.


"Nah, kamu orang dengar sendiri, 'kan?" imbuh kembali gadis cantik bermata biru tersebut semakin memanjakan sikap. "Dasimah saja setuju dengan kata-kata saya. He-he."


Dokter Hanan mengangkat alis tinggi-tinggi disertai bibir menipis. Terpaksa dia manggut-manggut sembari menarik napas panjang.


"Baiklah, sekarang saya mohon izin terlebih dahulu dari Nèng Imah," ucap lelaki muda tersebut. "Saya hendak memeriksa kembali luka memar yang ada di tangan Nèng Imah kemarin. Boleh?"


Dasimah terlihat ragu. Dia melirik sosok Roosje melalui ujung matanya. Lantas menyingsingkan sedikit lengan kebayanya ke atas.


"Masih terasa sakit?" tanya Dokter Hanan begitu memperhatikan luka memar di lengan perempuan tersebut. Dasimah mengangguk. "Ada luka lainnya di bagian tubuh Nèng Imah?"


Dasimah semakin bingung untuk menjawab. Dia ingin berterus terang, tapi takut Roosje akan semakin banyak bertanya-tanya.


"T-tidak ada, Kang Dokter," jawab Dasimah akhirnya, berbohong. "H-hanya di lengan saya ini saja."


Dokter Hanan memperhatikan gerak bibir serta mata Dasimah yang memberi tanda-tanda lain. Sebagai seorang tenaga medis, dia menduga bahwa teman perempuan semasa kecilnya dulu ini tengah menyembunyikan sesuatu. Entah berupa apa. Namun ketidaknyamanannya terhadap keberadaan sosok Roosje di sana, tentu memberikan penafsiran lain, bahwa hal tersebut bisa berarti terdapat suatu perkara lain. Bisa berupa ketakutan, kekhawatiran, atau bisa saja faktor yang terjadi pada pasiennya kali ini berhubungan erat dengan pihak terdekatnya tersebut.

__ADS_1


Hanan paham dan tidak ingin memaksa Dasimah untuk menjelaskannya secara terperinci. Namun suatu saat, dia berharap sekali, pertanyaan serta rasa kecurigaannya terhadap penyebab luka memar itu tadi, dapat segera diketahui.


Bisa saja Hanan meminta Roosje untuk keluar sebentar, tapi hal tersebut dikhawatirkan, justru akan membangunkan bibit rasa penasaran baru pada putri semata wayang Tuan Guus tersebut.


"Baik, untuk sementara saya akan memberi Nèng Imah obat, ya. Ini berupa salep. Tolong dipakai sesuai dengan aturannya," ucap dokter muda itu seraya menuliskan sebuah resep. "Nanti Nèng Imah ambil di depan, ya?"


"I-iya, Kang," sahut Dasimah lirih. Lantas mencoba bangkit dari duduknya disertai seringai kesakitan yang tergambar jelas pada raut wajah perempuan tersebut. Hal itu tertangkap oleh mata Hanan. Sementara Roosje sendiri malah asyik, terpana, memandangi sosok lelaki yang ada di hadapannya itu.


"Kamu orang tunggu saja di luar, Dasimah," titah Roosje begitu menyadari pemeriksaan atas Dasimah sudah selesai. "Saya masih ada keperluan dengan Dokter Hanan ini."


"I-iya, Nona," jawab Dasimah lirih. Sebelum melangkah, perempuan itu melirik sesaat pada Hanan. Ekor matanya benar-benar memberi isyarat bahwa sebenarnya dia sedang ingin sekali berkeluh kesah, mengungkapkan apa yang tersimpan selama ini di dalam hati. Untungnya, lelaki muda tersebut menangkap sinyal-sinyal terselubung yang diberikan oleh teman bermainnya dulu itu.


"Ada yang bisa saya bantu untuk Anda, Nona Roos?" tanya Hanan setelah Dasimah benar-benar hilang di balik pintu.


"Aahhh, Hanan," ujar Roosje manja. "Sebaiknya tidak usah kamu orang memanggil saya dengan sebutan 'Nona'. Cukup kamu orang panggil nama saya saja. Roos atau Rose. Rasanya itu jauh lebih nyaman didengar, 'kan?"


Lelaki muda berparas rupawan itu mengulum senyum. "Terima kasih, Nona Roos. Tapi bagi saya, panggilan 'Nona' terhadap Nona Roos ini adalah sebagai bentuk ungkapan rasa hormat saya terhadap Anda, Nona Roos," ujar Hanan malah semakin menjadi-jadi. Alhasil, hal tersebut membuat gadis bule itu semakin merengek manja.


"Aahhh, Hanan. Kamu orang ternyata sangat menyebalkan aku," ujar Roosje tersipu-sipu.


Hanan mengangkat alis. "Aku?" tanyanya heran.


"Iya, kamu orang, Hanan," jawab Roosje.


"Bukan itu maksud saya," timpal Hanan kembali. "Nona Roos mengubah kata ucapan sapaan 'saya' menjadi 'aku'?"


Gadis itu terperangah. "Oohh … i-itu … ya, itu … hanya untuk bahasa percakapan kita saja."


"Kita?" Semakin penasaran Hanan untuk mengorek lebih dalam gambaran isi hati sosok di hadapannya tersebut.


"Iya, kita. Aku dan kamu orang," ungkap Roosje menjelaskan.


"Saya paham. Mengapa harus ber-aku-kamu?"


Roosje mendadak salah tingkah. Imbuhnya kembali, "Karena itu rasanya jauh lebih nyaman saja saat aku bicara dengan kamu orang, Hanan."


"Sekadar nyaman? Cuma rasa nyaman?"


Gadis itu semakin dibuat bingung dan mati langkah, sampai akhirnya ….


Tanpa sadar, Roosje pun berungkap, "Karena aku menyukai—"


"Aa Hanan!" Tiba-tiba sosok Bunga muncul di ambang pintu. Kemudian tidak berapa lama, disusul oleh Mang Dirman. Lelaki tua itu datang tergopoh-gopoh disertai napas terengah-engah.


"Nèng Bunga?" Hanan terkejut dengan kemunculan kekasihnya secara mendadak di ruang kerjanya. "Kok, Enèng datang? Sendiri atau ditemani siapa?"


Sesaat gadis itu melirik ke arah Roosje yang tertangkap mata tadi sedang tersenyum-senyum dengan lelaki terkasihnya, Hanan. Tampak sekali pada raut wajah Bunga, jika dia tidak menyukai keberadaan putri Tuan Guus tersebut di sana.


Sementara Mang Dirman berkata-kata tanpa suara di belakang Bunga memperlihatkan gerak bibir pada anak majikannya, berbunyi; 'Maaf, Den. Saya tidak sempat memberitahu Aden tentang kedatangan Nèng Bunga ini', sambil menunjuk-nunjuk sosok gadis di depannya.


Roosje sendiri jadi bingung dan bertanya-tanya tentang sosok Bunga yang baru dia lihat untuk pertama kalinya. "Siapa dia orang, Hanan? Aku tidak pernah bertemu dengan dia orang ini," tanyanya, sama-sama merasa tidak menyukai kehadiran Bunga di antara mereka berdua.

__ADS_1


"Dia adik saya, Nona," jawab Hanan dengan santainya.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2