
GAIRAH CINTA NONI BELANDA
Penulis : David Khanz
Bagian 53
—---- o0o —----
Sepi melanda alam di siang itu. Sesunyi area tanah luas yang dikelilingi oleh rerimbunan semak belukar, tumbuh liar meranggas di sekitar tempat.
Bumi tengah mengganas, membakar hampir setiap tumbuh-tumbuhan dan makhluk-makhluk hidup yang bercokol di permukaannya melalui panggangan matahari. Hawa panas pun merata, menyebar terbawa silir-semilir udara yang terengah-engah.
Sementara itu, sesosok manusia tengah berjongkok terdiam di depan sebuah pusara, dengan mata terkatup, tapi lisan bersuara dalam bisik. Dia khusyuk melafalkan bait demi bait kalimat suci disertai kedua telapak tangan menengadah. Seakan enggan mengindahkan terpaan bara dari langit yang asyik memanggangi.
Sesaat kemudian, dia pun mengucap kata 'aamiin' sembari mengusapkan telapak tangan tadi ke wajah, mengakhiri prosesi di pengujung doa. Matanya terlihat sembab, disertai sedikit sisa linangan bening di pelupuk mata. Lantas memandangi gundukan tanah merah yang tampak masih belum lama, lengkap dengan dua tancapan kayu berukir di kedua ujung batas atas dan bawah.
Sosok itu adalah Hanan. Putra semata wayang almarhum Juanda dan Sumiarsih. Dia tengah menyepi, usai berlari dari rumah tadi, sesaat setelah meluapkan emosi. Kuburan ayahnya adalah satu-satunya tempat yang dituju, untuk berkeluh kesah dalam kerinduan berbalut pilu.
"Ayah …." panggil anak muda tersebut lirih. "Maafkan Hanan, Yah. Baru kali ini Hanan menyempatkan diri, kembali berkunjung ke makam Ayah." Dia menyeka linangan air mata sejenak, sebelum melanjutkan kalimat. "Semoga keadaan Ayah baik-baik saja di alam kubur sana ya, Yah? Allah menempatkan Ayah di antara orang-orang beriman."
Kemudian Hanan menunduk dalam-dalam. Tersedu sedan dalam tangisan yang memilukan.
"Kini Hanan sudah menjadi orang yang Ayah harapkan. Hanan sudah lulus dan jadi seorang dokter, Yah," imbuhnya kembali bertutur. "Tapi Hanan belum sepenuhnya bisa berbakti, sesuai dengan keinginan Ayah dulu. Hanan masih bingung, Yah. Hanan ingin turut serta menyelesaikan masalah yang pernah Ayah hadapi dulu. Hanan yakin, jika Ayah masih ada, tentu akan banyak sekali cerita-cerita yang hendak Ayah sampaikan pada Hanan, 'kan?"
Krosak!
Tiba-tiba terdengar seperti ada suara ranting kering terinjak patah. Spontan anak muda tersebut mengangkat kepala, mencari-cari arah kerotak tadi berasal. Namun usai memutari pandangan, tidak ditemukan sesuatu pun yang mencurigakan.
"Siapa itu?" tanya Hanan menyentak seraya bangkit dari posisi jongkoknya tadi. "Siapa di sana? Ada orangkah?"
Sebagai seorang dokter, Hanan sudah pasti terbiasa dengan hal-hal beraroma mistik. Namun bukanlah makhluk tidak kasat mata yang dikhawatirkannya, akan tetapi justru wujud nyata berbalut niat jahat.
Hanan bergegas melangkah, mendekati kudanya yang sengaja ditinggal tidak seberapa jauh dari area pekuburan. Kemudian membuka ikatan tali dan bersiap-siap hendak pergi.
Krosak!
Suara kerotak tadi kembali terdengar, disusul kemunculan seseorang dari balik sebuah pohon rindang. Sosoknya tengah berdiri menyepi seraya menatap dari kejauhan.
'Seorang perempuan ….' pikir Hanan dengan kelopak menyipit. 'Siapa dia?'
Kemudian sambil menuntun kudanya, anak muda tersebut berjalan mendekati sosok yang diyakini adalah seorang perempuan tadi.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," ucap Hanan memberi salam. "Tètèh? Apa yang sedang Tètèh lakukan di sini?” tanyanya usai mendekat.
Benar adanya, sosok tersebut adalah seorang perempuan muda. Ditaksir usianya tidak seberapa jauh dengan umur Hanan sendiri.
"Maafkan saya," ucap perempuan itu dengan sikap malu-malu. Dia membungkukkan badan. "Saya hanya kebetulan lewat di sekitar pekuburan ini dan melihat ada orang sedang menyepi di sana. Maaf, kalau kehadiran saya mengganggu Tuan."
Hanan mengernyit, lantas mengulas senyum untuk menyikapi.
"Ah, tidak apa-apa," ujar Hanan setelah meyakini bahwa sosok tersebut benarlah seorang manusia. Bukan wujud jejadian. "Oh, iya … saya Hanan. Panggil saja dengan nama itu. Tidak perlu menyapa saya dengan panggilan tadi."
Sosok perempuan tersebut mengangguk pelan. "Saya Kedasih, Tuan Hanan," katanya memperkenalkan diri.
"Jangan panggil saya dengan sebutan 'Tuan', Tèh. Cukup panggil nama saja," balas Hanan merasa agak jengah dengan sapaan tadi.
Kembali sosok perempuan bernama Kedasih itu mengangguk dan lanjut berkata, "I-iya. Maafkan saya." Dia mengangkat wajah sebentar. "Kalau begitu, saya panggil Akang Hanan saja. Itupun kalau Akang tidak keberatan."
Hanan mengekeh pelan. "Nah, itu jauh lebih nyaman didengar," timpal anak muda tersebut kemudian. "Oh, iya … Tèh Kedasih tinggal di sekitar tempat ini?"
Jika diperhatikan dengan lebih teliti, paras wajah Kedasih cukup cantik. Hanya saja terlihat sedikit kusam, dipadu bersama balutan pakaian sederhana yang warnanya telah memudar. Mengenakan kain poleng bercorak batik dan kebaya usang menutupi sekujur badan.
Kedasih menggeleng, lantas menjawab, "Tidak, Kang. Rumah saya cukup jauh dari sini. Hanya saja, kebetulan sering lewat jalan ini untuk sekadar mencari ranting-ranting kayu." Dia menunjuk pada onggokan kayu-kayu kering yang sudah diikat kuat, tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri saat itu.
"Sendiri?" tanya Hanan penasaran.
Anak muda itu mengerutkan kening. "Tidak ada yang menemani? Mungkin dari keluarga Tèh Kedasih?"
Perempuan tersebut menggelengkan kepala. "Kedua orangtua saya sudah lama tiada, Kang," jawabnya pelan, lantas menunjuk pada jajaran makam di depannya. "Itu … tidak jauh dari makam yang Akang singgahi tadi."
Hanan turut menoleh ke belakang. "Astaghfirullah, maafkan atas pertanyaan saya baru saja, Tèh. Saya tidak tahu kalau Tètèh sudah tidak mempunyai orangtua."
Kedasih tersenyum kecut. "Tidak apa-apa, Kang," jawabnya lirih. "Zaman seperti sekarang ini, nasib orang seperti saya memang sudah terbiasa. Kehilangan orangtua atau keluarga. Bahkan yang bersuami pun, ada banyak menjanda."
Hanan menarik napas berat.
Memang benar. Perjuangan bangsa ini masih berat dan panjang. Sejak beberapa ratus tahun negeri ini dijajah, kematian bukanlah sebuah hal yang aneh terjadi di setiap waktu. Para prajurit kolonial, seringkali mengadakan pemeriksaan ke kampung-kampung untuk mencari-cari warga yang dicurigai sebagai kaum pemberontak. Sasaran mereka biasanya laki-laki dewasa dengan ciri-ciri telapak tangan kasar, lalu digiring ke kota untuk ditahan atau dimasukkan ke dalam sel penjara. Benar atau tidak atas tuduhan tersebut, kabar dukalah yang kerap menjawab.
Tadinya Hanan bermaksud hendak membantu mengantar Kedasih, tapi tertangguhkan begitu terdengar ringkik kuda dari arah kejauhan, disertai suara-suara panggilan seseorang. "Den Hanaaannn! Deeennn!"
'Ah, itu pasti suara Mang Dirman dan Aki Sendang Waruk,' pikir Hanan seraya menoleh ke arah asal suara panggilan tersebut. 'Untuk apa mereka sampai jauh-jauh menghampiri? Apakah mereka tengah mencari-cari aku?'
Kemudian Hanan membalik badan kembali pada sosok perempuan tadi. "Apa Tèh Ked—"
__ADS_1
"Maaf, Kang. Ada yang datang. Saya permisi pulang dulu," tukas Kedasih buru-buru melangkah. Memburu onggokan kayu bakar tadi dan bergegas menjauh dari sana.
"Hei, Tètèh! Tunggu sebentar!" seru Hanan memanggil. Namun Kedasih tetap melangkah dengan cepat. 'Ah, kasihan sekali perempuan itu. Dia harus pulang sendiri sambil membawa kayu bakar. Padahal … tadi … aku bermaksud mengantarnya.'
Sebentar kemudian, sesosok lelaki tua datang mendekat dimana Hanan saat itu tengah berada. Dia adalah Ki Sendang Waruk. Sementara Mang Dirman sendiri tampak dari kejauhan, menunggui di samping sado.
"Hanan, di sini rupanya kamu, Nak," ujar Ki Sendang Waruk begitu mendekat. "Saya sudah menduga, kamu pasti ke sini."
Hanan tidak menjawab. Dia masih melihat-lihat ke arah dimana sosok Kedasih tadi bergegas pergi.
"Siapa tadi, Nak?" tanya Ki Sendang Waruk turut memperhatikan sesosok perempuan yang sudah menjauh.
Sekali lagi, anak muda tersebut tidak ingin menjawab. Namun malah balik bertanya, "Mengapa Aki menyusul ke sini? Padahal Aki tidak perlu repot-repot seperti ini. Hanan juga pasti bakal kembali pulang ke rumah."
"Tapi saya sangat mengkhawatirkan kamu, Nak. Takut terjadi—"
"Hanan sudah besar, Ki," tukas Hanan tegas. "Insyaa Allah, Hanan bisa menjaga diri dan mencari-cari sendiri apa yang Hanan ingin ketahui. Apalagi tentang Ayah …." Matanya langsung tertuju pada kuburan ayahnya, mendiang Juragan Juanda, di depan sana.
"Saya paham, Nak. Tapi tolonglah, jangan merajuk seperti itu. Apalagi sampai meninggalkan percakapan begitu saja seperti tadi," ujar Ki Sendang Waruk mengingatkan. "Sebagai orang tua, saya mempunyai banyak pertimbangan untuk membantu menjawabkan, apa yang ingin kamu ketahui itu, Nak."
Hanan menoleh. Memandangi wajah uwak kekasihnya tersebut dengan lekat. "Merajuk?" tanyanya mengulang kata yang diucapkan oleh Ki Sendang Waruk baru saja. "Bahkan Hanan seperti merasa bahwa Aki masih menganggap Hanan bagai anak kecil yang belum saatnya mengurusi kehidupan Hanan sendiri."
"Maksud saya bukan begitu, Nak. Percayalah, banyak sekali pertimbangan-pertimbangan yang harus kamu pahami terlebih dahulu," kata Ki Sendang Waruk kembali, menegaskan. "Perlahan-lahan, saya akan membeberkan semuanya tanpa harus disembunyikan lagi."
Hanan menyipitkan mata. Tanyanya kemudian, "Berarti benar apa yang Hanan sangkakan selama ini, bahwa Aki belum sepenuhnya jujur tentang cerita-cerita Ayah itu, 'kan?"
Orang tua tersebut mengangguk.
Imbuh kembali Hanan bertanya, "Berarti Aki pun belum sepenuhnya mempercayai Hanan?"
"Hhmmm, maksud saya—"
"Saya akan menyanggupi semua tawaran dari Tuan Guus itu, tanpa harus menunggu persetujuan dari Aki ataupun Ibu," tukas Hanan sebelum bergegas menaiki kudanya. "Itu artinya, suka atau tidak, Hanan akan berjalan dan berpikir sesuai dengan apa yang Hanan kehendaki."
"Nak Hanan …." desah Ki Sendang Waruk terkejut.
"Maafkan saya, Ki," pungkas Hanan kembali. "Saya mau bertemu dengan Tuan Guus sekarang juga. Kami akan membicarakan tentang tawaran kerjasama itu."
"Nak Hanan!" seru Ki Sendang Waruk merasa percakapan mereka belum usai. Namun anak muda tersebut tidak mau mendengar. Dia segera melecut tali kekang kuda dan meninggalkan tempat tersebut.
"Ya, Tuhan …." desah orang tua itu seraya menggeleng-geleng bersusah hati. 'Aahhh, sifat anak muda itu tidak jauh berbeda dengan perilaku mendiang bapaknya, Juanda. Sama-sama keras kepala dan tidak mau mendengarkan petuah dariku.'
__ADS_1
Kemudian sebelum turut meninggal tempat tersebut, Ki Sendang Waruk menoleh kembali ke arah kemana sosok yang dikenal oleh Hanan sebagai Kedasih tadi menghilang. "Hhmmm …." deham orang tua itu dengan kelopak mata menyipit.
...BERSAMBUNG...