
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 66...
...—---- o0o —----...
Mang Dirman baru saja menepikan sadonya di bawah rindang pepohonan di belakang rumah, sekonyong-konyong Juragan Sumiarsih keluar menyongsong dari pintu dapur.
"Mang!" panggil perempuan tua tersebut seraya mendekat.
Mang Dirman menoleh dan langsung membungkuk. "Eh, Juragan," katanya seraya mengulas senyum. "Ada apa, Juragan? Ada yang bisa saya bantu?"
"Ah, tidak. Justru saya ingin bertanya," balas Juragan Sumiarsih. "Mengapa Mamang pulang? Tidak menunggu sampai Hanan nanti pulang, Mang?" imbuhnya kembali bertanya.
Senyum Mang Dirman seketika terhenti. Tampak sekali dia merasa bingung untuk menjawab. Sampai kemudian terpaksa berkata, "Saya disuruh Den Dokter untuk kembali ke rumah, Juragan."
"Loh, mengapa?" Juragan Sumiarsih mengerutkan kening. "Bukannya saya tadi saya sudah berpesan, Mamang harus menemani kemanapun Hanan pergi. Mamang lupa?"
Mang Dirman menggeleng. Jawabnya, "Sama sekali tidak, Juragan. Mohon maaf. Tapi … tadi Den Dokter sendiri yang meminta saya untuk pulang saja. Soalnya … nanti siang, ada sesuatu yang harus dilakukan oleh Den Dokter."
"Sesuatu?" Kening Juragan Sumiarsih semakin mengerut heran. "Sesuatu apa? Coba katakan dengan jelas, Mang. Saya masih sangat mengkhawatirkan anak itu."
Lelaki tua tersebut kembali membungkuk dan memberikan sembah permohonan maaf.
"Tadi … sebelum saya pulang kembali ke sini, ada Nona Roos datang ke Balai Kesehatan, Juragan," ungkap Mang Dirman perlahan.
"Apa? Gadis itu datang menemui Hanan di sana? Untuk apa?" cecar Juragan Sumiarsih semakin besar kekhawatirannya pada anak semata wayang dia tersebut.
Jawab Mang Dirman penuh kehati-hatian dalam berucap, "Mohon maaf, Juragan. Saya sendiri tidak mengetahui maksud kedatangan Nona Roos ke sana. Karena mereka berdua berbicara di dalam ruangan pemeriksaan, kalau saya tidak keliru."
Perempuan tua itu mengelus dada. "Mereka berbicara berdua dan Mamang sendiri tidak tahu apa yang mereka bicarakan? Begitu? Ya, Allah … cobaan apalagi ini yang kami hadapi sekarang?" Setelah itu menatap lekat kembali sosok kusir sado tersebut dan melanjutkan tanya, "Terus … setelah itu, apa yang mereka lakukan? Hanan tidak berkata apapun pada Mamang?"
Kembali Mang Dirman kebingungan harus menjawab. Tadi sebelum pergi, Hanan tidak menitipkan pesan apapun, terkecuali ….
"Den Dokter hanya berkata, kalau saya tidak perlu menjemput nanti siang, Juragan. Karena ada urusan yang akan Den Dokter lakukan seusai kerja."
"Hanya itu? Tidak ada yang lain? Ke mana akan pergi dan dengan siapa, mungkin?"
__ADS_1
Mang Dirman menggeleng-geleng pasrah.
"Aahhh!" desah Juragan Sumiarsih tampak kesal. "Sudah pasti anak itu akan pergi dengan anak perempuan laki-laki Belanda itu! Mereka berdua pasti sudah mengadakan perjanjian. Entah akan pergi kemana. Tapi … yang jelas, hal ini jangan sampai Nèng Bunga tahu. Mamang paham 'kan, maksud saya?"
Kali ini Mang Dirman mengangguk, mengerti. Sangat memahami apa yang dimaksud oleh majikannya tersebut. Tidak lain, agar jangan sampai Bunga merasa cemburu dan berpikir yang macam-macam terhadap Hanan. Kira-kira seperti itulah.
"Terus, sekarang … apa yang harus saya lakukan, Juragan? Apa saya harus kembali ke Balai Kesehatan dan menunggu sampai Den Dokter pulang nanti?" Lelaki tua itu meminta pendapat, sekaligus menantikan perintah susulan dari majikannya tersebut.
Juragan Sumiarsih menengok ke belakang beberapa saat untuk memastikan tidak ada sosok Bunga atau ketiga pekerja perempuan yang mengintip di ambang pintu dapur sana.
"Sekarang, antar Ceu Odah ke pasar. Setelah itu … nanti menjelang Dzuhur, Mamang kembali ke Balai Kesehatan tanpa sepengetahuan Hanan, tentunya. Ikuti dia, akan kemana dan dengan siapa perginya," kata Juragan Sumiarsih memberi perintah.
"Baik, Juragan!" sahut Mang Dirman langsung menyanggupi.
"Tapi ingat, Mang, begitu mengetahui tujuan Hanan pergi nanti, cepat-cepat Mamang kembali ke sini dan temui saya langsung," imbuh perempuan tua itu tegas dan jelas.
Tampak sekali rasa kekhawatiran akan keadaan Hanan begitu besar. Tidak ada gurat lembut sebagaimana yang biasa dikenal oleh Mang Dirman. Kali ini, Juragan Sumiarsih benar-benar berbeda sikap.
Sepanjang hari, sosok yang satu ini merasa gelisah. Dia ingin lekas-lekas menemui anaknya, Hanan. Hingga saatnya tiba, menjelang sore hari, anak muda tersebut langsung menemui ibunya di kamar.
"Aden ditunggu oleh Ibu, Den," kata Mang Dirman begitu Hanan tiba kembali di rumah, diantar oleh Ki Praja menggunakan sadonya.
"Baik, Mang. Terima kasih," sahut Hanan tampak santai. Kemudian mencari-cari sebentar, sampai akhirnya menemukan Juragan Sumiarsih berada di kamarnya sendiri. "Ibu memanggil Hanan?" tanya anak muda tersebut usai mengucap salam dan mencium tangan sosok terkasihnya dengan takzim.
Jawab Hanan pendek, "Belum, Bu."
"Sholatlah dulu. Setelah itu, temui Ibu di sini secepatnya," ujar perempuan tua tersebut masih dengan nada suara yang sama.
"Baik, Bu."
Hanan segera melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu. Kemudian bergegas kembali menuju kamar ibunya sambil membatin, 'Ada apa dengan sikap Ibu hari ini? Tidak biasanya beliau seperti itu. Apa mungkin ini berkaitan dengan kepergianku memenuhi undangan Nona Roos tadi? Terus Ibu tahu dari mana? Bukankah tadi siang aku sama sekali tidak mengatakan apapun pada Mang Dirman?'
… Dan benar saja, sesuai dengan apa yang diduga oleh Hanan tadi. Ibunya langsung membahas tentang kunjungan anak muda tersebut ke rumah Tuan Guus. Juragan Sumiarsih tidak ingin memaklumi alasan yang dikemukakan oleh putra semata wayangnya tersebut. Jelas-jelas sudah, dengan memenuhi undangan Nona Roos itu, akan memberi celah perlahan terhadap maksud yang terselubung dari pihak kedua ayah-anak itu.
"Nona Roos itu menyukai kamu, Hanan! Apa kamu tidak pernah merasa, perhatian dan sikap gadis itu begitu lain terhadapmu!" ungkap Juragan Sumiarsih dengan sisa kekesalannya sejak siang tadi. "Satu lagi yang harus diingat, kamu itu sudah terikat dengan Nèng Bunga."
Balas Hanan dengan sikap lembut dan tenang, "Memangnya mengapa, Bu? Selama ini Hanan hanya menganggap Nona Roos tidak lebih dari seorang teman saja. Dia datang ke tempat tugas Hanan dan sekaligus mengundang Hanan untuk makan siang bersama. Hanan sebenarnya sudah mau menolak, tapi … Nona Roos sudah terlanjur pergi. Setidaknya, dengan memenuhi undangan tadi, Hanan juga ingin berterima kasih pada Tuan Guus karena sudah berkenan membantu Hanan untuk bekerja di kampung sendiri, tanah kelahiran Hanan. Lagipula undangan itu tadi bukan atas pribadi Nona Roos sendiri, tapi dari Tuan Guus. Ayahnya. Apa itu salah, Bu?"
Juragan Sumiarsih menggeleng-geleng. Kesal.
__ADS_1
"Tapi setidaknya, sebelum menyanggupi atau melakukan sesuatu itu, dipikir-pikir dulu atuh, Hanan. Kamu itu sebagai lelaki dewasa, masa tidak peka dengan sikap Nona Roos? Dia menyukai kamu, Kasèp," tandas ibunya merasa gemas.
Hanan tersenyum mengamati sikap ibunya tersebut, kemudian menimpali, "Sudah lama Hanan pahami kok, Bu. Bahkan sewaktu pertama kali bertemu dengan Roos waktu lalu itu." Dia menggenggam jemari sosok terkasihnya. "Hanan hanya manusia biasa, Bu. Hanya tidak akan pernah mampu membuat seseorang untuk tidak menyukai Hanan. Itu hak setiap individu manusia dan merupakan sebuah anugerah. Tapi … Hanan juga sadar, untuk masalah hati seperti itu, Hanan juga sudah memiliki tambatan dan pilihan sendiri. Seseorang yang sudah Ayah dan Ibu persiapkan untuk Hanan sejak belia. Bunga, Bu, Bunga …."
Juragan Sumiarsih menoleh, memandangi wajah Hanan yang begitu mirip sekali dengan mendiang suaminya. "Tapi jangan terlalu mudah memberi harapan pada setiap perempuan yang dekat denganmu, Hanan sayang."
"Harapan? Hanan tidak pernah memberikan harapan apapun, terkecuali pada Bunga, Bu. Hanan hanya ingin bersikap baik dan somèah terhadap semua orang, tanpa harus membeda-bedakan jenis kelaminnya," balas Hanan terdengar bijaksana.
Juragan Sumiarsih mendesah, lirih. "Hati perempuan itu berbeda dengan perasaan laki-laki, Anak Ibu Yang Tampan." Hanan tersenyum geli mendengar kata sapaan ibunya tersebut. "Ibu sendiri pernah mengalaminya. Tidak terkecuali almarhum ayahmu juga. Kalau hati seorang perempuan sudah terlanjur melabuhkan diri pada satu laki-laki, akan teramat sulit sekali untuk bisa menerima penggantinya. Kalaupun mampu, akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Berat, tapi rasanya akan tetap tawar."
Hanan menyipitkan matanya. Benak anak muda itu berpikir lain. Sampai kemudian, secara tidak terduga, mengajukan pertanyaan mengejutkan. "Ibu masih mengharapkan Ki Sendang Waruk?" tanyanya perlahan.
Sontak saja, perempuan tua tersebut terperanjat. Mulutnya sampai menganga hendak menjawab, tapi tidak satu patah kata pun mampu terucap.
"Assalamu'alaikum …."
Tok! Tok! Tok!
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar. Serentak Juragan Sumiarsih dan Hanan menoleh ke arah yang sama.
"Wa'alaikumussalaam! Ada apa, Ceu Odah?" tanya Hanan langsung mengenali suata pemilik suara di balik luar kamar itu.
"Mohon maaf, Den Dokter. Ada seorang warga ingin bertemu dengan Den Dokter," jawab Ceu Odah agak keras.
"Iya, suruh tunggu sebentar!" seru Hanan kemudian.
"Baik, Den!" sahut kembali Ceu Odah.
Hanan kembali menoleh, menatap wajah ibunya dalam-dalam. "Percakapan kita belum selesai ya, Bu. Pertanyaan Hanan yang terakhir baru saja pun, belum dijawab. Nanti kita lanjut."
"Siapa itu yang datang?" tanya Juragan Sumiarsih penasaran.
Jawab Hanan langsung teringat seseorang, "Oh, itu tadi … warga yang berobat ke Balai Kesehatan, tapi obatnya belum sempat diambil." Sebelum membuka pintu kamar, anak muda tersebut kembali berkata, "Adakalanya pengalaman hidup seorang anak dengan orangtua itu tidak sama persis, Bu. Karena masanya dipengaruhi oleh perkembangan zaman dan budaya. Tapi kalau Ibu mau berbagi ilmu tentang kesetiaan, Hanan akan senang hati berguru pada Ibu seorang."
Juragan Sumiarsih tersenyum.
'Hhmmm, anak itu tidak jauh sifatnya dengan Kang Juanda,' desahnya di dalam hati. 'Tapi karena kebaikan Kang Juanda juga, banyak perempuan-perempuan yang keliru menafsirkan kebaikan serta keramahan beliau. Bahkan, jika saja bukan Kang Juanda yang ditakdirkan berjodoh denganku, mungkin aku sendiri belum tentu sanggup melupakan sosok Kang Èndang dulu.'
Lantas bayangannya pun sejenak kembali ke masa silam. Menghadirkan satu sosok yang belum terlupakan hingga kini, yakni ….
__ADS_1
'Nyai Ayu … apakah cuma dia seorang yang mampu meluruhkan makna sebuah kesetiaan bagi seorang Kang Èndang? Kini dia kembali mendekat, tapi di antara kami malah semakin terasa saling menjauh.'
...BERSAMBUNG...