
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 65...
...—---- o0o —----...
"Hei, Dasimah!" seru Roosje begitu sosok Dasimah muncul tergopoh-gopoh di dapur. "Ke mana saja kamu orang, heh? Saya cari-cari kamu orang dari tadi."
"Maafkan saya, Nona," ujar Dasimah tampak pucat ketakutan. "S-saya baru kembali dari kebun belakang. T-tadi … mencari-cari sedikit bahan bumbu untuk memasak." Dia melirik sejenak ke arah Ambu Darsih yang tampak sedang sibuk sendiri di dekat tungku perapian. "Nona mencari saya? Maaf, apa yang bisa saya lakukan untuk Nona sekarang?"
Roosje mendengkus kesal, lantas berkata, "Kamu orang buatkan itu minuman untuk tamu saya Hanan di ruang depan, ya? En bawakan sekarang juga. Jangan berlama-lama!"
"B-baik, Nona. S-segera saya laksanakan," balas Dasimah tergagap-gagap sambil menyingsingkan lengan kebayanya secara tidak sengaja. "S-sebentar, a-akan saya buat dan bawakan sekarang juga."
Tiba-tiba kelopak mata Roosje membulat besar. Dia terkejut begitu melihat ada lebam merah kebiruan di lengan perempuan tersebut. "Luka apa ini, Dasimah?" tanya gadis tersebut seraya menyentuh memar tadi di lengan Dasimah.
"Aahhh!" jerit Dasimah kesakitan. "J-jangan dipegang, Nona!" serunya sambil menepiskan tangan.
Roosje menarik kembali gapaian jemarinya atas lengan Dasimah. Keningnya langsung berkerut heran, memperhatikan warna kemerahan tadi dan bertanya-tanya, "Apa yang terjadi padamu orang, Dasimah? Itu luka memar karena apa? Kamu orang terjatuh atau …."
Tukas Dasimah dengan cepat, "I-iya, Nona. Tadi saya terpeleset jatuh di kebun. T-tapi … tidak apa-apa, hanya sedikit memar saja. Nanti juga akan sembuh dengan sendirinya, Nona."
Perempuan muda tersebut berupaya menghindar agar Roosje tidak lagi memperhatikan dan bertanya-tanya tentang luka-luka yang dialaminya tersebut.
"Ah, tapi saya pikir itu sepertinya bukan luka karena jatuh, Dasimah. Bentuknya tidak seperti itu," ucap Roosje masih penasaran dan terheran-heran. "Nanti saya pintakan itu Dokter Hanan untuk periksakan luka-luka kamu orang, heh."
"T-tidak perlu, Nona. S-saya bisa mengobatinya sendiri," ujar Dasimah mulai panik. "Saya punya obat gosok, paparem, yang biasa saya pakai untuk luka memar seperti ini."
Gadis cantik berkulit bule itu bergeming. "Ah, sudahlah. Sekarang kamu orang bawakan saja itu minuman ke depan. Sebentar lagi, siapkan juga makan siang untuk kita orang bertiga. Karena itu Dokter Hanan akan ikut bersama kami," kata Roosje sebelum bergegas kembali ke ruang dimana Hanan dan Tuan Guus saat itu berada.
"B-baik, Nona," timpal Dasimah. Dengan cekatan sambil menahan deraan rasa sakit di sekujur badan, perempuan itu segera menyiapkan permintaan Roosje baru saja.
Tidak sadar, air mata Dasimah pun berderai menganak sungai, diiringi isak tertahan di kala sibuk membuatkan minuman.
__ADS_1
"Nèng …." panggil Ambu Darsih yang sejak tadi memilih diam karena takut mendapat kemarahan Roosje. "Tuan Guus memperlakukan kamu dengan semena-mena lagi 'kan, Nèng?" tanya wanita renta tersebut seraya mendekat dan mengelus-elus punggung Dasimah. "Tuan Guus yang melakukannya padamu, 'kan?"
Dasimah menjawab setelah menyeka air mata terlebih dahulu, "Imah ingin pergi dari sini, Ambu. Imah sudah tidak tahan lagi."
Mata tua Ambu Darsih turut berkacamata sedih. "Ya, Allah … lalu kalau Enèng pergi, Ambu dengan siapa di sini, Nèng? Ambu sudah tidak punya siapa-siapa lagi, kecuali Enèng seorang."
Tiba-tiba Dasimah menghambur peluk pada sosok wanita tua tersebut. Dia menangis tertahan, karena khawatir suaranya akan terdengar oleh Tuan Guus atau Roosje di ruangan depan sana.
"Hidup Imah sudah tidak ada harganya lagi, Ambu," ucap Dasimah lirih. "Tuan Guus sudah mengambil semuanya tanpa sisa dari Imah."
"Ya, Allah!" seru kembali Ambu Darsih lirih.
"Imah merasa tidak ada gunanya lagi hidup. Imah sudah kotor, Ambu. Hidup Imah hancur."
Sebentar kemudian, buru-buru Dasimah melepaskan pelukan. Dia teringat, harus segera mengantarkan minuman ke ruang depan secepatnya. Kemudian mengusap-usap basahan pipi serta linangan air mata agar tidak meninggalkan bekas di hadapan mereka nanti.
"Imah ke depan dulu ya, Ambu," ucap Dasimah sebelum melangkah meninggalkan dapur.
"Hati-hati, Nèng," ujar Ambu Darsih mengingatkan. Dia mengusap dada yang serasa menyesak, memperhatikan sosok perempuan muda itu bergegas meninggalkannya di sana. 'Ya, Rabbi … malang benar nasib kita berdua, Nèng Imah. Kamu yang aku rawat sejak bayi dan kuharapkan menjadi perempuan terhormat, nyatanya kini bernasib sama sepertiku. Bahkan, dia jauh lebih malang lagi harus menjalani hidup seperti ini.'
Masih dibebani perasaan bersedih, sosok tua Ambu Darsih, kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
"Aahhh, ini minumannya, Hanan," ucap Roosje begitu melihat kemunculan Dasimah di ruangan sambil membawa tiga gelas minuman di atas baki. "Kamu orang tentu sudah sangat kehausan, bukan? He-he."
"Terima kasih," balas Hanan seraya memperhatikan Dasimah yang selalu menundukkan kepala. "Apa kabar, Nèng Imah? Enèng baik-baik saja, 'kan?" tanya anak muda tersebut bermaksud berbasa-basi. Karena pada pertemuan mereka tadi, belum sempat saling bertegur sapa dengan baik.
Dasimah menjawab, tapi cukup dengan anggukkan kepala saja.
Tentu saja hal tersebut tidak luput dari perhatian Tuan Guus maupun Hanan sendiri.
"Oh, iya … saya mau minta tolong kamu orang, Dokter Hanan," kata Roosje tiba-tiba sambil mencekal tangan Dasimah yang buru-buru hendak bangkit dari posisi jongkoknya saat memindahkan isi baki tadi. "Ini … aku lihat tangan Dasimah terluka tadi. Coba Dokter Hanan periksa, apakah ini berbahaya atau hanya sekadar luka memar biasa?"
Dasimah terkejut bukan kepalang. Dia meronta untuk melepaskan cekalan tangan Roosje, sembari melirik-lirik ke arah Tuan Guus. Hal yang sama pun dirasakan oleh sosok yang satu itu, Tuan Guus sendiri.
"Ah, jangan, Nona. Biar saya obati sendiri," pinta Dasimah mendadak merasa semakin ketakutan oleh sorot mata Tuan Guus.
__ADS_1
"Diamlah kamu orang, Dasimah!" ujar Roosje seraya menahan entakkan tangan pembantunya tersebut. "Biar kamu diperiksa Dokter Hanan terlebih dahulu."
"Tidak ah, Nona. Jangan," kata Dasimah kembali memelas.
Hanan yang sesaat memperhatikan sikap Dasimah dan Roosje segera menengahi. "Permisi, coba saya periksa dulu sebentar, Nèng," ucap lelaki muda tersebut seraya bangkit dan menghampiri.
Dasimah masih berusaha menjauh begitu didekati Hanan. Namun dengan lembut dan perlahan, sosok dokter muda itu meminta izin untuk memeriksa luka di tangan perempuan tersebut. "Jangan takut, Nèng. Saya hanya ingin melihatnya sebentar," ucapnya menyejukkan. "Nèng Imah 'kan sudah tahu saya sejak dulu. Jadi percayalah, saya tidak akan menyakiti Enèng, kok."
"K-kaaannggg …." desah Dasimah lirih. Dia menatap pilu mata teman semasa kecilnya dulu. Seakan-akan ingin menyampaikan sebuah pesan terselubung pada sosok lelaki tersebut.
"Iya, Nèng. Sebentar saja, ya. Biar saya periksa sedikit," ucap Hanan lembut sekaligus memberi kesan lain di mata seorang Roosje.
Kemudian dia menyingsingkan sedikit kain kebaya di lengan Dasimah setelah terlebih dahulu meminta izin. Memeriksa, memperhatikan, serta menyentuh sebentar untuk memastikan. Tentu saja hal tersebut tidak luput dari tatapan Tuan Guus di antara mereka. Anehnya, lelaki bule bertubuh tinggi tegap itu malah terkesan santai.
"Bagaimana, Dokter Hanan?" tanya Roosje penasaran sejak di dapur tadi.
Hanan hanya tersenyum dikulum. Dia menutupi kembali kain penutup lengan Dasimah dan bangkit untuk duduk di tempatnya semula.
Jawab Dokter muda tersebut, "Hanya luka memar biasa dan ada beberapa faktor lain yang menyebabkannya."
"Faktor apa, Dokter Hanan?" tanya Roosje kembali semakin penasaran. Sejenak dia melirik pada sosok Dasimah yang masih berjongkok dengan wajah tertunduk dalam-dalam.
Hanan tidak langsung menjawab pertanyaan dari Roosje, tapi dia mengimbau pada Dasimah agar kembali ke dapur. "Besok pagi, Nèng datang ke Balai Kesehatan ya, Nèng. Saya akan memberi obat untuk luka-luka di tangan Enèng itu," pintanya kemudian.
Dasimah mengangguk dan lekas meninggalkan mereka bertiga di ruangan itu.
"O, iya … maafkan saya, Nona," imbuh Hanan usai Dasimah berlalu. "Faktor yang saya duga untuk sementara, mungkin bisa karena … terkana pukulan, tekanan, tertimpa benda keras dan tumpul, atau bisa juga akibat terjatuh."
"Ah, sepertinya begitu, Anak Muda," timpal Tuan Guus menyela. "Saya sependapat dengan apa yang kamu orang katakan itu. He-he."
Hanan ikut tersenyum seraya melirik wajah Tuan Guus sejenak.
"Apakah itu berbahaya, Dokter Hanan?" cecar Roosje kembali bertanya-tanya sejak tadi.
Jawab Dokter tersebut di dalam hati, 'Akan jauh lebih berbahaya jika Nèng Dasimah masih tetap tinggal di rumah ini!' Kemudian melirik pada Tuan Guus yang tengah menatapnya dengan kelopak mata menyipit.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...