Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 77


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 77...


...—---- o0o —----...


Nyai Kasambi malah tertawa-tawa. Ujarnya kemudian, "Memang itu yang aku inginkan, Kedasih. Aku tidak pernah mendapatkan lelaki yang kucintai, dan kau pun sama-sama tersiksa dengan pendaman perasaanmu terhadap laki-laki yang kau harapkan. Jadi … kita impas, 'kan? Ha-ha-ha!"


"Aku memang mencintai Kang Waruk! Bukan seperti kau, yang telah tega-teganya mempermainkan dia!" balas Kedasih tidak ingin mengalah, berdebat. "Kau sengaja menjebak dia dengan kehamilanmu dulu, agar perhatian Kang Waruk hanya terfokus padamu. Iya, 'kan?"


"Apa yang mereka maksudkan itu, Mang?" Hanan dan Mang Dirman spontan saling bertatapan dan bergumam heran. "Maksud mereka … apakah laki-laki yang sedang mereka bicarakan itu … Ki Sendang Waruk?"


Jawab Mang Dirman sambil berpikir-pikir, "Sepertinya ada dua orang laki-laki, Den."


"Iya, saya tahu itu," balas Hanan dengan cepat. "Tapi … siapa orang-orang yang mereka maksud itu sebenarnya, ya? Apakah mereka …."


Tukas Mang Dirman dengan suara berseru, "Den, kedua perempuan itu mulai bertarung!" Lantas mengusap dada, kesakitan, disertai raut wajah menyeringai.


Benar saja, Nyai Kasambi dan Kedasih mulai terlibat pertarungan yang sengit. Keduanya sibuk melancarkan serangan demi serangan jarak jauh pada mulanya, hingga kemudian semakin mendekat dan beradu fisik.


Walaupun Nyai Kasambi tampak tua dengan kondisi tubuh bongkok, tapi nyatanya gerakan perempuan berwajah mengerikan tersebut terlihat tangkas, mengeluarkan jurus-jurus serta menangkis aksi serbuan dari Kedasih.


Awalnya mereka bertarung dengan seimbang, sampai kemudian perlahan-lahan Kedasih tampak mulai kewalahan menghadapi serangan-serangan dari Nyai Kasambi.


"Hi-hi-hi! Kau pikir, kau bisa mengalahkanku dengan mudah seperti dulu? Hi-hi … tidak segampang itu, Kedasih," ujar Nyai Kasambi jemawa. "Aku bukanlah seorang Kasambi yang kau kenal dulu. Camkan itu!"


Kedasih tampak sedikit risau. Dia melihat-lihat sejenak ke empat penjuru arah, mencari-cari sosok Hanan dan Mang Dirman yang —mungkin menurutnya— tengah bersembunyi. "Hanan, lekas tinggalkan tempat ini! Bawa sadomu menjauh dari sini!" teriak perempuan itu seraya bersikap waspada terhadap serangan susulan dari Nyai Kasambi.


"Hi-hi-hi!" Sosok dukun tua itu mengikik keras. "Rupanya kau mulai merasa ketakutan, Kedasih," katanya parau, kemudian mulai melakukan gerakan tertentu. Seperti sedang mengumpulkan segenap tenaga dalam yang dimiliki dan memusatkannya pada area tangan.


Kedasih bersiap-siap menghadapi serangan yang hendak dilancarkan oleh Nyai Kasambi. Memasang kuda-kuda dan menekan pijakan kaki ke tanah sebagai tumpuan kuat.


"Hanan, cepatlah!" teriak kembali Kedasih dan merasa waktu yang ada, semakin menipis untuk mengingatkan.


Hanan dan Mang Dirman lekas-lekas keluar dari balik persembunyian mereka. Dia menuntun lengan lelaki tua tersebut yang masih tampak merasakan kesakitan.

__ADS_1


"Cepat, Mang! Kedasih menyuruh kita agar lekas pergi dari sini!" ujar dokter muda itu panik.


"I-iya, Den, i-iya," timpal Mang Dirman seraya pegangi dada disertai seringai di wajah tuanya.


Detik-detik masa terasa cepat berjalan. Hanan dan Mang Dirman hampir saja mendekat ke arah sado, sampai kemudian seruan parau Nyai Kasambi memecah fokus kedua laki-laki tersebut.


"Mau lari ke mana kalian berdua?" ujar dukun tua tersebut seraya memutar badan, menghadap Hanan dan Mang Dirman.


Segenap kedua tangan Nyai Kasambi bergetar hebat hingga menyebabkan tongkat di tangannya turut bergoyang-goyang cepat ke samping kiri dan kanan. Lantas bersiap-siap hendak melancarkan aksi serangan terhadap kedua laki-laki tadi.


Dor!


Terdengar sebuah letusan menggema di sekitar tempat tersebut. Sontak membuat semua yang tengah berada di sana terkejut bukan kepalang.


"Aahhh!" Nyai Kasambi terhuyung ke belakang sambil pegangi bahunya yang mengepulkan asap tipis. Seketika pikiran serta perhatian dukun tua tersebut teralihkan dengan rasa sakit yang mendera. "Jahanam!" rutuknya diiringi suara menggeram, memutari pandangan untuk mencari asal suara tembakan tadi datang.


Kesempatan itu dipergunakan oleh Hanan dan Mang Dirman untuk segera menaiki sado. Dengan cekatan, dokter muda itu mengambil alih kendali kuda, usai memastikan sosok kusir keluarganya terduduk aman di bangku belakang.


"Hiaaa!" Hanan berseru nyaring dan mengentak tali kekang kuda disertai lecutan cambuk pada bagian tubuh si Jalu. "Pegang kuat-kuat, Mang!" seru lelaki muda tersebut. Sesaat dia menoleh pada sosok Kedasih yang terlihat masih tengah melihat-lihat sekitar tempat, sama halnya dengan yang dilakukan oleh Nyai Kasambi tadi.


Tidak menemukan sosok yang dicari-cari, lantas Nyai Kasambi pun —kembali— mengalihkan perhatiannya pada Kedasih.


"Rupanya kau membawa-bawa orang di belakangku, Kedasih! Sungguh pengecut sekali! Aarrgghhh!" geram Nyai Kasambi disertai sorot mata penuh amarah.


"Apa maksudmu, Kasambi?" tanya Kedasih berupaya mengelak. "Aku datang seorang diri ke sini dan itu pun tidak sengaja, menemukan kau yang sedang memperdaya laki-laki muda tadi!"


Nyai Kasambi menyeringai mengerikan, menahan rasa sakit akibat luka tembak yang dia rasa.


"Huh, jangan kau pikir merasa menang sekarang, Kedasih, karena aku masih penasaran dengan anak muda itu," ujar perempuan tua berpipi gelambir dan bopeng tersebut. "Aku membaui aroma masa lalu yang belum usai hingga kini, pada sosok dia. Siapa tadi kau sebut, hhmmm … Hanan. Ya, Hanan. Akan kuingat-ingat nama itu, sampai aku sendiri yang akan menjamahnya dengan ke sepuluh jemariku. Hi-hi-hi!"


Kedasih mengumbar senyum masam. Dia dongakkan kepala sedikit ke atas, lantas berujar sinis, "Rupanya kau masih penasaran dengan lelaki yang telah membuatmu patah hati itu, Kasambi. Padahal dia telah lama—"


"Diam kau, Kedasih!" tukas Nyai Kasambi menyentak. "Bagiku, tidak kudapatkan bapaknya, sudah sepatutnya anaknyalah yang harus menjadi pengganti untuk mengobati rasa sakit hati ini! Kau ingat itu!"


"Berarti, sekarang tugasku bertambah," balas Kedasih tidak mau kalah. "Aku juga harus mencegahmu melakukan hal buruk untuk anak muda tadi. Jangan kau pikir aku akan tinggal diam saja!"


Nyai Kasambi tergelak-gelak di antara ringis nyeri yang dirasa di bahunya.

__ADS_1


"Terserah, tapi untuk saat ini, aku akan pergi. Tapi itu bukan berarti aku mengakui kekalahan darimu, Kedasih," ujar perempuan tua berwajah buruk tersebut, sembari memutari pandangan ke sekitar tempat di sana. "Seorang pengecut laknat telah membokongku dari belakang dan aku tahu, siapa dia gerangan."


Usai berkata-kata, Nyai Kasambi bergegas meninggalkan tempat tersebut dengan cepat. Walaupun bertubuh ringkih dan bongkok, tapi nyatanya dia mampu berlari dan menghilang dalam sekejap mata.


Kedasih tidak berusaha mengejar. Dia bergeming di atas pijakan kakinya yang gemetar. Lantas ambruk seketika dengan posisi lutut menghantam tanah terlebih dahulu


Bruk!


Dia mengusap dada sejenak sebelum akhirnya memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Ooeekkk!"


Lelehan sisa darah yang menganak sungai di bibir serta dagu, segera menghiasi raut wajah perempuan yang terlihat masih muda tersebut. Dia menyeringai nyeri, berusaha bangkit dengan tubuh limbung.


'Aahhh, semoga aku bisa berjalan pulang ke tempat persembunyianku selama ini,' katanya di dalam hati.


Namun tidak berselang lama, penglihatannya mulai berubah menguning disertai denging suara memutari kepala.


Di saat-saat kesadarannya mengabur, samar-samar dia melihat sesosok manusia datang mendekat. Berteriak memanggil-manggil tidak jelas, bercampur dengan gaung memusingkan ruang pendengaran. Berdenging nyaring dan kian membesar.


"Aahhh!"


Detik-detik menegangkan itu pun nyaris membuatnya terjatuh, ambruk menghantam permukaan jalanan yang kering dan berkerikil.


"Emaakkk!" teriak sosok tadi seraya buru-buru —menghambur— menahan tubuh Kedasih ke dalam pelukannya di dada.


Perlahan-lahan dia turunkan sosok perempuan tersebut ke bawah dengan posisi masih tetap bersandar di dada, kemudian menyelipkan terlebih dahulu sebuah senjata laras pendek ke belakang, di tengah-tengah lipatan celana di pinggang.


"Mak, sudah kubilang, jangan lagi mengurusi hal ini sejak lama, tapi Emak selalu bersikeras," ujar sosok tadi usai memastikan kondisi perempuan tersebut masih hidup dan hanya mengalami pingsan. "Akhirnya, Emak jadi begini, 'kan? Untung saja, aku membuntuti langkah Emak sejak tadi. Kalau tidak, dukun laknat itu akan dengan mudah memperdaya Emak."


Kemudian, sebelum ada yang memergoki mereka di tempat tersebut, sosok tadi segera membopong Kedasih dan bergegas pergi dengan langkah berat, bersusah payah.


'Semoga saja, Aden Dokter Hanan dan Mang Dirman, sudah berada di rumahnya dalam keadaan selamat,' gumamnya berlanjut di tengah-tengah langkah. 'Aku harus segera pergi dari sini, sebelum ada seseorang yang datang, setelah mendengar bunyi letusan senjata ini tadi….'


Dia tersaruk-saruk memilih cara pintas, dengan menerobos, memasuki rimbunan semak-semak belukar yang begitu rapat menghalangi pandangan. Sengaja, agar jangan sampai ada yang membuntuti, ketimbang menyusuri, mengikuti jalur di sepanjang ruas jalanan.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2