Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 12


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 12...


...—---- o0o —----...


Mang Dirman dan Bunga terperanjat mendengar suara-suara teriakan tadi. Mereka melihat-lihat ke arah sebelumnya Hanan menunjuk-nunjuk.


"Mang, apa yang terjadi pada Aa Hanan?" tanya Bunga panik. Dia hendak turun dari atas sado, tapi dengan cepat Mang Dirman menahannya. "Jangan turun, Nèng! Tetap di sana!" seru sosok tua tersebut. Dia sendiri bingung, harus menyusul Hanan atau tetap diam menjaga Bunga.


"T-tapi … t-tapi … Mang! Aa Hanan …." Bunga tersedu sedan mengkhawatirkan kekasihnya. Berulangkali gadis itu nekat untuk turun, selama itu pula dicegah kusir sado tersebut.


"Jangan turun, Nèng! Berbahaya! Dengarkan kata saya, tetap berada di sini!" sahut Mang Dirman digayuti rasa dilema.


"Ya, Allah … bagaimana ini?" Kelopak mata Bunga sudah berair. Dia menangis. Lantas berteriak sekencang mungkin, "Ada Hanaaannn! Aa Hanaaannn!"


Namun tidak ada sahutan atau balasan sama sekali.


"Mang, cepat lihat ke sana! Lihat apa yang terjadi dan cari Aa Hanan sampai bertemu!" titah Bunga benar-benar panik di antara dera ketakutannya.


Mang Dirman menoleh. "T-tapi Enèng Bunga di sini—"


"Biar saya di sini menunggu! Mamang cepat-cepat ke sana sekarang juga!"


Sejenak laki-laki tua itu berpikir, hingga kemudian dia menuruti permintaan kekasih dari anak majikannya tersebut.


"B-baik … t-tapi Enèng tunggu di sini. Jangan turun dan pergi menyusul, ya?"


"Iya, Mang. Cepaattt!"


"I-iya, N-nèng!"


Baru saja beberapa langkah kaki tuanya berayun secepat mungkin, tiba-tiba dari balik semak-semak muncul sosok Hanan. Anak muda itu setengah berlari, kembali mendekati tempat semula dimana Mang Dirman dan Bunga berada.


"Den Hanan?"


"Aa Hanan!" panggil Bunga masih terlihat panik dan hendak turun dari atas sado.


"Tahan! Jangan turun, Nèng! Nanti kamu jatuh!" teriak Hanan memperingatkan. "Aku akan segera ke sana!"


Bunga mengurungkan niatnya. Dia menatap sosok terkasihnya dan memastikan tidak terjadi apa-apa pada lelaki tersebut.


"Deennn …." Mang Dirman menghambur peluk anak majikannya. Kemudian meneliti sekujur pakaian yang dikenakan oleh Hanan. "Aden tidak apa-apa, 'kan?" tanyanya, terdengar begitu mengkhawatirkan. Tidak ada luka maupun sesuatu yang sempat menimbulkan benaknya berpikir yang tidak-tidak.


"Alhamdulillah, Mang. Saya tidak apa-apa, kok," jawab Hanan enteng dan merasa heran dengan sikap orang tua tersebut.


"Ya, Allah … syukurlah, Alhamdulillah. Saya senang sekali, Den. Tapi … tadi sempat cemas pada Aden," kata Mang Dirman dengan suara sedikit bergetar. "Apa yang sebenarnya terjadi tadi, Den?"


Anak muda itu tidak langsung menjawab, dia malah bergegas menghampiri sosok Bunga di atas sado.


"Aa …." desis Bunga bercampur Isak tangis.


"Aku tidak apa-apa, Nèng," kata Hanan seraya membantu gadis itu turun dari sado. "Lihat, tidak ada apa-apa dengan … hups!"


"Aa …."


Tiba-tiba Bunga memeluk tubuh Hanan dan hal itu sempat membuatnya bingung serta malu. Tidak tahu harus membalas atau lekas meminta gadis itu untuk segera melepaskan dekapannya.


"Nèng?"


"Aku sangat mengkhawatirkan kamu, Aa," ucap Bunga dibarengi isak tangisnya.


"I-iya … tapi tolong lepaskan dulu pelukannya, Nèng," pinta Hanan terbata-bata. "Malu dilihat oleh Mang Dirman. Kita belum halal, Nèng."


Bunga langsung tersadar. Lekas dia melepaskan pelukan dan mundur beberapa langkah dari hadapan Hanan dengan rasa malu tidak terhingga.

__ADS_1


"M-maafkan aku, Aa. A-aku … khilaf. Astaghfirullahal'adziim," ujar gadis itu buru-buru beristighfar. Seketika wajahnya berubah merah padam. Sampai-sampai tidak berani menatap Hanan maupun Mang Dirman sedikitpun.


"Eehhmmm …." Hanan mendeham bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Menoleh pada Mang Dirman yang tengah berpura-pura tidak melihat kejadian yang baru saja dia saksikan. "Uummhh … Mang?"


Sosok tua itu menjawab tanpa sedikitpun mau menoleh, "Aden tenang saja. Saya tidak melihat apa-apa kok, Den."


Hanan semakin bingung. Sampai-sampai dia mengusap-usap dagu sendiri dan meraba wajahnya yang terasa agak panas. Sebagaimana Bunga, kulit pipinya pun tampak memerah malu.


"Uummhhh … sebaiknya kita pulang saja sekarang, Mang," ucap Hanan akhirnya dan langsung dipatuhi oleh Mang Dirman.


"Baik, Den."


Sementara Bunga sendiri tampaknya sudah terlebih dahulu naik kembali ke atas sado, sewaktu Hanan berbicara pada Mang Dirman baru saja. Dia diam tertunduk dan sesekali menyeka sisa air mata di pelupuk mata.


Sebentar kemudian, roda sado pun berputar haluan. Kembali menuju jalan yang sebelumnya mereka lalui, menuju rumah kediaman keluarga Hanan.


Suasana berubah sunyi. Tidak ada satu pun yang berani mencoba untuk membuka suara. Terlebih Bunga sendiri. Hingga akhirnya, suara Hanan memecah kebisuan di antara mereka.


"Nèng …."


Gadis itu langsung membalas, "Maafkan aku, Aa. Tadi itu … aku sama sekali tidak sadar. A-aku …." Dia masih menunduk dalam-dalam. Duduk menyamping dan tidak berani menatap mata kekasihnya.


"Jangan terlalu dipikirkan, Nèng," tukas Hanan dengan cepat. "Aku tidak menyalahkan kamu, kok. Aku memahami perasaan kamu, Nèng."


Bunga menggeleng. "T-tapi aku malu, Aa," katanya pelan.


Hanan manggut-manggut.


"Alhamdulillah atuh kalau begitu," kata anak muda tersebut seraya tersenyum. "Hal itu berarti Enèng masih beriman."


Bunga melirik sedikit. Dia ingin menatap mata lelaki pujaannya, tapi masih digayuti rasa malu. "Maksud Aa?" tanya usai menoleh dengan ujung matanya.


"Kalau Nèng merasa malu, itu tandanya Enèng masih mempunyai rasa iman," jawab Hanan mengulangi kalimat sebelumnya. "Bukankah rasa malu itu sebagian dari iman? Iya, 'kan. He-he-he."


"Ih, Aa."


"Dih, Aa maaahhh!" rengek Bunga manja dan mulai berani mengangkat wajah. "Atuh da kamu mah begitu, Aa. Aku kira tèh ada apa dengan kamu. Aku sampai hawatos pisan tadi."


"iya, Nèng. Maafkan aku, ya?" Hanan mesem-mesem, tapi kemudian wajahnya berubah muram. Ujar laki-laki berparas rupawan tersebut, "Tadi … aku bertemu dengan seseorang …."


"Seseorang, Den? Siapa?" tanya Mang Dirman langsung menyambar sambil memegang tali kekang kuda.


"Iya, Aa. Siapa itu tèh? Warga kampung ini, bukan?" Bunga turut bertanya penasaran.


Hanan mendesah, sedih. Lantas mengangguk kecil.


"Betul, Nèng-Mang," jawab putra tunggal Sumiarsih itu. "Dulu malah pernah kerja di perkebunan ini."


"Hah?"


"Siapa?"


"Uummhhh … aku tidak bisa menyebut namanya, tapi aku masih kenal dengan dia," ungkap Hanan pelan-pelan. "Dulu sewaktu almarhum Ayah masih ada, orang itu paling rajin bekerja di perkebunan dan menjadi salah satu orang kepercayaan Ayah. Sering pula menemani aku bermain-main di saung yang —sekarang— sudah tidak ada itu, Nèng."


Mang Dirman mencoba untuk mengingat-ingat. Mungkin saja sosok yang dimaksud oleh anak majikannya tadi, masih dia kenali pula.


"Terus … apa yang dia lakukan di sana sore-sore seperti ini, Aa?" Bunga merasa semakin penasaran. "Padahal … perkebunan yang itu 'kan, sudah lama tidak ada yang mengurus."


Hanan mendesah risau. Ujarnya kemudian, "Itulah yang menjadi permasalahannya, Nèng. Aku juga sama sekali belum bisa memahami kondisi warga di sekitar wilayah ini, setelah Ayah meninggal dunia dulu." Dia menoleh ke arah perkebunan milik keluarganya yang terlihat rimbun oleh semak-semak liar, dari kejauhan. "Ada sesuatu yang aneh dengan kewenangan pemerintah sekarang ini. Tapi aku tidak serta merta ingin menuduh apa-apa terhadap Tuan Guus. Hanya saja …."


Hanan tidak meneruskan ucapannya, karena laju sado mendadak berhenti.


"Ada apa, Mang?" tanya Hanan terheran-heran. Lalu mengikuti arah kemana Mang Dirman tengah memandang. "Itu siapa?"


"Ssttt … jangan banyak bicara dulu, Den," bisik Mang Dirman, diikuti riak kekhawatiran dari wajah Bunga begitu melihat sosok yang sama di depan sana. Tidak jauh dari keberadaan mereka. "Biarkan Nyai Kasambi melintas dulu. Kita tidak boleh mendekat, apalagi mendahuluinya."


"Nyai Kasambi? Siapa dia?" tanya Hanan dengan nada suara yang, yakni berbisik.

__ADS_1


"Dia itu dukun sakti dari kampung seberang, Aa," jawab Bunga pelan-pelan. "Tapi lebih sering tinggal di lereng gunung di atas sana."


"Ssttt … duuuhhh, jangan bicara dulu. Takut dia menengok ke arah kita," bisik Mang Dirman. "Bersikaplah seolah-olah kita tidak sedang memperhatikannya."


'Ya, Allah … rahasia apalagi ini?' Bertanya-tanya benak Hanan. 'Tadi aku bertemu seseorang yang terpaksa mencuri di perkebunan, sekarang … ada sosok lain yang begitu misterius di depan sana.'


'Nyai Kasambi? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu dulu,' membatin Hanan sambil sesekali melirik, mencuri penglihatan, atas sosok yang dilarang diperhatikan oleh Mang Dirman tadi. 'Ini semakin membuat bertekad buat untuk tetap tinggal di kampung ini. Ada banyak hal yang luput kuketahui sejak pergi ke Jakarta beberapa tahun lalu. Ini jelas, seperti ada momok menakutkan yang sedang terjadi di sini.'


Hanan penasaran, ingin melihat bagaimana rupa seorang yang bernama Nyai Kasambi itu. Apakah dia seorang perempuan muda? Mungkin seumuran dengan dirinya?


Sosok Nyai Kasambi terlihat hendak menyeberangi jalan yang akan mereka lalui. Turun perlahan-lahan dengan langkah terseok-seok dan lamban. Bentuk tubuhnya bungkuk disertai gerai rambut memanjang putih hingga menyentuh area bokong. Kerap memegang tongkat memanjang hingga melebihi tinggi badannya sendiri sebagai pegangan.


"Apakah dia seorang tua?" tanya Hanan pada Mang Dirman, usai memerhatikan sosok tadi melalui sudut matanya. Yang ditanya tidak juga mau menjawab. Dia terdiam mematung laksana bongkahan bebatuan di dinding jurang terjal. "Mang? Mamang dengar saya, 'kan?"


"Ssttt … diamlah sebentar, Den. Sebentar lagi Nyai Kasambi akan turun ke lembah bawah sana," jawab Mang Dirman dengan bisikan.


Di saat-saat menegang itu, tiba-tiba kuda penarik sado meringkik keras seraya mengangkat kaki depan tinggi-tinggi.


"Huusshh! Huusshhh!" Mang Dirman berseru sambil menarik tali kekang untuk menenangkan kudanya.


Badan sado ikut berguncang-guncang. Maju-mundur mengikuti gerak kaki belakang kuda yang meronta-ronta.


"Ya, Allah!" pekik Bunga ketakutan dan langsung memegang kaki Hanan secara tidak sengaja untuk menjaga keseimbangan.


Hal yang teramat tidak diinginkan oleh Mang Dirman pun kini terjadi. Sosok Nyai Kasambi yang hampir menghilang di telan rimbunan semak-semak, menoleh ke arah mereka.


"Astaghfirullahal'adziim …." pekik Bunga begitu melihat sorot mata tajam dari sosok di depan sana. "Mang, dia kemari, Mang!"


"Hhuusshhh! Hhuusshhh!"


Mang Dirman sendiri masih berusaha menenangkan kuda. Hingga akhirnya hewan itu pun langsung terdiam di tempat disertai seseorang yang amat ditakuti.


'Nyai Kasambi ….' desis Hanan terkejut begitu melihat wajah yang ingin dia ketahui tadi. 'Astaghfirullah … mukanya itu ….'


...BERSAMBUNG...


Keterangan kata :


'1. Atuh : '--lah' (imbuhan)




Atuh da : Lagipula




Tèh : itu (imbuhan)




Hawatos : khawatir




Pisan : sekali/banget



__ADS_1


__ADS_2