
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 55...
...—---- o0o —----...
Tanah pekuburan itu masih menggunung merah dan basah. Berhiaskan taburan bunga-bunga mewarnai permukaannya. Lengkap bersama dua tancapan nisan kayu berukir di batas atas serta bawah sebagai penanda.
Beberapa orang berjongkok di sepanjang sisi makam dengan mata sembab, seraya melafalkan doa-doa yang terucap dengan penuh kesedihan.
Sumiarsih, perempuan yang hampir memasuki usia baya itu, tampak lekat memandangi kuburan suaminya, Juanda. Mengenakan kerudung hitam yang dipadu bersama busana berwarna senada memanjang hingga menjuntai tanah. Raut wajah cantiknya tampak sendu memucat dan tatapan hampa, seakan belum mempercayai bahwa lelaki yang dia cintai tersebut —kini— telah tiada.
Ki Sendang Waruk mendeham perlahan, bermaksud memanggil sosok keponakannya —Bunga— yang berada persis di samping Sumiarsih.
Gadis itu menengok. Melihat-lihat ke arah laki-laki tua yang melemparinya bahasa isyarat, yakni berupa gerakkan kedua alis, lalu menunjuk-nunjuk dengan ekor mata pada Sumiarsih dan diakhiri kibasan jemari tangan ke atas sebanyak tiga kali.
Bunga langsung paham dan mengangguk pelan. Kemudian dia berbalik menoleh ke samping sambil menggayut lengan perempuan yang baru saja menjanda tersebut.
"Bu …." kata Bunga pelan, "kita pulang sekarang, ya?" ajaknya dengan suara lembut. "Hari sudah semakin siang."
Sumiarsih tidak mengindahkan. Sosok tersebut bergeming di tempatnya dengan bibir bergerak-gerak membacakan kalimat-kalimat suci.
Lalu gadis itu pun kembali menatap uwaknya dan menggelengkan kepala. Ki Sendang Waruk menarik napas berat. Tidak tahu, apalagi yang mesti dia lakukan. Sudah begitu lama menunggui Sumiarsih berjongkok di samping pusara suaminya, sejak prosesi penguburan dilakukan sepagi sebelumnya.
Kemudian lelaki tua tersebut mencolek lengan Ki Panca, Kepala Dusun Sundawenang, memberinya satu isyarat agar turut berdiri dan mengikuti langkah.
Agak jauh dari kuburan mendiang Juanda, Ki Sendang Waruk pun mulai berucap, "Bagaimana sekarang, Ki? Sumiarsih masih enggan meninggalkan makam suaminya." Sejenak dia menoleh ke arah sosok yang dimaksud. "Saya khawatir, akan semakin banyak menarik perhatian warga sekitar yang kebetulan lewat di sekitar sini."
Ki Panca mendesah. Sama-sama merasakan kebingungan terhadap situasi yang ada tersebut.
"Apa tidak kita coba saja bicara langsung pada Juragan Perempuan itu, memintanya agar segera bersama-sama kita tinggalkan tempat ini, Ki?" tanya sosok Kepala Dusun memberi saran.
Ki Sendang Waruk mendecak. "Kalau usul semacam itu sih, dari tadi juga sudah terpikir oleh saya, Ki," ujarnya tampak kesal. "Masalahnya, rencana kita untuk merahasiakan kematian Juanda ini bisa tersebar luas, jika sampai banyak warga yang melihat kita berkerumun di sini."
Ki Panca menyipitkan mata. Sejenak dia menoleh ke arah makam, lalu kembali berpaling menatap Ki Sendang Waruk. Tanyanya kemudian, "Sebenarnya apa yang telah terjadi semalam tadi, Ki? Bahkan sampai detik ini pun, belum satu jawaban pun yang saya dapatkan dari mulutmu itu."
"Sekarang bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal itu, Ki," bisik Ki Sendang Waruk seraya memegangi dadanya yang masih terasa sakit dan pengap. "Saya sendiri masih mencari-cari waktu agar kamu bisa mengetahui duduk perkara yang sebenarnya."
Ki Panca tersenyum masam. "Apa bedanya nanti dengan sekarang, Ki?" tanyanya bersikukuh. "Sejak semalam saya datang, hanya pertanyaan itu yang sering saya ajukan padamu dan itupun belum juga kamu jawab."
__ADS_1
Ki Sendang Waruk mendelik. "Jangan terlalu memaksa saya, Ki! Apa kamu tidak lihat, bagaimana kondisi saya sendiri sekarang, hah?" Laki-laki ini terbatuk-batuk sesaat. Luka dalam akibat pertarungannya dengan Juanda semalam, masih menyisakan sakit di bagian rusuk dan ulu hati.
"Salah sendiri," timpal Ki Panca tidak mau kalah. "Mengapa tidak seorangpun yang memberitahu saya semalam, sebelum Juragan Juanda meninggal dunia?"
"Kamu menyalahkan saya, Ki?" Sorot mata Ki Sendang Waruk berubah menajam. "Saya sendiri langsung menemui Juanda begitu tiba di kampung ini. Tidak terpikir sedikit pun untuk memintamu untuk turut datang dan membantu."
Ki Panca bersungut-sungut sendiri. "Lantas, apa yang harus saya katakan, kalau sampai ada warga yang bertanya-tanya perihal kematian Juragan Juanda itu? Sebagai pemangku kepala kampung, sedikit banyaknya saya juga turut bertanggungjawab, Ki. Kamu harus tahu itu. Apalagi nanti, jika anaknya yang berada di Jakarta itu pulang. Apa yang harus aku jelaskan kelak, Ki?"
Ki Sendang Waruk berpikir sejenak. "Itu nanti tugas saya yang akan membantu menjelaskan," jawab lelaki tua tersebut setelahnya. "Tapi nanti … setelah dia pulang dan menyelesaikan pendidikannya di Jakarta. Saya sendiri yang akan menemui Nak Hanan secara langsung. Ki Panca tidak perlu khawatir."
Ki Panca manggut-manggut. Namun baru saja hendak berucap kembali, tiba-tiba Mang Dirman muncul di antara mereka berdua. "Juragan Perempuan mau pulang, Ki," ujarnya, tapi bukan pada Ki Sendang Waruk, melainkan Kepala Dusun Sundawenang tersebut.
"Oh, iya. Syukurlah kalau begitu," balas Ki Panca lega. "Ayo, kita antarkan Juragan Sumiarsih sekarang, Ki," ajaknya pada Ki Sendang Waruk.
Mang Dirman kembali berbalik badan tanpa sedikitpun mau menatap uwaknya Bunga tadi. Hal tersebut sempat membuat lelaki tua itu bertanya-tanya heran. 'Ada apa dengan duda lapuk itu? Sejak semalam, dia enggan sekali berbicara denganku. Bahkan ditanya pun tidak mau menjawab,' gumamnya membatin. 'Apakah karena kejadian semalam itu? Pandangannya pun seakan-akan menaruh rasa tidak suka terhadapku.'
Dengan langkah agak tertatih-tatih, Ki Sendang Waruk berjalan ke arah sado. Namun dia tidak turut naik, karena muatan sudah melebihi kapasitas. Ada Sumiarsih, Bunga, Ki Panca, serta Ceu Enok dan Ceu Odah.
"Saya menyusul sambil berjalan kaki saja, ya," ucap Ki Sendang Waruk pada Ki Panca dan Juragan Sumiarsih.
Sesaat sebelum roda kendaraan sado berputar, diam-diam janda dari sahabatnya tersebut melirik dengan sorot mata sayu. Entah seperti ada makna tertentu dari bias tatapan Sumiarsih pada lelaki tua itu.
Diam-diam ada geliat perih yang kembali dia rasa, setelah sekian lama kenangan yang telah lalu itu perlahan-lahan terkubur masa. Namun sekarang, bertemu lagi dengan sosok yang pernah dekat dulu tersebut, mau tidak mau seperti menorehkan lagi untaian jalinan terkoyak di antara mereka.
Kemudian, perlahan-lahan bayangan detik-detik perpisahan antara Ki Sendang Waruk dan Sumiarsih beberapa tahun lalu itupun, kembali terngiang-ngiang.
"Ikuti dan turuti saja apa yang ayahmu itu kehendaki, Sumi," kata Sendang Waruk muda kala itu. "Aku rela melepasmu untuk sahabatku sendiri. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk mengakhiri hubungan kita ini, sekarang juga."
"Tidak, Kang Èndang," tolak Sumiarsih seraya menggelengkan kepala. "Kita harus tetap melanjutkan hubungan kita ini sampai ke jenjang pernikahan." Lantas perempuan itu pun mulai terisak. "Akang harus berterus terang pada Kang Juanda mengenai kita berdua. Aku tidak mau persahabatan antara Kang Èndang dengan Kang Juanda jadi bermasalah hanya karena gara-gara aku seorang."
Cegah Sendang Waruk dengan cepat, "Jangan, Sum. Jangan lakukan itu. Kamu dan Juanda harus tetap menikah. Jangan pedulikan tentang aku." Lantas lelaki itu segera meraih jemari Sumiarsih dengan lembut. "Tolong demi aku, Sum. Turuti dan patuhi apa yang ayahmu itu inginkan. Hanya Juanda seorang yang beliau percayai. Bukan aku."
"Tapi Ayah menghendaki aku menikah dengan Kang Juanda juga demi menyelamatkan aku dari lelaki Belanda itu, Kang," ungkap Sumiarsih bersikeras. "Ayah tidak ingin aku sampai jatuh ke dalam pelukan orang keturunan penjajah itu. Guus Van Der Kruk. Dia orangnya, Kang."
Sendang Waruk tersenyum miris. Dia berusaha menegarkan. "Bukan hanya itu, Sumi sayang, ayahmu menikahkanmu dengan sahabatku itu, karena ayahnya Juanda juga sahabat dekat ayahmu. Mereka ingin anak-anak mereka berjodoh. Sedangkan aku …. kamu pasti mengerti 'kan, Sayang? Aku ini bukan siapa-siapa mereka, terkecuali seorang sahabat dari calon suamimu itu."
"Kang Èndang …." desah Sumiarsih diiringi isaknya.
"Dengarkan aku, Sumi sayang," imbuh kembali Sendang Waruk. "Aku akan tetap menyayangimu. Sampai kapanpun. Kamu harus ingat itu," ujarnya seraya menyeka air mata kekasihnya tersebut. "Aku yakin, kamu pasti bisa menerima Juanda sebagai suamimu kelak. Bukankah dia lebih tampan dariku?"
"Akang!" rengek Sumiarsih manja sambil mencubit lengan Sendang Waruk. Sontak saja lelaki itu pun mengaduh kesakitan. "Tapi aku sudah terlanjur menyayangi Akang. Aku tidak ingin menikah kecuali dengan Kang Èndang."
__ADS_1
"Jangan, Sayang. Percayalah, hidupmu akan jauh lebih beruntung jika bersama Juanda. Bukan denganku."
"Tidak, Kang," tolak perempuan tersebut. "Akanglah yang seharusnya menjadi suamiku. Bukan Kang Juanda," timpal Sumiarsih bersikukuh. "Kalau Kang Èndang tidak mau bicara pada Kang Juanda, biar aku sendiri yang berterus terang pada Ayah."
Sendang Waruk terkejut.
"Jangan, Sayang! Jangan! Aku mohon!" ujar lelaki berkulit gelap tersebut. "Berjanjilah! Bersumpahlah! Kamu akan menerima pernikahanmu dengan Juanda. Apapun alasan dan keadaannya! Demi aku!"
Awalnya Sumiarsih memang tetap menolak, tapi lama kelamaan, akhirnya gadis itu pun mau menerima.
Maka untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan kelak, sehari sebelum perayaan pernikahan Sumiarsih dan Juanda, Sendang Waruk memutuskan untuk pergi menjauh dari kehidupan mereka berdua.
Namun tanpa sepengetahuan Sumiarsih dan Juanda, ternyata lelaki tersebut lari ke dalam pelukan seorang perempuan lain. Dia adalah Nyai Ayu, begitu Sendang Waruk memanggilnya.
Siapakah sosok perempuan tersebut? Tidak lain adalah seseorang yang memiliki rasa cinta terhadap Juanda sendiri. Namun nyatanya lelaki tersebut tidak pernah sekalipun mau menerima.
"Aku tahu, Nyai mencintai sahabatku itu, 'kan?" tanya Sendang Waruk suatu ketika. "Tapi … Nyai harus bisa menerima, bahwa Juanda sebentar lagi akan menjadi suami perempuan lain. Sumiarsih."
Nyai Ayu tampak marah sekali begitu mengetahui bahwa lelaki yang dia cintai, malah lebih memilih perempuan lain ketimbang dirinya.
"Dia tidak pernah mengerti perasaan saya, Kang!" ujar perempuan tersebut emosi. "Padahal saya sudah sering berterus terang, kalau saya menyukai dia!" Napasnya sampai terengah-engah menahan luapan murka. "Pokoknya saya tidak akan pernah membiarkan mereka hidup tenang! Suatu saat, saya pasti akan membuat perhitungan dengan dia!"
Dengan sabar, Sendang Waruk berusaha menenangkan Nyai Ayu. Dia mencegah dan menahan-nahan agar perempuan itu tidak sampai melakukan tindakan bodoh.
"Jangan, Nyai," ucap laki-laki itu dengan suara lemah lembut. "Kalaupun Nyai tidak mendapatkan hati seorang Juanda, setidaknya masih ada orang lain yang telah lama memendam perasaan pada Nyai," katanya kemudian. "Nyai tahu siapa orang itu?"
Nyai Ayu menatap bola mata Sendang Waruk. "Kang Èndang?"
Lelaki itu mengangguk pelan. "Iya, Nyai. Orang yang mencintai Nyai itu, aku sendiri …."
Nyai Ayu menggeleng-geleng.
"Tidak mungkin, Kang," ujarnya tidak langsung percaya. "Sejak kapan Akang mencintai saya? Selama ini, Akang tidak pernah menampakkan perasaan itu pada saya."
Jawab Sendang Waruk kembali, "Tentu saja aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu, Nyai. Karena … aku takut, suatu saat Juanda akan menerimamu sebagai kekasihnya. Tapi sekarang, semuanya sudah jelas. Aku tidak perlu lagi merasa khawatir. Juanda sudah menentukan pilihannya sendiri, yaitu Sumiarsih."
Bukan hal yang mudah untuk menaklukkan hati seorang Nyai Ayu. Berkali-kali Sendang Waruk harus bersusah payah meyakinkan dan menahan agar perempuan itu tidak mengganggu kebahagiaan Sumiarsih dan Juanda. Padahal apa yang dilakukan oleh lelaki tersebut bukanlah berdasarkan cinta semata. Dia berpura-pura mencintai Nyai Ayu untuk sebuah maksud. Hingga akhirnya ….
Nyai Ayu mengandung benih manusia dari bibit seorang lelaki bernama Sendang Waruk.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1