
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 69...
...—---- o0o —----...
Hanan menarik napas berat seraya mengelus dada dan berucap di dalam hati, 'Astaghfirullahal'adziim ….'
Jawab anak muda tersebut berusaha menjaga kesabaran, "Tidak ada apa-apa, Bu. Biasalah, urusan anak muda. He-he."
Juragan Sumiarsih menatap bola mata anaknya dengan saksama, "Ibu harap, ini tidak lagi berkaitan dengan anak gadis Tuan Guus itu, Nak."
Hanan menipiskan bibir. Lantas meminta izin pada ibunya untuk melaksanakan ibadah sholat Dzuhur terlebih dahulu, tanpa membalas ucapan Juragan Sumiarsih yang terakhir baru saja. "Nanti selepas makan siang, Hanan sudah berjanji, akan berbicara dengan Bunga, Bu."
Anak muda tersebut menduga, mungkin kekasihnya itu sudah berbicara pada ibunya terkait masalah yang terjadi di Balai Kesehatan tadi pagi. Hanya sebuah kemungkinan tanpa ingin mempertanyakan lebih lanjut.
"Ya, cepatlah diselesaikan secara baik-baik, Nak. Jangan sampai suatu masalah, sekecil apapun, dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian," timpal Juragan Sumiarsih. Bukan tanpa sebab, karena belajar dari pengalaman hidupnya dulu, terkait masalah dengan Tuan Guus serta Juragan Juanda, suaminya sendiri.
"Insyaa Allah, Bu. Hanan selalu berharap doa yang terbaik dari Ibu," kata Hanan sembari memeluk tubuh perempuan terkasihnya tersebut.
"Insyaa Allah, Nak. Ibu selalu mendoakanmu."
"Terima kasih, Bu," ujar Hanan seraya merapatkan pelukan, lantas mencium kedua tangan ibunya begitu dilepas. "Hanan tahu, ucapan seorang ibu itu adalah sebuah doa. Semoga Ibu senantiasa berkata yang baik-baik tentang Hanan ya, Bu? Hanan juga bisa menjadi anak yang mampu memuliakan Ibu."
Juragan Sumiarsih tersenyum. "Insya Allah, Nak, Insyaa Allah."
Setelah itu, Hanan pun pamit untuk menunaikan kewajibannya, ibadah sholat Dzuhur. Kemudian lanjut makan siang bersama dan berbicara secara empat mata dengan kekasihnya, Bunga.
__ADS_1
"Aku hanya tidak ingin, sesuatu terjadi padamu, Nèng," kata Hanan usai mengawali pembicaraan. "Nona Roos sudah dua hari ini selalu datang ke Balai Kesehatan. Entahlah, maksud sebenarnya apa. Tapi, jika sampai dia mengetahui siapa Enèng sesungguhnya, aku malah jadi mengkhawatirkanmu, Nèng."
"Khawatir tentang apa, Aa?" tanya Bunga belum memahami sepenuhnya maksud dari ucapan Hanan sejak tadi. "Aa ingin menyembunyikan hubungan kita dari perempuan itu?"
"Sabar, Nèng, sabar," ujar Hanan menenangkan. Dia sebenarnya bingung harus menjelaskan dengan kalimat apa, tapi mau tidak mau Bunga tetap harus mengerti duduk persoalannya. "Nona Roos itu … tipe perempuan yang selalu ingin mendapatkan apapun yang dia inginkan. Segala cara, mungkin, akan dia lakukan, asalkan harapannya terwujud."
"Terus … maksud Aa, bagaimana?" Bunga tetap belum memahami.
Perlahan-lahan, obrolan anak muda itu dengan ibunya kemarin, jadi teringat kembali dan sedikit banyaknya turut mempengaruhi. Lantas menjawab bimbang, "Sebagai lelaki, aku sadar bahwa sikap Nona Roos terhadapku agak berbeda, Nèng. Mungkin dia—"
"Menyukai Aa?" tukas Bunga tanpa menunggu hingga Hanan menyelesaikan ucapannya.
Lelaki muda itu tertegun, lantas melanjutkan kalimat tadi, " … Mungkin dia terlalu berlebihan maksudku, Nèng."
"Iya, Aa. Nona Roos jatuh hati padamu, Aa," ujar Bunga mempertegas.
"A-aku tidak menafsirkannya begitu loh, Nèng," ucap Hanan masih menggantung.
Hanan menatap sosok di sampingnya tersebut. "Aku hanya tidak ingin keliru dalam menilai sikap seseorang, Nèng. Apalagi selagi masih samar-samar dan berurusan dengan hati," timpalnya ingin mengakui, tapi khawatir jika pengakuannya tersebut akan melukai perasaan sang kekasih. "Lagipula, alasan Nona Roos datang tadi pun, hanya mengantar Nèng Imah berobat."
"Lalu maksud Aa mengkhawatirkan tentang Enèng dari perempuan yang satu itu, tadi, apa coba?" imbuh Bunga kembali. "Terus, sejak kapan si Roos peduli dengan kesehatan pekerjanya sendiri? Selama ini dia tidak pernah begitu dekat dengan urusan warga pribumi, apalagi terhadap Imah, seperti kata Aa baru saja."
"Aku tidak banyak tahu tentang itu, Nèng, tapi aku menerima siapapun yang datang ke sana tanpa terkecuali. Termasuk Nona Roos sendiri," balas Hanan semakin bingung. "Karena apa yang terjadi pada Nèng Imah, aku khawatir hal itu akan menimpa Enèng juga. Aku curiga, luka-luka lebam pada Nèng Imah adalah perbuatan dari … Nona Roos sendiri."
Bunga menoleh dan memandangi bola mata kekasihnya tersebut. "Apa yang terjadi pada Imah?"
Jawab Hanan perlahan, "Aku curiga, Nèng Imah telah mendapat kekerasan fisik selama ini, Nèng."
"Astaghfirullaahal'adziim!" seru Bunga terkejut. "Nona Roos yang melakukannya?"
__ADS_1
Lelaki muda tersebut menarik napas panjang. "Entahlah, aku belum bisa memastikannya, Nèng. Tapi … besar kemungkinan, Nona Roos bisa saja melakukan perbuatan zalim itu, 'kan?"
"Astaghfirullah!" Kembali Bunga berseru.
"Itulah makanya, aku sangat mengkhawatirkan Enèng, kalau sampai Nona Roos tahu bahwa Enèng adalah—"
"Karena Aa sadar bahwa si Roos menyukai Aa, bukan?"
Kali ini Hanan mengangguk perlahan.
"Kalau begitu, batalkan keinginan Aa untuk bertugas di sana!" ucap Bunga akhirnya.
"Apa?" Laki-laki muda tersebut terkejut.
"Karena atas bantuan Tuan Guus 'kan, Aa bisa bertugas di Balai Kesehatan kampung kita? Kalau saja bukan karena permintaan si Roos, lalu atas dasar apa Tuan Guus bersedia membantu Aa?"
"T-tapi … itu bukan satu-satunya jalan keluar yang terbaik, Nèng," tandas Hanan agak keberatan dengan usul yang disampaikan oleh kekasihnya tersebut. "Lagipula ini sudah merupakan cita-cita almarhum Ayah dan belum tentu juga Nona Roos yang menginginkan itu."
"Lantas, maksud kedatangan si Roos dengan Tuan Guus datang ke sini waktu itu untuk apa? Apa bukan karena perempuan itu merasa gatal saja ingin bertemu dengan Aa?" Nada suara serta ucapan-ucapan Bunga jelas-jelas menandakan, bahwa gadis itu tengah dilanda rasa cemburu yang teramat hebat.
Hingga akhir percakapan, sosok gadis tersebut meninggalkan Hanan seorang diri tanpa sempat menjelaskan secara terperinci.
"Nèng! Nèng Bunga!" panggil Hanan. Namun Bunga tetap bergegas pergi ke dalam. "Ya Allah … mengapa hasilnya seperti ini, sih? Apa aku salah bicara?"
Kemudian Hanan bangkit hendak mengejar Bunga dan di dapur dia melihat ibunya bersama ketiga pekerja rumah tangga sedang duduk berkumpul.
"Ibu sedang apa di sini?" tanya anak muda itu terheran-heran.
Juragan Sumiarsih menggeleng, tapi matanya melirik ke arah kemana Bunga baru saja pergi. "Selesaikan urusan kalian berdua, Nak. Jangan biarkan hati seorang perempuan dilanda tanya-tanya," ujar ibunya tanpa sedikitpun mau beradu tatap dengan anaknya tersebut.
__ADS_1
Sementara Ceu Odah, Ceu Ijah, dan Ceu Enok sama-sama menundukkan kepala. Takut turut dipertanyakan keberadaan mereka di sana.
...BERSAMBUNG...