
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 51...
...—---- o0o —----...
"Astaghfirullah!" seru Hanan dan Juragan Sumiarsih usai mendengar penuturan Ki Sendang Waruk perihal serangan teror yang terjadi semalam tersebut. "Ini jelas sekali, ada seseorang yang hendak mencelakai Aki dan Nèng Bunga."
Ki Sendang Waruk mendesah bimbang. Ujarnya dengan suara lirih, "Entahlah. Saya sendiri belum bisa memastikan. Apakah ini ditujukan pada saya sendiri atau Bunga? Masalahnya, teror ini sudah bukan merupakan serangan fisik belaka, tapi caranya sudah menggunakan jalan mistik."
Hanan turut berpikir keras, mengaitkan berbagai kabar yang selama ini dia terima dari banyak sumber. "Apakah ini dilakukan oleh orang yang sama, Ki?" tanyanya mulai menduga-duga. "Seseorang yang dulu menghendaki Ayah untuk—"
"Untuk hal itu pun, saya juga belum bisa memastikannya, Nak," tukas Ki Sendang Waruk. "Kita tidak boleh gegabah menunjuk pada seseorang, apalagi sampai menyebutkan sebuah nama. Tapi saya yakin sekali, di dalam hati kita masing-masing … pasti terselip dugaan-dugaan tersendiri, 'kan? Cukupkan dulu sampai di sana, jangan memperlebar masalah, sebelum semuanya tampak jelas dan disertai bukti-bukti penunjukkan yang benar."
Setelah berkata demikian, lelaki tua tersebut malah berpikir lain. Diam-diam dia mencurigai seseorang yang telah lama dia kenal, tapi sepanjang waktu itu pula tidak pernah lagi bertemu. 'Ki Bajra … apakah dia orang yang selama ini berada di balik serangkaian masalah yang ditimbulkan bagi keluarga mendiang Juanda? Ah, mungkin manusia yang satu itu masih hidup? Dari cara-cara yang kerap kutemui, aku sepertinya hafal sekali. Itu memang dia,' pikirnya seraya manggut-manggut dan menipiskan bibir.
"Ki Èndang sedang berpikir apa?" tanya Juragan Sumiarsih tiba-tiba, mengejutkan lelaki tua tersebut. "Apakah Aki mencurigai seseorang?"
Bukan tanpa sebab ibunya Hanan bertanya demikian. Sesaat jeda tadi, dia memperhatikan sosok di depannya itu tampak gelisah, mengerutkan kening, bahkan sampai berdecak-decak sendiri.
Ditimpali Hanan setelah teringat pada sosok menakutkan yang pernah dia temui beberapa hari sebelumnya, "Bagaimana dengan Nyai Kasambi, Ki?"
"Nyai Kasambi?" Mata Ki Sendang Waruk membesar. "Bukankah dia hanya seorang tabib? Orang-orang mengenalnya sebagai dukun pengobatan tradisional. Tidak mungkin dia sampai ikut terlibat dalam masalah-masalah seperti itu. Lagipula, Nyai Kasambi itu hanya seorang perempuan tua."
__ADS_1
"Aki mengenalnya?" tanya kembali Hanan penasaran.
Ki Sendang Waruk menggeleng. "Tidak," jawabnya yakin. "Saya mengenal nama Nyai Kasambi dalam waktu beberapa tahun lalu."
"Mengenal nama? Hanya mengetahui namanya saja?" Tiba-tiba terulas senyum kecut di bibir anak muda tersebut. Dia melirik sesaat ke arah ibunya. "Berarti selama ini, Aki belum pernah bertemu secara langsung dengan Nyai Kasambi, 'kan?"
Ki Sendang Waruk mengangguk. "Ya, Nak, itu pun saya hanya mendengar kabar tentang sosok itu dari warga-warga setempat." Lantas orang tua ini menatap balik Hanan dan lanjut bertanya, "Mengapa kamu tanyakan itu pada saya, Nak? Kamu mencurigai Nyai Kasambi?"
Hanan mendesah seraya mengenyakkan diri ke belakang kursi. "Saya bukan bermaksud menuduh, Ki. Tapi …." Kemudian anak muda tersebut menceritakan perihal pertemuannya dengan Nyai Kasambi sewaktu berada di perjalanan pulang dari perkebunan lalu. "Ada banyak misteri yang belum bisa saya pecahkan mengenai sosok yang satu itu," ungkapnya seperti geram. "Mang Dirman sendiri kerap berusaha melindungi saya dari pertanyaan-pertanyaan Nyai Kasambi pada waktu itu. Bukankah itu sesuatu yang aneh? Mengapa seorang warga yang sudah sekian lama tinggal dan mengenal kampungnya sendiri, malah … saya lihat, seperti ketakutan terhadap sosok perempuan itu."
"Ya, Allah … kamu pernah bertemu Nyai Kasambi, Nak?" tanya Sumiarsih begitu mendengar penuturan anaknya baru saja. "Mengapa kamu tidak pernah bercerita pada Ibu, Nak? Pantas saja, waktu itu kalian bertiga pulang menjelang Maghrib."
Hanan tersenyum kecut.
"Begini, Nak. Saya hanya—" ucapan Ki Sendang Waruk langsung dipotong oleh Hanan.
"Kalau memang keberadaan Nyai Kasambi itu baik bagi warga, seperti kata Aki dan yang lain-lainnya, termasuk Ki Panca sekalipun, Nyai Kasambi itu adalah seorang tabib atau ahli pengobatan tradisional, lalu … mengapa mereka semua tampak seperti orang yang ketakutan di kala membicarakan perempuan tua itu? Ada apa ini? Berarti selama ini ada sesuatu yang menakutkan dari dia. Dukun tukang santet, tukang teluh, guna-guna, atau sejenisnya."
"Nak …." ucap Juragan Sumiarsih seraya memegang pundak anaknya.
"Tidak, Bu," elak Hanan. "Selama ini Hanan selalu berusaha sabar, menurut, dan menahan diri untuk mencari tahu sendiri. Semua orang yang Hanan tanya, selalu memberikan jawaban yang tidak jelas dan serba mengambang. Ada apa ini sebenarnya? Apakah Hanan benar-benar tidak memiliki hak untuk tahu?"
"Anak muda, dengarkan saya," kata Ki Sendang Waruk mencoba menenangkan calon suami dari keponakannya tersebut.
"Aki juga sama!" seru Hanan semakin tidak terkendali. "Cerita Aki tentang Ayah semalam pun serba samar. Aki seperti sengaja menyembunyikan hal yang sebenarnya dari saya. Iya 'kan, Ki? Tujuannya buat apa? Hanya untuk membuat saya diam dan tenang belaka? Tidak!" ungkap anak muda tersebut berapi-api. "Saya akan mencari tahu dengan cara saya sendiri untuk menelusuri apapun yang berkaitan dengan kematian Ayah!"
__ADS_1
Mendengar suara keras Hanan, semua penghuni rumah serentak berlarian untuk melihat apa yang terjadi. Termasuk Bunga sendiri, tergopoh-gopoh lari dari ruangan dapur.
"Saya bersumpah!" imbuh Hanan dengan suara menggelegar. "Saya akan meneruskan kembali usaha mendiang Ayah yang terbengkalai itu, sekaligus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah dulu? Selama ini tidak ada seorangpun yang mau menjelaskan, mengapa Ayah sakit, mengapa Ayah diteror, mengapa Ayah usaha perkebunan Ayah mengalami pailit?"
"Nak, tenanglah, sayang," bujuk Juragan Sumiarsih tersedu sedan melihat anaknya mengungkapkan amarah terpendam. "Kita bicarakan itu nanti, Nak."
"Tidak, Ibu," jawab Hanan mengubah suaranya sedikit pelan dan lembut. Namun kembali menggelegar begitu beralih menatap Ki Sendang Waruk. "Ingat ya, Ki. Sepanjang Ayah sakit, saya tidak pernah sekalipun sempat menjenguk. Bahkan di saat Ayah meninggal, saya hanya disuguhi kuburan beliau. Sementara Aki sendiri, entah pergi kemana setelah kematian Ayah saya. Semua orang mengatakan bahwa kondisi Ayah sehat wal'afiat, tapi kenyataan yang ada … justru Ayah sakit-sakitan menderita. Terus, siapa yang mau memahami perasaan saya selama itu? Saya terdiam dan tidak banyak bertanya-tanya pun hanya karena ingin menurut pada Ibu. Sekarang … keadaannya sudah lain. Saya sudah pulang, kembali berkumpul bersama-sama, tapi apa … kembali cerita itu dan itu saja yang didapat."
"Anak muda, tenanglah. Mari kita bicara secara baik-baik. Segala sesuatu butuh waktu dan proses, Nak," ucap Ki Sendang Waruk mencoba kembali menenangkan. "Kita tidak boleh melakukan sesuatu secara tergesa-gesa."
Kali ini, sorot mata Hanan tampak semakin garang menatap uwaknya Bunga tersebut. Rasa kesal dan penasaran yang selalu ditahan, benar-benar ingin diluapkan detik itu juga.
"Mohon maaf, Ki," kata Hanan tegas. "Saya tidak bermaksud kurang sopan terhadap Aki. Walau bagaimanapun juga, saya akan selalu menghormati orang yang lebih tua usianya dari saya," imbuhnya lugas. "Tapi … mohon maaf, apakah sepenuhnya saya yakin dengan penuturan Aki semalam? Sekali lagi saya ungkapkan … tidak! Kalau tidak percaya, tanyakan pada Mang Dirman! Saya pikir, sebagai seseorang yang pernah dekat dengan Ayah, Aki pasti mengetahui banyak tentang semua yang terjadi pada Ayah. Bukankah begitu, Ki?"
Ki Sendang Waruk menatap Juragan Sumiarsih dan Bunga untuk beberapa saat. Dia hendak berkata, tapi masih terlihat bingung.
"S-saya … s-saya …." ucapnya terbata-bata.
"Baik, Ki. Terima kasih," kata Hanan singkat, lantas bergegas bangkit dan melangkah dengan cepat ke luar rumah.
"Hanan! Mau ke mana kamu, Nak?" seru Juragan Sumiarsih terkejut. "Jangan pergi kemana-mana, Nak!"
Namun anak muda itu tidak mendengar. Dia tetap melangkah menuju istal dan sebentar kemudian menghambur dari rumah dengan menaiki seekor kuda.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1