Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 54


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 54...


...—---- o0o —----...


"Den Hanan! Berhenti, Den!" teriak Mang Dirman seraya menghalang-halangi laju kuda yang hendak melewati tempatnya berdiam saat itu. Lelaki tua tersebut menggerak-gerakkan tangan ke atas dan ke bawah secara memutar berulang-ulang. "Tunggu! Berhenti dulu, Den!"


Hanan menarik tali kekang kuda, hingga membuat binatang tunggangannya tersebut meringkik dengan kaki depan terangkat ke atas.


"Awas, Mang! Minggir!" seru Hanan memperingatkan.


Namun Mang Dirman bersikukuh berdiri menghalangi di tengah jalan. Ujarnya dengan wajah memelas, "Tolong, Den. Berhentilah dulu. Kita bicarakan semuanya secara baik-baik!"


Anak muda itu mendengkus kesal.


"Apa yang harus dibicarakan lagi, Mang?" tanya anak muda tersebut dari atas kudanya. "Semua orang jelas-jelas ingin menyembunyikan hal yang sebenarnya tentang Ayah. Termasuk Mamang sendiri."


"Iya, tapi saya sudah menceritakan apa yang saya ketahui semuanya pada Aden!" balas Mang Dirman tampak bersungguh-sungguh. "Ayolah, Den. Semua orang sangat menyayangi Den Hanan. Kami semua mengkhawatirkanmu, Den. Percayalah."


Hanan terdiam di atas kuda.


"Turunlah dulu, Den," pinta Mang Dirman kembali. "Apa Aden lupa? Saya pernah bersumpah, nyawa sekalipun akan saya berikan demi Aden. Asalkan Den Hanan selamat dan bisa mengusut sampai tuntas atas apa yang terjadi pada Juragan Juanda."


Kali ini anak muda tersebut menoleh. Menatap mata sosok tua itu dengan saksama.


"Kalau Den Hanan melangkah sendiri, siapa yang akan melindungi? Mereka bukan orang sembarangan, Den," imbuh Mang Dirman diiringi tangis kecilnya. "Percayalah, kita semua butuh sosok Aden dan berharap besar Aden selalu dalam keadaan selamat. Jadi, tolonglah … jangan terburu-buru dalam bertindak."


"Menepilah, Mang. Saya mau lanjut jalan," pinta Hanan mewanti-wanti.


Balas Mang Dirman bersikukuh, "Tidak, Den! Sekalipun Aden mau membunuh saya sekarang juga, saya tidak akan menyesal. Setidaknya, saya sudah berusaha menjaga pesan almarhum Juragan Laki-laki, untuk selalu menjaga Aden."

__ADS_1


Ki Sendang Waruk sudah tiba, menyusul di tempat. Dia pun turut mengingatkan, "Benar apa yang dikatakan oleh Mang Dirman tadi, Nak. Orang yang menghendaki kita hancur, bukanlah orang sembarangan. Dia dilindungi oleh seseorang yang memiliki kekuatan besar. Bahkan saya sendiri mungkin tidak akan sanggup menghadapinya sendiri. Kami tetap membutuhkan sosok kamu, Nak."


Hanan berbalik menatap Ki Sendang Waruk. "Saya pun mulai tidak percaya pada Aki. Maafkan saya akan perihal ini," katanya terlihat masih kesal pada sosok tua tersebut. Namun karena dia adalah uwaknya Bunga, sedikit-banyak anak muda itu masih tetap menaruh rasa hormat.


"Terserah apapun yang kamu katakan, Nak," timpal Ki Sendang Waruk seraya mendengkus kesal. "Tapi kalau ingin tahu alasan, mengapa setelah acara penguburan ayahmu waktu itu saya langsung menghilang, karena sasaran penyerangan maut selanjutnya itu adalah … saya sendiri, Nak. Ada seseorang yang menghendaki kematian saya."


Hanan dan Mang Dirman sontak menatap sosok tua berikat kepala kain batik tersebut.


"Saya tahu, Mang Dirman masih menaruh kecurigaan terhadap saya dan berpikir kalau saya turut andil sebagai penyebab kematian sahabat saya sendiri. Juanda," ungkap Ki Sendang Waruk sembari balik menatap sosok kusir sado itu kembali. "Bukankah begitu, Mang?" tanyanya disertai sorot mata menajam.


"Apa yang saya lihat waktu itu, Ki Èndang memang menyerang Juragan Laki-laki. Apa saya salah menilai demikian, Ki?" Mang Dirman tidak ingin kalah menduga.


Ki Sendang Waruk tersenyum tipis. Dia melangkah mendekati laki-laki tua tersebut. Lantas lanjut berkata, "Kalau hanya sebatas menduga dan berpikir atas dasar penglihatan, lalu … apakah saya salah mendengar, jika saya pun punya penilaian sendiri, bahwa ternyata Mang Dirman juga pernah berharap menjadi suami dari Sumiarsih?"


Wajah Mang Dirman sontak berubah memerah padam. "Kurang ajar kamu, Ki!" sentaknya seraya melayangkan tangan ke arah wajah Ki Sendang Waruk.


Prak!


"Mengapa harus marah jika itu tidak benar, Dirman?" tanya Ki Sendang Waruk seperti meledek. "Berkali-kali kamu pun telah menuding saya dengan tuduhan keji itu. Apakah selama ini saya pernah melawan, hah? Tidak. Bertahun-tahun saya selalu diam dan berharap kamu mau berpikir jernih. Tapi nyatanya, pertanyaanmu itu masih sama sejak dulu."


Hanan yang melihat ketegangan di antara kedua laki-laki tua tersebut, lantas segera turun dari kudanya. Mendekat, seraya melerai.


"Ada apa ini?" tanyanya keheranan. "Apa lagi yang Mamang dan Aki sembunyikan dari saya?"


Ki Sendang Waruk tidak ingin melepas tatapannya pada Mang Dirman. Dengan nada sengit, dia berimbuh kembali, "Tanya saja pada dia, Nak. Apakah benar, dia ingin menjadi sosok ayah penggantimu atas Juanda ayahmu?"


"Jangan membuat fitnah, Ki Èndang!" bentak Mang Dirman kian garang. "Saya sama sekali tidak—"


"Kamu ingin dengar langsung dari saksinya?" tantang Ki Sendang Waruk diiringi seringai kecut. "Orang itu masih hidup hingga kini, Dirman," imbuhnya semakin menjadi-jadi. "Perlu saya sebutkan juga namanya, heh?"


"Jahanam kamu, Ki!" geram sosok kusir kuda keluarga Hanan tersebut kian murka. "Jangan kamu pikir saya akan—"


"Diamlah, Mang-Aki!" sentak Hanan menyela. "Saya benar-benar tidak mengerti apa yang kalian bicarakan ini!" Anak muda itu menatap bergantian pada Mang Dirman dan Ki Sendang Waruk. "Jadi benar, ya? Mamang dan Aki memang menyimpan rahasia dari saya selama ini? Bisa-bisanya Mamang dan Aki menyembunyikan itu selama bertahun-tahun dari saya."

__ADS_1


Jawab Ki Sendang Waruk begitu ditatap tajam oleh anak muda tersebut, "Saya tidak menyembunyikan rahasia apapun, Nak. Tapi wajarkah jika ingin sedikit meluruskan persoalan yang bertahun-tahun diarahkan pada saya?"


Hanan beralih menatap Mang Dirman.


Seketika kusir kuda itu tergagap berkata-kata dengan wajah tertunduk, "S-saya … s-saya … tidak pernah berharap apapun pada ibunda Aden." Dia melirik sejenak pada anak majikannya. "Apa yang Ki Èndang sangkakan tadi, itu hanya sebaran fitnah dari … dari … si Praja."


Kedua alis Hanan seketika terangkat naik. "Ki Praja maksud Mang Dirman?" tanyanya heran dan langsung diangguki sosok tua itu. "Ada hubungan apa antara Mamang dengan Ki Praja selama ini? Apa yang terjadi?"


Sebelum menjawab, Mang Dirman melirik sejenak ke arah Ki Sendang Waruk. Lalu berucap kembali dengan suara terbata-bata, "Ki Praja pernah bekerja dengan almarhum Juragan Laki-laki, Den."


"Lantas, pengaruhnya apa kalau memang pernah bekerja pada Ayah? Masalahnya di mana?" cecar kembali Hanan bertanya-tanya, kian bingung. "Bukankah sewaktu Ayah masih hidup, memang ada banyak orang yang tiba-tiba minta berhenti bekerja dan memilih bekerja pada Tuan Guus?"


Untuk beberapa saat, Mang Dirman dan Ki Sendang Waruk kembali saling berpandangan. Kedua orang tua itu kemudian berbarengan menoleh pada Hanan.


"Itulah makanya, Nak," pungkas uwaknya Bunga dipengujung pembicaraan. "Masih ada banyak hal yang perlu kamu ketahui, sebelum mengambil suatu keputusan. Apalagi jika perkara yang kita hadapi ini, berurusan dengan Tuan Guus."


Timpal Mang Dirman ikut membujuk, "Sekarang Aden mulai paham 'kan, maksud saya dan Ki Èndang menutupi permasalahan yang sebenarnya? Ini bukan berarti kami tidak ingin Aden tahu semua. Hanya saja …." Sosok tua ini menjeda ucapannya sesaat seraya melirik pada Ki Sendang Waruk. " …Sampai waktunya nanti Den Hanan tahu dan paham."


"Benar, Den," sambung Ki Sendang Waruk kembali. "Karena orang yang kita hadapi ini … bukan sembarang orang. Percayalah, kalau Tuan Guus menawarkan sesuatu, mungkin tidak semuanya berniat baik. Dikhawatirkan, ada sesuatu yang melatarbelakangi rencananya itu."


Hanan manggut-manggut. Bisiknya di dalam hati, 'Apakah seburuk itu seorang Tuan Guus pada Ayah dulu? Apakah semua yang pernah terjadi pada Ayah itu, penyebabnya orang yang sama?'


Di saat anak muda tersebut termenung, Mang Dirman dan Ki Sendang Waruk saling melempar senyum satu dengan lainnya. Seakan-akan memberikan makna tersendiri bagi kedua orang tua itu.


"Sebaiknya kita kembali ke rumah, Den," kata Mang Dirman mencoba membujuk. "Kita bicarakan baik-baik nanti secara bersama-sama. Bagaimana, Den?"


Timpal Ki Sendang Waruk, "Iya, Nak. Biar saya yang bawa kudanya. Sementara kamu ikutlah bersama Mang Dirman."


Hanan tidak memberikan jawaban apapun. Tanpa berkata-kata, dia segera bergerak naik ke atas sado.


"Berhasil …." bisik Ki Sendang Waruk pada Mang Dirman di belakang Hanan, diikuti senyuman penuh makna dari keduanya.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2