Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 36


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 36...


...—---- o0o —----...


Pada siang hari itu, Juragan Juanda tengah berada di area perkebunan bersama dengan para pekerja. Membersihkan lahan hasil panen sebulan sebelumnya untuk ditanami kembali berbagai bibit palawija. Sambil mengawasi, laki-laki tua itu bergegas menuju saung tempat peristirahatan sambil mengipas-ngipas tudung cetok ke wajah. "Istirahat dulu ah, Mang. Hareudang pisan. Saya tidak kuat nahan panas," katanya pada Mang Dirman yang tidak pernah jauh-jauh mengawal.


Jawab kusir kuda itu seraya menggerakkan jari jempol, menunjuk ke arah saung disertai badan sedikit membungkuk, "Sumuhun, Juragan. Mangga, beristirahatlah dulu." Buru-buru dia menggelar samak di atas balai-balai kayu. Sekalian menyiapkan minuman dari cerek dan menuangkannya ke dalam gelas. "Mau makan siang juga, Juragan?"


Juragan Juanda menoleh ke arah perbekalan yang diambil Mang Dirman beberapa waktu sebelumnya. "Masak apa istri saya hari ini ya, Mang?" tanya laki-laki tua yang terlihat masih gagah dan tampan tersebut. "Sepertinya kita harus makan dulu sebelum sholat Dzuhur. Saya lapar, Mang. He-he."


Mang Dirman ikut tersenyum-senyum. Lantas segera membuka buntalan kain besar yang membungkus boboko serta wadah  lauk pauk lainnya. "Alhamdulillah, Juragan," ujar laki-laki tua tersebut. "Ada ikan asin bakar lengkap dengan sambal dan lalapannya."


"Alhamdulillaahirabbil'aalamiin, nikmat sekali rasanya," ucap Juragan Juanda terlihat semringah. "Ayo, kita makan, Mang."


"Baik, Juragan," balas Mang Dirman. Kemudian membantu menyiapkan makanan untuk majikannya. 


Namun sesaat sebelum mereka mulai menyuapkan nasi, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari arah jalanan. Tidak seberapa jauh dari keberadaan saung tempat mereka berdua berada.


"Juragan …." panggil Mang Dirman begitu menoleh ke arah sumber suara. Juragan Juanda ikut menengok. 


Tampak dari kejauhan, seseorang duduk di atas kuda dengan pakaian khas pembesar prajurit Belanda. Laki-laki tinggi besar berkulit kemerahan, dikawal oleh dua sosok bersenjata lengkap berdiri mengapit di sisi kanan-kiri.


"Guus Van Der Kruk …." gumam Juragan Juanda seraya menangguhkan makannya. Dia segera menuruni balai saung dan bergegas berjalan ke arah tiga sosok tadi.


Mang Dirman mengikuti dari belakang. 


Laki-laki yang dipanggil Guus Van Der Kruk tadi menyeringai dingin begitu melihat Juragan Juanda mendekat. Kedua pengawalnya pun segera bersiaga di atas kuda masing-masing dengan senjata terkepal di depan dada.

__ADS_1


"Ahaaa! Selamat bertemu kembali, Juanda," seru Guus Van Der Kruk mulai  menyapa terlebih dahulu. "Kamu orang pasti masih ingat siapa saya orang ini, heh?"


Juragan Juanda mengangguk perlahan. Dia membungkukkan badan sedikit sebagai tanda penghormatan. "Tentu saja, Tuan Guus. Saya masih begitu mengenali Anda, Tuan," jawabnya disertai raut wajah datar. 


"Aahhh, baguslah … bagus, Juanda. He-he. Zo, saya orang jadi tidak perlu kembali bersusah payah mengenalkan diri pada kamu orang, heh?" ucap laki-laki yang dipanggil 'Tuan Guus' oleh Juragan Juanda tersebut. "O, iya … ini dua orang pengawal saya, Gert en Koen."


Juragan Juanda dan Mang Dirman kembali membungkukkan badan, lantas menyapa keduanya dengan penuh hormat, "Selamat datang di perkampungan Sundawenang ini, Tuan-tuan."


Gert dan Koen tersenyum tipis. Tampak sekali raut wajah mereka seperti pongah memandangi sosok Juragan Juanda. Namun tidak sekalipun dari ketiga laki-laki berkulit putih kemerahan tersebut berkenan untuk beradu tatap dengan Mang Dirman.


Kembali Tuan Guus berkata-kata tanpa mau turun dari pelana kudanya. Ujar sosok tersebut, "Kamu orang, Juanda, tentu bertanya-tanya, uummhhh … mengapa saya orang ada di kampung ini, bukan? He-he-he."


Juragan Juanda tidak lekas menimpali. Dia hanya melirik sejenak pada sosok ketiganya seraya mengatur napas. Mencoba untuk tetap bersikap tenang. Baginya, Tuan Guus bukanlah orang yang baru dia kenal. Jauh sebelum itu, mereka berdua pernah saling bertemu karena satu perkara serupa.


"Gerangan, apa yang sedang Tuan lakukan di sini?" tanya Juragan Juanda perlahan-lahan. Sementara Mang Dirman cukup mendengarkan obrolan mereka dengan posisi muka tertunduk dalam-dalam.


Tuan Guus tertawa mengekeh. Ungkapnya kemudian, "Kamu orang tentu sudah tahu, Juanda? Hansen telah berpindah tugas dari Desa Kedawung, heh?." Juragan Juanda mengangguk perlahan.  Lalu laki-laki berkulit kemerahan tadi lanjut berujar, "En sayalah orang yang akan berganti bertugas di ini wilayah, termasuk di ini Kampung Sundawenang. He-he-he."


'Hhmmm, jelas ini bukan sebuah pertanda baik,' pikir Juragan Juanda di dalam hati. 'Aku mencium ada gelagat dan aroma lain atas kemunculan dan penugasan Guus Van Der Kruk di wilayah ini.' Laki-laki itu menarik napas dalam-dalam. 'Mudah-mudahan saja ini hanya prasangkaku belaka.'


Sambil menghaturkan sembah hormat, Juragan Juanda menimpali, "Ah, saya merasa ikut senang sekali mendengarnya, Tuan. Selamat bertugas di tempat baru di kampung kami, Kampung Sundawenang ini, Tuan."


Gert dan Koen ikut tertawa bersama dengan Tuan Guus. Tidak jelas, apa yang mereka tertawakan usai Juragan Juanda berkata-kata baru saja.


"Aahhh, dank je … dank je, Juanda," kata Tuan Guus setelah berhenti tergelak. "Itu artinya, kamu orang en I, akan kembali dekat seperti dulu, bukan? Ha-ha-ha. Aku orang berharap, kita bisa menjalin kerjasama dengan baik, seperti yang sudah kamu orang lakukan dengan itu orang si Hansen, heh! Ha-ha-ha!"


Juragan Juanda manggut-manggut. "Iya, Tuan. Tentu saja … tentu saja. Saya dengan senang hati bisa menjalin kerjasama dengan Tuan Guus terhormat," balasnya tetap bersikap tenang, walaupun benak laki-laki tersebut mulai dihinggapi berbagai pertanyaan.


Sementara majikannya berbincang-bincang dengan Tuan Guus Van Der Kruk, hati Mang Dirman malah sibuk berkata-kata. 'Sepertinya antara Juragan Laki-laki dengan Meneer itu sudah lama saling mengenal. Tapi, dari nada suara mereka berdua, aku mendengar ada sesuatu yang aneh. Jika hubungan mereka berdua baik sebelumnya, mungkin saja akan seperti halnya sikap Juragan Laki-laki dengan Tuan Hansen.'


Tidak turun dari kuda maupun bersalaman, percakapan antara Juragan Juanda dengan Guus Van Der Kruk hanya terjadi beberapa waktu saja. Kemudian ketiga sosok Belanda itu pun segera meninggalkan area perkebunan milik Juragan Juanda begitu saja, disertai senyum-senyum kambing mencurigakan.

__ADS_1


"Antar saya pulang sekarang juga, Mang," pinta Juragan Juanda begitu Tuan Guus telah menjauh.


Mang Dirman sempat kebingungan. "Lalu, bagaimana dengan makan siang kita di saung itu, Juragan?" tanyanya merasa keheranan.


Tanpa menoleh, Juragan Juanda menjawab, "Mamang kasih saja pada pekerja. Beritahu mereka untuk beristirahat dan makan siang di saung." Laki-laki itu menelan ludah sekali, lalu kembali lanjut berimbuh, "Saya harus pulang ke rumah sekarang juga."


"I-iya, Juragan," balas Mang Dirman. "Kalau begitu, saya temui dulu para pekerja ya, Juragan?"


Jawab Juragan Juanda, "Lakukanlah. Saya tunggu di dekat sado saja."


"B-baik, Juragan," kata Mang Dirman. Kemudian cepat-cepat berbalik arah untuk menemui pekerja perkebunan dan lekas kembali lagi untuk mengantar majikannya pulang. 'Ada apa dengan Juragan? Tidak biasa Juragan bersikap seperti itu. Aku merasa seperti ada yang sedang dikhawatirkan oleh beliau.'


...BERSAMBUNG...


Keterangan Kata :



Cetok : Tudung penutup kepala yang terbuat dari anyaman bambu.


Hareudang pisan : Gerah sekali.


Sumuhun : Iya.


Mangga : Silakan.


Samak : Tikar yang terbuat dari daun pandan.


Boboko : Wadah/tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu.


Dank je : Terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2