
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 26...
...—---- o0o —----...
Setibanya Hanan dan Mang Dirman di rumah, disongsong Sumiarsih dengan pekik keterkejutan. "Mang Dirman! Ada apa ini? Ada apa ini?" tanya perempuan berusia empat puluhan tahun tersebut panik. "A-apa yang telah terjadi, Hanan? Mengapa Mang Dirman luka-luka seperti ini?"
Hanan yang membawa kemudi sado, buru-buru bangkit ke bangku belakang dan membantu sosok laki-laki tua itu turun.
"Sabarlah, Bu," timpal Hanan berusaha menenangkan ibunya. "Biar Hanan periksa dulu kondisi Mang Dirman-nya."
Dia segera menuntun Mang Dirman memasuki rumah. Diikuti oleh Sumiarsih dari belakang dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Kamu sendiri tidak apa-apa 'kan, Nak?" tanya Sumiarsih seraya meraba-raba sekujur tubuh anaknya. Hanan tersenyum dan menjawab, "Alhamdulillah, Bu. Hanan baik-baik saja, kok. Ibu lihat sendiri, 'kan?"
"Oh … syukurlah. Alhamdulillah … ya, Allah," gumam kembali perempuan tersebut usai memastikan keadaan badan anaknya. "T-tapi … apa yang terjadi sebenarnya, Nak? Mang Dirman terjatuh atau—"
Cepat-cepat Hanan menatap Sumiarsih dengan lembut dan memegang kedua lengan ibunya. "Nanti Hanan ceritakan ya, Bu. Sekarang Hanan mau memeriksa Mang Dirman dulu. Ibu duduk saja di sini dan tenangkan diri. Hanan mau mengambil air hangat dulu, sebentar, ke dapur."
"Biar Ibu suruh Ceu—"
"Ssttt …." Hanan menempelkan jari telunjuk di bibir. "Biar Hanan yang ambilkan sendiri. Semakin sedikit yang tahu, suasana akan semakin tenang. Bagaimana, Bu?"
"Ya, sudah. Terserah kamu saja, Nak," ujar Sumiarsih akhirnya. "Ibu bantu menjaga Mang Dirman saja di sini."
"Itu lebih baik dan jangan mengajak Mang Dirman berbicara untuk sementara ya, Bu? Biar Mang Dirman istirahat di situ," balas Hanan seraya tersenyum. "Sebentar, Hanan tinggal dulu, ya?"
Sumiarsih mengangguk perlahan.
Sementara Mang Dirman sendiri terus-terusan melenguh kesakitan sambil pegangi dada. Ringis di wajah sesekali menghiasi paras laki-laki tua tersebut.
"Apa sebenarnya yang telah terjadi, Mang?" tanya Sumiarasih penasaran dan lupa akan pesan anaknya baru saja. "Apa ada seseorang yang melukai Mamang?"
"A-aahhh, t-tidak ada apa-apa, Juragan," jawab Mang Dirman terbata-bata. "S-saya hanya sedikit merasa sesak di dada."
Sumiarsih menggeleng. Dia melihat ada luka memar dan biru lebam di wajah sosok tersebut. Maka dari, sangat meyakini bahwa bukan hal itu bukanlah karena terjatuh. Seseorang pasti telah melakukan tindak kekerasan terhadap Mang Dirman, pikir ibunya Hanan itu.
"Aden mau membuat kopi?" tanya Ceu Ijah yang sedang berada di dapur bersama dua temannya, Ceu Odah dan Ceu Enok, begitu melihat Hanan hendak mengambil air panas. "Biar saya seduhkan saja, Den."
"Huusss …." seru Ceu Odah yang berada persis di samping Ceu Enok pada Ceu Ijah, "Mana pernah Den Hanan minum kopi, Ceu Ijah. Den Hanan itu sukanya minum yang hangat-hangat, seperti wedang jahe, bajigur, atau beras kencur. Iya 'kan, Den?" tanya Ceu Odah pada Hanan dengan gaya centil.
Ceu Enok mengusap-usap wajahnya sendiri dengan telapak tangan. Kemudian mendekatkan dan membaui. Seketika raut wajah perempuan itu mengernyit dan merasa mual. "Oookkkhh …."
"Ada apa, Ceu Enok?" tanya Hanan seraya menoleh sebentar. "Sakit lambungnya kumat lagi, Ceu?"
"B-bukan, Den Dokter. Maaf …." jawab Ceu Enok seraya mendelik ke arah Ceu Odah. "T-tapi …."
"Jangan-jangan Ceu Enok hamil lagi?" ujar Ceu Odah sambil mendekat dan langsung Ceu Enok menghindar. "Waduuhhh … yang mau memberi adik bungsu. Hi-hi-hi."
"Siapa yang hamil, ih? Orang saya sudah tua begini!" seru Ceu Enok merasa sebal. "Muka saya kena ludah Ceu Odah! Makanya saya jadi mual! Bau jigong, Ceu!"
"Ha-ha-ha!"
Ceu Ijah tergelak-gelak, sementara Ceu Odah sendiri merengut.
Hanan hanya tersenyum-senyum melihat perilaku tiga perempuan yang senantiasa membantu pekerjaan di rumah ibunya tersebut. Dia sudah siap dengan air hangat yang ditampung ke dalam sebuah wadah kecil.
"Loh, wedang jahe kok diseduh di tempat itu, Den? Itu 'kan ada gelas bersih," kata Ceu Ijah terheran-heran.
"Ah, bukan untuk itu. Saya hanya butuh sedikit saja, kok," ujar Hanan buru-buru meninggalkan ruang dapur untuk kembali menemui Mang Dirman dan Sumiarsih, ibunya.
Ketiga perempuan itu serempak melongo.
"Buat apa ya, Ceu?" tanya Ceu Ijah pada Ceu Odah. Ceu Enok cepat-cepat menggeser duduk, menjauh dari sosok di sampingnya tadi.
__ADS_1
Jawab Ceu Odah usai mendelik pada Ceu Enok, "Setahu saya, biasanya kalau air sewadah itu … untuk mengompres atau membersihkan luka-luka, Ceu."
"Dari mana Euceu tahu?" tanya Ceu Enok dari kejauhan.
Jawab kembali Ceu Odah, "Dulu waktu Juragan Laki-laki sakit-sakitan, Pak Mantri sering minta air sewadah itu. Persis sekali. Buat membersihkan percikan darah dari muntahannya Juragan."
Spontan Ceu Ijah dan Ceu Enok membelalak. "Terus … kalau begitu, siapa yang sakit?" tanya keduanya serentak.
"Jangan-jangan …." Ketiga perempuan itu serentak saling berpandangan disertai mulut menganga dan mata membulat besar.
Bruk! Bruk! Bruk!
Ceu Odah, Ceu Enok, dan Ceu Ijah berlarian dari dapur.
"Juragaaannn!"
Sumiarsih yang sedang berada di ruang depan, menoleh. Diikuti oleh Hanan dan Mang Dirman.
"Kok, Juragannya tidak ada di kamar?"
"Dibawa ke balai pengobatan mungkin?"
"Loh, itu Juragan!" seru Ceu Enok seraya menunjuk ke ruang depan. Spontan Ceu Ijah dan Ceu Odah menoleh cepat.
Maka ketiga perempuan itu pun lanjut berlarian memburu Sumiarsih. "Juragaaannn!" teriak mereka berbarengan.
"Juragan, apa yang terjadi dengan Juragan?"
"Juragan sakit?"
"Ya, Allah … jangan sakit, Juragan! Kalau Juragan tiada, kami-kami bekerja pada siapa?"
Sumiarsih melongo. Terlebih bagi Hanan.
"Ada apa dengan kalian ini, Euceu-Euceu?" tanya ibunya Hanan tersebut terheran-heran. "Orang saya sehat wal'afiat begini."
"Alhamdulillah …."
"Alhamdulillah …."
"Uugghhh …." Mang Dirman malah melenguh kesakitan. "Deennn …."
Hanan yang ikut keasyikan memerhatikan ketiga pekerja keluarganya, menoleh kaget. "Astaghfirullah … maafkan saya, Mang. Aduh, kok saya jadi tidak konsen begini, ya? Maaf … maaf … maaf ya, Mang."
Rupanya Hanan salah pengompresan. Seharusnya di area pipi, malah mata Mang Dirman yang dicocol-cocol.
"Perih, Den," keluh laki-laki tua itu.
"I-iya, Mang. Maaf …." ujar Hanan merasa bersalah, tapi berusaha menahan tawa.
Setelah meyakini Sumiarsih dalam kondisi sehat, ketiga pekerja perempuan tadi berganti menatapi Mang Dirman. Kemudian bertanya Ceu Odah dengan mimik heran, "Mamang mengapa? Apa yang terjadi?"
Timpal Ceu Enok, "Iya, Mang. Mengapa mukanya biru-biru begitu?"
"Jadi yang sakit itu Mang Dirman? Bukan Juragan?" Ceu Ijah turut bertanya.
"Heh!" seru Ceu Odah seraya menengok dan kebetulan berhadapan muka langsung dengan Ceu Ijah.
"Uuhhh …." Ceu Ijah menahan napas, tapi terlambat menjauh. Alhasil, mukanya terkena cipratan kuah khas dari mulut Ceu Odah.
"Sembarangan saja kalau bicara!" imbuh Ceu Odah menggerutu sampai-sampai bibirnya mengerucut runcing.
"Ssttt … sudah … sudah … sudaahhh," lerai Sumiarsih seraya menahan tawa. "Euceu-Euceu ini pada ribut terus. Lihat tuh, Mang Dirman sampai meringis-ringis kesakitan begitu."
"Memangnya ada dengan Mang Dirman, Juragan?" tanya Ceu Odah penasaran. Dari tadi belum ada satu pun jawaban yang dia dengar terkait sosok tua laki-laki tersebut.
Jawab Sumiarsih, "Saya sendiri belum tahu. Orang Hanan dan Mang Dirman saja belum cerita apa-apa dari tadi." Dia menerima isyarat berupa kedipan mata dari anaknya. "Nanti saja. Tunggu sampai Mang Dirman bicara. Sekarang masih diobati sama Hanan, tuh."
__ADS_1
"Iya, Euceu-Euceu," timpal Hanan menambahkan. "Lebih baik, sekarang beri Mang Dirman sedikit udara segar. Biar cepat sembuh. Iya-tidak, Mang?"
"Uuuhhh … uuuhhh," jawab Mang Dirman dengan lenguh kesakitannya.
"Ya, sudah. Ayo, kita balik lagi ke dapur," ajak Ceu Ijah mengomandoi kedua temannya. "Kita bereskan dulu pekerjaan, sambil menunggu cerita dari Mang Dirman."
"Iya, Ceu Ijah. Hayu atuh ah lamun kitu mah," timpal Ceu Enok diikuti oleh Ceu Odah.
(Ayolah, kalau begitu, sih.)
Maka ketiga perempuan pembantu keluarga Sumiarsih itu pun segera berbalik ke dapur. Tinggal kini Hanan bersama ibunya dan Mang Dirman di ruangan depan.
"Pokoknya begitu ya, Bu, jangan sampai kejadian ini diketahui oleh mereka bertiga atau juga oleh keluarga Bunga," ucap Hanan mengingatkan. Namun beberapa jeda kemudian, anak muda tersebut berseru, "Bunga? Astaghfirullah … bukannya sore ini saya harus menjemput kembali Nèng Bunga, Mang?"
"Uuhhh … apa harus, Den?" Balik bertanya Mang Dirman masih dengan ringis menghiasi raut wajahnya. "Di sana 'kan ada uwaknya, Ki Sendang Waruk. Mungkin Nèng Bunga akan sekalian menginap di rumahnya?"
"Saya tidak tahu, Mang," jawab Hanan bingung. "Tadi sewaktu berangkat, Nèng Bunganya tidak sedang bersama-sama kita."
Sumiarsih ikut angkat bicara. Ujarnya, "Ya, sudah. Kamu ke sana saja sekarang, Nak. Mumpung belum terlalu sore. Kalau memang Nèng Bunga mau tinggal dulu di sana, ya sudah. Kamu buru-buru pulang lagi, ya?"
Hanan manggut-manggut, lantas menoleh pada Mang Dirman. "Bagaimana, Mang?" tanyanya pada laki-laki tua tersebut. "Mamang mau ikut atau tinggal dulu di sini untuk beristirahat?"
"Saya ikut Aden saja," jawab Mang Dirman.
"Loh, Mang Dirman 'kan sedang—"
Tukas Mang Dirman atas ucapan Sumiarasih, "Tidak apa-apa, Juragan. Ini hanya luka memar biasa." Kemudian bangkit perlahan-lahan dibantu oleh Hanan. "Walau bagaimanapun juga, saya harus tetap selalu menjagai Den Hanan, kemanapun dan kapanpun. Sebagaimana yang pernah saya janjikan pada mendiang Juragan Laki-laki."
"Ya, Allah … Mang Dirman," desah Sumiarsih terkagum-kagum. "Tapi dengan kondisi Mamang seperti ini—"
"Insyaa Allah, Juragan, saya baik-baik saja, kok. Insyaa Allah," tukas Mang Dirman seraya tersenyum getir.
"Tapi, Mang, betul apa yang dikatakan oleh Ibu baru saja," sela Hanan setelah berpikir ulang. "Mamang sebaiknya istirahat saja di rumah. Biar saya sendiri yang ke rumah Nèng Bunga. Lagipula, jaraknya tidak terlalu jauh dari sini, kok."
Namun Mang Dirman bersikukuh untuk ikut. Timpal laki-laki tua tersebut, "Tidak, Den. Saya akan tetap ikut menemani Aden. Apapun kondisi saya."
Hanan melirik ibunya.
Lanjut Mang Dirman berkata, "Jangan khawatirkan tentang saya, Juragan-Aden. Insyaa Allah, saya sehat wal'afiat dan … lagipula, ada Den Dokter yang siap mengawasi kesehatan saya di sepanjang perjalanan. He-he. Uhuk! Uhuk! Ehem!"
Laki-laki tua itu terbatuk-batuk. Ada rasa asin yang menyertai ludahnya di dalam mulut. Dia yakin, itu adalah darah. Luka dalam yang diderita akibat perkelahiannya tadi dengan Ki Praja. Namun sengaja disembunyikan dari Hanan, agar anak muda tersebut tidak merasa khawatir.
"Ya, sudahlah kalau memang itu maunya Mang Dirman," kata Hanan akhirnya menyerah. "Kita berangkat saja sekarang."
"Baik, Den."
"Untuk kusir, saya yang pegang kendali ya, Mang?"
"Terserah Den Dokter saja. He-he. Uhuk! Uhuk! Eheemmm!"
"Yakin Mamang baik-baik saja?" tanya Hanan agak khawatir memerhatikan Mang Dirman terbatuk-batuk beberapa kali.
"Insyaa Allah, Den. Saya kuat, kok."
"Ya, sudah," balas Hanan, lantas berpamitan pada ibunya, Sumiarasih. "Kami berangkat dulu ya, Bu."
"Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Pulangnya jangan terlalu dekat ke waktu petang, ya?" pesan perempuan itu mewanti-wanti.
"Iya, Bu," jawab Hanan.
"Kami berangkat, Juragan."
"Hati-hati, Mang."
"Baik, Juragan. Uhuk! Uhuk! Uhuukkk!"
...BERSAMBUNG...
__ADS_1